Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Kau Hanya Balas Dendam


__ADS_3

Jika di Mansion sedang terjadi drama menyenangkan di antara sepasang suami istri, bela lagi dengan yang terjadi di rumah sakit itu sekarang.


Jika Tuan Muda sudah mencintai Wina dahulu, maka merajut cinta di hati gadis seperti Wina mungkin tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Lain lagi dengan yang terjadi di rumah sakit.


Pagi ini Rey berangkat lebih awal untuk melihat gadis yang terbaring lemah di ruangan VVIP. Kemarin, gadis bernama Alina itu masih mampu untuk membuka lisannya. Apalagi sampai menusukkan pisau ke perutnya, sangat mampu.


Rumah sakit yang juga dimiliki oleh keluarga Zayn ini, terakhir kali Rey menjejakkan kaki kesini adalah ketika mendengar kematian Ayah dan Ibunya. Setelahnya tempat ini seolah menjadi tempat keramat yang seberusaha mungkin untuk dihindarinya masuk ke sini.


Masih terbayang jelas di benaknya bagaimana cepatnya sepasang suami istri itu menghembuskan nafas terakhir.


Dan pagi ini langkahnya menyusuri lorong terang di tempat itu dengan berusaha tetap tegap walaupun merepotkan.


Lagipula alasannya memindahkan Alina untuk dirawat di sini adalah sebagai wujud keselamatan gadis itu. Gila sekali, begitu baiknya keluarga itu hingga orang yang mengancam hidup mereka justru dirawat sebaik mungkin.


Hp yang ada di sakunya bergetar selaras dengan langkah Rey yang terhenti tepat di depan ruangan Alina.


“Kau di sana untuk mengurusi gadis cantik itu?” suara Aarav terdengar dari balik telepon.


“Benar Tuan Muda.”


“Bukan hal yang mudah jika kau berani menjejakkan kaki lagi di tempat terpuruk itu,” Aarav terdengar menghembuskan nafas pelan, “Kau urus gadis itu dan sembuhkan dia dari penyakit di hatinya.”


Rey melirik pelan dari balik pintu, melihat Alina yang belum juga sadar. “Baik Tuan Muda.”


Setelahnya panggilan telepon terputus. Meninggalkan Rey yang masih belum masuk juga di ruangan itu. beberapa saat ia masih berharap untuk bisa cukup memandang Alina dari balik pintu saja.


Tak kunjung masuk, akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi tepat di depan pintu ruangan VVIP, menundukkan pelan kepalanya. Masih sangat pagi, tapi Rey sudah tampak lelah. Bukan fisiknya, tapi fikirannya.


Masih di posisi yang sama, Rey akhirnya meraih kembali handphone yang ada di saku jasnya. Sudah seperti deretan artis, pamor lelaki itu memang luar biasa.


“Mulai hari ini kau yang akan mengurus Alina di sini hingga sembuh.” Perintahnya pada ajudan yang setia.


“Bain Tuan.”


“Bawa beberapa pengawal untuk berjaga.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


“Bawa seikat bunga juga.” Kembali meminta.


“Untuk apa Tuan?”


“Masih berani bertanya?” bola matanya berubah menyeramkan seketika.


“Maafkan saya Tuan.”


Segera menutup panggilan teleponnya, Rey akhirnya bangkit untuk memasuki ruangan.


Lelaki itu terperanjat ketika melihat Alina sudah membuka matanya. Gemetar tangannya meraih pintu, perasaan khawatir melingkupi dirinya. Sebatas antara apakah Alina mendengar bahwa Ia menyuruh ajudannya membawakan seikat bunga.


Gadis gila itu tampak tersenyum dengan tubuh mungil yang masih terbaring lemah tak berdaya. Senyuman yang mau semanis apapun tetap berarti menyeramkan dalam pandangan Rey.


“Apakah aku tidak mati?” masih betah dengan senyuman jahatnya, “Aku kira jika mati segera, kebencianmu akan terobati.”


Tak ada jawaban Rey untuk menimpali kata gadis gila itu, hanya terlihat Ia yang memasuki ruangan itu dan duduk agak jauh dari Alina sambil mengetikkan beberapa hal di handphone nya.


“Apakah Tuan Mudamu itu sudah bahagia bersama wanita yang dijodohkan oleh ibunya tempo hari?”, masih tak ada jawaban, “Bodoh sekali aku menanyakan ini pada mayat hidup sepertimu.”


Rey yang tadinya hanya diam, kini meraih bantal cepat. Memperbaiki posisi tidur Alina dengan mulut yang masih terkunci rapat. Ia menggeser pelan bantal berwarna putih itu, lalu mengangkat tubuh Alina dengan perlahan.


