
Satu pekan berlalu dengan mulus, selama itulah Rey mangkir dari pekerjaannya di perusahaan dan mengurusi hal lain. Aarav dan ayahnya berpesan untuk merawat wanita bernama Alina itu hingga pulih total.
Dalam sejarah, mungkin inilah kali pertama lelaki ganas itu membujuk dirinya sendiri untuk lebih bersabar menghadapi perlakuan Alina yang diluar batas selama sepekan. Setiap hari dengan begitu bebasnya wanita itu memeluk dan menciumnya.
Rey tetap bersabar dan menahan diri, karena baginya tak ada bedanya antara dipeluk atau tidak, dicium atau tidak. Sejujurnya, lelaki itu bahkan bingung membedakan antara senang dan sedih. Selama sembilan tahun terakhir Aarav dan dirinya tidak pernah tercatat mempunyai hubungan istimewa dengan wanita manapun.
Sama halnya dengan yang dilakukan Rey kali ini dengan Alina. Kebingungan yang menghampiri dirinya terhadap wanita itu hanya satu, kenapa hingga saat ini Alina masih kukuh mengatakan cinta padanya sementara sedikitpun Rey tak pernah membalas semua perasaannya.
Pagi ini di ruang rawat Alina.
Dengan tatapan lekat Rey mengawasi perawat yang melatih Alina untuk berjalan sedikit demi sedikit. Selama berhari-hari Alina hanya mampu terbaring lemah di tempat tidur dan hari ini waktunya kembali melatih kakinya agar tidak kaku ketika berjalan.
Dengan tertatih Alina menapakkan kakinya di lantai sambil tubuh yang ditumpu oleh bahu perawat di sampingnya. Kedua gadis itu tampak berputar beberapa kali mengelilingi ruangan dengan sorot mata Rey yang masih betah mengawasi. Lelaki itu duduk di sofa yang sengaja ditaruh di pinggir agar tidak menghalangi latihan berjalan.
Tampak seperti perawat yang ceroboh dalam melatih pasiennya. Dalam putaran akhir Alina tampak meringis menahan sakit dari sesuatu di perutnya, bekas luka tusukan itu masih terasa nyeri saja. membuat tatapan Rey main intens dan tubuhnya yang siaga khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Aawww…” Alina memekik pelan merasakan perih di perutnya yang kian menjalar. Membuat gadis itu refleks menarik rangkulannya. Membuat perawat yang tidak kuat menahan tubuh Alina pun kehilangan keseimbangannya.
“Tap.” Pinggangnya terangkul sempurna oleh tangan Rey, menangkap tubuh Alina dengan tangkas.
Perawat itupun tampak ketakutan dengan tatapan dingin Rey yang mengarah ke padanya dengan tajam, “Maafkan saya Tuan.”
“Pergi. Biarkan aku yang mengurusnya.” Perintah Rey dengan nada tegas.
Sesegera mungkin perawat itu meninggalkan ruangan, mungkin tindakan itu dilakukannya dengan langkah seribu. Meninggalkan Rey yang masih sempurna merangkul pinggang Alina.
“Jika aku jatuh, apa perawat itu akan kehilangan nyawanya?” Alina menyadarkan Rey yang masih memandang ke arah pintu. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
“Kau masih mau latihan atau tidak?!” mengalihkan pembicaraan Alina.
“Kau ini kenapa sih, selalu saja memakai nada tinggi. Sudah seperti macan saja.”
“Jika kau tahu, maka berhati-hatilah.”
“Jika kau akan memakanku, aku siap.” Senyum penuh tantangan tergurat di wajah Alina, dengan bibirnya yang kian mendekat.
__ADS_1
Rey segera mengalihkan pandangannya, menjauhkan bibirnya dari wanita yang bisa kapan saya menyambarnya. Kedua tangannya merengkuh sempurna tubuh Alina, menggendongnya menuju ranjang.
“Besok pagi kau akan pulang.” Ucapnya sambil membenahi bantal di kepala Alina.
“Jadi ini hari terakhir aku bisa begini?” Alina mengecup bibirnya dengan penuh tekanan. Lagi dan lagi seolah gadis itu ingin mengumumkan bahwa lelaki di depannya ini adalah miliknya.
Beberapa detik yang berharga, Rey mampu merasakan jantungnya yang berdetak cepat bersama kecupan lembut yang terus mengitari bibir merahnya.
Alina mendorong tubuhnya dengan kasar, “Apa kau mayat hidup yang tidak bernafas? Begitu bernafsunya kaku denganku.” Nafasnya tersengal melepaskan pagutan Rey sejak beberapa saat lalu.
