Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Masa Lalu Pahit Tiga Keluarga


__ADS_3

Cerita cinta Rey dan Alina, yang diperantarai Bunga Anyelir. Sebenarnya itu bukanlah akar dari masalahnya, jauh di dalam hatinya mungkin Rey akan menerima Alina jika gadis itu mencintainya dengan benar dan bisa membuang dendamnya pada keluarga Tuan Muda.


Marilah kita simak akar dari semua kekacauan yang terjadi di masa sekarang ini.


Peristiwa pahit yang terjadi sekitar sembilan tahun lalu. Memupus kebahagiaan tiga keluarga sekaligus. Anak kecil yang kehilangan Ibunya bukan hanya Aarav dan Alina, sekaligus juga Rey dan Rania.


Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ibu mereka. Jika dapat diulang dan dirasa, yang paling merasakan kesendirian setelah kecelakaan itu bukanlah Aarav atau Alina, melainkan Rey dan Rania.


Ibu dan Ayahnya dilibas sekaligus dalam kejadian itu, hanya meninggalkan mereka berdua yang hidup di dunia untuk melanjutkan kehidupan dengan coretan semangat dan optimis.


Sembilan tahun yang lalu, mari kita bernostalgia menyentuh setiap rahasia pahit yang menimpa tiga keluarga. Rey dan Rania yang masih belia, malam itu langit tampak mengamuk dengan hujan yang turun lebat. Rey masuk ke rumahnya dengan memegang dua potong roti bantal untuk mengisi perutnya dan Rania.


Malam sudah larut, kedua anak itu bahkan tak sempat memakan apapun dari sore karena menjaga ibu mereka yang sedang sakit. Hingga akhirnya malam tiba dan ayahnya juga pulang dari bekerja.


Di rumah yang sederhana, kedua anak itu terlihat duduk meringkuk menikmati roti bantal yang dibeli Rey lima menit yang lalu, mengisi perut hingga kenyang.


“Kenapa Ayah mengantar ibu ke dokter malam-malam begini? Bukankah di luar sedang hujan kak?” tanya Rania dengan mulut yang sibuk mengunyah roti.


“Ibu sakit, dan harus segera diobati.” Rey menjawab dengan senyum, sejak kecil wajahnya sudah tampan tak tertahan.


Mengusap kepala Rania agar adiknya menghabiskan roti di piring hingga perutnya kenyang sempurna.


“Kau sudah kenyang?” tanya Rania lagi sambil menyodorkan roti.


Rey menolaknya kemudian berkata, “Makanlah, kau lebih lapar dari aku.”

__ADS_1


Tak ada penolakan dari lisan Rania untuk perintah kakaknya, walaupun tahu bahwa kakaknya masih lapar, gadis kecil itu tetap memakan sisa roti untuk menghormati perintah Rey. Sementara Rey berdiri dan menuju ke arah dapur, menuangkan air kedalam gelas untuk minum dirinya dan Rania.


“Minumlah, dan tidurlah setelahnya.” Menyodorkan gelas berisi air minum, “Aku yang akan membukakan pintu untuk Ayah dan Ibu.” Ucapnya tenang.


Setelah itu Rey mengantar adiknya ke dalam kamar dengan tenang. Duduk di kursi ruang tamu rumahnya yang sederhana, menunggu kepulangan ayah yang mengantar ibunya ke rumah sakit untuk berobat di sana.


Setengah jam berlalu, hujan tak kunjung reda. Sementara Rey juga masih betah dengan posisi duduk tenang di ruang tamu, membuka lembaran buku yang dipegangnya untuk dibaca. Mungkin ada pekerjaan rumah yang diberikan gurunya dari sekolah.


Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Namun ayah tak kunjung datang membawa ibu pulang. Perasaan cemas menambah kalut perangai Rey yang masih duduk di kursi ruang depan rumahnya, tak jemu menunggu walaupun kantuk sudah menjalari mata sepenuhnya.


Hingga, seorang lelaki tua yang yang merupakan tetangganya menggedor keras pintu rumah, membuat Rey yang ketiduran di kursipun tersentak memandang ke arah pintu, siapa yang datang ke rumahnya di waktu selarut ini.


Gemetar jemarinya membuka, khawatir malah maling yang masuk, “Ada apa pak, malam-malam begini…” sambil mengerjapkan mata, meraih kesadarannya kembali dalam kantuknya.


