
Aarav memasuki ruangannya dengan langkah kaki penuh wibawa. Sementara isi kepala sang Presdir sepertinya tidak sedang baik-baik saja.
Belum lagi dengan Rey yang masih sibuk untuk beberapa waktu mengurus Alina hingga sembuh, lelaki yang paling memahami masalahnya di kantor itu belum juga menampakkan diri dari pagi tadi.
Membuat Aarav makin frustasi, jangankan menelpon Rey untuk menemaninya kali ini. Bicara sepatah dua patahpun rasanya tak mampu Ia menanggung malu. Karena perkataan Wina kemarin yang membuatnya hampir gila.
Bayang-bayang ketakutan akan Wina yang duluan mengungkapkan rasa dan membuat harga dirinya jatuhpun seperti menjadi momok menakutkan. Hingga Ia keluar dari ruangannya dan menuju meja Staff Sekretaris.
"Hubungi Rey, ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya."
Sekretaris itupun mengangguk patuh, segera meraih telepon yang ada di mejanya.
Sementara Aarav yang tak tahan, masuk kembali ke ruangannya dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Beberapa waktu kemudian Rey datang dengan langkah cepat, nafas yang masih memburu menunjukkan bagaimana perjuangan laki-laki itu untuk menggapai ruangan Presdir dengan cepat karena mendapat telepon penting.
"Anda memanggil saya Tuan Muda?" Nafas yang tersengal masih begitu terdengar.
"Kau memakai jurus angin untuk segera sampai di sini?" Aarav menjawab dengan tatapan yang masih betah ke arah jendela.
Hahaha, jelas-jelas anda yang memanggil saya dengan tergesa-gesa.
Bahkan sebelum datang, Rey terlihat dapat dengan mudah membaca roman yang tersirat dari panggilan Staff Sekretaris tadi. “Tanpa diberitahu pun saya sudah bisa menebak kenapa Anda memanggil saya kemari Tuan Muda.” Menyeringai jahat seperti orang gila.
“Ah, rupanya kau sudah menjadi dukun juga sekarang.” Aarav beranjak dari sofa dan dan melangkah mendekati dinding kaca yang ada di sekeliling ruangannya. Dalam pandangannya yang menatap lekat dinding kaca, tersirat sebuah kekhawatiran.
“Apa Anda takut kehilangan harga diri?” biar tambah jelas, lebih baik diucapkan saja fikirnya.
“Tepat!” Aarav memotong cepat, argumen yang terdengar menyetrum bibir Rey, “Duduklah Rey, istirahatkan lah dulu paru-parumu agar tidak bolong ketika mengetahui searogan apa diriku.” Menatap Rey dengan kesombongan selangit.
Rey hanya menjawab dengan seringai sebal, karena ini bukan pertama kali Ia dipanggil dan mengurusi masalah sederhana yang dibuat rumit oleh Aarav karena sifat arogannya.
“Katakan Tuan Muda, kenapa Anda tidak mengakui perasaan itu dengan gamblang di depan Nona?”
“Plak!” Aarav menggebrak meja yang ada di depannya, “Heuy, mana bisa. Aku harus jadi orang pertama yang mengatakan bahwa aku mencintainya, dan itu hanya akan terjadi di saat-saat paling romantisss.”
Rey menjambak pelan rambut bagian kanannya dengan ekspresi putus asa.
__ADS_1
Membosankan sekali, inikan pembahasan yang sudah pernah dirundingkan.
Ganti, aku mau ganti.
“Jangan khawatir Tuan Muda. Saya akan mempersiapkan segalanya.” Mengangguk mantap disertai rasa percaya diri yang tinggi.
“Apa kau sudah pikun? yang harus kau persiapkan dengan sempurna bukan acaranya, tapi Akuuu!” Aarav akhirnya terduduk di sofa dengan wajah yang semakin terpuruk, “Bagaimana bisa kusampaikan rasa cinta ini,” menepuk-nepuk dadanya, “Jika caranya saja aku tidak tahu.”
Habislah, bodoh sekali karena Tuan Muda memintanya pada jomblo abadi seperti aku.
“Jangan panik Tuan Muda, baiklah sekarang saya akan membantu memahami psikologis Anda.”
Rey menyedari bahwa inilah tingkah konyol pertama dalam hidupnya, melayani keinginan tidak jelas dari orang yang jatuh cinta memanglah sangat merepotkan. Dengan sangat sopan Rey meminta Aarav untuk duduk di sofa tepat di depannya. Kini Aarav akan diinterogasi dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh dari spesialis yang juga seorang jomblo. Lucu sekali.
Rey menatap matanya dengan lekat dan sepenuh hati, “Sekarang apakah Anda sudah siap dengan pertanyaan kejiwaan saya?”
