
Siang di ruang utama Mansion Presdir Zayn Property segera berlalu. Untuk hari ini Rey dan Rania memutuskan bermalam di sana, seolah menjadi teman Tuan Muda membulatkan tekad untuk segera mempercepat pernikahan.
Matahari terlihat sudah berada di ufuk barat, menandakan semburatnya yang sudah tua. Senja sudah menemani bumi. Kini Aarav dan Rey sedang menyaksikannya di taman bersama, duduk bersampingan di sana.
Seorang lelaki paruh baya turun dari lantai dua rumah itu dengan Rania yang berada di belakangnya. Tampak menuntun langkahnya perlahan.
“Apakah drama sudah berakhir hingga kedua pemuda ini duduk di sini?” terdengar seperti pertanyaan yang menggoda.
Aarav dan Rey bangun bersamaan dari kursi itu. Berdiri perlahan dan mempersilahkan Ayahnya untuk duduk di sana. Sedari tadi senja sudah tenggelam dan terganti malam yang menyelimuti bumi.
Lampu-lampu di taman terlihat sudah menyala, seolah tak mau keindahan mahkota bunga di sekitar tempat itu termakan gelapnya malam.
“Aku tahu, Aarav sudah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk ini. Si licik itu pasti akan menemukan Wina seperti yang Ia mau.” Ucap lelaki paruh baya itu sambil menyandarkan punggungnya.
“Katakan Aarav. Apa yang akan menjadi keputusan akhirmu untuk menyelamatkan calon istrimu dari si licik itu?” mengedarkan pandangan kepada anaknya.
Aarav melengos, akhirnya lelaki itu mengambil posisi untuk duduk di kursi tepat di depan Ayahnya. Sementara Rey dan Rania masih betah dengan posisi berdiri sopan.
“Aku sudah putuskan Ayah. Besok akan menjadi hari terakhir aku sebagai mahasiswa di Kampus itu. Setelahnya, akan kubawa calon menantumu kemari untuk menemuimu.”
“Baiklah, aku akan menunggu saat menantu pilihan Istriku menemuiku.”
Lima belas menit berlalu, Rania tampak turun dari tangga setelah mengantar Tuan Besar kembali beristirahat. Masa tua memang memerlukan istirahat yang cukup karena badan yang sudah tak mampu ditopang terlalu lama.
“Saya akan mempersiapkan lamaran secepatnya, Tuan Muda.” Ucap Rey mantap.
“Tentu saja, Kau kan memang ahlinya. Hahaha.” Tawa mengambang di bibir manis Aarav. Mencairkan suasana yang sedari tadi beku bak es batu.
***
Pagi itu di kampus.
Hari ini ujian sebelum masuk materi Administrasi Bisnis yang pertama. Menunjukkan sudah se faham apa mahasiswa di kelas itu seputar ilmu Administrasi Bisnis.
“Calon Istriku memang pintar. Mengambil Jurusan Administrasi Bisnis di kampus ini sementara calon suaminya adalah Presdir Perusahaan Property.” Aarav menyeringai bosan sambil memegang lembar jawaban.
Suara itu terdengar lirih hingga yang mendengarnya hanya Rania.
Masih mengoceh di sana sementara calon istrimu tidak memperhatikanmu dari tadi wahai Tuan Muda.
Wina yang sudah sedari tadi fokus dengan lembar jawabannya, mencoret-coret kertas itu dengan susah payah lalu mengumpulkannya ke dosen yang sudah menunggu.
Berlalu satu jam setelah dosen wanita itu menjelaskan materi dengan singkat dan jelas, lembar jawaban yang tadi terkumpul segera dibagikan kembali bersamaan dengan jam mata kuliah yang sudah selesai.
Wina dengan antusias mendekati meja Rania, “Luar biasa, jawabanmu hanya salah satu di nomor tujuh.” Decak kagum keluar dari lisannya.
__ADS_1
“Sudah melihat jawaban milik Kak Aarav?” Rania menyikut pelan tangan gadis itu.
Eh, memangnya kenapa.
Haha, pasti jawabannya salah semua.
Dari tadi bahkan ayunan pena lelaki itu sangat santai di kertas jawabannya.
Perlahan tubuh Wina mendekati meja Aarav yang sedari tadi curi-curi pandang ke arahnya. Mengangkat lembar jawaban yang teronggok di atas mejanya, sudah seperti kertas tak berguna.
Jawabannya benar semua.
Uwaaa, ternyata dia sangat cerdas dalam bidang ini.
