Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Dilamar Hulk Mini


__ADS_3

Wina pulang dengan pertanyaan Ibu yang menggema di telinganya. Betapa hebohnya wanita paruh baya itu ketika tahu anaknya membawa map besar yang diperintahkan Aarav untuk membacanya.


“Segeralah membacanya, nak. Ia pasti memberinya karena berkas itu sangat penting untukmu.” Bujuk Ibu ketika ia baru sampai tadi.


Haduh Ibu, inikan hanya map berisi data, bukan uang yang bisa membuat aku kaya raya


Kenapa berlebihan begitu sih.


Sayangnya keluhan itu hanya bisa dikatakan dalam hatinya. Dengan memaki dirinya sendiri Wina membuka map besar dan tebal itu perlahan. Tatapan gadis itu sudah dari tadi memperlihatkan kebosanan.


Dibukanya satu persatu dengan sangat sabar membaca lembaran-lembaran itu dengan seksama. Dokumen yang berisi data diri Aarav.


Jadi selama ini dia membohongiku.


Harus menjadi mahasiswa segala, pantas saja nilai Administrasi Bisnis nya sangat sempurna. Dia kan seorang Presdir di perusahaan property besar.


Tak ada banyak lembaran yang bisa mengagetkan Wina jika itu berhubungan dengan posisi dan kekayaan Aarav yang dihitung dengan perkiraan kasar dan tertera di sana. Baginya semua itu sama saja.


Sekaya apapun, jika rumahku dekat dengan kampus aku tetap akan jalan kaki.


Memangnya ban mobil bisa menggantikan kaki putih dan jenjangku ini apa, hahaha.


Wina tersentak ketika di sana Ia melihat data diri Rey dan Rania. Data yang diisi dengan informasi pribadi seadanya hanya ada nama dan posisinya di keluarga Aarav.


Tentu saja, karena kemisteriusan kedua orang itu tidak bisa diobral kesana-sini. Dua orang yang posisinya bak berlian bagi perusahaan dalam hal menjaga keamanan keluarga dan mengatur berjalannya perusahaan cabang dan lembaga di bawah naungan perusahaan.


Tetap diam tanpa ada suara yang muncul dari lisannya. Wina hanya mampu mengatakan semuanya pada benak dan hatinya.


Jadi selama ini aku salah, Rania ternyata bagian dari keluarga penting itu.


Dan ini Rey, kakaknya.


Jemarinya menunjuk-nunjuk biodata Rey dan Rania sambil berkali-kali menganggukan kepala.


Terakhir, betapa terkejutnya dia membuka lembaran akhir yang terselip dalam map itu.


“Surat Lamaran dan Pernikahan untuk keluarga Yudhistira.”


“Tidak! Apa-apaan ini. Apa lelaki itu sudah gila ingin melamarku?!” teriak Wina tanpa sadar.


Gadis itu loncat dari ranjangnya membuat lembaran kertas yang ada di sana berhamburan tak karuan.

__ADS_1


Ibu yang mendengar teriakan itu melesat masuk ke kamarnya. Khawatir dengan keadaan puterinya.


“Ibu!” dengan nada ketakutan menghabur memeluk ibunya.


“Ada apa Wina? Kenapa wajahmu pucat begini?” Ibu meraba-raba wajah anaknya.


“Itu! itu bu!, Hulk mini itu melamarku.” Memberikan penjelasan abstrak yang makin membuat Ibu bingung.


Perlahan langkah wanita paruh baya itu mendekati ranjang dan meraih lembar yang dari tadi ditunjuk-tunjuk anaknya dengan perangai takut.


Hulk mini, siapa yang dimaksud Wina sebenarnya.


Konsentrasi Ibu menjadi buyar seketika ketika melihat yang dimaksud puterinya Hulk mini adalah Tuan Aarav. Wanita paruh baya itu hanya bisa tertawa geli, berani sekali puterinya memberi julukan gila untuk Tuan Muda.


“Rupanya Tuan Muda yang melamarmu.” Senyum sumringah terlihat di wajah ibu, “Ini memang sudah waktunya, sayang. Ayahmu harus diberi tahu.” Mengelus lembut kepala puterinya.


“Ibu! Bagaimana bisa setuju dengan lamaran itu? bahkan itu adalah surat lamaran beserta pernikahan yang disatukan.” Merengek dengan nada putus asa. Masih tidak terima dengan surat yang diajukan Aarav untuk meminta dirinya dari keluarga secara tiba-tiba.


