
Sembilan tahun yang lalu.
Saat sore hari, mungkin terhitung sebagai sore hari paling menyedihkan untuk keluarga besar Zayn. Ketika semua manusia di bumi mengharapkan senja yang menyemburkan semburan keindahan, lain lagi yang di rasakan oleh mereka.
Air mata jatuh dengan deras bersama suara tangis yang menggema di rumah besar milik Presdir. Beberapa orang tampak menepuk bahu Tuan besar, Ayah dari Aarav. Tapi tidak ada yang tahu di mana Tuan Muda kecil itu menyembunyikan dirinya yang diliputi kesedihan.
Ini adalah hari pemakaman Nyonya Zayn. Semua kolega dari perusahaan ternama itu tentu datang untuk memberikan bela sungkawa dan membantu Tuan Besar menguatkan dirinya.
Sementara di pojok ruang kamar yang megah itu, seorang anak kecil meringkuk dengan isak yang tertahan. Sorot mata yang sudah terasa perih bahkan sebelum ada buliran air mata yang jatuh menimpa pipinya.
Semua benda di ruangan itu seakan menjadi saksi kesedihannya yang mendalam. Apa boleh buat jika benda-benda itu hanya terdiam, itu sama sekali tidak memperbaiki duka yang terasa dalam hatinya.
Dia adalah Tuan Muda kecil.
Hari di mana kecelakaan mobil itu terjadi, dan merenggut nyawa ibunya. Meninggalkan Aarav kecil sebagai satu-satunya pewaris kekayaan dan kehormatan Perusahaan Zayn Property. Hanya ditemani ayahnya saja dan dua orang anak kecil. Mereka adalah Rey dan Rania.
Perlahan kaki mungilnya mulai melangkah dengan hentakan lemah, membuka pintu kamar. Memandangi kejadian yang terjadi dari lantai dua rumah megah itu.
“Ibu…”, Dengan suara serak yang tertahan. Langkah kakinya mulai mendekati tangga dan terhenti. Berdiri di sana dengan kesadaran yang masih tersisa pada tubuhnya.
“Aku tidak akan datang hanya untuk menangisimu, Ibu. Aku akan wujudkan semua permintaan dan harapanmu yang tertunda.”
Hanya itu kata yang terucap dari lisan Tuan Muda kecil, hingga akhirnya ia kembali membanting pintu kamarnya dan mengurung diri di sana. Menyimpan kesedihannya sendiri tanpa berbicara pada orang lain yang berusaha mendekati.
Satu bulan kemudian, jauh dari kesedihan yang dirasakan tuan muda kecil.
“Lepaskan aku, Ayah.”, pekik gadis kecil itu. sambil meronta berusaha melepaskan tangan Ayahnya yang mencengkram lengannya.
Dengan suara cekikikan yang mengiringi Ia berlari menuju kamar Ibunya, masuk dengan tergesa-gesa.
Dia adalah Wina kecil yang ceria.
“Ayo katakan, Kita akan pergi ke mana Ibu?” matanya menuntut penjelasan sambil menarik-narik ujung baju yang dipakai Ibunya.
“Aku tahu, satu pekan lalu sudah berkelahi dengan anak lelaki itu. tapi itu semua karena Dia menggangguku.”, Merengek, “Apa kita akan pergi ke rumahnya untuk meminta maaf pada ibu dan ayahnya?”
Kemudian wanita yang sejak tadi mendengar ocehan anaknya itu membungkukkan tubuh, mensejajari tinggi badan puteri kecilnya.
“Kita akan pergi menjenguk temanmu.” Lembut suara wanita itu terdengar.
“Memangnya siapa yang sakit? Apa anak kecil itu?”
__ADS_1
“Bukan.”
“Apa temanku yang lain?”
“Bukan sayang.”
“Lalu siapa Ibu?” dengan ekspresi menggemaskan Wina bertanya makin penasaran.
Perlahan wanita itu meraih tangan puteri kecilnya lalu menggenggamnya.
“Dengarkan Ibumu. Kita akan menjenguk temanmu yang kehilangan ibunya. Karena itu kau harus bersikap baik padanya.”
Senyum menyembul dari balik bibir mungil gadis itu. Ia menganggukkan kepala perlahan, menandakan sikap patuh dan mengerti yang dikatakan oleh Ibunya.
