
Kesehatan adalah sesuatu yang sangat diidamkan oleh umat manusia. Bahkan di luar sana berbondong-bondong manusia yang sengaja datang ke dokter dan tempat-tempat berobat lainnya hanya agar kesehatan mereka kian kembali.
Tapi sepertinya itu berbeda dengan konsep hidup Alina, kejadian di hari pernikahan Aarav dan Wina buktinya. Dengan sengaja gadis itu merobek daging perutnya hanya karena emosi yang membakarnya karena perkataan Rey. Mungkin baginya selagi bisa merebut perhatian Rey dengan cara mengenaskan, kenapa harus dengan cara yang biasa saja.
Seorang perawat terlihat menuntun langkah kaki Alina menuju mobil yang sudah disiapkan di depan rumah sakit itu. Tadinya perawat menyarankan agar Alina menggunakan kursi roda agar mempermudahnya namun dengan tegas Rey menolaknya karena faham benar bagaimana karakter Alina yang tidak terima ketika diremehkan jika duduk di atas kursi roda.
Hanya ada sepasang tongkat yang sudah dahulu dibawa masuk ke mobil itu. Alina duduk di kursi belakang mobil ditemani perawat yang memapah tubuhnya yang masih lemas.
Mobil segera melaju dengan pengawal yang diperintahkan Rey untuk duduk di belakang kemudi dan memastikan Alina sampai ke rumahnya dengan selamat. Hingga sekitar tiga puluh menit dengan kecepatan sedang, mobil masuk ke gerbang rumah Alina.
Merepotkan sekali tampaknya semua pelayan yang bekerja di rumah itu. Bagaimana tidak, di luar gerbangnya rumah besar itu bahkan hanya dikelilingi pepohonan rindang yang semilir anginnya siap menabrak wajah kapan saja.
“Nona, mari saya bantu.” Ucap seorang wanita tua sambil menyambut uluran tangan Alina.
Dia adalah Bibi Santi. Satu-satunya wanita tua yang tinggal di rumah itu untuk menjaga Alina, mengurusnya dari kecil hingga kini.
Jemarinya menggapai tongkat yang dipegang perawat dengan cepat, menuntun langkah Alina dengan perawat berjalan di belakang keduanya, mungkin dalam hati perawat itu kian memaki untuk apa Rey memerintahkannya menemani Alina jika pada akhirnya wanita tua dengan tubuh yang sudah lemah itu lebih berperan daripada dirinya.
“Tunggulah di sini.” Perintah bi Santi melirik perawat wanita itu di ruang tamu.
Keduanya memasuki ruang kamar Alina.
“Apa anak-anak di panti asuhan sudah di urus dengan baik Bi?” Alina duduk di ranjang tidurnya perlahan.
“Iya Nona. Saya sendiri yang memastikannya ke sana.” Meletakkan tongkat di tepi ranjang dengan sopan.
“Aku rindu sekali dengan mereka.”
“Baiklah-baiklah, besok kita akan pergi ke sana untuk bertemu mereka.” ucap Bi Santi. Wanita tua itu melangkah menuju lemari disisi kamar Alina, mengambil kan sepasang gaun tidur berwarna merah muda untuk Nonanya.
Lalu dengan sopan wanita tua itu meninggalkan ruangan. Membiarkan Alina dengan gaun tidur yang masih teronggok di pangkuannya. Tidak ada pertanyaan seperti manusia normal apakah Bi Santi perlu membantunya berganti baju atau tidak, karena kefahaman wanita tua itu terhadap Alina.
Alina bukanlah wanita yang suka ketika dalam keadaan lemah Ia malah ditanya perlu dibantu atau tidak. Dalam kamu hidup gadis itu, semua tatapan manusia yang menawarkan bantuan kepadanya saat lemah terlihat seperti sebuah hinaan yang tak terlupakan. Itulah sebabnya jika memang bersedia maka segera gantikan saja gaun tidurnya, atau melakukan pilihan terbaik yaitu membiarkan Alina sendiri yang menggantinya.
__ADS_1
Kadang bukan hanya masalah gaun saja, bahkan semua hal yang berhubungan dengan kehidupannya begitulah cara Alina menerapkannya.
Bi Santi menuju ruang tamu dengan langkah mantap. Walaupun sudah tua dan terlihat seperti ibu dari Alina, Ia tetap menunjukkan tatapan yang pasti dan tegas.
“Siapa yang menyuruhmu untuk menemani Nona Alina sampai ke sini?” Bi Santi bertanya dengan menyuguhkan segelas air kepada perawat itu.
“Tuan Rey Zayn.” Menjawab sambil menundukkan kepala.