Gadis itu hanya bisa melingkarkan kedua tangannya di pundak Rey, menjaga agar tubuhnya tetap seimbang.


Selesai diurus bukannya malah kembali tidur, Alina tetap meraih bahu Rey dan menahan tubuhnya untuk pergi. Wangi dari tubuh lelaki di depannya mungkin mampu memabukkan setiap wanita yang berhasil menjangkaunya.


Kini matanya tak bisa lagi menahan bulir bening yang tadi berusaha ditutupi. Air matanya jatuh tepat di depan Rey. Tentu saja masih bisa tertahan, itulah kenapa yang jatuh hanya berupa titikan tak berarti.


Dengan lembut pandangan Alina yang menyapu lelaki di depannya, hanya pandangan dan pelukan erat di leher lelaki itu. Bahasa tubuh yang begitu berarti untuk orang yang saling mencintai dalam dendam.


“Maafkan aku.” Lirih suaranya dengan kedua tangan yang merengkuh bahu Rey lebih kuat. Tangis mulai terdengar di lisannya dengan air mata yang terus menyucur.


Rey kemudian bertindak dengan tenang dan tatapan yang masih menjadi ciri khasnya. Dingin.


“Tidak usah banyak bicara dengan kondisi yang masih memuakkan.” Dengan tatapan yang lekat yang bisa menjebol bola mata Alina.


Sikap yang membuat Alina semakin putus asa mencari di mana Ia dapat menggapai sikap luluh lelaki di depannya, gadis itu hanya bisa menutup rapat mulutnya. Jangan banyak bicara jika tidak ingin sikap Rey semakin kasar kepadanya.

__ADS_1


Dalam diam kedua tangannya kembali merengkuh tubuh Rey hingga berhasil tergenggam sempurna. Memeluk tubuh Rey, jemarinya mulai menggapai kepala Rey, memeluk kepala Rey dengan begitu lembutnya, begitu kurang ajarnya gadis ini.


Sementara yang menerima perlakuan hanya diam. Tidak ada penolakan ataupun balasan rengkuhan yang dilakukan Rey. Tubuhnya tetap bagai batu ketika direngkuh Alina. a


Dengan posisi terintim sedunia, akhirnya Alina menangis dengan pandangan yang masih menatap langit-langit ruangan dengan lekat, jemari yang meremas pelan penggung dan kepala lelaki di depannya. Lengkap juga dengan tangisan yang tertahan karena jahitan di perutnya yang terasa nyeri.


Detik terasa berlalu dengan lambat, atau mungkin berhenti perlahan. Entah apa yang akan dikatakan para perawat dan dokter jika mereka tiba di ruangan lalu disuguhi dengan pemandangan segila ini.


Rey mengangkat kepalanya pelan, menatap kedua bola mata Alina dengan lekat. Mata yang digenangi bulir air itu diusapnya, lalu bangun dari rengkuhan Alina dengan tenang, walaupun ekspresi wajahnya masih dingin.


“Aku akan memanggil perawat untuk mengurusmu.” Jangan coba melakukan hal nekad lagi atau kali ini sesuatu buruk akan terjadi.


Rey kembali membetulkan posisi tidur wanita di depannya. Seperti tidak punya perhitungan Alina menyambar bibirnya dengan lembut, mengecupnya dengan penuh ketenangan. Terasa, Rey juga menikmatinya.


“Prang!” nampan berisi makanan yang dibawa perawat itu terjatuh sembarangan. Dengan mata yang terkejut melihat pemandangan di depannya.


Rey yang diluar kendali mendorong tubuh Alina dan menjauhi wanita berbahaya itu dengan cepat. Wajah yang memerah malu tergambar jelas di sana.


“Maafkan saya.” Buru-buru perawat itu keluar dari ruangan.


“Haaa, dasar perawat genit, beraninya masuk ketika orang sedang bercumbu.” Alina menimpali.


“Tutup mulutmu.”


“Bukankah kau juga menikmatinya, Tuan tampan?”


“Ajudanku dan beberapa pengawal akan mengurusmu di sini. Jadi bertindaklah dengan masuk akal.” Menatap handphone nya dan kembali mengetikkan sesuatu.


Langkahnya mulai menjauhi tempat tidur Alina.


“Aku Mencintaimu.” Senyuman tulus tergurat di wajah Alina, “Kau dengar? Aku mencintaimu.” Mengulagi lagi.


“Kau hanya balas dendam, bukan mencintaiku.”


“Cklak.”


Pintu ruangan tertutup. Meninggalkan Alina dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya. Wanita itu kembali meraba bibir merahnya, merasakan kecupan yang terbalas dari Rey tadi.

__ADS_1


__ADS_2