
Gadis itu keluar dari kamar mertuanya dengan wajah pucat tapi senyum yang berbinar. Menutup pintu kamar ayahnya dengan sopan dan pelan.
Kini perasaan bahagia menyeruak di dalam hatinya. Semua itu juga tergambar rapi di pelupuk matanya. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara mobil masuk di gerbang utama.
“Nona, Tuan Muda sudah pulang.” Ucap pengawal yang berjaga di depan pintu utama Mansion.
Dengan langkah yang setengah sadar Wina menuruni tangga dengan segera.
“Nona, berjalanlah pelan.” Ucap pengawal itu lagi.
Suara itu tak bisa di dengar lagi oleh Wina, tubuhnya berusaha menuntun langkah kaki untuk segera sampai mendekati suaminya yang terlihat baru turun dari mobil.
“Brug!” Wina ambruk tepat di dekat pintu utama.
Aarav dan Rey yang melihatnya tak berfikir dua kali. Aarav melemparkan jas yang ditentengnya di tangan kanan, menghambur secepat kilat meraih tubuh istrinya yang tergeletak di atas lantai.
“Wina, Wina!” Memapah kepalanya ke atas paha Aarav.
Wina sudah tidak mampu mendengar apapun. Semuanya terasa gelap.
Dengan ekspresi kacau Aarav mengangkat tubuh mungil itu ke pelukannya, membawanya ke arah kamar dengan tergesa-gesa.
“Rey, hubungi dokter dari rumah sakit kita.”
Aarav masuk ke kamarnya dengan tubuh Wina yang sudah tak berdaya di atas ranjang.
***
Dokter yang tempo hari di rumah sakit, salah satu paman dari Aarav, dokter Rudi.
“Apa yang kau lakukan pada istrimu, hingga Ia selelah ini?” pertanyaan yang terdengar menggoda.
Aarav yang masih panik hanya bengong di depan istrinya yang belum sadar.
“Sakit apa yang diderita istriku, Paman?”
“Istrimu hanya kelelahan.”
“Benarkah begitu?”
“Aku sudah menyiapkan beberapa vitamin untuknya, di sana.” Menunjuk obat yang sudah ditaruh dengan rapi pada meja kaca di samping ranjang tempat Wina tertidur.
Perlahan, gadis di depannya mulai mendapatkan kesadaran kembali. Aarav berhambur memeluknya erat, mengelus kepalanya dengan sangat lembut.
“Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau lelah.” Parau suara itu terdengar.
Wina yang belum mampu menjawab apapun, hanya bisa tersenyum tipis. Bersyukur pada Tuhan dirinya kini berada dalam situasi lebih di laur ekspektasi yang diinginkan.
“Aku haus.” Pinta Wina dengan suara yang masih lemah.
Aarav menyandarkan tubuh istrinya pelan di kepala ranjang, mengganjal kepalanya dengan bantal tipis agar nyaman duduk di sana. Dengan segera jemarinya menggapai gelas air minum yang ada di atas meja, menyuguhkannya pada Wina.
__ADS_1
“Minumlah obatmu dulu.” Meraih obat yang sudah diletakkan dokter Rudi di meja samping ranjangnya.
Wina yang sudah tidak kuat mengendalikan perasannya pun akhirnya menghambur memeluk Aarav. Merengkuh jiwa suaminya dengan sekuat tenaga.
“Kenapa kau tidak bilang jika selama ini menungguku suamiku?” Suara yang tercampur isak tangis mulai menggema di ruangan itu.
Aarav yang masih dilingkupi perasaan khawatir, belum bisa mengerti dengan sempurna apa yang dimaksud istrinya. Mulutnya terus terkunci untuk beberapa saat.
Wina semakin mengeratkan pelukannya, “Harusnya kau katakan padaku bahwa selama ini kau menungguku.” Gumam-gumam dalam tangisnya masih bisa terdengar.
Aarav yang akhirnya mengerti perlahan melepaskan rangkulannya. Pandangan yang tadinya lembut berubah menjadi kasar dengan kesan pemangsa.
“Apa yang kau katakan? Tidak seharusnya kau berkata apapun mengenai kita disaat keadaanmu buruk begini.” Dengan tatapan tajam Aarav seolah menusuk ungkapan Wina barusan. “Karena aku tidak mau kau mencintai dengan rasa kasihanmu itu. Apakah aku perlu mengatakannya jika kau bisa memahaminya tanpa bertanya?”
Kau sudah gila ya.
Bukannya mengungkapkan cinta malah mengancam dengan tatapanmu.
“Diam. Aku akan mengurus dirimu dulu, jadi jangan banyak bicara.” Aarav mendorong tubuh Wina yang sudah tidak bersandar ke ranjang dengan sempurna. Membuat istrinya makin kebingungan dengan tingkah aneh Aarav.
“Tapikan, aku..”
“Diam, atau aku akan merobek mulutmu yang cerewet itu.” Menggertak lagi dengan argument menakutkan, “Kau tetaplah di sini aku akan memanggil Rania untuk mengurusmu.”
“Eh, aku belum selesai bicara,”
“Sudah jangan kebanyakan drama.” Aarav menghalau pandangan Wina, “Aku akan segera kembali.”
