Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Pertemuan Di Bandara


__ADS_3

Dalam ingatan Rey, gadis yang menemuinya dan langsung menggila dengan mencium bibirnya berkali-kali tempo hari lalu bukanlah ancaman bagi keluarga yang Ia sayangi.Tapi sebenarnya itulah yang perlu dibedah dalam masalah rumit ini.


Tepat di hari di mana Tuan Besar tahu bahwa istri tercintanya meninggal, lelaki paruh baya itu sudah dipenuhi oleh kekalutan. Bulir bening terus bercucuran di matanya. Hanya Rey yang ada dalam ingatannya saat itu.


Sementara wanita yang sempat disebut-sebut oleh tetangga Rey, berada satu mobil dengan Nyonya Zayn kala itu luput dari perhatiannya. Setelah pemakaman berjalan sempurna, sudah beberapa kali Ia pergi ke rumah sakit untuk mengetahui identitas wanita itu.


Namun berkali-kali juga perawat memberi penjelasan rancu padanya mengenai wanita itu. Seolah berusaha menutupi identitas aslinya.


“Keluarganya membawa jenazah tiu lebih cepat, Tuan.” Begitu kira-kira alasan klasik yang dilontarkan oleh lisan perawat di rumah sakit, sudah seperti bualan yang tak berujung.


Ketika tetangga Rey menjelaskan, tuan besar sempat menengok sekilas rupa wanita itu. Namun fikiran yang sudah kalut dengan kesedihan berhasil memupus bagaimana ingatan mengenai rupa wanita itu.


Hingga beberapa tahun berlalu, masalah ini belum menemukan penyelesaian. Meninggalkan lubang besar di hati tuan besar yang terisi banyak penyesalan. Kekalutan saat istrinya meninggalkan dunia, membuatnya lupa bahwa wanita yang menjadi teman istrinya juga punya keluarga.


Satu-satunya hal yang menjadi pertanyaan dalam hidupnya akan kejadian itu adalah ketika Ia tak bisa mengenal siapa wanita yang tewas bersama Nyonya Zayn. Di dunia ini bukankah suami adalah orang yang paling tahu kepada siapa saja istrinya bergaul, tapi kali ini ingatannya benar-benar tak mampu mengingat siapa wanita itu. Jangankan mengingat, bahkan mengetahui namanya saja tidak.


Siang itu di ruangan Presdir.


“Kau sudah pastikan akan pulang di pekan ini?” menuntut kejelasan dari anaknya yang sebentar lagi bertemu dengannya.


“Ya, Ayah.” Jawaban yang terdengar menyenangkan, “Kali ini akan ada teman wanita yang ikut bersamaku juga.” Jelasnya lagi.


Ketika lisan lelaki paruh baya itu akan terbuka untuk bertanya kembali, dengan cepat Aarav memutus panggilan teleponnya. Hafal sekali bahwa ayahnya akan bertanya lagi dan lagi.


Empat tahun berlalu sejak kedua anaknya, Aarav dan Rania memutuskan untuk menuntut ilmu di luar negeri, baru kali ini terucap rapi dari lisan Aarav akan membawa seorang teman menemui ayahnya. Apakah begitu sosialnya sikap Aarav yang arogan dan pemaksa, hingga Ia bisa mendapatkan teman baik ketika belajar di sana.


Semua pembicaraan dengan anaknya tadi meninggalkan bimbang di hati. Semakin penasaran dengan orang yang akan dibawa Aarav. Hingga semua itu mendesaknya untuk memanggil Rey, intelegent paling hebat yang dimiliki perusahaan.


Setelah setengah mati menanti Rey datang, kini lelaki paruh baya itu duduk di sofa sambil mengurut dahinya. Lelah dengan pekerjaan ditambah lagi dengan usia yang kian menua.

__ADS_1


“Anda memanggil saya.” Sapaan sopan dari lisan Rey disertai langkah kaki yang kian mendekat mulai menggema di ruangannya. Membuat lelaki paruh baya yang letih itu kembali membuka matanya.


“Apa Tuan sakit?” Rey bertanya lagi tanpa ragu.


“Sudah kubilang berkali-kali bahwa aku adalah Ayahmu, bukan?” menyapu bersih pandangannya ke arah Rey dengan seringai penuh ejekan.


“Iya, Ayah.” Manut.


“Hahaha.” Lelaki paruh baya dengan takaran hobi tertawa di usia yang kian menua, “Aku memanggilmu karena ini adalah tugasmu, Anakku.” Lanjutnya bicara.


“Katakan Ayah, tugas apa yang harus saya lakukan.”


