
Tiga hari berlalu semenjak kepergian Aarav dan Wina ke makam. Kini hari bahagia yang ditunggu seluruh bagian dari perusahaan Zayn Property sudah tiba. Pernikahan Aarav dan Wina.
Pagi itu indoor gedung pernikahan sudah dipenuhi dengan warna putih tulang. Bunga-bunga bertebaran menambah cantik dekorasi, entah akan sebahagia apa Aarav dan Wina ketika melihat persiapan pernikahan mereka yang sesempurna ini.
Sudah sejak sepekan yang lalu Rey mengatur dan mengawasi setiap inci dari persiapan ini. Tentu saja detail demi detail sangat teliti jika lelaki itu yang memegang urusan, apalagi ini adalah hari bahagia untuk Tuan Mudanya.
Tapi untuk pagi ini seolah lelaki itu menghilang berikut adiknya. Semalam adalah waktu terakhir orang-orang bisa melihatnya datang untuk mengecek kembali sudah sesempurna apa tempat yang akan digunakan Tuan Mudanya mengikat Wina dalam hubungan suci.
Di dunia ini, tidak ada ikatan lebih suci untuk menyatukan dua orang yang saling mencintai selain pernikahan.
Tak jauh dari sana, di sebuah ruangan yang megah seorang lelaki tepat berdiri di depan kaca. Memandangi penampilan sempurnanya dalam balutan setelan jas putih lengkap dengan rambut yang diikat rapi.
Senyum bahagia mengembang di wajahnya yang tampan, membuat siapapun wanita yang mengekori penampilannya akan jatuh cinta. Walaupun kelak sudah beristri, bukankah wanita di luar sana tak akan berhenti mengejar bahkan mungkin tak keberatan jika dijadikan yang kedua.
“Aku penasaran bagaimana cantiknya calon istriku hari ini.” Gumam-gumam keluar dari lisannya, lagi pula di ruangan itu ia hanya sendiri.
Pintu ruangan terbuka, seorang lelaki paruh baya yang hobi berkebun bunga tampak mengenakan setelan jas juga, tak kalah tampan dengan puteranya.
“Kau sudah siap?” bertanya dengan penampilan penuh wibawa.
Aarav mengangguk mantap. Senyum mengembang lagi di wajah tampannya.
“Kau benar-benar terlihat sempurna hari ini. Tak sia-sia aku yang menjadi Ayahmu mewariskan ketampanan ini kepadamu.” Ayah mengelus dagunya lembut, berlagak sombong di depan anaknya.
Wajah memerah malu mulai memenuhi pipi Aarav, tapi seni mengalihkan pembicaraan yang setiap saat memang sudah dipunya, juga tak mau kalah.
“Ayo kita berangkat Ayah. Akan ada suara wanita yang menggema di rumah kita selain Rania.” Ucap Aarav sambil mengambil langkah mendahului Ayahnya.
__ADS_1
Kedua lelaki itu masuk ke mobil dengan Aarav yang duduk tepat di belakang kemudi. Sebelum mobil melesat di bawah kendalinya, Aarav menggapai handphone di sakunya.
“Apa pengawal sudah memeriksa mobil ini sebelumnya?” bertanya sambil mengalihkan pandangan ke beberapa lelaki yang berdiri kokoh di samping mobil.
“Benar Tuan Muda.” Suara lelaki menjawab dari balik telepon.
“Jika sampai sesuatu terjadi padamu, semua anak buahmu dari lembaga akan kukubur satu liang lahat bersamamu.” Dengan nada mengancam tapi ada sedikit kekhawatiran di sana.
Siapa lagi yang menghubungi Aarav pada saat begini selain Rey. Menjadi salah satu lelaki yang sangat dekat dengan Tuan Mudanya hingga kini. Bukan kali ini saja Rey menjadi orang terdepan yang melindungi Aarav ketika bahaya mengancam dirinya, atau setidaknya seperti rencana jahat yang akan dijalankan oleh Alina sekarang.
Di hari pernikahannya, lagi-lagi nyawa Wina terancam karena menjadi wanita yang terpilih oleh Presdir itu untuk dijadikan istri.
Sabuk pengaman sudah terpasang rapi di tubuh ayah, kali ini Aarav memastikan ayahnya dalam posisi dan kondisi aman. Mobil melesat menjauhi ruangan tempatnya berganti dan berdandan tadi. Mengemudi dengan kecepatan tinggi membuat jantung terpacu dengan rasa takut yang menguasai hati.
