Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Rahasia Wina (Part 2)


__ADS_3

Kita kembali lagi ke masa lalu. Karena kenangan masa lalu bagi Aarav dan Wina adalah faktor pembentuk utama masa depan mereka. Ini terjadi sekitar sembilan tahun yang lalu, entah peristiwa mengerikan itu sudah berlalu atau belum.


Wina kecil dengan cekatan meraih ayunan yang ada di depan rumahnya, “Wah, tidak sia-sia aku menangis kemarin hanya untuk dibuatkan ini.” Gumam-gumam kebahagiaan tampak jelas di wajahnya.


Dia kemudian dengan cepat memegang kuda tali ayunan itu di kanan dan kiri tangannya. Lalu mengayunkan diri sendiri dengan ekspresi ceria dan bahagia khas Wina. Ya Tuhan, anak kecil memanglah berekspresi dengan jujur.


Tak lama, terlihat ibu keluar dari rumah dengan membawa segelas susu untuk puteri satu-satunya.


“Ibu, lihatlah ayunan ini. Bukankah tidak sia-sia usahaku merengek pada ayah untuk dibuatkan ayunan di sekitar sini?” puterinya bertanya dengan percaya diri.


Ibu mengusap kelapanya pelan, “Jangan hanya bisa menangis sayang."


“Siapa bilang? Aku juga bisa tertawa, seperti ini.” Wina memamerkan giginya.


“Minumlah susu dulu, agar kau tumbuh dengan baik.”


“Apa susu ini akan membuat aku bertambah kuat?”


“Kenapa?” Ibu mulai faham alur pembicaraan puterinya, “Agar bisa menghajar teman-temanmu lagi?”


Wina hanya bisa terbahak mendengar tebakan ibunya yang benar. Sangat faham apa yang diinginkan oleh puterinya.


“Tidak boleh bertengkar terus.” Gumam ibu memperingatkan.


“Jika satu atau dua kali, bolehkan?” bertanya dengan tatapan memastikan.


Ibu menghalau pembicaraan yang makin tidak punya arah ini. Sejujurnya sudah lama ia akan menyampaikan ini pada puterinya. Dengan lembut ibu mundur dan memegang tali kekang ayunan yang menopang tubuh puterinya. Mendorongnya pelan dengan Wina yang masih meminum susu.


“Kau suka kuda?” pertanyaan baru menyembul dari balik bibirnya.


Wina mengangguk.


“Seberapa suka kau pada kuda?” bertanya makin penasaran.


“Suka asal kudanya tidak menggigit dan menendangku.”


Ibu hanya bisa menahan tawanya, “Bagaimana jika suatu saat ada teman yang mengajakmu untuk menaiki kuda bersama?”


“Laki-laki atau perempuan?” bertanya dengan wajah polosnya yang terus menatap ke depan.


“Laki-laki.” Ibu memejamkan mata, faham dengan jawaban apa yang akan diberikan puterinya setelah ini.


“Akan kutendang bokongnya.”


“Tidak sayang, yang ini anak laki-laki yang baik.” Kata ibu meyakinkan.

__ADS_1


“Baiklah mungkin aku yang akan membonceng dia menaiki kuda.”


“Kenapa?” ibu bertanya jengah.


“Karena puterimu ini sangat keren.”


Semua dialog kenangan itu masih bisa diingat Wina dengan jelas. Bahkan ekspresi ibu saat bertanya dapat ia gambarkan dengan mulus.


***


Aarav yang pulang dari kantornya dengan cepat menaiki tangga. Berteriak kesana-kemari menyebut nama istrinya.


“Sialan, beraninya kau tidak menjawab panggilan suamimu yang tampan ini. “ mengendurkan dasinya kegerahan.


“Brak!” suara pintu terbuka dengan paksa. Aarav menemukan istrinya tak ada di kamar itu.


“Di mana dia?” langkahnya kembali menuruni tangga ketika mampu merasakan bahwa istirnya sekarang berada di taman.


Sampai di pintu kaca taman, terlihat dengan jelas Wina dan mertuanya sedang asyik menancapkan bunga ke beberapa pot yang sudah disiapkan. Pemandangan yang sangat indah hingga Aarav yang melihatnya mampu merasakan keharuan.


Langkahnya terhenti di sana untuk lebih lama ketika melihat senyum mengembang sempurna di bibir kedua orang yang ia sayangi. Dengan tak sadar sepasang bibirnya juga mengambang.


Beberapa membatu di sana, akhirnya Aarav memutuskan untuk mendorong pegangan pintunya, “Aku sudah pulang.” Berjalan ke arah Wina dengan wajah dinginnya.


“Ah, kau sudah pulang suamiku.” Buru-buru Wina bangun dari duduknya dan membersihkan kedua tangannya.


Aarav berlalu masuk kembali ke Mansion dengan senyum ayah yang tergurat rapi.


