
Pagi itu di ruang utama rumah Aarav, Rania sudah sejak tadi kebingungan dengan banyaknya pelayan yang membawakan deretan baju untuk di pakai menjadi Mahasiswa yang menyamar.
Sementara di depannya, tubuh Aarav sudah tersandar lemah di sofa. Lelaki itu menunduk sambil mengacak-acak rambutnya frustasi dengan keadaan.
“Tidak bisakah aku mengenakan setelan pakaian yang lebih realistis sebagai Mahasiswa?.”
“Bahkan perutku sakit melihat kacamata dan wig ini, Rania!.” Suaranya terdengar membentak, sambil menunjuk dan memaki-maki rambut palsu dan kaca mata bulat besar yang dipegangi pelayan dengan sopan.
“Tapi Tuan Muda, Nona Wina akan mengetahui identitas Anda jika hadir di kampus dengan pakaian itu.”
“Memangnya calon istriku itu wartawan maniak yang tahu segalanya apa?! Yang ada aku hanya akan dikira sebagai tukang urut jika memakai kaca mata hitam itu. Diamlah, aku akan membuat tampilan diriku menjadi lebih muda.”
Aarav menjauhkan pandangannya. Melangkah ke arah tangga dan memasuki kamarnya di lantai dua rumah itu, tampak dua pelayan lelaki mengikutinya.
Rania hanya terkekeh melihat tingkah Tuan Muda, dengan tubuh yang terus menunggu di ruang utama.
Tak lama, terlihat Aarav turun dengan dua pelayan di belakangnya.
Ketampanan yang luar biasa, Tuan muda.
Selera Anda memang luar biasa dalam berpakaian.
Penampilan memukau semua mata yang juga sangat jarang terlihat pada diri Aarav. Lelaki itu turun dengan rambut sebahunya yang terikat juga setelan jas kasual berwarna dongker serta kaos oblong hitam yang mengena di tubuh bidangnya, semua penampilan yang mempertontonkan ketampanan sempurna dari Presdir.
“Awas kau sakit mata karena mengagumi ketampanan sepupumu.” Ia mengusap kepala Rania sambil tersenyum tipis.
“Maafkan saya Tuan Muda.” Gadis itu bangun dari lamunannya lalu buru-buru mengikuti Aarav yang berjalan menuju kendaraan yang sudah disiapkan di halaman rumah.
***
Sementara jauh dari drama yang dilakukan Tuan Muda dan Sekretarisnya.
Di sana, di jalanan yang sudah ramai dilintasi mahasiswa. Wina sudah dari tadi melangkahkan kaki menuju kampus. Tentu saja jarak kampus dengan rumahnya yang terbilang dekat membuat gadis tidak membawa kendaraan untuk pergi ke sana. Dengan kaki gontai itu saja, sudah cukup baginya.
Tubuhnya memasuki gerbang kampus dengan pandangan yang terus menyapu sekeliling bangunan yang berjajar di tempat itu. Hanya decak kagum yang keluar dari mulutnya melihat kemegahan gedung-gedung itu.
Pun ketika tubuh mungilnya memasuki ruang kelas, decak kagum kembali memenuhi matanya.
Luar biasa, kampus ini sangat indah dan terawat dengan baik.
Tidak percuma aku masuk di sini dan mendapat kesempatan belajar.
Tubuhnya merangsek memasuki ruang kelas yang sudah ramai. Memilih tempat duduk yang masih kosong untuk menumpu tubuh mungilnya, dan duduk dengan rapi di sana hingga seorang lelaki paruh baya masuk ke ruangan itu.
Gumam-gumam Mahasiswa terdengar, lelaki itu adalah Dosen yang akan mengajar hari ini.
“Selamat pagi dan selamat datang untuk para mahasiswa baru. Saya harap kalian bisa belajar dengan baik di Universitas ini dan lulus dengan nilai memuaskan nantinya.” Lelaki itu menjelaskan dengan suara lantang dan tegas.
