Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Tragedi (Part 2)


__ADS_3

"Kau ingin aku melepaskan ini?" ucap Rey menunjuk lakban yang membungkam suara wanita itu dengan pisau lipat yang masih terpegang di tangannya.


Kedua wanita itu mengangguk cepat, air mata sudah bercucuran di wajah keduanya. Membuat Rey semakin senang dengan permainan jebakan ini. Gurat di wajah Rey menunjukan betapa lelaki itu menikmati permainan berbahaya ini.


"Sampai di mana sesungguhnya wanita jahat bernama Alina itu mampu menjalankan rencana konyol seperti ini." Sambil menyeringai Rey memandangi keadaan keduanya.


Aku tidak menyangka kakakmu begitu kejam, Rania.


Sudah seperti psikopat sungguhan Ia mengancam.- Wina.


"Dengarkan aku dengan baik dan ikuti rencanaku, maka kalian akan selamat." Ucap Rey dengan ekspresi datar. Pisau terus mengitari pipi dan dagu kedua wanita yang terduduk lemah di depannya.


"Tapi jika kalian mencoba menipuku! nyawa kalian akan ditebus dengan ini!!" Menyentakkan pisau ke pipi salah satu wanita dengan tatapan tajam. Menerjang bola mata kedua wanita itu, membuat keduanya ketakutan setengah mati.


"Hmmpphhh", anggukan berkali-kali dari wanita di depannya dengan mulut yang masih tersumpal lakban.


***


Sekitar satu jam, dua mobil yang dengan jarak yang cukup jauh sudah terparkir rapi di tepi jalan depan gerbang utama Mansion. Posisi yang strategis diatur, memperlihatkan kedua mobil itu seolah hanya terparkir di sana tanpa rencana jahat.


penampilan orang yang berada di dalamnya juga diatur sempurna dengan mengenakan pakaian santai, seolah mereka hanyalah orang-orang biasa yang kebetulan melintas di sana.


Mereka adalah orang-orang suruhan Alina, yang sudah siap menunggu di depan gerbang Mansion untuk menculik dan membuat nyawa Wina dalam bahaya.


Jalan raya sepanjang kompleks Mansion nampak lengang, gerbang utama terlihat terbuka. Sebuah mobil dengan dua orang wanita yang menyamar sebagai pelayan tadi salah satunya duduk di belakang kemudi, lalu hanya ada seorang wanita mengenakan gaun di kursi belakang mobil.


Dua mobil yang berisi orang suruhan Alina pun membuntutinya dengan jarak yang teratur. Tapi, mobil yang dinaiki dua orang wanita itu tampak melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat mobil yang mengekorinya pun menancap gas.

__ADS_1


“Kenapa kedua wanita itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.” Gumam-gumam disertai ekspresi penuh keheranan di wajah lelaki yang mengikuti mobil di depannya.


Mobil yang dikendarai kedua wanita itu menuntun mobil di belakangnya untuk terus melaju dalam kecepatan tinggi. Seolah memaksa mobil yang mengikuti untuk tetap bernafas pada keadaan mencekam.


Teman lelaki yang bergumam tadi meraih ponsel di sakunya, mecari-cari sesuatu di sana.


“Kenapa kau menyetir dengan kecepatan tinggi?!” bertanya penuh kekesalan dan keheranan, “Hentikan mobilmu. Biarkan wanita itu kami yang membawanya.” Dengan nada memaksa.


“Baik.” Suara wanita di seberang telepon sana menjawab lugas.


Tepat di jalanan yang lengang dengan kendaraan, mobil yang dikemudikan kedua wanita itu memelan. Lalu dengan sengaja mempelai wanita yang berada di kursi belakang memutar kemudi hingga mobil hingga berhenti dengan posisi memalang jalan.


“Duarr!!!” Dentuman keras terdengar, mobil pertama yang berisi orang suruhan Alina menabrak tepat di bagian kursi depan mobil yang dikemudikan kedua pelayan wanita.


Membuat mobil kedua, yang berisi orang suruhan Alina mengerem mendadak melihat kejadian di depannya.