Tapi tak satupun pertanyaan muncul dari lisan Ayah baik saat anaknya yang mengambil alih kendali mobil untuk menyetir sendiri, maupun kenapa anaknya memilih menyetir dengan kecepatan tinggi.
Sekitar lima menit mobil masuk ke halaman gedung. Aarav memberhentikan mobil itu lalu dengan cepat beberapa pengawal yang mendekatinya. Turun dari mobil bersama ayahnya sambil membenahi jas nya yang terasa kusut, betapa paripurna tampannya seorang Presdir.
Jalan yang membentang itu tampak lengang. Hanya ada dua lelaki yang menduduki posisi penting di perusahaan Zayn Property. Wajah keduanya bahkan dengan guratan yang tampak mirip, hanya berbeda di bagian potongan rambut.
Aarav dan ayahnya duduk bersebelahan di kursi bagian paling depan yang sudah disiapkan untuk ijab kabul. Dengan kedua orang tua Wina yang juga sudah duduk rapi di seberang meja, tesenyum bahagia melihat penampilan dan raut sumringah di wajah calon menantunya.
Sementara mempelai wanita yang masih disembunyikan dan entah di mana. Tentu saja Rania sudah memastikan keamanannya.
Penghulu mulai membacakan doa-doa lalu dengan perlahan menggenggam tangan ayah Wina dan menuntun kalimat apa yang akan di ucapkannya kepada Aarav.
Tangan mulai terulur dan dengan tangkas Aarav menyambutnya, dengan jelas dan lancar ijab kabul terucap dari lisannya, dan berhasil dalam satu sesi pengucapan. Seluruh tamu bersorak sah dengan bahagia.
__ADS_1
Wajah bahagia memenuhi ruangan gedung yang luas dan megah itu. Tidak cukup hanya sampai di sana. Dua orang wanita turun dari tangga gedung yang berada di pojok depan sebelah kanan.
Dalam balutan gaun berwarna putih tulang, Wina menuruni anak tangga dengan Rania yang mendampingi setia di sampingnya. Gaun yang dikenakannya tampak berlengan panjang lengkap dengan renda.
Rambutnya yang tersanggul rapi dan guratan make up yang pas di wajah membuat seisi gedung tampak terpukau. Pandangan tamu yang tadi bersorak untuk keberhasilan Aarav mengucapkan ijab kabul sekarang teralihkan sepenuhnya pada Wina.
Seyum tipis mengembang di wajah gadis itu, diam-diam melirik suaminya dari kejauhan disertai langkah yang makin mendekat.
Wina yang ini sangatlah berbeda. Jika biasanya hanya dengan kemeja polos dan bawahan jeans gombrang yang mengena di tubuhnya. Hari ini bahkan gaunnya yang menyapu setiap inci dari anak tangga itu, membuat Aarav seolah tak mampu berkedip.
Hingga akhirnya, tiba tepat di depan suaminya. Perlahan gadis itu meraih tangan kanan Aarav dan menciumnya dengan patuh.
Mendekatkan lisannya ke telinga suaminya untuk berbisik, “Selamat untuk keberhasilanmu.” Membuat wajah Aarav memerah malu tapi tertahan oleh wibawa yang melampaui segalanya.
Berjalanlah sesi demi sesi pernikahan dengan khidmat tanpa kendala berarti. Sementara di sana sudah duduk Aarav dan Wina dalam satu kursi, dengan Rania yang masih setia menemani di samping Wina.
Gadis itu memandangi setiap tamu yang menyalami dan memberi selamat pada Tuan dan Nona Mudanya dengan mata penuh ketelitian. Benar-benar mengawasi setiap gelagat dari gerakan tangan dari para tamu dengan senyuman yang dipenuhi kewaspadaan.
***
Jauh dari semua kebahagiaan yang dirasakan Tuan dan Nona mudanya, bahkan dirasakan seantero kolega bisnis dan semua orang yang punya hubungan dengan Presdir.
Di sana, di kamar Aarav sudah berdiri seorang lelaki yang berperawakan sama tingginya dengan Tuan Mudanya. Dia adalah Rey.
Meraih handphone yang bergetar di saku jas nya, “Semua sudah disiapkan Tuan.” Ucap ajudan kepercayaannya.
“Baik.”
__ADS_1
Jawaban itu mengakhiri pembicaraannya dengan ajudan setia. Melangkah dengan santai keluar dari kamar Tuan Mudanya.
Jebakan untuk rencana jahat Alina, sudah dimulai.