“Saya adalah Dosen yang mengajar hari ini di kelas kalian. Sebelum kelas dimulai, saya akan memperkenalkan dua orang mahasiswa pindahan dari luar negeri yang akan belajar bersama kalian.” Lanjutnya menjelaskan.
__ADS_1
“Tuk, tuk.” Suara langkah sepatu mulai terdengar memasuki ruang kelas, Rania dan Aarav yang berjalan dengan tegak dan kukuh.
Suasana mendadak menjadi hening ketika tubuh kedua orang itu berdiri tepat di samping meja Dosen, menatap lurus ke depan dengan aura yang luar biasa kuat.
“Mereka adalah teman baru kalian. Berbaurlah dengan baik dan kenalkan mereka pada budaya Indonesia, karena mereka lama tinggal di luar negeri.”
Dosen itu masih terus menjelaskan sementara Mahasiswa di kelas mematung melihat ketampanan Aarav di depan mereka. Sampai dosen itu mempersilahkan mereka memperkenalkan diri, kalimat yang keluar dari lisannya seolah tak terdengar karena pandangan yang fokus pada Aarav dan Rania.
“Aarav Zayn.” Aarav memperkenalkan dirinya dengan ekspresi dingin. Matanya masih mencari-cari calon istri yang dikatakan ayahnya semalam.
“Rania Zayn.” Cela Rania cepat memperkenalkan dirinya.
Yaya kau memang tampan.
Lihat, mata semua orang di ruangan ini seperti juling melihat ketampananmu itu.
Lihat itu, lihat Mahasiswi yang dipojok sana. Bahkan warna matanya sudah putih semua. –Wina
Gadis itu mengalihkan pandangannya cepat. Tidak tahan dengan liur mahasiswi di kelas yang hampir menetes melihat Aarav yang berjalan angkuh menuju mejanya.
Suasana belajar pun dimulai, dosen mulai mengeluarkan lembar absen untuk mahasiswa dan memanggilnya satu persatu ketika semua tanda tangan sudah terisi, memastikan mahasiswa yang tidak masuk.
Aarav membatin sambil menyeringai jahat.
Sebentar lagi, namamu yang melegenda di Perusahaanku itu akan disebut.
Aku akan tahu seberapa cantik calon istriku.
Deg.
Mata Aarav langsung menyapu sekeliling ruangan itu tanpa terlewat se inci pun. Ketemu, di sana. Tepat di samping Rania wanita itu duduk dengan santai, menyahuti absen Dosen dengan mengangkat tangannya.
Setelan kemeja panjang berwarna abu tua dipadu dengan kaos oblong putih mengena di tubuh gadis itu. Kulitnya yang putih dengan rambut bergelombang membuatnya menjadi semakin cantik. Penampilan yang sekilas terlihat lebih tomboy tapi sangat cocok mengena di tubuhnya.
Tidak sia-sia aku menyamar sebagai Mahasiswa.
Berbanggalah, karena kita adalah pasangan serasi.
Kau memang pantas menjadi Nyonya Zayn.
Pelajaran dimulai dengan mata Aarav yang terus mengekori tingkah laku Wina. Berkali-kali Rania memperingatkan lelaki itu dengan matanya, khawatir akan membuat gadis yang dipandangannya merasa tidak nyaman, tapi lelaki itu masih kukuh dengan pandangan yang lekat ke arah Wina.
“Tuan Muda, pandangan Anda ke Nona bisa membuatnya ketakutan nanti.” Rania bicara perlahan ketika mata kuliah sudah selesai.
Aarav tetap diam mendengarkan.
“Bukankah sudah bagus kalau hari pertama sudah mengetahui rupa Nona Wina. Beliau memang cantik.”
Aarav terkekeh pelan mendengarnya.
__ADS_1
“Ayo kita dekati calon kakak sepupumu.” Tubuhnya mulai melangkah menjauhi meja.
“Bagaimana caranya?.”
