
Tuan Muda yang malang sekali karena baru mengenal dan merasakan manisnya cinta ketika umurnya sudah melampaui dua puluh tahun. Mungkin itulah yang cocok untuk keadaan Aarav saat ini.
Aarav terlihat menuruni tangga dengan langkah tyang terburu. Tidak bisa dibayangkan jika dalam keadaan tadi ada yang melihat bagaimana keadaan wajahnya, itu akan menjadi aibnya seumur hidup.
“Gila.” Bentaknya dengan menghentakkan tangan ke kemudi mobil, “Kenapa dia menjadi semakin berani padaku.”
Mobil melaju kencang berlomba dengan detak jantung yang memburu. Masih terasa begitu lembut jemari Wina membelai setiap helaian rambutnya, “Kenapa malah sekarang dia yang begitu berani padaku sih!” kembali menghentak kemudi mobilnya dengan kesal.
Bagi Aarav jika dirinya yang memulai menyerang Wina, maka itu tak masalah. Yang akan menjadi masalah adalah jika sebaliknya, semua yang dilakukan Wina tadi membuat fikiran dan perasannya kacau balau.
Tiba di kantor, ia menemukan Rey yang duduk dengan tenang di sofa ruangannya. Pemuda itu sibuk memeriksa lembar berkas yang kemarin ditingalkannya karena urusan mendadak dengan Alina.
Melirik Aarav dengan tatapan aneh, apalagi melihat tingkah Tuan Mudanya yang masuk ke ruangannya sendiri dan tampak kebingungan akan duduk di kursi atau di sofa.
“Apa sesuatu yang buruk telah terjadi Tuan Muda?” bertanya untuk memastikan sendiri.
Aarav tak menghiraukan kalimat yang barusan keluar dari lisan Rey, dirinya tampak masih kebingungan walaupun kini memilih duduk di sofa depan Rey.
“Kau lihat ini?” menunjuk ke arah rambutnya yang sudah rapi terikat.
“Apa?” Rey hanya mengernyitkan dahi.
“Ini adik iparmu yang melakukannya.” Mengalihkan pandangannya dengan wajah yang memerah malu.
Rey menahan tawa mendengarnya, “Ah, ini adalah kabar yang baik Tuan Muda.”
“Apanya yang baik, kau tahu aku hampir gila karena perlakuannya yang begitu manis.”
Ah sudahlah Tuan Muda,
Begitu-begitu juga anda senang kan dengan perlakuan Nona.
“Kau sedang mengatai aku dalam hatimu?”
Rey menggeleng cepat, bisa bahaya jika lelaki di depannya tahu apa yang ia katakan di benaknya tadi.
“Aku tidak boleh diam terus, percepat acara romantis itu Rey.” Aarav memerintah dengan ekspresi penuh kekhawatiran, “Dan panggil kekasihmu yang bernama Alina itu segera kemari.”
__ADS_1
“Bukan.” Mencoba mencela Aarav yang mengejeknya juga.
“Bukan apa? Bukan kekasih kok saling melempar perlakuan manis.” Gumam-gumam Aarav membalasnya dengan argument memojokkan.
“Tapi Tuan Muda…”
“Tapi apa? Kau tahu romantisnya hubungan kalian itu hampir mengalahkan aku dan istriku.”
Terdengar isi hatinya dengan nada kesal.
“Tapi tetap saja,” Rey menyeringai dengan menatap rambutnya, “Lebih manis rasanya ketika didandani istri sendiri, hahaha.”
“Diam kau.” Mulai menggapai benda yang ada di sekitarnya untuk dilemparkan ke wajah Rey.
***
Beberapa jam berlalu hingga malam tiba, Wina tampak menunggu kepulangan suaminya dengan antusias.
Tangannya sudah siaga memegang hp untuk menghubungi Aarav, tapi tertahan karena kecanggungan yang begitu terasa.
“Duh, bodoh sekali aku bertingkah di luar kendali hari ini.” Menepuk-nepuk keningnya dengan sebal.
“Apa Tuan Aarav belum pulang?” bertanya pada pengawal yang menunggu di luar pintu utama.
“Belum Nona.”
Wina memutar otaknya, ya ini memang kali pertama Aarav pulang dari kantor pada malam hari semenjak pernikahannya. Mungkin itulah sebab ia benar-benar terlihat tak sabaran menunggu suaminya memasuki Mansion. Dengan terus menggenggam gadget di tangannya, gadis itu mulai merebahkan tubuhnya di sofa karena kantuk yang memaksa.
