Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Menukar Keselamatanmu Dengan Jiwaku


__ADS_3

Di ruang kamar Alina, drama menyedihkan sedang terjadi. Gadis itu tadinya lelap dalam tidurnya dengan mata yang kelelahan.


Tapi tak sempat bangun dalam keadaan normal, ia bahkan mampu merasakan cekikan yang mengikat lehernya dengan kuat. Matanya hanya mampu terbelalak ketika melihat Rey sudah dipenuhi amarah.


Dengan sekuat tenaga ia melepaskan cekikan lelaki yang masih berdiri tegap di depannya. Berlari menghindari Rey yang sudah membabi buta meraih apapun untuk menangkap tubuh mungilnya.


“Lepaskan!!” teriaknya sambil berlari ke arah pintu kamar.


Tak semudah itu, Rey meraih gaun tidurnya dengan kasar yang membuat tubuhnya terhempas dengan keras di ranjang. Lelaki itu kembali mengancam leher Alina.


“Kau! Sampai mana balas dendammu akan terpuaskan?!” mengguncang tubuh Alina dengan kuat.


Lalu mengeluarkan pisau lipat dari saku jasnya, menodongkan tepat di dagu mulus gadis itu.


“Sudah kukatakan, bahwa aku akan sangat bahagia melihat lehermu dalam genggamanku.” Rey menyeringai penuh penghinaan. Seolah memberitahu bahwa gadis itu telah kalah dalam permainan.


Pisau di tangannya masih mengitari dagu Alina, kali ini ia menusukkan sedikit ujungnya ke dagu gadis itu, membuat Alina yang sedari tadi memberontak, menundukkan pandangan.


“Haaa, hahaha! Kau memang sangat tampan bahkan ketika marah Tuan Rey.” Malah tergelak dengan jemarinya yang mengelus dagu Rey pelan.


Rambut rapi Alina kini sudah terburai tak beraturan, dengan tubuhnya yang menjadi tumpuan Rey agar tidak jatuh ke ranjang. Pisau yang menganga sudah siap menembus lehernya, tapi semua itu seolah tak bisa membangkitkan ketakutannya.


“Katakan, siapa yang sudah berani membuatmu semarah ini?” Kini Alina membelai wajahnya dengan lembut.


“Hentikan! Kau wanita tak tahu malu!” Rey menghempaskan tubuhnya ke ranjang untuk kedua kalinya dengan kasar.


Dengan nafas tersengal Alina bangkit dari sana dan menarik kerah jas yang dipakai Rey dengan kasar.


“Kenapa kau membela keluarga yang sudah jelas adalah pembunuh?!"


“Hentikan! Apa kau tidak berkaca betapa kotor dan rendahnya dirimu?!"


“Itu semua karena kau menghalangi rencanaku membunuh keluarga Zayn!”


“Diam!!” Rey menjambak rambut gadis itu dan menghentakannya hingga sangat dekat dengan wajahnya, “Tuan Muda dan Ayahnya tidak bersalah! Jika kau berani membuka mulutmu lagi, tangan ini tak akan segan merobeknya!.”

__ADS_1


Gurat penuh kemarahan dengan darah yang terasa mendidih di setiap nadi tubuhnya. Ancaman Rey barusan terdengar sangat menakutkan.


“Aku membenci dirimu!” Alina mencengkeram kerah jas yanga dipakai Rey dengan kuat.


Gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Rey, suara tangis yang keluar dari mulutnya tersumpal jas yang dipakai Rey.


Tak ada penolakan tapi juga tak ada penerimaan yang ditunjukkan oleh tubuh Rey. Lelaki itu masih berdiri mematung di sana. Bulir bening bercucuran dan memenuhi wajah cantik Alina.


Tapi keadaan yang tak bisa dijelaskan itu tak berlangsung lama, sebelum Alina kembali mendorong tubuh Rey dengan kasar.


“Aku ingin membunuh Tuan Mudamu! Tapi kenapa kau yang melindunginya?!!” kembali menarik paksa jas yang dipakai Rey.


“Katakan!!” menghentak keras kerah jas, membuat Rey kembali muak dengan kelakuannya.


Rey memejamkan matanya. Menahan seluruh bagian tubuhnya agar tak berbuat lebih kasar pada Alina.


