
Rey tertegun mendengarnya. Seakan semua kalimat yang diucapkan oleh Wina tadi diserapnya dengan sempurna. Kini, sudah tak tampak lagi gurat kesal dan amarah yang sempat terlintas di mata dan kepalanya.
Kagum, hanya itu yang dirasakan Rey untuk wanita yang ada di depannya. Tidak disangka diam-diam gadis itu menyadari cinta yang ada di hati Tuan Mudanya. Wanita yang sebelum menikah dengan Aarav sempat mendapat komentar protes dari lisan Rey.
Ingat sekali ketika tempo hari Rania mengadukan prinsip kokoh Aarav kepadanya.
“Apa tidak ada satupun gadis yang mampu membuat Tuan Muda jatuh cinta?” Ia bertanya melalui panggilan telepon singkat saat Rania sedang sibuk-sibuknya menempuh pendidikan di luar negeri bersama Tuan Muda.
Rania menggeleng, “Tidak Kakak.”
“Aku penasaran, secantik apa wanita itu hingga parasnya saat sembilan tahun lalu mampu memabukkan Tuan Muda hingga bertahun-tahun lamanya.”
Masih mampu Rey mengingat kalimat-kalimat meremehkan Wina kala itu. Hingga Ia juga sadar sekarang, betapa berhati-hatinya Wina dalam masalah cinta, sampai takut menyakiti hati wanita yang dicintai Aarav sebelum dirinya.
Siapa memangnya yang mampu mengalihkan hati Tuan Muda dari anda, Nona.
Jika memang ada, sudah sejak dulu saya menyeretnya dalam sekejap mata.
“Rey? Kau mendengarkan aku?” suara Wina membangunkannya dari ingatan buruk masa lalu, bahkan gadis itu beberapa kali melambaikan tangannya di depan wajah Rey.
“Ya Nona. Maaf karena saya tidak sopan.” Menyadari kalau sejak tadi Ia hanya melamun.
“Jadi apa yang harus kulakukan?”
Rey menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, masih sempat berfikir bahwa dari mana cerita ini akan dimulai. Dan apakah Aarav tidak akan marah jika Rey menjelaskan seluruh masalahnya pada Wina sekarang.
Menyadari ada lampu kuning, Wina segera memasang raut wajah mengibanya. Seolah terus mendorong Rey agar membuka cerita.
“Baiklah, Mari kita mulai kisa pilu ini.” Ucap Rey dengan membimbing Wina untuk duduk di kursi taman.
“Mula-mula saya akan menjawab pertanyaan Nona.” Ucapnya dengan tenang, “Selama hidupnya, Tuan Muda hanya mencintai seorang wanita. Yaitu Ibu, Nyonya Zayn.”
“Jelaskan dengan detail padaku.” Ucap Wina memotong kalimat dengan paksa.
“Nyonya meninggal saat kecelakaan mobil sembilan tahun yang lalu. Peristiwa itu hampir merenggut seluruh kebahagiaan yang ada di rumah megah ini.”
Wina mampu merasakan bagaimana Rey tetap berusaha tegas menceritakan kisah yang awalnya saja sudah sepilu ini. Sementara dengan nafas yang naik turun sambil mengatur emosi yang terus membuncah dalam dirinya, Rey melanjutkan cerita.
“Saat itu usia Tuan Muda masih belasan tahun, beliaulah satu-satunya anak yang ditinggalkan oleh Nyonya.”
Pandangan Wina menatap Rey dengan lekat dan tajam. Seolah tak ada lagi yang ingin gadis itu dengarkan suaranya selain Rey. Bagaimana mungkin hanya dia sendiri, tak habis pikir sebenarnya siapa lelaki yang ada di depannya ini.
“Wina?!” teriakan kencang dari ruang utama menggedor cepat tubuh Wina.
Kedua orang yang duduk dengan rapi di taman ditemani cerita sedih yang berharap terselesaikan, kini sirna sudah. Itu adalah suara Aarav.
“Ya Tuhan, bodoh sekali kita berdua. Kenapa Aarav harus datang di saat begini sih.” Wina menepuk keningnya dengan geram. Memaki diri sendiri untuk semua kecerobohan yang terjadi secara beruntun.
__ADS_1
“Wina?!” terdengar lagi suara panggilannya dengan anda yang makin kuat.
Wina yang sudah mampu merasakan roman bahaya yang akan datang sebentar lagi jika Ia tak segera menghampiri suaminya, berlari cepat dari taman. Meninggalkan Rey yang masih terduduk di sana dengan berusaha menahan tawa melihat tingkahnya.
“Bisa-bisanya Ia menolak kedatangan suaminya di depanku.” Rey menggelengkan kepala.
Sementara wanita yang tadi lari dengan langkah seribu dari taman kini berlari mendekati suaminya. Aarav yang masih mengenakan setelan jas lengkap itu entah muncul dari mana sampai-sampai pulang dalam waktu yang sangat mengejutkan begini.
“Kenapa matamu melotot begitu?” sudah tergurat jelas kekesalan memenuhi pandangan matanya.
“Kau sudah pulang, Suamiku.” Wina bersegera menghambur ke arah suaminya dan memeluk lengannya, “Ayo kita masuk ke kamar saja, kau pasti dipenuhi aura panas begini karena terkena sinar matahari kan? Iya kan?.”