“Kenapa? Tidak usah terlalu mengagumi kecerdasanku seperti itu.” Aarav menyeringai pelan, melihat Wina yang masih memelototi lembar jawabannya dengan ekspresi tak percaya.
“Eh, bicara apa kau. Mana ada aku mengagumi jawabanmu.”
“Lalu apa? Mengagumi ketampananku?”
“Tidak mungkin.” Dengan cepat Wina menjauhkan dirinya dari meja tempat Aarav duduk.
Kemudian menarik pergelangan tangan Rania untuk keluar dari ruangan itu, dengan Aarav yang berjalan gontai di belakang mereka.
“Rania, biasanya aku berlatih bela diri dengan anak-anak kampus di sini.” Langkah gadis itu menuntun Aarav dan Rania ke ruangan yang sudah terpasang matras dengan rapi.
Ucapnya sambil kembali menarik tangan Rania ke ruang ganti dan masuk ke dalamnya.
Gadis bodoh,
Bukan Rania yang akan menjadi temanmu berlatih, tapi calon suamimu ini.
Seringai jahat muncul di wajah Aarav apalagi karena sejak tadi Wina sengaja tidak menghiraukannya. Membiarkan lelaki tampan itu menunggu di depan ruangan tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Pun sampai keduanya sudah keluar dari ruang ganti, memakai kostum latihan lengkap. Disusul Aarav yang masuk juga ke ruangan itu untuk mengganti pakaiannya.
Ketika kedua gadis itu sudah melebarkan kuda-kudanya untuk menyerang satu sama lain,
“Plak!.” Suara kaki Wina yang ditangkis Rania dengan tangan kanannya.
“Ups, tendangan pertama. Hahaha”
“Hentikan Rania! lawan gadis ini adalah aku.” Perintah Aarav dari belakang Rania.
Hei apa-apaan dia.
__ADS_1
Beraninya dia melawan perempuan sudah seperti preman saja.
Hei Rania, jangan biarkan aku melawannya. Melihat dada bidangnya itu saja sudah membuatku ketakutan.
Rania mundur perlahan, gadis itu malah dengan tenang meninggalkan ruangan dan meninggalkan Wina di sana.
Hei Rania, jangan hei.
Rania, apakah kau tidak mendengarku.
“Kenapa kau melotot begitu? Apa kau sedang memaki Rania?”
“Tidak. Itu tidak benar.”
“Lalu apa? Kau sedang mengingat dosa-dosamu supaya diampuni ketika tanganmu kupelintir sebentar lagi?”
Apa kau sudah gila ingin memelintir tangan mungilku ini.
Apa kau tidak lihat perbedaan ukuran tubuh kita ini.
Kau itu sudah seperti hulk mini tahu.
Aarav mulai melebarkan kuda-kudanya begitupun gadis itu. seolah mencari celah dari mana Ia harus mulai menyerang laki-laki di depannya.
Wina memajukan tubuhnya dengan ketakutan yang sudah menguasai.
Gawat, aku akan kalah.
Aku pasti akan kalah.
“Tap!”, telak. Jemari Wina yang tadinya akan menarik kerah depan Aarav malah benar-benar dipelintirkan kebelakang.
“Kau benar-benar memelintir tanganku, dasar Hulk.” Tanpa sadar julukan itu keluar dari lisannya.
Tubuhnya yang masih memberontak, meminta Aarav melepaskan tangan yang terpelintir itu, malah membuat Aarav mendorongnya ke arah tembok. Menyudutkannya di sana dengan paksa.
Deru nafas yang memburu membuat Wina semakin tidak fokus dengan keadaan. Perlahan jemari tangan Aarav mulai menjangkau dagu gadis itu. Menguasai pandangannya hingga ekor matanya bertemu dengan tatapan Aarav yang intens.
“Jangankan memelintir tanganmu. Mencengkeramnya saja aku bahkan tak sanggup.” Bisikan Aarav tepat di telinganya dengan suara serak.
Habislah, kenapa berdebar-debar begini.
Tunggu, aku bisa merasakan jantung kami seperti saling memacu.
Aarav mengendurkan cengkeramannya pada gadis itu walaupun masih menyisakan debaran yang memburu. Tubuh lelaki itu berlalu memasuki ruang ganti, meninggalkan Wina yang masih mati rasa di sana bahkan dengan posisi masih menghadap tembok.
__ADS_1
Di dalam ruang ganti, Gumam-gumam dari lelaki yang sedang mengenakan satu per satu pakaiannya kembali.
“Beraninya membuat aku hampir lepas kendali. Kau memang harus secepatnya kunikahi.”