
Pagi ini tiba dengan indah. Wina masih ingat kegiatan yang dilaluinya bersama Aarav dari kemarin hanya sebatas di ruang kamar, benar-benar membosankan.
“Ayo kita ke taman.” Bujuk Wina saat Aarav dengan asik merangkul tubuhnya dari belakang.
“Untuk apa, banyak ular di sana.” Menjawab dengan nada malas, semakin mempererat rengkuhan di pinggangnya.
“Kau ini bicara apa, Ayah juga sering ke sana untuk berkebun.”
“Dari mana kau tahu?”
“Rania yang mengatakannya.”
Aarav menyeringai, “Apa kau juga menanyakan suamimu padanya?”
“Haha, tentu saja.”
“Di mana kau belajar bersandiwara?” Aarav menggigit pelan daun telinga istrinya, faham sekali jika gadis itu berbohong.
Kau seperti piranha.
“Jika kau ingin menanyakan suamimu, bertanyalah pada Rey dan Rania.”
“Kenapa?”
“Mereka adalah saudaraku dan yang paling memahamiku.”
Wina yang mendengarnya terlihat keheranan. Ia bahkan masih ingat yang tertulis rapi di dokumen yang tempo hari diberikan oleh Aarav ketika melamarnya, di sana tertulis jika Rey dan Rania adalah bagian dari keluarga Zayn. Walaupun tak dijelaskan statusnya secara gamblang.
“Tapi ingatlah, kau hanya boleh bertanya mengenai diriku dan hal lain dengan detail pada Rania. Jangan kepada Rey.”
“Loh memang apa bedanya?”
“Rey itu terlalu berbahaya.” Aarav tergelak dengan ucapannya sendiri.
Saat itu, Wina hanya tertegun. Berfikir keras apa yang sebenarnya dimaksudkan suaminya, tapi terlintas jelas di benaknya bagaimana di hari pernikahan Rey mampu membuat dua orang pelayan wanita yang menyamar berhasil dibuat ketakutan setengah mati.
“Saat hari pernikahan…”
“Rey mengayunkan belati kepada orang suruh wanita gila itu kan?” Aarav memotong cepat, rupanya Tuan Muda juga tahu apa yang terjadi pada hari itu.
“Itu semua untuk melindungi keluarganya.” Lanjut Aarav.
Kenapa kau terus menjelaskan dengan kode-kode tidak jelas sih,
Bicara yang jelas sedikit kenapa, membosankan sekali.
***
Pagi kedua di Mansion.
Wina turun dari kamarnya, dengan rambut yang terburai sembarangan. Gadis itu seperti tak punya keinginan untuk mengikat atau membenahi rambutnya.
__ADS_1
Mungkin ini belum terhitung pagi untuk kebanyakan manusia. Remang semburat mentari mulai mengintip dari balik jendela kaca, kini Wina berdiri tepat di depan dinding kaca yang menembus ke arah taman.
Tempat paling nyaman yang berharap dari kemarin sudah bisa dikunjunginya, tapi dengan malasnya Aarav sengaja menahannya untuk menemani di kamar lebih lama. Kini lelaki itu sedang tidur di kamar dengan ekspresi tenang. Itulah yang kemudian dimanfaatkan Wina sebagai kesempatan melarikan diri dari cengkeraman suaminya.
Dengan hentakan mantap, gadis itu mendorong pintu kaca, masuki area taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga. Memang tak dapat dipungkiri udara taman di pagi buta begini adalah yang paling sejuk.
Dan betapa kagetnya Ia ketika menemukan Rania duduk di kursi taman itu dengan air mata yang jatuh di pipinya.
“Rania.” Ucapnya lirih, hampir suara itu tak terdengar karena semilir angin yang berhembus lembut.
Rania tampak menghapus cepat air mata yang menitik di pipinya, “Nona, bukankah ini masih sangat pagi. Kenapa Nona sudah terbangun?.”
Rania bermaksud menyembunyikan aura sedihnya. Karena itulah Ia bertanya dengan wajah yang teralih sempurna dari Wina. Berharap agar Nona Mudanya tidak akan bertanya macam-macam mengenai keadaannya.
“Ah, aku hanya ingin merasakan udara taman yang sejuk ini.” Mengambil posisi di samping Rania untuk duduk di sana.
“Rania?” Panggilnya lagi.
Rania memejamkan matanya, takut jika gadis di sampingnya ini akan bertanya hal aneh.
