Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Cukup Aku Tidur Memelukmu


__ADS_3

Jika semua mengira bahwa Wina adalah gadis yang mudah jatuh cinta, itu salah. Hari ini, sudah terjadi sebuah drama di ruang makan bersama suaminya. Keusilannya membuat Aarav terpaksa mengamankan gadis itu dengan cara menggendongnya ke kamar. Masalahnya adalah, cinta yang ada dalam hatinya masih juga belum tumbuh untuk suaminya.


Bukankah sebuah rumah tangga akan berjalan dengan kerapuhan jika cinta antara keduanya belum terhubung sempurna, entah itu pada suami atau istri.


Suasana di kamar utama, kamar Aarav.


Aarav masuk dengan membopong tubuh mungil istrinya. Perlahan Ia menurunkannya di sofa. Memandang setiap sudut wajah istrinya dengan tatapan lembut tak tergantikan.


“Kau sudah puas mengerjaiku?” bertanya dengan nada setengah berbisik. Jemarinya kembali menyapu dagu Wina dengan lembut.


“Maafkan Aku.”


Wina tampak tertunduk, entah malu atau jera yang gadis itu rasakan. Tapi lebih baik untuk menyembunyikannya.


“Aku mau melanjutkan tidur.” Kata Aarav beranjak dari hadapan istrinya. Pandangannya berusaha dialihkan, merasa bahwa istrinya tertunduk karena sesuatu yang tidak baik.


“Aku akan membantumu salin dulu.”


“Tidak perlu.” Membuka sepatunya dan meletakkan sembarangan.


Tubuh lelaki itu akhirnya ambruk di ranjang lengkap dengan setelan jas yang masih mengena. Posisi tidurnya juga diatur sedemikian rupa, telungkup dengan wajah yang membelakangi Wina.


Wina yang aneh dengan kelakuan suaminya akhirnya bangkit dari sofa. Tadi, seakan lelaki ini menginginkan dirinya, namun sekarang bahkan tergambar jelas di matanya bahwa ada sebuah penolakan di sana walau hanya untuk menatap wajah istrinya.


Berjalan dengan perlahan dan duduk di pinggir depan sofa. Tepat di belakang kepala suaminya.


“Ini masih pagi.” Ucapnya sambil melirik ke arah Aarav yang masih betah membelakanginya, “Kau tertidur ya?"


“Memangnya kenapa jika masih pagi? Mau melakukan sesuatu yang istimewa?”


“Ng… apa maksudmu. Bukannya kau bilang tadi akan berangkat ke kantor?”


“Sesenang itu kau jika aku meninggalkanmu.”


Aarav dengan posisi membekalangi Wina, sementara gadis itu tetap duduk di belakangnya, berharap agar suaminya menghadapkan wajah ke arahnya.


Untuk beberapa saat tak ada suara lagi yang muncul dari lisan Aarav saat itu, rekor baru bagi Wina bisa membuat suaminya terbawa perasaan dan bodohnya gadis itu sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi.


Wina yang tadinya berniat hanya menyandarkan bahu di ranjang, lama kelamaan juga menyerah. Gadis itu tertidur dengan posisi masih terduduk.


“Kapan kau akan sadar kalau aku ini mencintaimu.” Gumam-gumam kekesalan muncul dari lisan Aarav. Melihat istrinya tidur dengan posisi yang tidak seharusnya.

__ADS_1


Perlahan lelaki itu bangkit dan mengangkat tubuh mungil istrinya, memperbaiki posisi tidurnya. Dalam dekapan Aarav terlihat polosnya wajah gadis yang membodohi dirinya.


“Berani sekali kau membuat aku terbawa perasaan.” Memeluk erat tubuh mungil istrinya.


Baru satu hari, tapi perasaan cinta yang ada di hatinya sudah susah untuk dikendalikan, dan alangkah bodohnya seseorang yang tidak mengerti bahwa sebuah kewajiban istri dan suami harus dijalani bersama apabila keduanya benar-benar sudah rela.


Karena bagi Aarav, wanita yang diamanahkan ibunya untuk dinikahi ini sangat berarti. Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan Aarav sekarang adalah tidak membuat Wina terluka, entah dalam fisik atau perasaan.


Ditengah-tengah lelapnya, wina masih mampu merasakan sebuah tangan melingkar erat memeluk pinggangnya. Gadis itu tak mampu berkutik bahkan saat mendengar gumam-gumam kekesalan yang ditumpahkan Aarav tadi.


