Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Wajah merah malu terlihat jelas ketika Aarav dan Wina meninggalkan kamar ayahnya. Sambil menahan tawa Wina mengalihkan pandangan dari lelaki itu.


“Jangan tarik-tarik bisa tidak?!” ucap Wina sambil menarik pergelangan tangannya dengan paksa.


Tapi Aarav masih bertahan dengan reflek menarik kembali tangannya lebih kencang. Membuat Wina meringis kesakitan.


“Kau baik-baik saja?” cepat-cepat memegang pergelangan tangannya yang memerah karena tergenggam kasar, “Menurutlah sedikit padaku Wina. Aku tidak akan menyakitimu.”


Dengan cepat lelaki itu mengangkat tubuh Wina dalam dekapannya, menggendong calon istrinya dengan lembut.


Hei, kau gila ya.


Yang sakit itu tanganku, kenapa malah menggendongku.


Dalam dekapannya Aarav berbisik pelan sebelum tubuh Wina disandarkan ke kursi mobil perlahan.


“Aku adalah orang yang paling tidak mau kau tersakiti.” Lirih suaranya terdengar dengan lembut. Membuat Wina memalingkan wajahnya karena malu.


Kali ini gadis itu duduk di kursi belakang, sementara Aarav yang mengemudikan mobil.


“Di mana Rania?” tanya Wina penasaran.


“Jadi kau tidak suka menghabiskan waktu bersamaku?!” kembali menimpali dengan nada mengesalkan.


“Bukan begitu..”


“Lalu apa?!”


“Biasanya Rania yang membawa mobilnya kan.” Berusaha menyelamatkan diri dengan alasan paling meyakinkan.


Aarav diam dan melakukan mobil dengan kecepatan sedang, hingga dua puluh menit berlalu terdengar suara Aarav membangunkan dirinya pelan.


“Di mana ini?” ucap Wina dengan nyawa masih dikuasai kantuknya.


Aarav sudah duduk di kursi belakang mobil dan terus menggoyang tubuhnya agar bangun dan melihat sekelilingnya.


“Ini di pemakaman?!” Wina terperanjat.


Celaka, apa dia membawaku ke sini untuk menguburku hidup-hidup.

__ADS_1


Bagaimana ini, bisa mati aku jika banyak bicara.


“Kau gila ya? Kecilkan suaramu! Jika tidak aku bisa saja mencekikmu.” Menyeringai jahat.


“Tidak! jangan lakukan itu Aarav.” Sambil memegang lengan lelaki di depannya, memohon agar Ia tak benar-benar melakukan niat gilanya.


Aarav menyeringai penuh kemenangan. Terasa tak ada hal lain yang akan membuatnya senang lebih dari ini.


“Ayo! Kita akan minta restu dari Ibu.” Sambil memalingkan wajahnya dan keluar dari mobil.


Lupa, Wina bahkan sudah lupa jika yang berada di depannya ini adalah lelaki yang sembilan tahun lalu kehilangan Ibunya. Lelaki yang entah kenapa saat itu Wina kecil mau mengulurkan bahunya untuk digigit saat air mata tumpah menggenangi pipi Aarav.


Aarav membuka pintu belakang mobil dan keluar dari sana dengan menuntun langkah Wina, menunjukkan di mana tempat ibunya bersemayam dengan tenang. Dengan tangan yang tergenggam erat, Wina mampu melihat kesedihan di wajah calon suaminya.


Berhenti di sebuah makam yang rumputnya tumbuh dengan lebat dan subur seolah menandakan kehidupan Ibu di sana sudah bahagia. Kali ini tak seperti tadi, Aarav perlahan bersimpuh di sana, seolah tak peduli dengan setelan jas bersih dan berkelas yang ia pakai.


Duduk di sana dan mencium nisan Ibunya, “Ibu, aku membawa calon menantumu. Wanita yang kau wasiatkan padaku.”


Suaranya terdengar serak, menahan air mata yang memaksa untuk jatuh. Berusaha melerai sedihnya keadaan, Wina mengusap pelan pundak calon suaminya. Seolah memberi kekuatan untuk tetap tegar dan kokoh.


“Mintalah izin dari Ibu kita.” Menuntun Wina dengan kedua tangannya.


“Ibu, terimakasih sudah melahirkan calon suamiku ke dunia dan mendidiknya menjadi anak yang baik. Aku akan menjaganya sebaik mungkin.” Sambil terus mengusap nisan di depannya.


Beberapa saat berada di makam ibu. Wina menyadari bahwa hanya ada raut menyedihkan di wajah Aarav.


