Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Cinta


__ADS_3

Dua orang yang ditinggalkan Aarav dan Rania tadi tetap berada di lobby bandara. Sebelum Rey menuntun langkah Alina menuju pintu keluar, tak ada sedikitpun kalimat protes yang keluar dari lisan gadis cantik itu.


Sejak percakapan palsu yang dibuat Rey, seolah ingin membuat rencana mengantarkan Alina memberi beberapa baju karena akan mengidap di mansion. Gadis itu tetap tetap diam, berusaha mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Rey dengan wajah dinginnya kini menarik dengan paksa pergelangan tangan Alina, keluar dari pintu utama bandara. Sementara yang ditarik paksa hanya menyeringai puas, entah akan terjadi apa dengan dirinya tapi genggaman kasar itu malah terasa begitu lembut.


“Masuk!” bentaknya pada Alina sambil mendorong gadis itu sekuat tenaga masuk ke pintu belakang mobil.


Rey lalu duduk di belakang kemudi, dengan wajah yang tetap dingin dan tatapan datarnya. Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi seperti sudah kehilangan kesadaran.


“Kenapa kau begitu kesal? Kau tidak suka melihat gadis secantik aku mengenal Tuan Mudamu itu?” Tanya Alina santai.


Tak ada jawaban yang diperolehnya dari lelaki yang duduk di depannya itu.


Mobil terus terpacu dengan emosi yang memburu nafas Rey, meminta agar emosi itu segera di keluarkan di depan Alina. Hingga mobil merangsek masuk ke sebuah butik pakaian khusus wanita.


Dari kejauhan sudah terlihat baju dengan potongan lengkap hingga kurang bahasa terpajang di butik itu, sepertinya pakaian branded tersedia dengan berlebihan di sana.


“Kau benar-benar menepati perkataanmu pada Tuan Mudamu itu ya.”


“Tutup mulutmu!” menggertak dengan nada menakutkan, “Berani sekali kau masuk dalam kehidupan Tuan Muda.”


Rey kemudian membuka pintu mobilnya bersamaan dengan Alina, lalu kedua orang itu masuk ke butik dengan senyum Alina yang menyapa kedua pelayan yang menyambut keduanya.


“Selamat datang, Tuan.” Ucap seorang wanita.


“Selamat siang.” Jawab Alina, sementara Rey tidak menanggapi sapaan itu dan terus menyapu ruangan dengan pandangan tajamnya.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” bertanya sopan lagi ke arah Rey yang belum menggubris sapaannya.


“Tunjukan padaku pakaian wanita dengan potongan yang berkelas dan sopan.” Perintah Rey dengan tatapan dinginnya.


“Di sebelah sini Tuan.” Pelayan perempuan berjalan ke arah deretan kain yang disebelah pojok. Di sana rentetan baju wanita yang menutup sampai ke bawah lutut berbaris rapi.


“Tinggalkan kami.” Rey memerintah lagi.


Pelayan wanita itu meninggalkan Rey dan Alina di sana dengan rentetan kain yang akan dipilih. Tampak jelas wajah pelayan wanita tadi yang memerah malu melihat betapa kakunya Rey bersikap. Mengira bahwa kedua orang di depannya adalah suami istri.


Alina dengan segera mendekap tubuh Rey dari belakang, “Kau sangat menyayangi tubuhku rupanya, hingga nekad membelikanku pakaian sopan ini.”memeluk erat punggung itu dalam beberapa detik saja.


“Tutup mulutmu! Aku bahkan bisa membuatmu binasa sekarang!.” Membentak Alina sambil melepaskan pelukan wanita itu dari punggungnya.

__ADS_1


“Baiklah, buktikan kata-katamu itu.” Tak mau kalah kini Alina juga mengancam lelaki di depannya, benar-benar wanita tak punya rasa takut.


“Mbak, tolong tunjukan beberapa gaun untuk saya dong.” Teriaknya agar pelayan tadi kembali menghampiri.


Pelayan wanita yang tadi akhirnya kembali, dengan segera Alina merangkul pergelangan tangan Rey agar menurut sedikit padanya.


“Yang ini, Nona.” Ucap pelayan wanita memberikan selembar baju berwarna peach.


“Manis sekali, kalau begitu aku akan mencobanya bersama suamiku.” Tersenyum penuh kebohongan.


“Diam!!”


“Eh, sayang jangan begitu. Baiklah, akan kuperlihatkan manisnya baju ini di tubuhku, haha.” Masih sabar gadis licik bernama Alina itu membujuk Rey yang super kaku.


“Tutup mulutmu!!.” Menunjuk tepat di bola mata Alina.


“Kau, kemas semua pakaian ini dan bawa ke mobilku.” Rey memerintah dengan tatapan mengancam.


“Baik Tuan.”


