
Gadis kecil yang sepuluh tahun lalu pergi ke kompleks pemakaman sudah tumbuh dewasa, Alina Gunawan. Dengan kekayaan dan usaha yang banyak dilakoninya membuatnya tampak mandiri dan tumbuh menjadi wanita tangguh.
Hanya sifat arogannya, yang menjadi pembeda untuknya dari wanita lain. Sifat yang seakan sudah mendarah daging dalam kehidupannya, juga membuat gadis itu bisa melakukan hal-hal nekad yang tidak mungkin dilakukan gadis lainnya.
Penampilannya yang elegant tertata dari ubun-ubun hingga ujung kaki. High heels yang mengena di kaki jenjangnya terus berganti warna dari hari ke hari. Semua yang berada dalam cengkeramannya di dunia bisnis dan urusan pribadi harus menuruti kemauannya.
Karena jika tidak mungkin yang menentang akan kehilangan kepala.
Semua berubah, tapi tidak dengan hatinya yang terus menetap. Kejadian sepuluh tahun lalu di pemakaman membuat dirinya terus mencari dan mencari siapa sebenarnya anak laki-laki kecil yang dengan mudah memberikan bunga.
Aku akan temukan dirimu.
Aku akan temukan dirimu.
Kalimat ini seakan menjadi motto hidupnya. Kejadian di pemakaman yang membuat jantungnya berdebar ketika mengingat-ingat wajah tampan anak laki-laki itu.
“Nona.” Ucap seorang pengawal yang diutusnya tempo hari.
Menyadarkan lamunan gadis itu yang sedang asik memandangi sekeliling rumah dari balik jendela kaca kamarnya.
“Anak itu adalah Rey Zayn.” Jelas pengawal itu lagi, “Makam ibunya terletak di kompleks pemakaman yang sama dengan Ibu Nona. Dan hari itu dia kesana untuk mengunjungi makamnya. Dia juga selama delapan tahun ini menempuh pengajaran khusus di bawah lembaga keamanan yang dikelola Zayn Property.”
Alina yang sejak tadi hanya duduk membelakangi sambil mendengarkan seksama, kini bangun dari kursi itu. Melangkah mendekati jendela kaca di depannya, agar tubuhnya terkena sinar matahari yang merangsek masuk lewat jendela.
“Bagus sekali. Setelah kecelakaan yang terjadi antara Ibu Tuan Muda itu dan Ibuku, ternyata lelaki yang kusukai adalah saudara angkat Tuan Muda yaa.” Menyeringai pelan.
Lalu dengan jelas Alina membalikkan badannya, mengisyaratkan pengawal itu bahwa sudah cukup laporan yang dibawanya kali ini untuk Alina.
Setelah menutup pintu kamarnya dengan sekali gebrakan, Alina masuk dan membuka lemari pakaiannya. “Sudah kukatakan, kau pasti akan kutemukan.” Berucap dengan jemari yang sibuk membolak-balik koleksi bajunya dalam lemari.
Ekspresi penuh kemenangan masih tergurat jelas di wajahnya walaupun sudah satu jam berlalu. Gadis itu sudah menyulap penampilannya dengan sangat elegant dan cantik. Dress berwarna biru toska yang mengena di tubuh rampingnya memperlihatkan dengan jelas kecantikan tubuhnya.
__ADS_1
Sebelum melangkahkan kaki keluar dari rumah yang dihuninya, Alina menelpon pengawalnya terlebih dahulu.
“Katakan, di mana aku bisa melihat lelaki tampan bernama Rey Zayn itu.” berjalan gontai menuruni anak tangga menuju pintu utama.
“Di salah satu perusahaan cabang Zayn Property, Nona.” Kata lelaki itu lalu mengirimkan sebuah alamat pada Alina.
Mobil yang dikendarai Alina melesat dengan kecepatan tinggi, seolah tak sabar untuknya bertemu Rey. Bertahun-tahun berlalu semetara dirinya tak pernah lagi melihat bagaimana lelaki itu sejak di pemakaman.
Mobil sudah terparkir dengan rapi. Wanita itu memasuki lobby gedung dan menuju meja resepsionis yang ada di sana. Lobby perusahaan itu tampak lengang, memberi Alina akses jauh lebih banyak dari kemauannya.
Mengeluarkan pisau dari tasnya, “Katakan pada Rey Zayn, ada wanita tua yang hampir mati ingin menemuinya.” Menodongkan pisau tepat di leher resepsionis wanita itu.
“Jika kau berteriak, sebelum pengawal di depan menangkapku. Nafasmu akan berhenti lebih dulu.” Bisik Alina pelan membuat resepsionis itu makin ketakutan.
Di posisi yang terpojok dengan belati yang hampir tertancap di lehernya, resepsionis wanita itu meraih gagang telepon dan mengetik beberapa nomor di sana. Mengatakan hal persis dengan ejaan lisan Alina tadi.