“Bukankah kau tahu bahwa mendiang istriku sudah menjodohkan Aarav dengan anak dari sahabatnya? Tapi hari ini Aarav bilang bahwa Ia akan membawa satu teman wanitanya untuk diperkenalkan pada kita.” Tuan Besar merasa bosan sendiri dengan kata-katanya.


Benarkah, gadis gila macam apa yang bisa membuat Tuan Muda jatuh cinta.


“Benar, kurasa anak itu juga sudah gila.” Seolah tahu apa yang baru saja ada di benak Rey, membuat Rey yang mendengarnya hampir tergelak.


“Baik, Ayah.”


Tak pelak, langkah Rey segera menjauhi ruangan itu. memang lelaki tampan yang tak hobi buang-buang waktu. Hingga lelaki itu sampai di ruangannya, menggenggam telepon dan mengetikkan beberapa hal di sana. Siapa lagi yang akan diberi perintah di keadaan ini selagi ajudan setianya.


“Berikan aku laporan lengkapnya hari ini.” Kata Rey tegas.


Satu jam berlalu setelah mandat menyeramkan yang dijalankan ajudannya, data wanita itu sampai tepat di depan matanya.


Dari layar laptop yang menghadap pas di depan bola matanya. Terpampang jelas di sana wanita itu adalah wanita yang masuk sembarangan ke ruangannya tempo hari. Beberapa kali Rey mencoba mengondisikan emosinya agar tidak menggila.


Gadis gila yang sempat ada di benaknya saat dipanggil Ayah tadi, ternyata adalah Alina. Membuat Rey yakin bahwa tujuan Alina yang sebenarnya bukanlah Aarav, melainkan dirinya.

__ADS_1


Berusaha tetap fokus dan tenang dalam memeriksa data yang diberikan oleh ajudannya. Lelaki itu hanya bisa mengeram sebal. Dirabanya berkali-kali di bagian bibir, seolah memperingatkan agar wanita gila bernama Alina Gunawan itu tak melakukannya lagi.


“Beraninya kau bermain-main denganku.” Desis sinis dari Rey terus memaki foto wanita cantik yang ada di depannya, “Jika kau berani mempermainkan keselamatan Tuan Muda dan Ayahnya, langkahi dulu mayatku dan Rania.”


***


Tak kunjung selesai untuk Rey yang terus memaki dirinya sendiri. Lalai dengan keselamatan Aarav karena bisa mengenal Alina dan menjadikannya sebagai teman baik. Dan entah bagaimana juga cara wanita itu memasuki tuan mudanya hingga bisa berhasil sampai ranah pertemanan.


Sekarang, di sinilah Rey dan tatapan penuh kebenciannya. Tepat di hari penjemputan Aarav dan Rania di bandara, sayup sayup Rey melihat Alina yang berjalan dengan senyuman manis ke arahnya dari belakang tubuh tuan mudanya.


“Selamat datang Tuan Muda, lama tak berjumpa.” Rey mengedarkan pandangannya ke tiga orang yang ada di depannya.


“Kau tidak berubah Rey. Tetap menjadi lelaki tampan bermata siaga, hahaha.” Aarav tergelak melihat tatapan waspada Rey yang sedari tadi tertuju pada Alina.


“Tuan Muda, pengawal akan mengantar anda dan Rania menuju Mansion.” Rey tersenyum tipis sambil melirik Alina.


“Saya akan mengantar Nona Alina untuk membeli beberapa lembar baju. Bukankah begitu Nona?” ucap Rey dengan ekspresi yang sudah diatur sedemikian rupa.


“Jadi kau dan Alina sudah saling mengenal, begitu rupanya.” Aarav manggut-manggut faham, “Aku tidak menyangka kau meliriknya dengan cepat Rey.” Lanjutnya sambil menyeringai.


Rey menunduk sopan sambil menyeringai jahat.


Tanpa disadari Alina memotong pembicaraan mereka, “Ya, aku mengenal Rey belum lama ini.”


“Baiklah, pergilah dengan Rey. Aku dan Rania akan beristirahat di mansion terlebih dahulu.”


Aarav sebenarnya pergi dengan wajah tak mengerti. Tapi dengan kepercayaan penuhnya terhadap Rey, karena bukan tanpa alasan lelaki itu mengatakan hal sekonyol ini.


Jika alasannya hanya untuk memberi beberapa lembar baju, maka itu adalah alasan mentah sekaligus bodoh yang harus ditelannya.

__ADS_1


Hingga Aarav terlihat menuntun Rania masuk ke mobil yang sudah disiapkan Rey dengan beberapa pengawal, mata keduanya masih penuh dengan tanda tanya, ada apa sebenarnya.


__ADS_2