“Ini terakhir kalinya kau mendapat kesempatan gila begini.” Rey akhirnya berbalik, bermaksud meninggalkan wanita di depannya untuk beberapa saat.
“Kapanpun aku mau, aku akan datang kepadamu. Kau hanya milikku Rey Zayn!” teriak Alina ketika tubuhnya hampir mencapai pintu.
“Tutup mulutmu yang kotor itu.”
***
Pintu ruangan tertutup, meninggalkan Alina yang terbaring di sana. merasakan nyeri di perutnya karena latihan berjalan tadi.
Rey tampak mengalihkan wajahnya yang memerah malu, selama hidupnya belum pernah Ia seperti kehilangan harga diri begini di depan adiknya sendiri.
“Kakak.” Sapa Rania dengan tatapan lekat.
“Kau di sini. Kenapa tidak menelponku dulu?” sikap canggung meliputi nada bicaranya, khawatir sekali jika adiknya melihat sekelibat adegan berbahaya yang terjadi di ruang rawat tadi.
“Kakak bilang padaku beberapa waktu lalu untuk langsung ke sini saja.”
Telak, dua jam yang lalu adiknya bahkan sudah mengabari jika ada sesuatu yang akan disampaikan, dan Rey sendiri yang bilang agar langsung datang ke rumah sakit.
“Baik. Katakan, ada apa?”
“Nona Wina ingin bertemu denganmu di Mansion.”
“Baik, kau jagalah Alina di sini. Aku akan pulang sekarang.” Rey menunjuk Alina dari kaca pintu, gadis itu terlihat sudah tidur dengan lelap sekarang.
__ADS_1
Rania mengangguk mantap, membiarkan langkah kakaknya pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Sekitar lima belas menit berlalu, mobil yang di bawa Rey memasuki gerbang utama dan terparkir dengan rapi di sana. Ketika memasuki ruang utama Rey mendekati seorang pelayan wanita di sana.
“Di mana Nona Wina?”
“Beliau di taman Tuan.” Menjawab sopan.
Segera Rey melangkah menuju taman dengan banyak pertanyaan yang melingkupi hatinya. Kenapa Nona Muda mencarinya, jika ada yang perlu ditanyakan mengenai Tuan Muda, kenapa tidak lewat Rania saja. Semua pertanyaan itu seolah mendobrak langkahnya untuk cepat sampai di pintu taman.
“Nona memanggil saya?” Menyapa wanita yang duduk santai menikmati kesejukan taman.
“Ah, kau sudah datang. Apa suamiku juga sudah pulang?” Wina melirik ruangan di dalam mansion, tampak khawatir jika ini diketahui oleh suaminya.
“Sepertinya belum Nona.”
Wina akhirnya bangun dari kursi yang sudah Ia duduki cukup lama. Sejak Rania bilang akan menjemput Rey tadi, sudah selama itulah Wina duduk di sana menunggu kedatangannya.
Gadis itu berjalan perlahan mengitari taman, diikuti Rey di belakangnya. Dengan tenang Wina mengehembuskan nafas perlahan, mencari-cari ketenangan untuk diri sendiri sebelum mengeluarkan pertanyaan mematikan.
“Rey.” Dengan suara yang masih bena-benar tenang.
“Katakan saja Nona.” Lelaki itu makin penasaran dengan apa yang akan ditanyakan Wina.
“Ini mengenai suamiku, Aarav.” Wina tertunduk pelan, perasaan khawatir melingkupi dirinya.
Entah bagaimana jadinya jika yang dikatakan Aarav dan Rania itu benar, bahwa lelaki di depannya ini sangat kejam dan berbahaya. Jawaban yang diperolehnya dari Rania tadi tak bisa merubah apapun, hingga memaksanya bertanya dengan lelaki di depannya ini.
“Rey, apakah suamiku pernah mencintai wanita selain sebelum menikah denganku?.”
Rey yang mendengarnya pun tercengang, apa sebenarnya yang terjadi hingga Wina berani bertanya mengenai ini. Sesaat tak ada jawaban yang keluar dari lisannya, matanya sudah dilingkupi gurat kekesalan yang menyala.
“Kenapa Nona menanyakan ini?” Rey berusaha meredam kekesalannya dengan susah payah. Menggunakan nada bicara setenang mungkin.
“Bisakah aku membalas cinta Tuan Mudamu itu? aku ingin maju dalam hubungan rumah tangga ini, tapi aku khawatir salah dalam menafsirkan semua perlakuan hangatnya. Jika memang ada wanita sebelum aku yang Ia cintai dan hingga saat ini masih mencintainya, aku akan sangat berdosa karena punya maksud merebut hatinya."
__ADS_1
Dengan setulus hati Wina mengucapkan semua kalimat itu. Bahkan jantungnya berdegup dengan kencang.