
Hari berlalu meninggalkan perasaan Alina yang terbiasa dengan kalimat-kalimat gila Rey yang terasa mengiris hatinya. Siapapun di luar sana seolah mempercayai bahwa gadis itu adalah gadis yang jahat dan hanya mampu menciptakan kekacaun.
Alina juga tidak pernah mempedulikan penilaian dari siapapun, entah yang cepat menilainya atau yang benar-benar berniat menilainya. Karena baginya kebahagiaan yang Ia miliki seperti apapun bentuknya, tidak akan bisa dirubah oleh orang lain.
Itu semua terlihat hari ini, ketika gadis cantik yang terbiasa mengenakan pakaian branded itu pergi ke panti asuhan yang dibangunnya. Tertawa bersama puluhan anak yang ada di sana.
Alina menyadari bahwa dirinya bak gumpalan kesepian. Jika dibiarkan terus-menerus maka tidak akan ada yang tersisa kecuali kesedihan.
Di panti asuhan yang didirikannya sendiri, menyediakan banyak guru dan pembimbing bagi anak-anak yang ada di sana, sangat selektif dalam memilih siapa orang yang akan masuk agar kekacauan tidak terjadi dan menanggung semua administrasi sendiri, itu adalah satu-satunya kesibukan yang membuatnya bahagia.
Gadis itu kini duduk di taman, mengamati kerumunan anak kecil yang bermain di depannya. Terlihat ia menyandarkan tongkatnya di pinggir kursi taman. Memutuskan untuk mengenakan pakaian yang lebih bermartabat hari ini dengan blouse dan rok hingga menutupi lututnya yang mulus.
Bi Santi menepati janjinya kemarin untuk mengantarnya ke tempat ini karena keluhan rindu yang dikatakan Alina.
“Kakak, ayo makan bersama kami.” Ucap seorang anak perempuan yang sudah sering melihat Alina berada di panti itu.
Anak itu adalah laras, anak perempuan yang berumur delapan tahun yang selalu mencurahkan perhatian lebih pada Alina sejak pertama kali melihatnya.
Alina menopang dagunya perlahan ketika mendengar ajakan anka yang ada di depannya, “Mmm, katakan aku akan dapat apa jika makan bersama kalian.” Mengeluarkan kalimat menggoda dari lisannya.
“Aku akan berikan pada kakak di meja makan sebagai kejutan?”
Bersamaan dengan itu, Bi Santi menghampiri keduanya dan menatap laras dengan lembut, “Baiklah-baiklah, siapa yang akan menolak memangnya jika gadis cantik ini yang meminta.” Bi Santi mengelus dagu anak kecil itu dengan lembut.
Kemudian menuntun Alina menggunakan tongkatnya menuju ruang makan di dalam panti asuhan. Ketiganya disambut dengan hidangan makanan yang lezat, jajaran piring berisi lauk pauk sudah tertata rapi. Beberapa pengasuh juga sudah terlihat duduk di ruangan itu dengan memangku balita.
“Kakak, Aku akan ambilkan makanan untukmu.” Laras meraih piring dan menyendoki nasi untuk Alina. Laras juga terlihat mengambilkan Alina paha ayam goreng dan menaruhnya di piring Alina dengan tangkas.
Sementara Bi Santi membiarkan Nonanya menikmati kehidupan yang sebenarnya, hanya bisa meringis pedih melihat apa yang dilakukan Laras pada Alina.
Alina hanya mampu tersenyum ketika dengan posisi duduk lemah ia mengamati gerakan laras yang dengan cekatan mengambilkannya nasi dan lauk pauk. Hingga anak kecil itu menyerahkannya dengan senyuman seperti mengisi penuh piring Alina dengan kebahagiaan.
__ADS_1
“Terimakasih.” Ucap Alina sambil menyambut piring yang sudah terisi penuh makanan.
Ketika akan menyendok makanannya, Laras memberikan sepotong ayam lagi pada Alina membuat gadis itu semakin menatap dengan tanda tanya besar.
“Ada apa Laras? Kau tidak suka ayamnya?” pertanyaan yang terlihat menginterogasi, karena jika rasanya mengecewakan seluruh pengasuh yang ada di sana akan menjadi bulan-bulanan Alina karena mengecewakan anak-anak ketika memakannya.
Laras menggeleng cepat, senyuman tipis menjawab semua pertanyaan mengancam dari Alina.
“Katakan, apa makanan ini tidak enak?” dengan nada yang semakin kesal.
“Itu hadiah untuk kakak, karena mau makan bersama kami.” Laras melirik gadis yang sudah kesal itu dengan senyuman yang masih betah, “Yang aku katakan di taman tadi sebagai kejutan kan.” Lanjutnya sambil mengedipkan mata.
