
Pagi hari yang cerah.
Tepat di tempat parkir apartemen Rania.
“Jangan sedih begitu karena aku akan pulang. Kau tenang saja, jika ada waktu aku akan mengunjungimu.” Senyum sumringah muncul di bibir Wina.
Katakanlah itu pada Tuan Muda, Nona.
Saya berdoa agar beliau tidak kehilangan akal sehatnya setelah kepulangan Nona.
“Heuy, kenapa kau malah bengong begitu Rania. Kau benar-benar sedih ya, hahaha.”
Tuan muda mencintai gadis yang sangat cerewet dan julid rupanya.
Hari ke empat setelah perkelahian berlalu, waktu pulang untuk Wina sudah tiba. Dengan kebahagiaan tak terkira dan senyum bahagia, seperti sudah tahunan tak bertemu dengan keluarganya gadis itu keluar dari pintu lift dengan tergesa-gesa, menarik tangan Rania agar segera sampai di parkiran mobil.
Lima menit kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang, dengan posisi seperti biasa Rania yang duduk di belakang kemudi. Masih terlalu pagi untuk sesenang ini, karena perjalanan kali ini tak akan mulus sampai rumah Wina begitu saja.
Mobil berhenti di salah satu gubuk kecil yang dibangun pedangan kaki lima. Terlihat jelas di sana banyak buah pisang yang tergantung dan tergeletak dengan papah karung seadanya.
“Tunggulah di sini kak.” Ucap Rania dengan segera keluar dari mobil itu.
Gadis itu terus berjalan mendekati gubuk buah pisang yang terletak di pinggir jalan, dengan Wina yang masih keheranan sebenarnya apa yang terjadi.
“Apa Tuan Muda hari ini tidak datang?” tanya lelaki tua yang sepertinya penjual pisang di sana.
Rania tampak menengadah, berbicara satu dua potong kalimat untuk membalas pertanyaan lelaki tua itu. Kemudian menggenggam handphone nya dan mengetik sesuatu di sana.
Apa yang dilakukan Rania di tempat ini.
Siapa yang ditanyakan lelaki itu padanya.
Perangai kebingungan sudah memenuhi wajah Wina, dengan posisi yang terus patuh pada Rania untuk tetap duduk di dalam mobil.
“Bawa semua ini ke Mansion. Ya, di tempat biasa.” Terdengar suara Rania dengan tegas dan jelas.
Kemudian gadis itu kembali mendekati lelaki tua yang sedang mengemas pisang-pisangnya, meletakkan dengan rapi ke dalam karung-karung besar. Menyodorkan amplop yang lumayan tebal, lalu kembali masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi.
Wina yang dari tadi sudah kebingungan dan tidak mendapatkan penjelasan pun memberanikan diri untuk bertanya.
Tentu saja aku harus bertanya.
Bukankah bertanya adalah kebiasaan bodohku, haha.
“Rania.” Memanggil dulu perlahan dan terdengar sahutan pelan kali ini.
__ADS_1
“Ya.”
“Apa yang kau lakukan di sana?” gemetar terasa di bibirnya yang bertanya.
Ampun, kenapa gadis ini kaku sekali ya Tuhan.
“Apa yang kau berikan pada lelaki tua itu Rania?” banyak omong sekali gadis ini bertanya. Belum juga terjawab satu, sudah bertanya untuk yang ke dua.
“Melakukan kebiasaan Kak Aarav. Maafkan aku Kak, tampaknya perjalanan pulangmu kali ini tak akan mulus.”
Haduh, kau malah menjelaskannya dengan kode-kode lagi.
Katakan dengan jelas dong, bicara apa kau dari tadi gadis manis.
Melihat perangai Wina yang belum mengerti ditambah dengan sorot matanya yang masih dilingkupi kebingungan, “Ini adalah kebiasaan Kak Aarav, pergi ke beberapa toko kecil pedagang kaki lima dan membeli semua dagangannya. Biasanya dilakukan pekan sekali, tapi kali ini Kak Aarav sibuk dengan tugas kuliah.”
Bukan tugas kuliah tapi akulah yang menggantikannya karena beliau sudah bertemu Kak Rey sekarang.
“Lalu apa yang ada di amplop besar tadi, Rania?” masih belum puas dengan jawaban jelas.
“Uang untuknya hidup dalam sepekan.” Rania menjawab datar.
Bagaimana bisa memberikan uang untuk hidup sepekan dengan membeli dagangan lelaki tua itu dalam satu hari.
“Jadi itu tadi sedekah Aarav…”
Aaa, katakan bagaimana ada wanita yang tidak jatuh cinta pada lelaki dengan rambut sebahu itu.
Ya Tuhan Rania, maafkan aku karena juga harus jatuh cinta padanya.