“Lagi pula sudah saatnya kau menikah. Sudah, Ibu mau memberitahu ayahmu di kantor dulu.” Ucap Ibu sambil berlalu meninggalkan Wina.


Masih tidak terima gadis itu meraih handphone di saku celananya. Mengetik nomor telepon Aarav yang ada di atas biodatanya.


“Hei, bagaimana bisa kau mengirimkan surat lamaran beserta pernikahan padaku?!” pertanyaan yang menuntut.


“Ah, malas sekali aku menjawabnya. Katakan, apa Ibu dan Ayah menerima lamaran dari Presdir tampan ini?”


“Hentikan. Aku bahkan baru masuk kuliah sebulan dan kau sudah melamarku?”


“Kenapa? Memang ada hak asasi yang melarang untuk menikah karena baru masuk kuliah selama satu bulan?” bertanya dengan nada kesal.


“Dasar kau Hulk mini!.” Wina tak sanggup lagi untuk menahan makian yang memaksa lisannya bergerak.


“Jangan banyak bicara. Karena sebentar lagi kau akan jadi istri dari Hulk mini ini, hahaha.”


Panggilan telepon terputus. Dengan perangai penuh kekesalan gadi itu meremas handphone nya dengan kuat.


Tepat waktu, ibu masuk mendekati puterinya yang terduduk di ranjang kamarnya dengan terus memandangi lembar surat lamaran yang teronggok di sana.


“Sayang, Ayahmu sangat senang dengan lamaran Tuan Muda.” Senyum secerah mentari tergurat di wajah ibu, membuat Wina semakin putus asa.


Apa aku kabur saja dari rumah ini.

__ADS_1


Heuuy, apa yang kufikirkan. Ibu dan Ayah bisa menangis terus menerus jika itu kulakukan.


Gadis itu mengurut keningnya pelan setelah kepergian Ibu barusan. Menghempaskan tubuhnya yang masih memakai setelan kemeja polos ke ranjang. Terlelap di sana dengan kelelahan yang menggerayangi setiap bagian tubuhnya.


Gumam-gumam bibirnya ketika lelapnya mencapai maksimal, “Hulk mini.”


***


Dua hari berlalu sejak kejadian lamaran yang sangat mengejutkan. Wina sudah duduk bosa di kursi rumah tamu dalam rumahnya.


Pagi ini, bahkan matanya masih sembab karena kantuk yang tertahan. Ibu dengan nada heboh sudah memanggil dan menggedor pintu kamarnya, “Tuan Muda mengirimkan sesuatu untuk mu, Nona.” Lantang suara Rania terdengar dari luar pintu kamar.


Mata Wina yang tadinya tertutupi kantuk, terbelalak dengan cepat.


Kacau, orang itu pasti mengirimkan hadiah orang kaya kepadaku.


Dan di sinilah sekarang Wina, memandangi sebuah foto rumah yang dibelikan Aarav untuk keluarganya dengan pekarangan luas di depannya. Dengan pandangan paling membosankan di dunia gadis itu mengalihkan pandangan dari handphone Rania yang berisi foto rumah.


“Nak, calon menantu Ibu itu memang sangat baik dan dermawan.” Ucap Ibu sambil merangkul bahu Wina yang terduduk lemas di kursi.


“Haha, tentu saja Ibu. Kenapa tidak bilang padanya untuk langsung melelang rumah kita juga? Rumah inikan sudah butut.” Ejek Wina dengan nada menuntut.


Ibu dan Rania yang mendengarnya tergelak. Apalagi ketika melihat ekspresi membosankan dari, sangat menggemaskan.


Tak lama, terdengar bunyi klakson mobil di depan rumah Wina. Gadis itu kembali mengernyitkan dahi,


Haduh, hal membosankan apa lagi yang di berikan oleh Tuan Muda itu.


“Ah, Ibu calon menantumu itu. Apa dia juga memesan sebuah helikopter untuk kita?”


Rania yang melihatnya hanya bisa tergelak dan terkekeh bekali-kali.


Celaka, jika Tuan Muda tahu bagaimana ekspresimu ketika menerima semua hadiah ini. Beliau pasti tidak bisa menahan tawanya juga Nona.


Ketiga Wanita itu keluar dan berhenti di balik pintu rumah. Terlihat dua orang pengawal lelaki keluar dari mobil yang terparkir di dalam pintu gerbang rumah Wina.


“Ini adalah hadiah dari Tuan Muda, Nona.” Kata salah satu pengawal sambil menyodorkan sebuah kunci ke tangan Wina.


Yaya, terserah saja.


Calon menantumu itu memang suka pamer harta.

__ADS_1


__ADS_2