Sementara mempelai wanita yang duduk di kursi belakang mobil tampak baik-baik saja, masih dengan posisi duduk di dalam mobil yang sudah hancur separuhnya.


Dua orang lelaki yang mengerem mendadak mobilnya tadi keluar perlahan. Berjalan dengan penuh ketegangan dan langkah ragu. Mendekati mempelai wanita yang masih duduk tenang di pintu belakang mobil.


Telak, langkah keduanya berhenti tepat satu langkah di samping kursi belakang mobil. Bukan mempelai wanita yang keluar dari sana, tapi seorang lelaki berperawakan tinggi dan tegap yang menutup kepalanya dengan tile berwarna putih tulang.


Rey tampak menodongkan pistol tepat di kening kedua lelaki itu dengan tatapan tajam dan lengan yang kukuh.


“Jika kau berani melarikan diri, timah panas dalam senjata ini akan menembus tepat di kakimu.” Rey menyapu pandangan kedua lelaki itu dengan tatapan menakutkan.


Tepat setelah keduanya mengangkat tangan dan tersudut dengan situasi, dua buah mobil datang dari arah yang berbeda. Para pengawal yang sudah disiapkan Rey dari lembaga meringkuk tangan kedua lelaki suruhan Alina.

__ADS_1


“Tinggalkan aku bersama yang ini.” Ucap Rey menarik kerah salah satu dari lelaki itu, “Antarkan aku pada wanita itu. Jika tidak,” mengeluarkan pistol dari saku jasnya lagi menodongkan tepat di leher lelaki itu “Peluru dari benda ini akan tertanam di lubang nafasmu.”


“Ba, baik Tuan.” Dengan lisan terbata-bata. Kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya sendiri karena ketakutan. Terlebih lagi ketika melihat Rey sangat menikmati gerak senjata yang mengitari lehernya.


***


Sekitar tida puluh menit berlalu, mobil yang membawa Rey dan anak buah Alina tiba di sebuah rumah besar dengan lokasi cukup terpencil.


Di tengah kota begini, terselip rumah yang dipenuhi dengan pohon besar yang rindang. Membuat siapapun yang melintas di sana mengira rumah itu hanya akan dihuni oleh hantu. Tak ada penjagaan yang berarti di rumah itu kecuali CCTV yang dipasang diseluruh penjuru.


“Jika kau masih menyayangi dirimu. Maka enyahlah bersama mobil ini sekarang juga.” Ucap Rey dengan nada mengancam dan tatapan tajam.


Buru-buru lelaki itu mengangguk sementara Rey keluar dari mobil dengan membenahi kancing jasnya. Lelaki itu masih tetap gagah dalam berjalan. Tak ada luka yang berarti di tubuhnya walaupun sudah dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil anak buah Alina.


Membuka pintu rumah itu dengan sekali sentakan. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang ada di lantai bawah rumah besar itu, berusaha menemukan di mana Alina berada.


Nihil, wanita itu tak ditemukan di sana.


Dengan raut kesal dan tatapan tajam, Rey tak menyerah. Kini ia menaiki tangga dan menemukan pintu kamar yang sedikit terbuka di sana.


Dengan langkah yang dipenuhi kemarahan lelaki itu masuk dan menemukan Alina yang tertidur dengan lelap di sofa samping ranjang tidurnya.


“Tap!.” Tangannya meraih leher gadis itu dan mencekiknya, hingga Alina bangun tiba-tiba.


Tatapan penuh kemarahan sudah memenuhi mata lelaki di depannya, dengan tangan yang sudah bersarang mencengkeram lehernya. Gadis itu sudah sulit bernafas, yang tadinya ia duduk tenang di sofa dengan begitu nyaman, sekarang separuh tubuhnya sudah terangkat karena menahan rasa sakit dari cengkeraman Rey.


Masih tak menyerah, tubuh mungilnya yang hanya diselimuti gaun tidur berwarna putih meronta dengan kuat.

__ADS_1


“Le, lepaskan!!” Berhasil melarikan diri dari cekikan yang mencengkram kuat lehernya.


__ADS_2