Kebaikan ini, Wina akhirnya faham ketika terhitung lima kali mobil berhenti ke gubuk kecil milik pedangan kaki lima lainnya. Melakukan hal serupa dengan mereka dan kembali masuk ke mobil dengan wajah yang datar dan ekspresi dingin Rania.
“Aku harap perbuatan ini hanya sebatas kau yang mengetahuinya, Kakak.” Ucap Rania sambil terus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Wina mengangguk pelan. Faham ketika apa yang dilihatnya hari ini memang adalah sebuah rahasia. Entah dari mana lelaki yang bernama Aarav itu datang, tapi pesona dirinya memang tak hanya sebatas paras yang tampan.
Terhitung dua jam setelah mampir kesana-kemari untuk mengantarkan amplop tebal berisi uang itu dan memberitahu mereka agar mengemas dagangannya. Mobil akhirnya meringsek masuk ke gerbang rumah Wina. Tampak satpam yang tersenyum senang melihat kepulangan gadis itu dengan diantar Rania.
“Akan ada urusan penting yang harus aku kerjakan, Kak.” Ucap Rania dari balik pintu kemudi.
Sementara Wina sudah memijakkan kaki di halaman rumahnya, gadis itu tersenyum,
“Iya, berhati-hatilah. Gadis manis.” Mengelus dagu Rania pelan.
Apa yang kau lakukan Nona.
__ADS_1
Celaka, kau adalah wanita pertama dalam hidup yang mengelus daguku.
Rania memutar mobilnya dan melesat menjauhi gerbang rumah. Meninggalkan Wina dengan senyum bahagia.
Ya Tuhan, kenapa aku jadi berdebar-debar begini.
Celaka, jika aku jatuh cinta pada lelaki itu karena kebaikannya.
Aduh Rania, maafkan kakakmu yang bodoh ini karena sudah menyukainya.
***
Di tengah perjalanan, Rania memberhentikan pacu kendaraannya karena nada telepon yang terdengar.
“Aku sudah kembali bersama Tuan Besar dan Tuan Muda.” Lirih suara Rey dari balik telepon.
Nada itu membuat Rania mengetahui, ada isak tangis yang tertahan dalam jiwa kakaknya.
“Cepatlah kemari dan rangkul kakakmu.” Terdengar Aarav mengencangkan suaranya.
“Aku akan datang sebentar lagi kakak. Tunggu aku.”
Sambungan telepon terputus dengan kondisi bahagia yang membuncah di dada gadis itu. Mau tidak mau Ia tetap mengemudi dengan kecepatan stabil walaupun kakinya sudah tak sabar melangkah memasuki mansion milik Tuan Muda.
Sekitar dua puluh menit, akhirnya mobil terparkir rapi di gerbang utama rumah Presdir Zayn Property. Suasana sejuk masih terasa dengan pekarangan yang dipenuhi bunga di depan rumah itu.
Langkah kaki Rania melaju dengan cepat, walaupun gadis itu tetap ingin bersikap tenang namun tubuhnya tak mampu membohongi rasa rindu yang membuncah dalam jiwa.
Tubuh itu merangsek memasuki ruang utama, suara dari tangis yang tertahan mulai terdengar.
“Kakak.” Ucap Rania dengan sisa kesadaran yang masih ada.
Terlihat dua lelaki berbadan tegap dan tinggi, mengenakan setelan jas rapi menghadap Tuan Besar. Keduanya bersimpuh di depan lelaki paruh baya itu sambil memeluknya.
Mendengar lirih suara Rania, lelaki paruh baya itu menengadahkan dagu menatap Rania dengan lekat. Matanya sudah sendu dengan buliran air yang mengalir.
“Kemarilah, Puteriku. Bukankah sudah seharusnya keluarga ini lengkap.” Menjentikkan jarinya ke arah Rania dengan bahu yang masih merangkul kedua pemuda di depannya.
Membuat gadis itu berlari dan berusaha menopang tubuhnya agar tidak rubuh dan hilang kesadaran. Membenamkan tubuhnya tepat di bahu Aarav dan Rey yang sudah terbuka menyambutnya.
Suara isak yang tertahan mulai pecah mengharu biru dalam ruangan. Sambil kepala gadis itu yang terus dielus Rey dan Aarav secara bergantian. Tangis yang tak bisa lagi terbendung lebih dari ini.
Di tengah tangis yang mulai pecah.
Ah takdir, aku tidak akan meminta banyak kebaikan lagi pada Tuhan selain untuk ketiga berlian ini.
__ADS_1
Bukankah aku wanita paling beruntung karena ditempatkan untuk berada di sisi mereka lebih lama.
Aku tidak akan kemana-mana, aku di sini untuk menjaga ayah dan kedua kakakku. -Rania.