“Dengan membuat masalah besar.”
Tubuh keduanya pergi meninggalkan universitas dengan menggunakan mobil. Rania yang biasanya duduk di belakang kemudipun kebingungan karena hari ini Aarav lah yang menggantikannya.
Mobil yang dikemudikan Aarav pun melesat dan masuk ke gerbang sebuah rumah minimalis. Lelaki itu membuka kaca depan mobilnya lalu terlihat penjaga yang mengangguk dengan maksudnya, membukakan gerbang.
“Kau panggillah calon mertuaku agar keluar, Rania.” Menatap kepada Rania.
Rania yang masih tak mengertipun hanya mengangguk. “Permisi, apa ada orang di dalam?” lantang suaranya terdengar.
Tak lama, seorang wanita paruh baya keluar menuju pintu. Wanita yang masih cantik walaupun dengan guratan menua di lipatan matanya. Melihat Aarav dia tampak tersenyum manis.
“Kau sudah datang, Anakku.”
“Tentu saja ayah sudah menyuruhku menjemput calon istriku, Ibu.”
Aarav menjawab sopan. Senyum juga tergurat di wajah tampannya. Memang begitu, bahkan Rania ingat selama dua tahun Aarav menduduki posisi Presdir di Zayn Property, perusahaan property dengan sekelibat cabang di mana-mana, Aarav tidak pernah membuat kolega atau siapapun orang tua yang ditemuinya terganggu dengan nada bicaranya.
Nada bicara dingin dan terkesan sombong yang biasa ditunjukkannya kepada Rania dan rival bisnisnya, itu sama sekali tak pernah ia pakai ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Nadanya tetap lembut, datar dan senyum mahal seorang Presdir pun bisa dengan mudah ia kendalikan.
Keduanya kini duduk di sofa ruang tamu rumah itu. Rumah yang sederhana untuk ukuran pengusaha kelas dua seperti ayah Wina. Menujukkan bahwa ini adalah keluarga yang tak hobi berfoya-foya dan merasa cukup dengan kesederhanaan.
“Bagaimana kabarmu dan tuan besar, nak?” wanita itu tampak menyuguhkan segelas air untuk Aarav dan Rania.
“Kami semua dalam keadaan sehat, bu. Ayah pulang semalam dari Amerika dan langsung memberiku tugas untuk menjemput calon istriku yang nakal.”
Rania yang mulai mengerti dengan suasana menyungging senyum bersamaan dengan Ibu, ketika mendengar sebutan ‘nakal’ dari Aarav.
“Aku sudah membaca semua informasi yang dikumpulkan Rey, dan melihat Wina hari ini di kampus, memang tidak seharusnya aku lebih lama menunda proses pernikahan.”
“Wina memang sedikit nakal. Ibu sudah peringatkan semalam agar kemampuan bela diri yang Ia punya itu jangan dipakai sembarangan.” Ibu menjelaskan datar, tampak ada gurat khawatir di wajahnya.
“Aku percaya pada calon istriku. Dia adalah wanita yang baik.”
Perbincangan hangat terus terjadi di antara ketiga orang itu, sementara gadis yang disebut-sebut namanyapun sudah merangsek masuk menuju rumah. Wina yang berjalan gontai akhirnya tertegun ketika melihat mobil terparkir rapi di depan rumahnya.
Suara tawa terdengar menggema di dalam rumah itu, tepatnya di ruang tamu. Membuat gadis itu mempercepat langkahnya.
Siapa tamu yang datang hingga ibu tertawa dnegan sangat bahagia.
Biasanya juga cuman teman bisnis ayah.
Sambil keheranan gadis itu terus berjalan hingga kaki mungilnya sampai di depan pintu. Ia hanya melihat Ibu dan Rania yang duduk mengahadapnya.
Apa-apaan gadis ini. Bukankah dia anak baru di kelas tadi.
__ADS_1
Ada hubungan apa dengan Ibu hingga bisa tertawa bersama begitu.