Tidak ada tuntutan lagi yang keluar dari lisan Wina kecil hingga mobil yang membawa keluarganya tiba di sebuah rumah besar, tampak mewah dan megah. Dengan sopan Wina mengekori langkah Ayah dan Ibunya.
Masuk ke ruang utama dan duduk di sofa yang ada di sana. Terlihat seorang lelaki sudah menunggu kedatangan mereka sambil duduk di sofa itu juga.
“Kalian datang untuk menyemangati aku agar kembali hidup?” lirih terdengar suara lelaki itu.
Senyum tipis mengembang di wajahnya, namun bersamaan dengan tangan yang menyeka air mata. Ayah Wina memeluknya dengan lembut, menepuk pundaknya perlahan. Menenangkan.
“Mbak Sarah pasti sangat bangga dengan ketegaran anda, Tuan.” Ayah menimpali isak yang terdengar dari lelaki itu.
Di mana teman yang dikatakan Ibu tadi.
Teman apanya, jika yang aku lihat hanya bapak-bapak itu.
Aku kan tidak punya teman yang sudah tua.
Langkah gadis kecil itu terus menjauhi ketiga orang yang sedang larut dalam suasana. Tubuh mungilnya menyusuri setiap dinding dari rumah megah itu.
Seperti itulah anak kecil, ketika menyusuri rumah megah dan tidak menemukan apapun kecuali kesunyian di mana-mana maka bukan decak kagum yang terucap, tapi keluhan.
“Ck, rumah ini aneh sekali, tidak ada satupun temanku yang tinggal di sini.” Wina mengedutkan bibirnya sambil terus menyusuri setiap inci bagian rumah itu.
Keluhan demi keluhan keluar dari mulut mungilnya. Dengan langkah yang sudah malas untuk di lanjutkan tubuhnya akhirnya memutuskan berhenti tepat di depan dinding kaca transparan yang menembus ke arah taman rumah itu.
Deg!
Gadis kecil itu terpaku melihat seorang anak kecil yang duduk di kursi taman dengan membelakanginya.
__ADS_1
Penasaran, dan merasa pencariannya sudah membuahkan hasil. Perlahan langkahnya mendekati anak laki-laki itu dengan sangat hati-hati.
Tepat di samping kursi, Wina berdiri dengan tubuh yang mematung. Tersentak ketika melihat anak itu menyeka air mata yang keluar.
Celingak-celinguk gadis itu memastikan bahwa apakah ada anak lain yang duduk di taman itu. Tidak ada seorangpun selain anak laki-laki itu dan dirinya di sana.
Dia menangis.
Benar, sepertinya inilah teman yang dimaksud Ibu tadi.
Tampan sekali temanku yang ini.
Aarav kecil. Dialah anak laki-laki yang duduk dengan menyeka air mata itu. kini ia memutar tubuhnya hingga tepat berdiri di depan Wina. Mempertontonkan mata merahnya karena habis menangis.
Untuk sesaat tak ada sepotong katapun yang keluar dari lisannya, hingga Wina berada di depannya pun Ia tetap diam. Sekelibat kekosongan dan kesunyian sangat terasa pada dirinya.
“Kau pasti teman yang dikatakan Ibu.” Wina mengacungkan telunjuknya memastikan.
“Aku datang untuk mengunjungimu, lho. Hahaha.” Menetralisir agar Aarav kecil membuka lisannya untuk bicara sesuatu. Namun Aarav tetap diam.
“Apa kau tahu sulit sekali mencarimu di rumah besar ini?”, bicara lagi, “Kalau tidak karena dinding kaca itu, mana tahu ada temanku yang seimut dirimu di sini.”
“Apa kau di sini untuk menungguku?” mengernyitkan dahi.
Aneh sekali anak ini.
Dia sangat pendiam.
Sepertinya harus kucubit dulu supaya bicara.
“Kenapa kau diam saja? Kau tidak percaya kalau aku tadi sibuk mencari-carimu?”
Gadis kecil itu tergelak dengan ucapannya sendiri. Tapi sebenarnya perasaan aneh sedang membuncah dalam dirinya, karena baru kali ini bertemu dengan anak yang begitu pendiam.
Apa dia bisu jadi tidak bisa menjawab pertanyaanku.
Ada apa sebenarnya dengan anak ini.
Tidak mungkinkan giginya retak hingga sulit membuka mulut.
"Brug!"
__ADS_1
Aarav menghempaskan tubuhnya dalam dekapan Wina.