
Semalam, akhirnya Aarav memutuskan untuk hanya tidur di samping istrinya. Tak sedikitpun kecurangan dilakukan pada tubuh Wina yang dengan lelapnya tertidur. Menatap istrinya dari arah dekat memang kebahagiaan yang tiada tara. Aarav bahkan masih sangat ingat bagaimana caranya membelai lembut rambut yang menimpa wajah cantiknya, hanya sebatas itu hal manis yang dilakukannya untuk Wina.
Sekarang di sinilah Tuan Muda. Di ruang makan tepat menghadap meja yang sudah dipenuhi hidangan lezat. Wina tampak berdiri di sampingnya, menghidangkan makanan di piringnya dengan lembut. Gerai rambut gadis itu yang tertimpa sinar mentari membuat perasaan Aarav semakin tak karuan.
Hari ini Aarav memutuskan untuk tetap berangkat ke perusahaan, Ia bahkan sudah siap dengan setelan jas lengkapnya. Sudah sejak tadi sebetulnya suaminya geram melihat tingkah Wina yang terlalu fokus menghidangkan makanan tanpa melirik ke arahnya.
Apa gadis ini mengira suaminya adalah monster.
Sudah berdandan setampan ini saja, aku masih tidak diliriknya.
“Apa teman-temanmu di kampus tahu bahwa kau sudah menikah?” Aarav membuka percakapan, berusaha agar istrinya mengalihkan pandangan walaupun sedikit saja ke arahnya.
“Belum ada yang tahu.” Menjawab dengan pandangan yang masih fokus menghidangkan makanan.
Sialan, belum berhasil juga.
“Baiklah, ayo kita beritahu siapa suamimu.” Mulai menatap Wina dengan perasaan sebal, “Bukankah bagus jika mereka tahu bahwa kau sudah menjadi Nyonya Zayn?.”
“Tidak Aarav..”
“Diam. Kau kira aku ini adikmu yang bisa kau panggil namanya dengan sembarangan.” Menatap Wina dengan kekesalan yang memenuhi matanya.
“Maafkan aku, suamiku.” Dengan tenang Wina membujuk suaminya.
Lelaki yang dipanggil suami itupun segera mengalihkan pandangannya dari Wina dnegan wajah yang memerah malu.
Aku memang pelakon drama terbaik yang pernah ada.
Hahaha, memangnya kapan aku gagal ketika memaksamu.
“Sudah selesai, sekarang makanlah sarapan ini dengan baik.” Wina yang sudah selesai menata makanan Aarav di depannya, memilihkan apa saja yang harus masuk ke mulut suaminya.
Tersenyum bangga untuk hal merepotkan yang berhasil dilakukannya. Masih terbayang di benaknya saat tadi pagi pelayan di Mansion besar itu tampak kerepotan dengan banyaknya hidangan yang dibawa, belum lagi yang ditata di atas meja.
Wina bahkan belum melihat mertuanya serta Rey dan Rania turun untuk menyantap makanan yang ada di sana, sementara suaminya sudah menunggu dan memerintahkan untuk menghidangkan makanan.
Tepat setelah Wina tersenyum bangga, pintu kamar Tuan Besar terlihat terbuka. Lelaki paruh baya itu keluar mengenakan setelan rapi di tubuhnya dengan Rania menuntun langkahnya menuju meja makan.
“Selamat pagi, Ayah.” Sapa menantunya dengan sopan.
Lelaki itu tersenyum ramah dengan jemarinya yang mengelus kepala Wina pelan, “Katakan. Apakah Aarav menjadi gila semalam.”
“Tidak Ayah.”
__ADS_1
“Ah, apakah dia menjadi anak kecil yang penurut?”
“Ah, tidak-tidak Ayah. Itu tidak benar.”
Kami berbagi lahan tidur, Ayah.
Ranjang itu sudah seperti tanah sengketa untuk suami istri seperti kami.
“Menantumu ini, sangat kejam padaku Ayah.” Aarav berusaha membuat istrinya malu dengan ejekan ini. Seringai jahat tergurat jelas di wajah tampannya.
“Waw, katakan bagaimana yang dimaksud ‘sangat kejam’ itu?” Ayah sepertinya mendukung anaknya untuk lebih banyak mencibir Wina.
Wina yang terpojok hanya bisa tersenyum masam, wajahnya yang merah malu bak udang goreng semakin membuat Aarav gemas untuk mengerjai istrinya. Terdengar gelak tawa dari Ayah dan Anak yang duduk di meja makan itu.
Bangga sekali kau bisa menertawai istrimu.