Lelaki itu memotong cepat, mimik mukanya runyam seperti sesuatu telah terjadi.


Rey yang mendengarnya nyaris menghempaskan tubuhnya. Ia yang saat itu masih berusia lima belas tahun faham bahwa orang di depannya sedang menyampaikan seburuk-buruknya berita.


Tanpa menjelaskan lagi, lelaki tua itu menarik pergelangan tangannya. Sementara pandangan Rey masih kosong berusaha menenangkan diri sendiri dalam keadaan segenting ini.


Masih ingat, ada seorang gadis kecil di dalam rumah itu. Cepat-cepat Rey meraih kunci lalu mengunci pintunya, supaya Rania aman ketika tidur di dalam kamar sana.


Sampai di depan rumah sakit, anak lelaki itu hanya bisa melihat motor ayahnya yang tergeletak dengan simbahan darah yang menjalar ke jalan raya di depan jalanan rumah sakit.


Rey hanya mampu menutup mulutnya, mendekapnya agar tak ada suara yang keluar dari sana hingga Ia bisa memastikan bagaimana keadaan ayah dan ibunya. Dengan langkah setengah berlari lelaki tua itu terus menuntunnya hingga sampai di ruang instalasi gawat darurat.

__ADS_1


Dari balik kaca Ia bisa melihat ada dua ruangan yang terpakai di sana untuk menangani kejadian kecelakaan barusan.


Tepat ketika Rey merasakan lidahnya kelu untuk berucap, matanya mulai dipenuhi bulir bening yang memaksa jatuh. Seorang lelaki muda terlihat menghambur melihat ke ruangan yang terletak di sebelah ruangan ayah dan ibunya. Sama saja, perangai lelaki itu bak orang putus asa terlihat menengadah ke arah dinding kaca ruangan.


Lelaki itu adalah Tuan Besar, ayah dari Aarav Zayn.


Lelaki tua yang menemani Rey dipanggil olehnya, “Apa yang ada dalam ruangan itu Ayah dan Ibumu?” lirih suaranya bertanya.


Rey mengangguk lemah. Entah apa yang harus Ia katakan sekarang, memikirkan bagaimana keselamatan ayah dan ibunya saja sudah membuatnya buntu, belum lagi dengan gadis kecil yang tertidur dan ditinggalkan di rumah, membuatnya semakin frustasi dengan situasi.


Lelaki itu tampak meminta tetangga Rey untuk agak menjauh, meminta penjelasan bagaimana sebenarnya kronologi kecelakaan yang terjadi tadi. Tetangganya tampak menerangkan dengan tenang, walaupun juga menahan tangis karena menjadi saksi dari kejadian nahas itu.


“Apa wanita yang di sana adalah istri Anda?” tetangga Rey tampak bertanya ragu, karena melihat keadaan Tuan Besar.


“Ya.” Mengakui dengan nada lemah sekali, “Katakan. Bagaimana bisa semua ini terjadi.” Masih meminta dijelaskan dengan kekuatan yang tersisa untuk menopang kesadarannya.


“Mobil yang ditumpangi istri Anda dan wanita yang satu ruangan dengannya menabrak motor yang dikendarai orang tua anak itu.” Menjelaskan sambil menekan bibirnya ke arah Rey.


Telak, hari terburuk dalam sejarah akhirnya tiba. Dokter keluar dari kedua ruangan itu dengan wajah tak karuan, entah berita seburuk apa yang akan disampaikan, tapi yang jelas menyakitkan.


“Tuan, maafkan saya. Mereka tidak bisa saya selamatkan.” Dokter menjelaskan pelan.


Tuan Besar menghempaskan dirinya dengan kasar ke lantai. Menatap tepat ke arah Rey yang masih tak mengerti bagaimana mungkin secepat ini ayah dan ibunya pergi.


“Kemarilah Nak.” Ucap lelaki tiu dengan melebarkan lengannya untuk memeluk Rey di tengah tangisnya. Merasakan bagaimana sakitnya juga menjadi Rey yang kehilangan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Rey berlari tak karuan, mendekap tubuh lelaki yang sebenarnya tak dikenalnya itu. keduanya menangis bersama seperti ayah dan anak . Rangkulan di punggung Rey semakin terasa, bulir bening jatuh bercucuran di mana-mana.


__ADS_2