
Cukup sudah mengingat masa lalu pahit itu, sekarang mari melanjutkan hidup dengan sesuatu yang lebih berarti dan bermakna.
Acara pernikahan yang meriah dan melelahkan itu sudah selesai, para tamu undangan sudah berlalu satu persatu meninggalkan lobby gedung. Hidangan mewah yang disiapkan juga sudah tandas, lahap dinikmati para tamu. Meninggalkan Wina dan Aarav di kursi mempelai dengan terduduk lemah.
Sudah sejak dua jam yang lalu gadis itu sempoyongan karena kaki yang menopang tubuh terlalu lama. Belum lagi selama acara berlangsung Aarav berada jauh darinya, meladeni banyak kolega Zayn Property yang datang.
Hanya sebatas obrolan angkuh singkat yang terjadi antara sepasang suami istri itu.
“Kau cukup berdiri di sini saja. Rania akan menemanimu di sini bahkan walaupun kakimu copot sebelah karena lelah.” Ucap Aarav datar. Bertindak seperti tidak punya dosa.
“Kau mau pergi ke mana?” Wina bertanya dengan sisa kekuatan yang menumpu tubuhnya untuk tetap berdiri.
“Apa matamu rabun hingga tidak melihat kalau suamimu ini sangat dikagumi para kolega bisnis yang ada disini?” menyeringai dengan tatapan angkuh menghadap Wina.
Ingin sekali rasanya kucolok bola matamu yang besar itu.
Dasar lelaki angkuh.
Aarav berlalu sejak saat itu, meninggalkan Wina dan memerintahkannya untuk tetap berdiri di samping Rania. Beberapa kali Wina juga melihat suaminya tampak memperhatikan agar jarak antara dirinya dan istrinya tidak begitu jauh.
Semua itu demi keselamatan Wina. Karena masih tergambar jelas di benaknya bagaimana percobaan penculikan yang dilakukan oleh para orang-orang tak di kenal di Mansion.
Hingga kini semua keamanan Wina sudah terjamin lewat Rania dan para pengawal yang ditugaskan Rey untuk berpencar di berbagai penjuru gedung pernikahan, memastikan Nona Mudanya tak terluka bahkan hanya seujung jari saja.
“Nona, kita akan pulang ke Mansion.” Ucap Rania yang masih sanggup tersenyum. Walaupun tampak jelas kelelahan juga melingkupi matanya.
“Apa Aarav juga akan ikut bersama kita?”
“Tentu saja. Apakah saya sekurangajar itu hingga Tuan Muda saya tinggalkan di gedung ini sendiri dan hanya membawa pulang anda?”
“Haha, apakah kau tahu jika gigiku sudah kering dari tadi karena terlalu banyak tersenyum, Rania.” Wina membalas cibiran Rania dengan tersenyum penuh kepalsuan.
Selesai dari saling memperolok kedua gadis itu masuk mendahului Aarav ke dalam mobil, Rania sudah dengan rapi duduk di belakang kemudi.
“Rania, duduklah di belakang.” Perintah Aarav sambil membuka pintu depan mobil.
“Tapi Tuan..”
“Apakah kau akan menyetir dengan mata pandamu itu?” Aarav melihat tepat ke arah kedua mata Rania yang sudah sayu karena lelah dan mengantuk.
Rania kemudian pindah ke kursi belakang mobil, menemani Nona Mudanya di sana. Aarav memang selalu begitu, membiarkan dirinya yang melakukan semuanya jika Rania memang sudah tak sanggup. Lelaki itu berusaha menepati janjinya pada Rey, untuk selalu menjaga adiknya.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit, mobil akhirnya memasuki kompleks Mansion Presdir Zayn Property. Saat malam begitu tampak dari kejauhan lampu-lampu yang menyala terang dalam mansion, tampak indah dengan penataannya yang luar biasa.
Di dalam gerbang utama terlihat Rey sudah menunggu kedatangan mereka bertiga. Dengan pengawal yang terus mengekori menggunakan mobil sejak keluar dari gedung tadi.
“Anda sudah sampai Tuan Muda.” Sapa Rey dengan sopan.
“Apakah kau tidak mau mengucapkan selamat untuk Aku dan Istriku?”
“Tentu saja Tuan Muda. Masuklah dulu, karena acaranya pasti melelahkan maka yang terpenting sekarang adalah istirahat.”
Tak banyak bicara lagi, malam itu bahkan Rey dan Aarav serta kedua wanita yang ada di sana sudah tak peduli dengan ucapan selamat atau maaf yang keluar dari lisan masing-masing, yang terpenting sekarang adalah cepat-cepat istirahat merenggangkan otot-otot tubuh yang lelah beraktifitas.
“Di mana Ayah?” Aarav bertanya lagi sambil terus melangkah menuntun kaki istrinya dan Rania masuk ke Mansion.
