Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Duduk Berdua Di Taman


__ADS_3

Di taman itu, di mana dirinya dan Rey dikelilingi oleh banyak anak-anak. Mencoba menghapus kecanggungan dan keraguan yang selama ini diciptakan oleh diri sendiri. Semilir angin menghempas di wajah Alina dengan lembut, sengaja ia tak menggunakan make up tebal untuk mengatasi kesan ganjen di wajahnya seperti biasa.


“Hebat sekali.” Rey memangkas obrolan agar kali ini terdengar lebih layak.


Alina hanya diam, merasakan tenggorokan yang mengering karena tak sempat menggapai air saat Rey datang. Beberapa kali terlihat ia mengusap tenggorokannya lalu menyadari bahwa sangat sulit untuk dirinya masuk ke ruangan lagi karena keadaan tubuh yang masih belum memungkinkan.


Bagaimana mungkin jika Rey lah yang membopong tubuhnya menuju kursi di tengah taman itu dengan perilaku yang begitu berani tadi.


“Tenggorokanmu mengering? Apa di dalam tubuhmu tidak ada mata air yang bisa menyembuhkan kehausan dan kepanasan?” mencoba menggoda Alina dengan banyak pertanyaan.


“Diam.” Menatap Rey dengan tatapan tajam.


Pemuda itu bangun dan masuk ke ruang makan panti asuhan. Tanpa berkata apapun sebelumnya pada Alina yang sudah menyimpan banyak kekesalan di matanya. Hingga Rey keluar dengan membawa sebotol air mineral dan menyuguhkannya pada Alina.


“Terimakasih.” Alina segera menggapainya.


“Katakan, kenapa kau pergi kesini dengan pakaian sopan.” Melirik blouse yang dipakai Alina, “Ingin terlihat lebih layak sebagai pendirinya?”


“Bisakah kau diam dan membiarkan aku untuk bernafas tanpa harus berdebat denganmu?” Alina akhirnya menyela kalimat Rey yang terasa kepanjangan.


Jauh dari semua itu, Alina mungkin menjadi satu-satunya gadis beruntung yang bisa duduk berdua dengan Rey dalam bangku yang sama. Ditambah lagi dengan kalimat panjang yang keluar dari mulut Rey yang terdengar menggoda, entah berapa wanita yang bermimpi duduk di posisi Alina saat ini.


“Tak perlu kujelaskan kenapa pakaian ini yang mengena di tubuhku. Karena aku memang cantik sejak dulu dengan pakaian apapun.” Alina berucap dengan kelakuan sombongnya, menyandarkan bahunya ke kursi agar duduknya terasa lebih rileks.


“Sekarang katakan, kenapa serigala ganas sepertimu sampai datang kemari untuk bertemu denganku?” memang begitulah jika keduanya sudah di dekatkan, tanpa banyak berkatapun akan faham.


“Tidak ada.”


“Cih, aku tidak perlu mencongkel matamu untuk melihat apakah ada kebohongan atau tidak kan?” Alina kembali menyumpal Rey dengan pertanyaan memojokkan.


Gadis dengan kepribadian berani yang tidak perlu lagi diuji. Alina adalah pemenangnya ketika berhadapan dengan Rey dan argumennya, seperti menjadi satu-satunya gadis yang mampu mematahkan lidah tajam Rey hingga telak.


“Tuan Muda membutuhkan bantuanmu.” Dengan keberanian yang sudah terkumpul akhirnya Rey mengatakan maksud kedatangannya.


Alina hanya mampu membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Mencoba menahan tawa yang nyaris menyembur tepat di depan wajah tampan Rey.


“Tidak perlu tertawa, konyol sekali dirimu.” Ocehan Rey terdengar dengan nada jengkel.

__ADS_1


“Apakah Aarav sudah kehilangan akal hingga membutuhkan bantuan dari musuh bebuyutannya?” masih tidak percaya gadis itu hingga harus menepuk-nepuk keningnya berkali-kali.


“Aku akan menyumpal mulutmu.”


Rey merampas air minum dari tangannya dengan cepat menyumpal mulut gadis itu agar menenggaknya hingga habis.


“Hentikan.” Alina akhirnya menepisnya ketika sudah tidak tahan dengan perlakuan Rey, “Baik-baik, aku berhenti.”


“Drrttt..” Hp yang selalu disimpan Rey di saku jasnya bergetar, telepon itu dari Staff Sekretaris Perusahaan.


“Baik, aku kesana sekarang.” Ucap Rey ketika mendengar beberapa kutipan kalimat dari seberang sana.


“Aku harus kembali ke kantor. Akan kuhubungi kau untuk menuju Mansion nanti.” Rey bergegas membenahi jasnya, lalu dengan cepat membenahi rambutnya untuk segera diikat kembali.