Dasar penjahat.
“Kenapa matamu melotot begitu? Sedang memaki suamimu secara sembunyi-sembunyi?”
“Ah itu tidak benar, ayo makanlah sarapanmu ini.” Wina menunjuk pelan piring Aarav yang sudah terisi penuh makanan.
“Suapi aku.”
Ya tuhan apa yang kukatakan.
Dasar bodoh.
“Ah haha, Tidak benar Ayah.” Tersenyum penuh kebohongan menghadap wajah mertuanya, “Aku bahkan sangat suka menyuapi anakmu. Sangattt suka, hingga kadang aku hampir memakan jariku karena rasa suka itu.” Menyendok makanan dengan porsi besar lalu menyumpal mulut Aarav hingga lelaki itu sulit untuk mengunyahnya.
Ayah hanya bisa tergelak melihat tinggal anak dan menantunya di meja makan itu. Sementara Rania sudah sibuk menyendoki makanan ke mulutnya, mengisi perutnya sampai kenyang sempurna.
“Di mana Rey?” Ayah bertanya dengan senyum yang belum terhapus dari bibirnya.
“Kakak berangkat lebih awal untuk mengurus sesuatu, Ayah.” Jawab Rania dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
“Apa Rey pergi untuk mengurus wanita itu?”
“Ya, Ayah.” Giliran Aarav yang menjawab pertanyaan Ayahnya.
“Suamiku, tidak mau menambah makanannya?”, pertanyaan yang mengalihkan perhatian Ayah dan Rania kembali.
Sekalian saja kau kukerjai, mumpung Ayah masih di sini.
__ADS_1
“Tidak, aku sudah sangat kenyang.” Mengakhiri makannya dengan memerintah Wina untuk mengambilkan minum dengan tatapan mata.
“Yah, padahal aku belum makan.” Rencana jahat Wina dimulai agar suaminya makan lebih banyak dan kekenyangan.
Rasakan, rasakan pembalasanku yang mantap ini.
Gigit saja gelas di mulutmu itu, karena kau tidak akan mampu mengangkat suara lagi setelah ini.
“Suamiku, temani aku makan ya. Bukankah kau suka makan bersama istrimu?” Wina berbicara dengan nada manja, seolah telah lupa bahwa yang mengitari meja itu bukan hanya Aarav dan dirinya, tapi juga mertuanya dan Rania.
“Aku sudah kenyang.”
“Ayolah suamiku, kita akan makan berdua. Kau tenang saja.” Wina mulat menyendoki nasi yang ada di depannya kembali, menambahkan beberapa sayur dengan siraman sambal di sana.
Apa aku menikahi wanita gila.
Bagaimana bisa dia begitu berani mengerjaiku di depan Ayah dan Rania.-Aarav.
“Kubilang aku sudah kenyamm..” Sesendok makanan berhasil menyumpal mulutnya kembali.
Dengan Wina yang makan di piring yang sama, suami istri itu sudah seperti makan satu piring berdua kalau begini caranya.
Saking asiknya Wina menjalankan rencana, hingga suami istri itu lupa bahwa meja sudah lengang, Ayahnya dan Rania sudah selesai makan dan segera meninggalkan tempatnya dengan hati-hati tanpa perlu disadari oleh sepasang mereka yang sedang asik saling menyuapi.
“Aku sudah kenyang, hentikan suapanmu ini atau aku akan muntah.” Aarav mengehentikan tangan Wina yang akan menyuapinya lagi dan lagi.
“Ah, haha maafkan aku suamiku.”
“Aku tidak jadi berangkat ke perusahaan kalau begini jadinya.” Mendengus kesal, sambil mengalihkan pandangan dari istrinya.
“Loh kenapa?”
“Apa kau mau menjadikan aku sapi yang terus tertidur karena perut yang terlalu kenyang?!”
Kalau kau tidak berangkat, bisa mati aku disiksa seharian di sini.
Tidak itu tidak boleh terjadi.
“Kau harus berangkat suamiku. Lagipula kau sudah siap dengan setelan jasmu ini.” Meraba dada bidang Aarav perlahan.
“Baiklah, kalo begitu lepaskan jas ini bersamaku.”
Aarav bersegera mengangkat tubuh istrinya, meninggalkan banyak hidangan yang tersisa di meja. Memang tidak mungkin Ia akan memaksa Wina meminta haknya sebelum waktunya.
__ADS_1
Tapi jika hanya untuk sekedar mengerjai wanita itu dan mambuatnya perlahan jatuh cinta, itu bukanlah hal yang sulit baginya.