
Di sana, ada seorang laki-laki yang duduk membelakangi Wina. Terlihat duduk dengan tegap dengan rambut yang terikat rapi.
Hanya dari belakang saja, betapa banyak wanita yang akan tau setampan apa paras lelaki ini. Perawakan yang tegap entah ketik berdiri atau duduk, membuat auranya begitu kuat terasa.
“Sedang apa kau di sini?!” Wina bertanya dengan gusar ketika melihat Aarav lah yang duduk di sofa itu dengan santai.
“Kenapa, apakah aku tidak bisa mengunjungi ibuku?” Aarav membalas pertanyaan itu dengan pandangan menantang, membuat Wina tambah kesal.
“Benarkan, bu?” lelaki itu bangun dan merangkul bahu Ibu Wina sambil tersenyum manis.
Kurang ajar, berani sekali pemuda ini.
“Hentikan. Lepaskan tanganmu!, memangnya kau ini saudaraku apa?!” Jemari gadis itu bergerak mencengkeram pergelangan tangan Aarav, membuatnya sedikit meringis karena dicengkeram dengan kuat.
Ada sekelibat pemikiran yang melintas di kepala Aarav, beberapa hari yang lalu Rey juga sempat memberikan data pribadi menyangkut Wina kepadanya, di sana juga tertulis prestasi selama gadis itu bersekolah di bawah lembaga yang dinaungi perusahaan.
Terhitung dua kali calon istrinya itu memenangkan karate tingkat Provinsi selama bersekolah sampai dengan SMA. Membuat Aarav semakin paham kenapa cengkeramannya terasa begitu kuat dibanding wanita biasa.
“Sudah hentikan Nak. Lagi pula temanmu ini tidak salah.” Ibu mencoba melerai perseteruan di antara keduanya. “Dia adalah tamu kita, Wina. Dia kan juga temanmu. Duduklah nak, kau pasti lelah berjalan dari kampus." Bujuk ibu.
"Benarkah?. Ah, aku tidak heran kau kuat berjalan dari sana. lihat saja otot di lenganmu, sepertinya menyamai ukuran punyaku."
Wina membalas ejekan itu dengan mata yang melotot. Perangai tidak senang tergambar jelas di sana. Hingga gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa.
Tak lama,
“Ibu, sepertinya kunjunganku kali ini cukup. Kalau tidak taring anakmu pasti akan naik ke hidungnya karena kesal.”
"Benarkah?, sebaiknya kau lihat senyummu yang mirip Joker itu." Wajah gadis itu sudah seperti udang rebus. Merah padam menahan kekesalannya.
Ibu terkekeh pelan mendengar keusilan yang dilakukan Aarav pada puterinya. Sementara Rania segera berdiri mengikuti Langkah Aarav yang menjauh keluar rumah setelah berpamitan.
Kedua orang itu pergi dengan mulus, di anatar Ibu sampai di mobil. Memastikan calon menantunya pulang dengan keadaan baik. Meninggalkan Wina yang masih kesal dengan kelakuan lelaki itu.
__ADS_1
Siapa memangnya dia, berani sekali memegang bahu Ibuku.
Lain kali akan kupatahkan tangan panjangnya itu.
Memang ini rumah neneknya apa, bertingkah seenaknya.
Wina terus memaki sepeninggalan Aarav dengan kekesalan yang masih tersisa. Gadis itu seperti tidak sadar bahwa sejak tadi Ibu yang melihat wajahnya tersenyum geli. Melihat bagaimana puterinya begitu berani di depan orang yang sebenarnya adalah calon suaminya.
***
Sementara kedua orang yang tadi duduk di sofa, sudah melesatkan mobil dengan Rania yang mengendarainya.
Senyum penuh kemenangan terlihat jelas di wajah Aarav. Perasaan bahagia membuncah dalam hatinya. Rania yang belum sanggup bertanya karena gelagat bahagia Tuan Mudanya itupun hanya bisa mengulum senyum.