“Bisakah kau terlihat sedikit jelek saja, Tuan Rey?” Alina menyeringai jahat melihat lelaki itu membenahi penampilannya.


“Aku akan kehilangan banyak pekerjaan jika mendampingi Tuan Muda dengan wajah buruk rupa.” Mengangkat tubuh Alina untuk dibawa kembali menuju ruangan tempat tongkatnya diletakkan tadi.


Alina yang bisa menatap wajah itu dengan leluasa hanya bisa mengalihkan pandangannya, khawatir kehilangan kendali dengan pesona Rey yang membombardir hatinya.


“Jangan terlalu manja, karena aku bisa dengan mudah membanting tubuhmu.”


“Banting saja, karena kau akan lebih lama menjagaku.”


“Tutup mulutmu yang kotor itu!” Rey memulai dengan nada tingginya.


“Baiklah monster.”


Rey merebahkan tubuh Alina dengan sangat lembut di kursi itu, menitipkan pesan agar gadis itu tidak pergi kemanapun hingga Bi Santi tiba. Lalu ada juga pesannya untuk segera pulang dan jangan mampir kemanapun.


“Apakah aku harus menamparmu dengan ini hingga kau bisa diam?” Alina menunjuk pipinya.


“Hentikan pembicaraan kotormu itu.”


“Iya monster, iya.”


***

__ADS_1


Kedua orang yang lisannya sangat berbahaya itu duduk di taman, kakinya bahkan berdampingan sudah seperti tak akan terpisahkan. Beberapa kali Alina melirik wajah yang tersapu angina di sampingnya. Tampak sangat manis melebihi permen batinnya.


“Katakan, apa yang diperlukan Presdir Zayn Property dari gadis jahat ini.” Dengan senyum yang tertahan.


“Kau adalah wanita yang berpengalaman dalam persoalan cinta.” Rasanya tenggorokan Rey tercekat dengan semua ini, “Tuan Muda akan mengutarakan cinta pada istrinya, tapi aku tidak bisa membantunya.”


“Hahahahahahaha…” Alina yang sudah tidak tahan akhirnya terbahak.


“Diam, hentikan. Kau sudah gila ingin mempermalukan aku?” Rey mencela tertawa itu dengan tatapan tak suka, kedua tangannya mendekap kuat mulut Alina.


“Hei, kau sendiri yang membuat harga dirimu jatuh di depannya. Kenapa malah jadi menyalahkanku?” menepis tangan Rey yang membungkam mulutnya lalau kembali tertawa.


“A..aw aw…” Jahitan di perutnya yang belum sepenuhnya membaik kembali nyeri.


“Diam. Atau akan kutampar wajahmu yang menyebalkan itu.” Rey memaksa dengan meremas jemarinya dengan kuat.


“Baiklah- baiklah.” Mengangguk-angguk kembali seperti orang bodoh, “Jadi katakana kenapa harus aku? Bukahkah aku adalah orang paling berbahaya untuk Nona Mudamu itu? lalu kenapa kau dekatkan aku padanya?”


Rey yang mendengarnya hanya terdiam. Sepertinya untuk bagian ini tak perlu dijelaskan, karena hanya akan menimbulkan pertengkaran. Bahkan ia sangat ingat apa yang dikatakan Bi Santi tadi bahwa hari ini tujuannya adalah menghindari pertengkaran serius antara dirinya dan Alina.


“Baiklah, sekarang katakan apa yang harus kulakukan untuk Tuan Mudamu yang benar-benar arogan itu?” mengalihkan pembicaraan, “Apakah aku harus membawa semua koleksi dan pakaian branded dari butikku untuk Istrinya?”


“Bantulah Tuan Muda mengungkapkan cinta.” Ujar Rey sambil menatap ke depan dengan pasrah, tak tahu lagi harus dengan apa ia sampaikan masalah yang juga membuatnya menjadi orang bodoh ini.


Terlihat Alina kembali menahan tawanya, “Apakah begitu polosnya Presdir Zayn Property hingga masalah mengutarakan perasaan cinta untuk istri sendiri tidak bisa?”


Rey mengangguk mantap sambil tertunduk.


Hanya di depan Alina rasanya ia dapat sesuka hati menyampaikan semua kalimat yang sudah meminggir di lisannya.


“Ah, benar. Kenapa aku masih bertanya. Bukahkah pemuda tampan di sampingku ini juga seorang jomblo abadi?”


Alina dengan perlahan menepuk-nepuk kepala Rey.


“Apa yang kau lakukan. Lepaskan!”


“Tapi tidak masalah karena dengan status jomblomu itu, hanya aku yang bisa memilikimu.”

__ADS_1


__ADS_2