Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Rey dan Alina


__ADS_3

Bertamasya ke masa lalu dan awal mula cinta pasangan kedua, Rey dan Alina.


Beberapa lembar rahasia mengenai kelamnya masa lalu mulai terungkap. Di bagian pertama ada Aarav dan Wina yang memulai kisah cintanya dengan gigitan di bahu. Jauh dari itu, juga sepasang manusia dengan kisah yang tak kalah unik.


Rey dan Alina.


Semua bermula dari sepuluh tahun yang lalu, di mana cerita kelamnya juga bermula dari gadis cantik bernama Alina itu. Sama seperti Aarav yang melalui berkenalan dengan Wina ketika ibunya sudah tiada. Begitupun dengan Alina.


Satu tahun sebelum kecelakaan tragis yang menimpa tiga keluarga.


Saat itu, tubuh Alina kecil direngkuh ibunya. Gadis kecil itu tampak terlelap dalam mobil yang membawa dirinya dan ibunya. Bagai anak yang tidak kekurangan kasih sayang, rengkuhan ibu terasa begitu hangat dan tak terganti.


"Bangunlah, sayang." Ibu menggoyang tubuhnya pelan ketika sudah sampai di tempat tujuan.


Pandangan gadis itu dipenuhi keheranan, "Di mana ini?" Bertanya dengan penasaran.


"Di rumah sahabat Ibu." Menjelaskan singkat.


Jawaban singkat yang semakin membuat pandangan Alina larut dalam keheranan.


Menjadi anak satu-satunya membuatnya begitu tahu bahwa ibunya tak punya banyak teman, bahkan sampai berkunjung begini. Ah, terasa begitu mustahil.


Tak ada lagi penjelasan yang diperoleh dari lisan Ibu. Keduanya keluar dari mobil, dengan tangan Alina yang digenggam lembut ibunya.


Seorang wanita muda, tak kalah cantik dari ibunya yang sudah menunggu di depan pintu. Menyambut dengan hangat kedatangan mereka. Wanita itu adalah ibu dari Wina, yang juga sahabat ibunya Alina.


Senyum bahagia tampak jelas di wajah kedua ibu muda itu. Belum lagi ditambah dengan kecupan di pipi kanan dan kiri membuat keduanya tampak sangat dekat. Gadis kecil itu tetap diam bahkan ketika tubuhnya sudah duduk meringkuk di atas sofa.


"Kau membawa bidadari kecil ini juga?" rayu ibu Wina sambil mencubit pelan pipi Alina.


"Tentu. Karena Alina juga ingin bertemu dengan Wina, puterimu yang cantik itu." Menjawab lugas.

__ADS_1


"Ah sayang, sayang sekali. Wina sedang ikut berlibur bersama ayahnya."


"Kenapa kau tidak ikut juga?"


"Hari ini kau akan datang, aku juga sudah memercayakan Wina pada Suamiku.” Pernyataan yang membuat luluh hati ibu Alina.


Itu menjadi awal perkenalan yang menyenangkan sekaligus awal pertemuan agar Alina mengingat dengan baik wajah ibu muda yang asik mengobrol dengan ibunya.


***


Di hari kematian ibunya.


Di sebuah rumah megah, gadis kecil itu meronta-ronta meminta dilepaskan lengannya. Ingin sekali tubuh mungilnya merengkuh ibu di ruang utama rumah megah. Tepatnya, merengkuh jasad ibunya dengan kesedihan sepenuhnya.


Jika Wina meronta-ronta dan berlari dengan ekspresi bahagia, lain lagi dengan Alina kecil yang meronta dan berusaha melepaskan dirinya dengan ekspresi dan perasaan hancur.


"Lepaskan aku!!." Bentaknya pada pengawal yang menggendong tubuh mungilnya. Berusaha menjauhkan diri dari keramaian.


Kini, tubuh mungilnya hanya bisa meringkuk di dalam kamar. Terkurung di sana dengan sengaja, hanya ditemani benda-benda mati yang mengisi penuh kamar megah itu.


Alina yang terduduk lemah tepat di belakang pintu kamar bangkit. Dengan sisa nyawanya, gadis kecil itu berjalan dengan tertatih hingga sampai ke jendela di pojok kamarnya, bermaksud melihat dari sana apa yang akan dilakukan oleh orang-orang di lantai bawah pada ibunya.


Jauh dalam lubuk hatinya, sebenarnya gadis kecil itu belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Tapi anak kecil yang dengan kebodohannya pun akan tahu apa arti kematian.