Setelahnya lelaki itu kembali menarik tangan Alina hingga tubuh ke duanya masuk dengan paksa ke kursi belakang mobil. Tangan Rey mencengkeram kuat kedua tangan Alina. Mendesak tubuh gadis itu agar semakin terpojok.


“Aku mencintaimu Rey Zayn.” Bisiknya tepat di telinga lelaki di depannya.


“Kau gila!! Melakukan cara licik untuk masuk kedalam hidup Tuan Muda, kau fikir aku tidak tahu tujuan utamamu?!”


“Hebat sekali, jadi kau sudah tahu siapa gadis cantik di depanmu ini.” Alina menyeringai tatapan yang tak mau kalah dengan Rey.


“Jika kau berani menyakiti keluarga Zayn, aku sendiri yang akan membunuhmu Alina!!”


“Buktikan! Buktikan jika kau bisa melakukannya.” Mata Alina mulai berkaca-kaca, “Kau fikir sangat mudah merelakan kepergian Ibu.” Gadis itu mulai terisak.


“Keluarga itu, keluarga tempat kau tinggal dan mengabdi. Adalah keluarga yang membunuh ibuku!!!”


Rey tertunduk mendengar penjelasan menyakitkan Alina. Ya, wanita yang juga tewas dalam kecelakaan bersama Nyonya Zayn adalah ibunya. Wanita yang bahkan tuan besar tidak berhasil mengidentifikasi siapa dia.


Semua ini sudah dipersiapkan Rey dengan baik, membiarkan gadis berbahaya ini di dekat tuan mudanya adalah sebuah kesalahan fatal.


Karena apapun bisa saja dilakukan oleh Alina bahkan sekalipun membunuh Aarav dan Ayahnya. Karena itulah misi utama Rey adalah menjauhkan Alina dari keluarganya. Lebih baik gadis ini ada di sampingnya daripada di samping Aarav karena itu adalah hal terlarang.


“Aku tidak akan membiarkan mereka hidup lebih lama. Keluarga Zayn dan wanita yang sudah dijodohkan dengan Tuan Mudamu itu, akan kuhabisi!.”

__ADS_1


“Diam! Beraninya kau mengatakan itu di depanku!!”, Rey yang tadi hanya tertunduk dan mendengarkan kini bangkit dengan tatapan penuh kemarahan.


“Apa kau kira hanya dirimu yang kehilangan dalam peristiwa itu?!”


Alina akhirnya menyerah, gadis itu terperanjat untuk kalimat yang baru saja dikatakan Rey.


“Kau kira siapa kau yang bisa bicara seenaknya?! Kau kira hanya Ibumu yang pergi meninggalkan dunia saat kecelakaan itu?!”


Alina masih memandang lekat kedua bole mata Rey, drama yang sangat bagus ketika menunggu pesanan kain terkemas bukan.


“Ayah dan Ibuku juga meninggal di sana.”


“Bagus, kalau begitu ayo bekerja sama membunuh mereka.”


“Plak!” Tamparan kuat mendarat di pipi Alina.


Tubuh gadis itu membatu, detik seolah berhenti berdetak. Begitu keterlaluan rupanya kalimat Alina hingga membuat Rey menamparnya.


Rey mencengkeram dagunya kuat, “Itu adalah pelajaran untukmu.”


“Hemmm, hahaha.” Dikira sudah menyerah ternyata gadis itu malah terbahak dengan begitu berani di depan Rey.


“Aku tidak percaya kau berani menampar gadis kecil yang dulu kau berikan Bunga Anyelir dengan begitu lembut.”


“Aku bahkan bisa menghabisimu sekarang Alina.” Rey membelai rambut Alina dengan tatapan mengancam.


“Jika Aku mencintaimu, lalu kenapa kau harus melindungi pembunuh itu?!!”


“Diam! Kau wanita tak tahu malu. Kau hanya berteriak dan balas dendam, bukan jatuh cinta!!”


***


Pelayan wanita tampak menenteng tas berisi baju yang dipesan Rey tadi ditokonya. Berjalan perlahan sambil mendekati mobil di depannya. Mencoba memberitahu bahwa pesanan Rey selesai di kemas dan harus dibawa pulang segera.


Tiba di depan mobil Rey, betapa terkejutnya wanita itu ketika melihat pipi Alina yang ditampar dengan kuat oleh lelaki yang bersamanya, belum lagi dengan posisi Rey dan Alina yang sangat intim membuat beberapa tas berisi kain terlihat jatuh dari genggamannya karena terkejut dengan pemandangan di depannya.


Bisa gila jika aku tetap di sini.


Secepat kilat pelayan itu menaruh tasnya tepat selangkah di samping mobil Rey. Membiarkannya berserakan di sana dengan ketakutan yang sudah mengaliri seluruh tubuhnya.


Ekstrim sekali pasangan itu, hingga harus bermesraan sambil menampar istrinya segala.

__ADS_1


__ADS_2