“Kembalilah ke rumah sakit. Aku bertanggung jawab untuk mengurus Nona.”
“Baik.” Perawat itu menghabiskan air minum yang disuguhkan Bi Santi dengan cepat.
Menenggaknya dengan sangat terburu-buru karena melihat pandangan wanita di depannya yang menatap lekat. Lalu melangkah pergi menuju mobil dengan pengawal Alina yang sudah siap untuk mengantarnya.
***
Tiga jam kemudian. Handphone yang ada di saku jas Rey bergetar. Lelaki itu segera menggapainya.
“Nona Alina memerintahkan saya untuk kembali ke rumah sakit, Tuan.”
Rey yang mendengarnya tersenyum simpul. Tanpa diutarakan Rey sudah faham apa yang coba dijelaskan perawat itu. begitu tahunya Ia kenapa Alina menyuruhnya kembali.
“Baik. Kau urus tugasmu di rumah sakit.” Sambil mengangkat pena yang ada di atas mejanya. Menandatangani berkas di perusahaan itu.
Panggilan telepon terputus meninggalkan Rey yang masih membolak-balik berkas di atas mejanya dengan raut wajah tenang. Meneliti dengan detil kesalahan-kesalahan yang ada dalam berkas itu hingga Ia akhirnya beranjak dari kursinya dan melangkah ke luar ruangan.
Meninggalkan perusahaan dengan membawa mobil sendirian. Tak disangka lelaki itu begitu mudah untuk berfikir kembali mengunjungi Alina.
Mobil terparkir di dalam gerbang rumah itu. Beberapa pengawal berjaga dengan tatapan waspada di sana. Pengawal yang sebenarnya bingung ketika kadang Alina memerintahkan mereka untuk membiarkan Rey masuk, tapi tak jarang Alina juga menugaskan mereka untuk melarang Rey masuk ketika rencana jahatnya dengan Aarav sedang dilangsungkan. Lucu sekali.
“Di mana Alina?” ucap Rey dengan Bi Santi yang keluar untuk menyambutnya.
Sangat berbeda dari waktu itu, kini Ia memasuki rumah itu dengan senyum hangat di wajah Bi Santi. Tidak ada lagi kesepian yang menyeruak seperti kala itu.
__ADS_1
Rey masuk ke kamar Alina. Menemukan gadis itu tertidur dengan lelap di atas ranjangnya dengan gaun tidur yang sudah diganti.
“Apa dia sudah makan?” ucap Rey membuat langkah Bi Santi yang hampir menutup pintu segera berhenti.
“Sudah Tuan.” Menganggukkan kepala dengan sopan.
“Rawatlah dia dengan baik, Bi.” Rey masih betah memandang wajah polos Alina. Ketika tidur wajah Alina tampak seperti wanita yang sangat ramah dan cantik. Namun ketika Ia membuka matanya, bahkan apapun hal berbahaya bisa dilakukannya.
“Kau kesini karena merindukanku rupanya.”
Bi Santi yang mengetahui Alina membuka matanya dengan tiba-tiba, bergegas menutup pintu dan meninggalkan kamar itu.
“Kau sengaja membohongiku dengan berpura-pura tertidur?” raut wajah kesal mulai nampak pada Rey. Tapi semuanya memang terasa membuat Alina semakin senang.
“Dengan tidak sopan memandangi wajahku yang sedang terlelap, lalu dengan gampang menuduh aku yang berpura-pura tidur?” sengaja menyerang Rey dengan argumen memojokkan.
“Diam.”
“Kau bisa mengiris mulutku supaya diam.” Alina memalingkan wajah tak peduli. Memiringkan tubuhnya bermaksud menghindari pandangan Rey agar tidak kehilangan kendali.
“Jadi perawat itu sudah memberitahumu kalau aku mengusirnya dari sini.” Gumam-gumam kekesalan terdengar dari lisan gadis itu.
“Aku sudah tidak heran denganmu. Bukankah kau memang terbiasa bertindak kasar?” Rey memalingkan wajahnya dengan tatapan dingin.
Berusaha memutar kembali fikirannya mengingat begitu Alina yang dengan mudah menusukkan pisau di perutnya.
“Aku sudah minta maaf kepadamu.”
Rey menyeringai menatap kembali tubuh Alina yang berpaling darinya. Dengan tatapan mengiris lelaki itu beranjak pergi dari ruang kamar Alina.
“Sejak kapan kau belajar meminta maaf.”
Pintu ditutup rapat, Rey hinga di sana dengan kalimat-kalimat yang mengiris hatinya. Perlahan, sebuah bulir bening menetes di wajah Alina.
__ADS_1