Sementara di luar kamar terlihat Rania sudah menunggu. Entah sudah berapa lama gadis itu berdiri di sana dan memasang wajah kakunya, disaat keadaan genting ini Rey dan Rania biasanya tidak membutuhkan izin khusus untuk memasuki kamar Aarav, tapi karena status Tuan Mudanya sekarang sudah beristri maka lebih baik Rania menenangkan diri untuk menunggu di luar sampai Aarav sendiri yang memberinya izin masuk.
“Masuklah. Dan lakukan tugasmu untuk menipu istriku.” Ucap Aarav yang mulai menuruni anak tangga.
Rania mengangguk mantap dan segera mendorong pintu kamar.
Wina mengernyitkan dahi melihat yang masuk adalah Rania, “Di mana suamiku? Aku sedang sakit kenapa dia malah pergi?” membombardir Rania dengan dengan berbagai macam pertanyaan.
Tentu saja Tuan Muda sedang terbakar api cinta, Nona.
Apa perlu kukatakan bagiamana tersipu malunya wajah Tuan Muda tadi.
“Saya yang akan merawat anda, Nona.” Rania merebahkan tubuh Wina kembali ke atas Ranjang, agar gadis itu mendapat ketenangan.
“Loh kenapa tidak Aarav saja yang merawatku?”
meracau sekali anda bicara ya Nona.
Mana mungkin Tuan Muda berani melakukannya sebelum anda sepenuhnya jatuh cinta padanya.
“Rania, jawab aku dong.” Desak Wina dengan nada menuntut.
“Nona, apa anda sudah minum obat ini?” menunjuk obat yang ada di atas meja samping ranjangnya.
__ADS_1
Wina mengangguk.
“Ah, sepertinya dosis obat ini sangat besar hingga membuat anda halusinasi.” Rani menggelengkan kepala bersandiwara, “Saya adalah orang pertama yang masuk ke kamar ini, Nona. Tuan Muda bahkan belum pulang.”
Dengan tatapan paling meyakinkan sedunia Rania melakukan sandiwara gilanya. Menjerat Wina dengan argumen-argumen tak masuk akal.
“Tidak-tidak, jelas tadi aku melihat suamiku yang masuk ke kamar ini.” Wina yang semakin bingung meremas rambutnya.
“Nah, sudah kukatakan. Nona istirahatlah, jika begini terus Nona bisa-bisa jadi gila.”
“Tidak aku tadi melihat suamiku, Rania..”
“Badan Nona bahkan panas sekali sekarang. Jangan sampai Nona benar-benar jadi gila.”
“Tidak Rania biarkan aku melihatnya..”
Dengan argumen beragam Rania menahan Wina untuk tidak beranjak dari ranjang. Menjalankan tugas dari Tuan Mudanya agar Wina tidak menyadari bahwa Ia telah mengatakan sesuatu pada Aarav mengenai perasaannya.
Nona, akan lebih baik jika kau katakana semua perasaanmu itu pada saat yang tepat.
Bukan mengatakan dengan cara membabi buta begini dengan keadaan yang masih lemah.
***
Aarav keluar dari kamarnya dengan wajah yang memerah malu. Tidak sanggup lagi Ia berlama-lama di depan Rania. Karena itulah Ia bergegas menuruni anak tangga dan menuju ruang utama. Terlihat Rey dan ayahnya sudah duduk dengan rapi, menunggu kabar dari Aarav terkait keadaan Wina.
“Apakah aku sebentar lagi akan mempunyai cucu?” Ayah melirik Aarav dan Rey secara bergantian dengan tatapan mencurigakan.
“Tidak Ayah, itu tidak benar.”
“Lalu apa yang sudah kau lakukan pada istrimu sampai-sampai iya menjadi begitu?”
“Mungkin saja Nona Wina menjadi stress karena menemani anda menonton komik kemarin, Tuan Muda.” Rey berkata seolah faham benar dengan keadaan.
“Iya hanya kelelahan, paman Rudi yang mengatakannya padaku.”
Lalu mengalirlah semua cerita yang terjadi di kamar tadi dari lisan Aarav kepada dua lelaki yang ada di depannya.
“Berani-beraninya dia mencoba mengungkapkan perasaan cinta sebelum aku.” Gumam-gumam kekesalan Aarav tumpahkan.
“Kalau begitu tunggu apa lagi, ungkapkan perasaanmu dan beri Ayah cucu.”
“Ck, tidak segampang itu Ayah.” Mengeluhkan saran spontan ayahnya.
Rey yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, “Kalau begitu biarkan saya mengatur sebuah acara yang indah agar dapat membantu anda mengungkapkan perasaan cinta.”
“Memangnya jomblo abadi sepertimu bisa?”
Rey yang mendengarnya hanya bisa menyeringai jahat.
Memangnya yang mempersiapkan acara pernikahan anda siapa.
__ADS_1
“Ah, tentu saja. Kau ini sangat ahli dalam hal mempersiapkan apapun. Makanya…” mengedutkan bibirnya menahan tawa, “Alina sampai menyukaimu. Hahaha.”