Orang yang kita cintai pergi dan tidak akan menemui kita lagi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin tepatnya pemahaman Alina mengenai kematian hanya sampai di sini. Takaran yang pas untuk gadis kecil dalam umur belasan tahun.


Tinggal di rumah megah namun dipenuhi kesunyian dan kesendirian. Bukan hal yang mudah untuk dilewati Alina. Setiap hari bahkan ia harus memaki dirinya sendiri karena sangat sulit menemukan teman. Setiap sisi rumah itu hanya dipenuhi pohon yang tertanam rapi.


Saat malam tiba bahkan sangat mudah mendengar gemeretuk ranting yang patah atau tersenggol angin hingga jatuh. Alina dan kesendiriannya seolah menjadi bak surat dan perangko. Saling menyatu dan sulit terpisahkan. Bertahun-tahun kesepian menjadi teman akrab hingga obat penenangnya ketika tidak tenang.


Dua bulan berlalu, kini pelayan yang mengurusnya beserta pengawal di rumah megah itu memperbolehkan gadis kecil itu mengunjungi makam ibunya.

__ADS_1


Pagi itu, kompleks makan tampak lengang. Walaupun hari libur, tapi tak banyak manusia yang berminat mengunjungi kerabat mereka di tempat ini. Yah, bukankah takdir sudah mengutuk tempat ini menjadi begitu menyeramkan untuk manusia yang masih hidup di dunia. Tapi mereka tak menyadari bahwa suatu saat terpilih dan berbaring di sana juga.


Alina keluar dari mobil ditemani oleh dua orang pengawal. Penampilan gadis itu memang sudah ditata sejak kecil sudah elegan. Berjalan dengan penuh penghayatan menuju makam ibunya dengan menenteng Bunga Anyelir berwana salem di tangan kanannya, kebiasaan yang sampai dewasa nanti tetap dilakukannya ketika mengunjungi makan ibu.


“Berhenti disini, biarkan aku saja yang pergi ke makam Ibu.” Perintah Alina pada kedua pengawal yang mengekorinya.


Gadis kecil itu hanya butuh diberikan ruang untuk sendiri. Entah nanti Ia akan menangis dengan ekspresi seburuk apa di makam, tapi tangisan itu hanya boleh dilihatnya sendiri dan menjadi rahasia yang disimpan dengan baik.


Mulai melangkahkan kaki memasuki kompleks pemakaman ibunya, berhenti tepat di sebuah nisan yang tertulis jelas nama ibu di sana.


“Aku datang Ibu.” Dengan suara serak yang tertahan.


Mengusap pelan batu nisan itu dengan jemari yang tercampur air mata. Walaupun jiwanya belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada wanita yang sangat disayanginya, bagaimana bisa sebuah kecelakaan merenggut nyawanya dengan begitu mudah, meninggalkan Alina sendiri bersama kesunyian yang mengerumuni dirinya.


Pandangannya mulai menyapu tuntas area pemakaman itu, untuk ukuran anak usia belasan tahun Alina adalah gadis kecil yang berani. Bagaimana tidak jika pagi buta begini sudah berdiri di pemakaman.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang anak laki-laki memandangnya dengan tatapan dingin. Bunga Anyelir dengan warna salem juga berada di genggaman anak itu. Alina mengerjapkan matanya beberapa kali, sempat mengira bahwa anak itu mungkin hantu di pemakaman.


Dia adalah Rey kecil.


“Sedang apa kau?” tanya Alina dengan penuh tatapan penasaran.


Tak ada jawaban, anak laki-laki itu hanya diam kemudian mengalihkan pandangannya ke arah makan di sampingnya. Mengusap nisan makam itu dengan lembut di tangan kanan dan kirinya, lalu berjalan perlahan menuju Alina.


Perlahan tapi pasti jarak terkikis di antara kedua anak itu. Kini Rey berada selangkah di depannya dengan Bunga Anyelir yang masih tergenggam sempurna di tangan kanannya.


“Ambil ini, dan berikan padanya.” Rey memberikan Bunga Anyelir sambil menunjuk makam ibu Alina.


Setelahnya siluet Rey kecil menjauh. Meninggalkan pemakaman itu dengan Alina yang masih mematung.


Beberapa kali gadis kecil itu memanggil Rey untuk bertanya kembali, setidaknya untuk menjawab pertanyaan kenapa Ia memberikan Bunga Anyelir pada Alina.

__ADS_1


Nihil, semua teriakan dan pertanyaan hanya menemukan jalan buntu sampai tubuh Rey yang sudah menghilang di balik pagar yang menembus pintu masuk makam.


__ADS_2