Cukup sudah. Biar kuakhiri drama menyedihkan ini.


“Ayo, Ibu tidak akan suka melihatmu selemah ini.” Wina menggenggam lembut lengan Aarav, menuntunnya untuk bangun dan meninggalkan pemakaman.


Sudah dua kali dirinya hari ini membuat janji pada dua orang yang sangat disayangi Aarav. Seperti menjamin bahwa putera mereka tak akan terlukai dan tidak akan mempu dilukai oleh orang lain.


Lagipula waktu pernikahan akan tiba dengan cepat. Hanya tiga hari lagi, dan gadis yang selalu memakai kemeja polos itu akan menjadi Nyonya Zayn Property.


***


Jauh dari hangatnya suasana yang melingkupi Aarav dan Wina, di lobby gedung mewah itu Rey sedang sibuk mengawasi jalannya dekorasi pernikahan.


Sorot mata yang tegas dan bulu mata serta alis yang pekat dengan warna hitam, tampak sangat teliti melihat bagaimana rancangan wedding organizer yang berdiri membelakanginya.

__ADS_1


Ruangan itu sudah separuhnya disulap dengan warna putih tulang bercampur warna muda lainnya. Tampak nyaman dipandang mata.


Handphone di saku jas Rey bergetar.


“Tuan, saya membawa semua yang anda minta.” Kata lelaki di seberang telepon dengan sopan.


“Ke apartemenku sekarang.” Rey memerintah dengan nada tegas sementara wajahnya tetap dengan ekspresi dingin.


Di depan gedung apartemen mewah, ajudan yang tempo hari menemuinya sudah menunggu. Rey masuk ke ruangannya bersama dengan lelaki itu. Tampak merebahkan punggungnya ke sofa sementara ajudan itu sudah sibuk membuka data yang dibawanya.


Rey tampak mengurut keningnya, menandakan banyaknya masalah rumit yang ditangani lelaki itu.


“Apa saya bisa menjelaskannya sekarang, Tuan?” pinta ajudan itu sopan.


“Masih ada yang akan datang kemari.” Jelas Rey hingga mengurungkan niat ajudannya untuk menjelaskan semua data yang akan ditunjukkan.


Bel pintu berbunyi, dengan segera Rey bangkit dan membuka pintu apartemennya. Terlihat Rania sudah berdiri di sana.


“Kau sudah sampai?” menggenggam tangan adiknya untuk masuk ke ruangan.


Rey, lelaki bertangan dingin yang dikenal semua orang di perusahan dan di manapun ia pernah singgah. Mungkin dalam sejarah, nihil wanita yang bisa membangun hubungan baik dengannya, karena sikap dingin dan kakunya.


Tapi tidak begitu dengan Rania, adik satu-satunya yang memang harus diperlakukan lebih lembut.


Nyaris setiap wanita yang mengenalnya faham, bahwa tak ada yang mampu mendekati kehidupan pribadinya apalagi menjadi wanita yang dilindungi Rey sepenuh hati. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, ada Rania yang terpilih untuk menjadi satu-satunya wanita yang bisa dengan mudah membuatnya luluh.


Hingga banyak orang yang melihat hubungan keduanya lebih seperti pasangan kekasih. Baginya, Rania adalah adik kecil yang harus disayangi. Walaupun gadis itu juga memelihara sikap dingin yang sama, tapi memanjakannya adalah jalan terbaik yang dipunya oleh Rey.


“Duduklah di sini. Karena sebentar lagi kau juga akan andil dalam menghancurkan rencana jahat wanita itu.” Ucap Rey tegas.


Rey dan Rania sudah duduk di sofa. Sementara ajudannya mulai menjelaskan semua rencana dengan tertata, apa saja yang harus dilakukan dan kapan perempuan jahat bernama Alina itu akan mengawali rencananya.


“Berhati-hatilah Nona Rania. Orang suruhan Alina pasti dipilih khusus.”


“Kau bisa melakukannya, tunggu sampai aku datang.” Rey mengusap lembut kepala adiknya sambil tersenyum tipis.


Tetap dengan perlakuan khusus pada adiknya. Mudah sekali lelaki itu menggenggam tangan dan mengelus rambut adiknya. Sementara di luar sana lawan bicaranya entah lelaki atau perempuan mengenalnya sebagai manusia kulkas dengan sikap dingin di atas rata-rata.


Kakak, katakan sudah berapa wanita yang gagal melihat senyummu ini.

__ADS_1


Andai mereka tahu sikap lembutmu, mereka pasti sudah memusiumkan senyummu.


__ADS_2