Sebelum lelaki itu kembali menghempaskan tubuh mungil Alina hingga membuatnya terduduk lemas di lantai. Dengan cepat Rey mendekati wanita itu dengan tangan yang masih betah memegang pisau menganga.


“Kau kira siapa dirimu hingga mempunyai tekad menghabisi Tuan Muda?” dengan tatapan tajam, “Bahkan jika nyawamu melayang, aku tidak akan peduli! Camkan itu!!.”


Darah mulai bersimbah ke lantai, dengan cepat Rey mendekap tubuh mungil Alina yang ambruk.


Menatap nanar gadis dalam dekapannya, tak menyangka akan senekad itu tindakan yang dilakukan Alina. “Kau memang gila Alina!!!” Teriak Rey di depan wajahnya.


Untuk beberapa saat, denting waktu seolah berhenti. Rey masih tak percaya dengan pemandangan di depannya.


Perlahan Alina meraih dagu lelaki di depannya dengan suara yang nyaris sesak, "Buktikan. Ayo buktikan jika kematianku memang tak berarti untukmu.”


Beberapa kali, dengan sisa kesadaran yang masih dimilikinya. Alina masih kuat meraih pipi Rey dan membelainya lembut dengan senyum licik yang selalu tampak di wajahnya.


***


Kesunyian melingkupi Rey. Sudah hampir tiga jam lelaki itu menunggu di depan ruang operasi dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran.


Darah yang bersimbah di jasnya bahkan tidak sempat Ia bersihkan.

__ADS_1


Orang-orang yang tak faham apa yang terjadi, mungkin hanya akan menganggapnya sebagai pembunuh yang datang ke rumah sakit sambil menggendong korbannya.


Tiga jam yang lalu ia membopong tubuh mungil Alina memasuki rumah sakit dengan tergopoh-gopoh. Tatapan matanya sudah kosong tidak tahu lagi harus melakukan apa. Gadis itu sudah terkulai lemas tak sadarkan diri dengan darah yang terus tercecer dari perutnya.


Tak disangka semuanya akan berakhir dengan pisau yang menganga di perut Alina. Saking paniknya Rey sampai tidak mengizinkan dokter untuk membawa tubuh Alina dengan brankar. Lelaki itu membopong tubuhnya dengan cepat hingga masuk ruang operasi.


Bahkan sebelum dokter menutup ruangan itu, Rey menarik kerah jas yang dipakainya dengan paksa, “Jika terjadi sesuatu dengan wanita itu. Maka kau dan seluruh perawat di rumah sakit ini, juga akan kehilangan nyawa.”


Lelaki itu terkulai lemas di kursi tunggu depan ruangan. Mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian menyandarkan kepalanya ke tembok dengan hentakan keras.


“Aku bahkan bisa menukar jiwaku untuk keselamatanmu.”


Dan kini setelah tiga jam menunggu, ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan ekspresi ketakutan melihat Rey yang menatapnya.


“Katakan!” Rey bertanya dengan lagi-lagi menarik kerah jasnya.


“Operasinya berhasil Tuan. Jika telat sedikit, mungkin..”


“Diam! Jika kau tidak mau nyawamu yang hilang.” Bantah Rey cepat.


Mati aku.


Jika aku banyak bicara, nyawaku pasti tak akan bertahan lama.


Rey dengan cepat memasuki ruang operasi, langkahnya terhenti ketika melihat Alina terbaring lemah di ranjang.


Ini seperti dalam mimpi, tapi jauh sebelum itu memang tak diherankan jika Alina mampu bertingkah senekad itu. Gadis jahat yang dari kecil mencintai Rey dan selalu gagal mengubur cintanya pada lelaki tampan itu.


Rey duduk perlahan di kursi samping Alina. Bulir bening jatuh tepat di pipinya, apalagi ketika meraba perut gadis itu yang dipenuhi perban.


“Kenapa kau selalu menggila ketika aku marah Alina. Harusnya kau takut padaku dan menjauhkan dirimu.” Lirih suara Rey disertai air mata yang masih jatuh.


Dengan pakaian yang masih dipenuhi tumpahan darah Alina, lelaki itu menghempaskan kepalanya di ranjang tidur Alina. Terlelap di sana tanpa ada yang bisa mengganggu.


Kadang takdir memang sangat menyakitkan untuk dipercaya. Kenapa harus wanita gila macam Alina yang jatuh cinta pada lelaki dingin bernama Rey itu.

__ADS_1


__ADS_2