“Beliau sudah istirahat di kamarnya.”
“Apakah kau yang menjemputnya dari gedung?”
Rey mengangguk mantap, kedua tangannya mengarahkan pelayan di ruang utama untuk mendekati Wina .
“Nona, masuklah dulu ke dalam kamar. Kedua pelayan ini akan membantu anda membersihkan diri sebelum beristirahat.” Rey menatap kedua pelayan itu bergantian.
Ketiga orang itu tampak duduk dengan perlahan di sofa ruang utama. Kelelahan yang tadinya melingkupi wajah dan mata Aarav dan Rania seolah hilang ketika pembicaraan hampir di mulai.
“Semua yang terjadi hari ini tidak boleh lagi terjadi di masa depan, Tuan Muda.” Rey membuka pembicaraan, “Untuk selanjutnya, saya sendiri yang akan memastikan keselamatan Nona.” Lanjutnya menjelaskan.
“Sama saja Rey, perasaan yang ada di hati Alina itu. Aku dapat mengerti, karena bukan Dia sendiri yang kehilangan orang tua saat kecelakaan itu.”
“Tapi bukankah berlebihan jika ini sampai menjadikan Nona Wina sebagai sasaran utama?” Rania menimpali percakapan kedua lelaki di depannya segera.
Mendengar kalimat dari lisan Rania, Aarav tersenyum, “Terimakasih untuk pengabdian ini saudaraku, Aku yakin wanita gila itu tidak akan mengulangi niat jeleknya. Kau tahu kenapa?.”
Aarav bertanya kepada Rey dengan tatapan lekat berharap agar lelaki yang di depannya bertanya, tapi tak satu katapun keluar dari lisan Rey, yang terlihat hanyalah Ia yang mengernyitkan dahinya.
“Haaa, kau memang lebih kaku daripada aku.” Aarav bangkit dari sofa lalu menepuk bahu Rey pelan, “Uruslah wanita itu dengan benar Rey, dan sembuhkan dia dari penyakit dendamnya.”
***
Sementara di dalam kamar Tuan Muda, lantai dua Mansion mewah itu Wina baru selesai menata penampilannya di depan kaca meja berhias. Berkali-kali wanita itu dilingkupi perasaan gugup, apa yang akan dikatakannya pada lelaki angkuh itu jika Ia tiba.
Pintu kamar tampak terbuka, dengan segera Wina mendekati dan hanya menemukan suaminya yang berdiri di sana. Gadis itu mengenakan gaun tidur berwarna toska.
__ADS_1
Kedua pelayan wanita yang menemaninya lalu pergi ketika melihat kehadiran Tuan Muda.
“Boleh juga penampilanmu jika mengenakan ini.” Aarav tampak mengusap-usap dagunya, manut-manut seperti orang yang sangat faham.
“Ah, ini kutemukan di lemari pakaianmu.” Melerai pembicaraan dengan senyum palsu, “Di sana, di ruang ganti yang megah itu.”
Aarav sudah tidak tahan dengan kelakuan bodoh istrinya, “Apa kau lupa jika kita sudah menjadi suami istri, sekarang?” meraih pinggang istrinya pelan, merengkuh wangi tubuhnya yang khas.
Wah, gila sekali permainan Tuan Muda ini.
Lepaskan hei, kau itu belum mandi.
“Ah haha, benar. Ayo, kubantu kau untuk membersihkan diri.” Berusaha meraih lengan yang merengkuh pinggang mungilnya.
“Kau jangan banyak bicara. Pergi sana!.” Aarav yang tadinya hampir kehilangan kendali, kembali menemukan kesadarannya.
“Pergi kemana?”
“Pergi tidur lah. Memang aku menyuruhmu untuk pergi mencangkul di taman apa, dasar lemot.”
Huwaaa, dasar suami super angkuh.
Ingin sekali kupatahkan bibirmu yang selalu berkata seenaknya itu.
“Aku harus tidur di mana?” gadis itu kembali bertanya dengan tatapan polosnya.
“Haha, bagaimana jika kau tidur di sini.” Aarav menepuk dadanya bangga.
“Ti.. tidak.”
“Yasudah, kalau sudah tahu bertanya padaku akan menemukan jalan buntu. Kenapa masih bertanya dengan ekspresi bodoh sih.” Senyuman penuh cibiran tergurat jelas di wajah lelaki itu, “Tumpuk bantalnya sebagai pembatas, kau bisa tidur di ranjang bersamaku.”
“Ta..tapi kan?”
Aarav melengos kesal melihat ekspresi kebingungan di wajah istrinya, “Kalau begitu tidur di sini!” menepuk kesal ke arah dadanya.
“Tidak!."
“Hahaha, jika tak tahan bisa-bisa kau sudah kumakan.”
Tidakkk, selamatkan aku dari hulk ini ya Tuhan.
__ADS_1