“Diam. Memangnya siapa yang gila?!”
Ck, iya juga.
“Baiklah, saya ubah pertanyaannya. Apakah Anda selama ini belum pernah mengungkapkannya dengan cara apapun pada Nona Wina?” masih dengan tatapan penuh keseriusan Rey memulai pertanyaannya.
“Kapan?” dengan suara yang mulai bersorak.
“Yayaya” menjawab dengan nada yang sangat antusias, “Saat dia sedang tertidur.”
Rey langsung menepuk keras keningnya, memaki diri sendiri.
Kenapa tidak sekalian mengungkapkannya saat Nona sedang mandi saja.
“Tuan?”
“Ya.”
Disana tidak tergambar kebohongan sama sekali di wajah Aarav. Hanya ada kepolosan dan kejujuran serta kebodohan.
“Saya akan membantu Anda. Tenang saja.” Menepuk pelan pundak Aarav dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
“Tapi Rey?” ragu.
“Kau juga kan jomblo, apa bisa membantuku?”
“Ah, jangan khawatirkan itu Tuan Muda. Aku dan Rania akan selalu siap membantu Anda.” Menahan kekesalan, “Karena sebelum menikah dengan Nona Wina, Anda juga seorang jomblo sejati, hahaha.”
“Sialan!”
Entah sudah berapa lama, terdengar suara benda-benda berjatuhan yang asalnya dari dalam ruangan Presdir. Tetapi tak ada yang mampu atau setidaknya punya keberanian untuk bertanya apa yang sedang terjadi di dalam, karena yang menampati ruangan itu adalah dua orang petinggi Zayn Property yang terkenal ganas.
Rey keluar dari ruangan khusus Presdir dengan raut wajah penuh kepuasan. Kerah jas yang dikenakannya tampak teracak-acak, rambut sebahunya yang ketika masuk ruangan tadi tampak terikat rapi, kini ikat rambutnya juga bahkan tak mampu Ia temukan.
Entah terjadi pergulatan apa antara dirinya dan Aarav ketika di dalam ruangan itu. Dua orang wanita muda yang berdiri di meja Staff Sekretaris terlihat malu melihat penampilannya yang porak-poranda itu.
Suara bisik-bisik mulai terdengar dari arah meja Staff Sekretaris dan dengan satu hentakan lisan kedua wanita yang ada di sana terkatup rapat, “Tuan Muda yang akan melaksanakan presentasi rapat hari ini, siapkan semuanya dengan baik.” Sambil penampilannya yang sudah porak-poranda.
Keduanya mengangguk dengan cepat, “Baik Tuan.”
“Laksanakan semuanya dengan sempurna.” Perintahnya dengan tatapan mengiris.
Rey berlalu dengan aura yang masih menumpuk menakutkan di ruangan itu. Tampan sih tapi mematikan, mungkin aura lelaki ini lebih mirip mawar yang merekah. Di manapun ia berada dirinya mampu menarik banyak perhatian tapi ketika disentuh, tusukannya terasa mematikan.
***
Di ruangan itu Rey sudah berlari kesana-kemari menghindari map-map besar yang dilemparkan Aarav agar tidak mengenai dirinya. Sofa yang dijadikan untuk tempat Rey berlindung pun ditendang Aarav hingga terjungkal.
“Ayo maju!” nafas Aarav masih memburu, “Kalahkan aku, baru kau mendapatkan kesempatan untuk meminta bantuan pada gadis jahat bernama Alina itu!.”
Rey terus menghindari serangan demi serangan Aarav hingga Aarav bisa dengan mudah memojokkannya. Perkelahian ala lelakipun tak dapat dihindari, keduanya saling memburu kesana-kemari.
“Kemari kau! Akan kupatahkan tulang rahangmu agar tidak bisa membuat penawaran segila itu lagi.”
Suara gucci kecil mulai terdengar pecah, ruangan itu sudah seperti dipenuhi tumpukan sampai sekarang. Entah siapa yang sanggup membersihkan semua kekacauan ini dan entah sepasang bola mata mana yang dengan tidak sengaja melihat sekelibat pertengkaran ini.
Setelah dengan ganas Aarav dan Rey bergerumul, ditengah-tengah lembaran berkas yang berhamburan Rey terlihat memelintir tangan Tuan Mudanya ke belakang.
Pertarungan itu dimenangkan oleh Rey. Dengan posisi Aarav yang sudah tak bisa bangkit ketika tubuh Rey menguncinya di lantai.
__ADS_1
“Baik! Buktikan padaku bahwa gadis gila itu sudah bertaubat.” Mengangguk-anggukkan kepala dnegan keras, “Aku akan meminta pendapatnya bagaimana caranya mengutarakan cinta pada Istriku.”