“Biarkan aku tidur dengan memelukmu.” Ucap Aarav tepat di telinganya. Membuat istrinya tersenyum tipis. Beruntung senyuman itu tak bisa terlihat begitu kontras.


***


Di rumah sakit, tepat di depan ruang rawat Alina. Hari sudah menjelang siang, dua orang pengawal sudah berdiri dengan tegap di depan pintu, sudah seperti tahanan saja gadis itu diperlakukan.


“Saya sudah membawakan pesanan Anda, Tuan.” Ucap ajudan itu di depan Rey.


“Berikan saja padanya.” Rey menjawab datar sambil mengetik sesuatu di handphone nya.


Loh, bukannya anda yang memintanya.


“Jika aku yang memberikannya. Lebih baik kau bawakan bunga bangkai, karena itu yang lebih cocok.”


Merasakan ada ancaman dari kalimat Rey barusan, Lelaki itu segera masuk ke ruang rawat. Berjalan mendekati Alina yang sedang tertidur lemah. Mana sanggup Ia menantang macan yang berdiri di depan pintu.


“Selamat siang Nona.” Menyapa dengan sopan.


Alina hanya diam dengan mata yang melirik ke arah lelaki yang berdiri di samping ranjangnya ini.


“Ini untuk Nona.” Menyodorkan seikat bunga yang dominan berwarna merah muda dengan senyuman termanis yang pernah terlihat selama Ia menjadi ajudan.


Matanya seberusaha mungkin menyembunyikan kebohongan bahwa yang memesan bunga ini adalah lelaki ganas yang ada di depan pintu sana.


“Terimakasih.” Alina hanya menjawab singkat sambil tersenyum tipis.


“Jangan sungkan Nona.”


“Apa lelaki yang ada di depan pintu itu pernah mencekikmu?” Alina bertanya santai sambil mencium semerbak wangi bunga yang diberikan ajudan Rey.


“Ah, tentu saja tidak Nona. Tuan Rey adalah orang yang baik.”

__ADS_1


“Benarkah? Kau belum pernah melihatnya mencekik wanita sebelumnya ya?”


“Ah, haha…” tersenyum seperti orang bodoh.


Bukan hanya mencekik Nona,


Bahkan melihatnya membanting wanitapun pernah.


“Kenapa kau tertawa? Kau sudah melihat yang lebih parah dari itu ya?” seringai jahat muncul di wajah cantiknya.


Benar Nona.


“Tentu saja tidak Nona.”


“Tok, tok.” Suara pintu ruangan diketuk. Mengakhiri pembicaraan penuh kebohongan itu, Rey tampak berdiri di depan pintu.


“Saya permisi dulu Nona. Semoga lekas sembuh.”


“Haha, kau masih menyayangi nyawamu ya.” Alina menatap bosan kepergian ajudan Rey.


Faham betul siapa yang sebentar lagi akan masuk ke ruangan untuk menjenguknya.


Rey masuk ke ruangan dengan membawa senampan makanan lengkap dengan ekspresi dinginnya, apalagi untuk berhadapan dengan Alina. Ekspresi dingin itu bisa meningkat dua kali lipat.


“Kau merindukanku? takut jika Ajudanmu menggodaku?”


“Tutup mulutmu.”


“Kau bahkan lebih manis ketika marah.” Alina bangun perlahan menyeret tubuhnya untuk memperbaiki posisi tidur, dengan susah payah gadis itu juga membenahi gaun tidur berwarna putih, yang sejak tadi mencekik lehernya karena posisi tempat tidur yang diatur terlalu tinggi.


“Kenapa? Mau membantu aku memperbaiki ini?” Melirik tempat tidur dengan tatapan kesal, “Aku bisa sendiri.” Dengan sekuat tenaga Alina mengatur posisi tempat tidur itu agar sedikit turun.


“Jika kau terjatuh dari tempat tidur ini, aku tidak akan menolongmu.” Dengan cepat membopong tubuh mungil Alina dan mengatur posisi ternyaman untuknya.


“Kalau begitu akan kujatuhkan diriku sekarang.” Alina melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu lalu mencium pipinya lembut, “Dengan jatuh, aku bisa membuatmu lebih lama menemaniku.”


“Tutup mulutmu.”


“Bisa, jika aku menciummu lagi.”


“Diam.” Rey menyumpal mulutnya dengan sesendok makanan, membuat Alina tak bisa banyak bicara.

__ADS_1


__ADS_2