“Tuan, ada wanita tua yang hampir mati karena ingin menemui anda.” Lirih suaranya dipenuhi ketakutan.
“Katakan, ada di lantai berapa ruangannya.” Masih mengancam dengan belati serta suara yang berbisik.
“L..la..lantai teratas.” Menjawab terbata.
Dengan cepat Alina berjalan ke arah lift. Menekan tombol-tombol yang ada di sana dengan cekatan, ekspresi bahagia tampak jelas memenuhi wajah cantiknya. Hingga Ia tiba di ruangan Rey.
“Cklak.” Suara pintu terbuka lalu langsung dikunci Alina.
Di sana, di ruangan megah itu seorang lelaki dengan setelan jas formal sedang sibuk menandatangi berkas-berkas yang ada di mejanya. Masih menatap Alina yang mengunci pintunya.
“Kau sudah bosan hidup hingga berani masuk kesini?” Rey masih bertanya dengan ekspresi datar. Sementara dirinya sama sekali tak mengenal Alina.
Gadis itu menghambur mendekati meja kerja Rey. Mendorong kursi tempat Rey duduk agar menjauhi meja, lalu duduk tepat di atas pahanya. Hal yang paling memalukan dilakukannya bagai gadis tak punya harga diri.
__ADS_1
Rey yang menerima perlakuan gila itupun bangkit dengan segera. Menarik pergelangan tangan Alina dan melipatnya dengan paksa ke belakang.
“Beraninya kau bertindak kotor kepadaku! Siapa kau?!!” Rey hampir berteriak dengan perasaan kesal yang sudah menyelimuti dirinya.
Alina tersenyum, “Haa, sepertinya aku sudah gila karena mencintaimu. Jika kau tak menginginkanku, lalu kenapa kau memegang tanganku begini?” kembali bertanya dengan tatapan yang mengekori tangannya.
Cepat-cepat Rey melepaskan tubuh Alina dari cengkeramannya. Menjauhkan diri dari gadis itu dan kembali bertanya, “Katakan! Siapa dirimu?!”
“Alina Gunawan. Gadis yang kau berikan bunga anyelir di pemakaman menyedihkan itu.”
Alina berjalan kembali untuk mendekati tubuh tinggi Rey, menatap lelaki itu dengan lekat lalu melingkarkan tangannya di leher Rey.
Kecupan lembut mendarat tepat di bibir Rey. Membuat lelaki itu tersentak ketika Alina melepaskan pagutannya. Sekejap, tapi bibir Rey sudah kehilangan kesuciannya. Tak ada penolakan dari tubuh lelaki itu karena gerakan Alina yang memagut bibirnya dengan begitu cepat.
“Kau wanita gila! Apa kau sudah kehilangan akal hingga melakukan ini!!” menunjuk bibirnya sendiri.
“Ya. Paras tampan ini,” membelai wajah Rey, “Tubuh sempurna ini,” mengusap dada bidangnya, “Dan tingkah manismu ketika menyerahkan anyelir itu, menjadikanku gila.”
Rey kembali menghentak tubuh Alina dengan keras. Tapi tak menyerah gadis itu dengan sekuat tenaga mendorong Rey hingga terhempas jatuh di sofa.
Deru nafas yang memburu serta tatapan Rey yang belum fokus karena badannya yang terjatuh paksa.membuat Alina mendapatkan kesempatan keduanya untuk menyoroti tubuh lelaki di depannya.
Gadis itu kembali mengecup bibir Rey dengan paksa. Adegan yang dilakukanya dengan agak lama, sementara Rey memegang pinggangnya lalu mengangkat gadis itu, menjauhkan tubuhnya dengan dangat kasar, membuat tubuh Alina kehilangan keseimbangan.
Refleks Rey malah memegang pinggangnya dengan cepat, menumpukan tubuhnya agar gadis itu tidak jatuh ke lantai yang siap membentur kepalanya.
“Jika kau tidak menginginkanku, lalu kenapa memulainya dengan memberikan bunga?”
“Diam! Sekarang keluar dari ruanganku!.” Bentak Rey dengan tatapan menyeramkan.
“Dengar, aku tidak akan melepaskanmu. Karena hanya aku wanita yang bisa memilikimu.” Kalimat penuh ancaman sambil tangannya merapikan dasi dan jas Rey yang acak-acakan.
__ADS_1
Selesai. Suara langkah Alina mulai terdengar menjauhi Rey dan keluar dari ruangannya. Meninggalkan Rey dengan raut menyeramkan sambil mematung. Masih terasa hangat bagian bibir Rey yang terkecup tadi. Hal gila yang dilakukannya hari ini, membuat Rey juga kehilangan kendali untuk memelihara emosi.