Alina yang hampir saja membanting piringnya kini luluh. Tangannya terasa gemetar mendengar perkataan anak kecil di depannya.
Ketika di luar sana semua orang hanya menganggapnya sebagai gadis gila yang sanggup melakukan hal jahat dengan sekejap, panti asuhan ini memang berbeda. Anak-anak yang hanya memiliki kepolosan seolah mampu melihat ketulusan sekecil apapun yang ada dalam dirinya.
Tak peduli dengan dosa apa saja yang sudah dilakukan Alina. Dia hanyalah gadis yang ingin disayangi, rindu dengan kelembutan dan kasih sayang.
“Aku akan memakan ini hingga habis.” Ucapnya dengan tatapan tulus menghadap Laras.
Keduanya akhirnya makan dengan Bi Santi yang terus mengawasi, sempat luluh dengan keadaan di depannya apalagi ketika melihat Alina yang biasanya pilih-pilih makanan kini dengan lahap menghabiskan makanan dengan berbagai jenis di piringnya. Wanita tua itu tersenyum kagum melihat Nonanya bahagia setiap berkunjung ke tempat ini.
Sementara di luar gerbang panti asuhan seorang laki-laki berbadan tinggi meminta pengawal yang ditugaskan Alina di sana untuk masuk.
“Tuan, Nona Alina memerintahkan kami agar tidak ada yang mengganggunya.” Seorang pengawal menunduk sopan dengan Rey yang membuka separuh kaca mobil bagian depannya.
“Nona Alina mu itu mencintaiku. Biarkan aku masuk atau akan ada kekacauan yang terjadi.” Rey bergegas melajukan mobilnya dengan maksa memasuki area panti asuhan.
Dengan buru-buru kedua pengawal itu membukakan gerbang. Takut jika Rey benar-benar menabrakkan mobilnya ke gerbang panti dan membuat lebih banyak kerusakan.
Rey masuk dan menanyakan Alina ke beberapa pengasuh yang melintas di bangunan depan panti asuhan. Beberapa orang yang melintas dan ditanya menunjukkan respon yang sama, menuntun Rey dengan tangannya menuju ruang makan anak-anak.
__ADS_1
“Tuan?” Bi Santi kaget dengan kedatangan Rey untuk pertama kali ke tempat ini, “Bagaimana bisa?..” Melirik ke arah gerbang yang dihuni dua orang pengawal tadi.
“Jika mereka berani menghalangiku, akan terjadi banyak hal merepotkan.” Rey menyeringai jahat membuat Bi Santi faham dengan maksud perkataannya.
“Apakah Alina sudah sembuh dari penyakit gilanya hingga Ia makan dengan ekspresi menggelikan begitu?” mengarahkan pandangannya kepada Alina yang sedang lahap makan bersama anak yang ada di sana.
“Nona merindukan anak-anak di panti asuhan sejak kemarin. Karena itulah saya membawanya kemari hari ini.” Bi Santi menjelaskan sopan.
“Kenapa Bibi tidak memberitahuku?”
“Karena Nona hanya mau pergi kesini dengan tenang, Tuan.”
“Maksudnya tanpa bertengkar dan adu mulut denganku?”
Bi Santi mengangguk mantap.
“Ah, kalau begitu bagus juga untuk merusak keinginannya itu sekarang.”
Setelah mengucapkannya Rey menerobos kerumunan anak-anak yang sedang makan di sana dengan langkah hati-hati. Mengangkat tubuh mungil Alina yang sontak kaget melihat hal yang dilakukan Rey padanya.
“Kau sudah gila? Anak-anak itu melihatmu!” membentak Rey hingga keluar ruang makan. Bi Santi yang melihatnya segera mengalihkan perhatian anak-anak dan pengasuh yang melihatnya.
“Turunkan Aku!” meronta-ronta dengan Rey yang menuntun langkahnya ke taman yang tak jauh dari ruang makan.
“Bukahkah kau Alina yang sama, yang mengecupku di rumah sakit dengan membabi buta? Lalu kenapa kini kau sangat menjaga martabatmu?” merebahkan tubuh Alina ke kursi taman dengan lembut.
“Katakan, bagaimana bisa kau tahu mengenai tempat ini?!”
“Memangnya apa yang tidak aku ketahui dari dirimu?”
Alina mengalihkan pandangannya, semilir angin menerpa wajahnya dengan lembut.
__ADS_1
“Sudah kukatakan, menjadi tugasku mengurusmu hingga sembuh.” Rey berkata lagi dengan raut wajah datar, “Jadi sebaiknya kau katakan ke mana akan pergi jika tidak mau kejadian mengejutkan seperti ini terulang lagi.”