“Rania, tolong tunjukkan padaku bunga apa saja yang ditanam ayah di sini.” Menepuk pundak Rania yang masih bengong mendengar kalimatnya barusan.
Aman, tak ada pertanyaan aneh-aneh yang keluar dari mulut Wina. Perasaan lega membanjiri hati Rania dengan segera, padahal jelas-jelas gadis itu melihat Rania menangis tadi, tapi tak ada pertanyaan apapun terkait itu yang keluar dari lisannya.
Entah karena tidak peduli atau memang mau mangalihkan topik pembicaraan, tugas Rania sekarang adalah mewujudkan keinginan Nona Mudanya.
“Mari saya tunjukkan Nona.” Rania bangun dari kursi taman, menuntun Wina.
“Wah, ternyata taman ini luas juga.” Decak kagum yang terdengar begitu membosankan untuk Rania yang sudah berkali-kali masuk mengelilingi area taman.
“Apakah aku bisa bermain bola di sini?.”
Rania tak menggubris kata yang keluar dari lisan Wina barusan. Entah karena terlalu serius memperhatikan di mana bunga yang di taman ayah di taman atau bagaimana.
“Ini bunganya Nona. “ Ucap Rania menunjuk jajaran pot berwarna hitam yang berbaris rapi di pojok taman yang dikelilingi tembok.
“Banyak sekali bunga Anyelir di sini, Rania?” dengan ekspresi senang seolah menemukan surga baru di rumah besar yang menyesakkan itu.
“Itu kesukaan Kakak.”
“Kakak yang mana?” Wina bertanya dengan tatapan yang masih lekat memandang keindahan bunga, mencium semerbak wanginya.
Apakah Nona sudah tahu yang sebenarnya.
Tidak mungkin.
“Kak Rey.”
“Ternyata lelaki berbahaya itu suka bunga Anyelir ya.” Wina mengangguk-angguk seolah faham.
“Berbahaya bagaimana Nona?”
__ADS_1
“Suamiku yang mengatakannya.”
Rania tak dapat menahan tawanya. Gadis itu geli dengan yang dikatakan oleh Wina barusan.
“Benarkah Tuan Muda berkata begitu?”
Wina mengangguk mantap, disertai mata yang dipenuhi tatapan keheranan. Kemarin, ketika menjelaskan mengenai Rey, Arav juga tergelak. Sekarang Rania juga melakukan hal yang sama. Semua ini membuat Wina makin penasaran, sebenarnya apa yang ada pada diri Rey hingga kedua saudaranya tertawa ketika menceritakan mengenainya.
“Aku tidak tahu alasanmu dan suamiku tertawa, tapi bisa tidak aku bertanya lebih banyak mengenai Rey?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena yang Nona tanyakan haruslah Tuan Muda. Bukan Kak Rey.” Memandang Wina dengan gurat mata yang tegas.
“Ah, haha baiklah-baiklah. Jangan memandangiku seperti macan begitu.”
Ya Tuhan, memangnya sifat kakakmu itu seganas apa sih.
Aku jadi penasaran begini.
“Tanyakan apapun mengenai Tuan Muda. Jika saya yang menceritakannya, informasinya pasti akurat Nona.”
“Baiklah.”
Sunyi. Lisan Wina berhenti untuk sesaat, terasa ragu untuk bertanya. Pelan tapi pasti Ia mengurungkan niatnya untuk bertanya pertanyaan serius mengenai suaminya.
“Apa… Aarav mencintaiku?” dengan tatapan wajah polos sekali.
Rania terbahak mendengarnya,
Ya Tuhan, kenapa Tuan Muda menikah dengan gadis sepolos ini.
Lalu untuk apa semua yang dilakukan Tuan Muda sejak awal jika Ia tidak mencintai anda Nona.
“Rania, aku bertanya serius. Kenapa malah tertawa?” nada bicara Wina terdengar kesal.
“Lalu untuk apa Tuan Muda menikahi anda, jika hanya untuk bermain-main?”
“Tapi kenapa begitu mudah dia mencintaiku?”
Apanya yang mudah,
Tuan Muda bahkan bersabar menunggu anda selama sembilan tahun.
“Tugas Nona hanya menerima cintanya dan mencintainya.”
Apa-apaan, kau kira cinta itu tidak butuh alasan apa.
Aku yakin pasti ada alasan kuat dibalik semua ini.
__ADS_1