“Ayah, kenapa penampilannya begitu?” bertanya dengan spontanitas. Menggambarkan penampilan Aarav dengan rambutnya yang sudah tidak rapi terikat serta setelan jas yang sudah teracak.


Ayah hanya bisa menahan tawanya, “Mungkin saja suamimu dan Rey habis bermain petak umpet.”


Petak umpet mode apa yang menghasilkan penampilan bak gembel begitu.


Aku tidak percaya.


Wina menggelengkan kepala lalu kembali menemani mertuanya menanam bunga ke dalam pot-pot yang sudah disiapkan dan berbaris rapi.


Tapi alangkah tidak mulusnya gerakan tangan gadis itu, beberapa kali tanah yang coba ia isikan ke pot bunga selalu tumpah dan bercecer kesana-kemari. Dengan ayah yang memperhatikan seluruh gerakan tangan menantunya.


“Kau mengkhawatirkan suamimu membakar rumah ini karena kau tidak menemaninya?” melirik Wina dengan tatapan jengah.


“Haha, tidak Ayah. Aku hanya kurang fokus.” Mencoba menutupi hal yang sudah jelas.


“Masuklah, temani suamimu.” Perintahnya, “Karena jika tidak kamar utama akan menjadi debu dalam waktu singkat.”Cekikikan melihat wajah polos menantunya.

__ADS_1


Wina menganggukkan kepala, dengan sopan dirinya meninggalkan taman dan memberitahu beberapa pelayan untuk menemani ayah yang sedang senang-senangnya menanam bunga.


Lagipula sudah tidak bisa ditunda, jika bunga-bunganya dibiarkan beberapa waktu lagi maka akan layu.


Pintu kamar terdorong pelan, betapa kagetnya ia ketika menemukan Aarav yang sedang tertawa girang di depan cermin yang ada di kamar itu, mengedutkan bibirnya begitu melihat istrinya masuk dengan tiba-tiba.


Berdiri di depan cermin dengan rambut yang sudah tak terikat lagi. Pakaian yang dikenakannya pun hanya berupa setelan jas kasual dengan kaos oblong berwarna dongker, alangkah seringnya memakai warna itu batin Wina.


“Kau lihat apa?!” membentak Wina dengan tatapan penuh tanda tanya.


Buru-buru gadis itu mengalihkan pandangannya, “Tidak.”


“Lihat apa?” nada bicara Aarav terdengar makin kesal, bersamaan dengan tubuhnya yang terus mendekati Wina, “Lihat apa?” kembali mengulangi pertanyaan dengan mencengkeram tangan istrinya.


“Lihat apa memangnya? Kau yang tertawa seperti nenek sihir tadi?”


“Ah, tidak benar. Aku harus melakukan sesuatu.” Aarav berjalan ke arah meja rias di pojokan kamar, seperti berusaha menekan rasa malunya untuk jawaban istrinya.


Lelaki itu tampak canggung duduk di kursi depan meja rias, jemarinya berusaha menggapai sesuatu yang ada di sana dengan Wina yang terus mendekat karena penasaran.


“Biar aku yang lakukan yaaa..” Wina merebut ikat rambut kecil berwarna hitam yang sudah dipegang suaminya.


“Ck, apa yang kau lakukan?” Aarav berusaha merebut ikat rambut yang dipegang istrinya.


Wina berada tepat di belakangnya, jemari gadis itu mulai merangkai helai rambut suaminya hingga rapi bak perias professional. Tubuh suaminya yang meronta-ronta seperti anak kecil menolak perlakuannya tersebut dibiarkannya saja, seperti Aarav bukanlah benda hidup.


“Pekerjaan ini memang lebih cocok untuk wanita.” Di tengah-tengah jemarinya yang sibuk mengikat rambut Aarav, “Nah, begini kau lebih tampan.” Memutar kepala suaminya menghadap kaca.


Senyum manis tergambar jelas di wajah gadis itu, dengan jemari yang beberapa kali terlihat masih membenarkan helaian rambut suaminya.


“Sudah.” Menepis perlahan tangan Wina, “Aku masih ada urusan.”


Aarav bangun dan mulai melangkah ke luar kamar, “Tunggu.” Wina dengan tergesa mengejar langkahnya.


Dengan lembut gadis itu mengelus pipi suaminya sambil tersenyum, “Jaga diri baik-baik ya. Berteriaklah jika kau sudah pulang.”


Huwaaa, aku kelepasan.


Apa yang kulakukan.


Tapi mau bagaimana jika dirinya terlihat begitu menggemaskan.


Dengan wajah yang sudah tak dapat dikendalikan Aarav bergegas keluar dan menutup pintu kamar. Jantungnya terasa berdebar dengan begitu cepat menahan perasaan bahagia yang membuncah.


Tidakkk.

__ADS_1


Aku bisa gila jika begini terus ya Tuhan.


__ADS_2