Dua orang pengawal yang berjaga di luar pintu dan tak bisa bicara untuk mengarahkan Wina tetap menunggu di kamar pun hanya bisa menutup pintu utama karena khawatir Nona Mudanya akan kedinginan dengan angina malam yang masih bertiup semilir.
Gemerlap lampu mewah di ruang utama mengubur gadi itu dalam lelapnya. Mata yang sudah tertutup rapat dengan gaun tidur se lutut berwarna biru muda yang mengena cantik di kulitnya.
Waktu terus berlalu hingga terdengar mobil yang dikendarai Aarav dan Rey memasuki gerbang depan Mansion. Dengan cekatan kedua pemuda tampan dengan sejuta pesona itu keluar dari mobil. Wajah yang tampak kelelahan malah menambah ketampanannya.
“Kenapa pintunya tertutup?” Aarav bertanya keanehan dengan langkah santai menaiki anak tangga depan Mansion.
Kedua pengawal yang berjaga di depan pintu pun tertunduk, “Eng.. i..itu..”
__ADS_1
Membuat Aarav menghentak pintunya dan terbuka, mendapati istrinya yang tertidur di aas sofa ruang utama, Aarav dengan segera mendekati istrinya.
“Kenapa Nona Wina ada disini?!” Rey akhirnya angkat bicara, dengan tatapan mengirisnya ke pengawal yang berjaga di depan pintu.
“Nona tertidur di sana Tuan.” Pengawal itu menjelaskan dengan nada ketakutan, “Nona bilang ingin menunggu Anda hingga pulang.” Lanjutnya.
Aarav yang mendengarnya segera mengecek nafas istrinya, cara gila yang berguna untuk mematikan istrinya baik-baik saja.
“Selamat malam Rey.” Ucap Aarav sambil mengangkat tubuh Wina menuju kamar utama.
Rey hanya mampu menjawabnya dengan anggukan sempurna. Bodoh sekali jika kejadian ini terjadi lagi fikirnya, tanpa menunggu lama dengan tubuh yang masih berdiri di ruang utama pemuda itu meraih handphone nya di saku jas.
“Rania, kita berdua akan tinggal di Mansion mulai besok. Bawa semua perlengkapannya.” Perintahnya dengan cepat.
“Baik kakak.” Terdengar suara paling patuh dari balik telepon.
Sementara Aarav yang membopong tubuh mungil istrinya dengan tangkas mendorong pintu kamar dengan kakinya. Memandangi wajah polos wina yang terlelap penuh kehangatan.
“Gadis bodoh, menungguku hingga larut malam. Apa kau sudah tak tahan mengungkapkan rasa cintamu padaku?” merebahkan Wina ke ranjang.
Menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal lalu membenarkan helaian rambut yang menutupi mata Wina, “Kurangilah perangai bodohmu ini saat jatuh cinta, karena aku juga sudah jadi gila karenamu yang begitu manis ini.”
Aarav beralih dengan memasuki ruang ganti di kamarnya, membersihkan diri di sana dengan teratur. Sebelum akhirnya keluar dengan pakaian tidur yang lebih santai mengena rapi di tubuhnya.
Manis sekali kau Tuan Muda.
Ingin rasanya aku menggigit pipimu yang merah itu.
Godaan yang hanya bisa ditahan Wina dalam hatinya, hanya dengan sikap konyol dan berpura-pura tidur beginilah bisa melihat tingkah laku asli Aarav tanpa kearoganan yang terkenal itu batinnya.
Mengendap-endap dengan mata yang menyapu seluruh ruang kamar kemana pun suaminya pergi. Aarav terlihat duduk di depan meja rias dan melepaskan rambutnya yang terikat, “Rasanya tak rela aku melepaskan ikatan bersejarah ini.” Gumam-gumam manis terdengar dari lisannya.
Wina hanya bisa tersenyum bangga di balik selimut yang melilit tubuhnya.
Huwaaa, bodoh sekali suamiku tidak tahu jika aku mendengar semua yang dia katakan.
Aduh, betapa berartinya istrimu ini.
__ADS_1
Tidak tahan membendung senyumnya, Wina akhirnya membalikkan badannya membelakangi Aarav. Agar lebih leluasa tersenyum.
“Nyenyak sekali kau tidur. Ingin rasanya kucabut bulu matamu agar bangun.” Terdengar Aarav yang kesal karena mengetahui Wina tidur dengan posisi membelakanginya.