Dengan sekuat tenaga Wina bicara, walaupun dengan alur yang meracau kemana-mana. Berusaha mengait lengan suaminya sebisa mungkin meninggalkan ruang utama, bisa mati jika Aarav melihat Rey dan Wina keluar dari taman secara bersamaan. Tidak hanya sampai di situ, akan ada puluhan pertanyaan mematikan jika ini tetap dilanjutkan.
“Apa kau tahu aku sedang lelah?! Kenapa menarik-narik lenganku?!” Aarav melerai paksa tangan Wina yang mencengkeram lengannya.
“Haha, jadi kau tidak mau aku perhatikan ya?” berakting merengut agar suaminya percaya dengan ekspresi bodohnya.
Aarav meraih jemari istrinya dengan cepat, “Baiklah, aku kalah.”
Hahaha memangnya kau bisa menang dari nenek sihir sepertiku.
Hei Tuan Muda, tidak ada yang mampu mengungguliku. Tahu.
“Sekarang katakan, kenapa kau pulang lebih awal?”
“Kenapa? Kau tidak suka jika aku pulang awal?”
“Bukan, tidak begitu..”
“Boros sekali kau bicara. ‘Bukan’ dan ‘tidak’ di kalimatmu itu sama saja.” Aarav memalingkan wajahnya dengan ekspresi bosan.
Sabarlah sedikit Wina.
Kau harus bersabar.
“Ayo kita bersenang-senang.” Ucap Aarav ketika Wina sedang asik memaki dirinya.
“Bersenang-senang apa?” mengernyitkan dahi keheranan, sebenarnya apa yang bermaksud dikatakan oleh suaminya.
“Kau ini terlalu lemot jika diberitahu.” Tangan Aarav dengan segera menggenggam jemari istrinya. Kini sepasang suami istri itu keluar dari kamar. Langkah Aarav menuntunnya menuju salah satu ruangan yang ada di lantai bawah.
“Jangan tarik-tarik begini, Suamiku.” Pinta Wina sambil melirik tangannya yang tergenggam sempurna.
“Kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi?”
“Apa?” sambil memperhatikan langkahnya, khawatir tersandung sesuatu dan jatuh. Karena begitu cepatnya Aarav menuntunnya.
__ADS_1
“Kau ini lemot sekali jika diberitahu.” Aarav menyeringai penuh kejahatan.
Kurang ajar kau, wahai suamiku.
Setidaknya berikan rahangmu, agar kuhajar dulu.
Dengan tangkas Aarav membuka ruangan di depannya, ruangan yang berada di pojok lantai bawah. Tampak beberapa kursi nyaman sudah tertata di sana.
Langkah keduanya masuk keruangan itu. Gelap, hanya ada cahaya yang memantul dari LCD Proyektor yang menyorot bagian depan dari ruangan itu.
Betapa terkejutnya Wina ketika menemukan Rey berada dalam ruangan. Lelaki itu sudah siaga dengan tatapan dinginnya.
Masih tidak percaya Wina mengerjapkan matanya, baru beberapa waktu lalu Ia bersama Rey dalam balutan cerita penuh kesedihan, lalu kenapa sekarang lelaki ini ada di sini.
Lebih parahnya dua pelayan lelaki masuk dan berjalan di belakang Aarav dan Wina dengan membawa dua cup popcorn dan dua botol kola dalam dua nampan yang tertata di masing-masing.
“Selamat datang Nona.” Sapa Rey sopan.
Kalian sudah gila ya, sedang apa sih kalian di sini.
Aarav yang menyadari istrinya belum mengerti apapun akhirnya mendudukkan tubuhnya dengan perlahan.
“Kau suka menonton di bioskop?” bertanya santai.
Wina mengangguk dengan ekspresi yang masih sepenuhnya bodoh.
“Baguslah, hari ini kau akan menemani suamimu menonton komik kesukaannya.”
Wina menatap seisi ruangan itu bergantian, mulai mengerti bahwa proyektor yang memantulkan cahaya adalah untuk menampilkan gambar dari komik yang akan dibaca.
Aarav duduk bersama Wina di kursi depan. Segera kedua pelayan lelaki itu menyuguhkan senampan popcorn dan sebotol kola di depan Wina. Lalu dengan santainya Rey dan kedua pelayan itu duduk di kursi belakang yang diduduki oleh Aarav dan Wina.
Dengan ekspresi bodohnya, Wina berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
“Kenapa kau menyeringai seperti orang gila?” tanya Wina pada suaminya dengan begitu berani.
“Selamat menonton komik favorit ku.” Aarav menjawab bersamaan dengan gambar dari komik-komik online yang keluar dari layar proyektor. Dengan Rey yang duduk sambil menggeser terus ke bagian bawah komiknya.
“Aku sudah ketinggalan beberapa episode, itu semua karena kesibukanku ketika menikah denganmu. Hahaha.” Tawa penuh kemenangan mengembang di bibir Aarav.
Tidak sampai disitu, Aarav mengambil segenggam popcorn yang ada di depan Wina dan menjejali mulut istrinya dengan paksa.
“Kunyah itu, kita sedang menonton di bioskop milik sendiri loh.”
Bedebah, Dasar penjahat gila.
Huwaaaa, kenapa yang kunikahi Tuan Muda gila sepertimu.
__ADS_1
Wina menjambak rambutnya dengan kasar, mengacak-acaknya tak menentu.
Penampilan wanita itu bak wanita gila yang tak mandi berhari-hari.