“Sudah kukatakan padamu, rencanaku pasti berhasil. Bukankah kau melihatnya tadi, calon istriku marah dan mencengkram tanganku?” Aarav mengulum senyum.
“Tuan muda, sepertinya yang terjadi tadi benar-benar masalah besar.”
“Tentu saja, dengan cara inilah akan kubuat dia jatuh cinta padaku.” Aarav tergelak dengan perkataannya sendiri.
“Drrtt” Hp di saku jas gadis itu bergetar.
“Kakak, sudah kuduga kau akan menelponku.”
“Apakah Tuan Muda baik-baik saja?” suara dari balik telepon itu terdengar datar dan dingin.
“Jaga Tuan Muda dengan baik, Rania. Nanti kita akan bertemu, aku akan mengabarimu.” Lanjutnya dengan nada yang masih sama, dingin dan datar.
“Baiklah.” Rania tersenyum mendengarnya, pun ketika beberapa saat setelahnya sambungan telepon terputus.
Lelaki itu adalah Rey, kakak dan keluarga satu-satunya yang dimiliki oleh Rania. Lelaki dingin yang sangat setia dengan pengabdiannya terhadap Aarav dan ayahnya.
Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk menduduki posisi orang berpengaruh ke dua di perusahaan Zayn Property. Dia juga satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap seluruh perusahaan cabang di setiap daerah.
__ADS_1
Sudah satu tahun berlalu, semenjak kepulangan Rania dari luar negeri. Wanita itu masih terus menemani sepupunya tepatnya menjadi sekretaris pribadi, menggantikan posisi kakaknya.
Itu semua dilakukannya karena banyaknya wanita muda anak dari kolega bisnis Aarav yang mencoba mendekatinya. Aarav lah yang secara langsung memintanya menggantikan posisi Rey sementara, mengatasnamakan Rania sebagai pacarnya.
Semua dilakukan karena Aarav ingin hidup tenang tanpa dikejar banyaknya wanita. Karena ujung-ujungnya para wanita itu hanya akan menemui jalan buntu. Ya, lelaki itu sudah mencintai wanita yang memang seharusnya jadi miliknya, Wina.
Semula Aarav memang mengira gadis yang bernama Wina itu tak ada hubungan apapun padanya selain perjodohan usia belia yang dilakukan mendiang Ibunya.
Ternyata tidak begitu, tidak hanya sampai di situ saja.Jauh sebelum itu semua, firasat ibulah yang mengatakan bahwa Wina mampu mendampingi anaknya di masa depan nanti. Gadis itu menjadi satu-satunya pilihan Ibu dari sekian banyak yang menginginkan Aarav. Menjadi gadis beruntung yang namanya tidak dilupakan oleh perusahaan adidaya itu.
***
Di ruang tamu rumah Wina, drama sedang terjadi.
“Ibu, kenapa penjahat itu ada di sini?” gadis itu bertanya gusar.
“Eh, apa yang kau katakan. Dia juga temanmu kan.”
“Bagaimana Ibu bisa tahu?” mengerutkan dahinya ke arah Ibu.
Wanita paruh baya itu mengulum senyum, “Dia ke sini hanya untuk menyapa Ibu nak.”
“Tapi bagaimana...”
“Ah, sudahlah. Lebih baik ganti bajumu dan istirahatlah dulu, lihat itu keringatmu. Ah, bau sekali.” Sambil mengulum senyum Ibu merayu puterinya. Satu-satunya cara agar pembicaraan ini cepat selesai, adalah dengan tipu muslihat.
“Eh, ibu jangan dorong aku kenapa. Baiklah, aku mandi aku mandi.”
Akhirnya siluet gadis itu meninggalkan ruang tamu, menghilang di balik pintu kamar dengan Ibu yang terus memastikan anaknya sudah masuk di ana dan tidak akan kembali bertanya tujuan Aarav datang hari ini.
Di kamar Wina menghempaskan tubuhnya di ranjang. Raut muram masih menyelimuti wajahnya, sejak tadi belum juga reda kekesalannya pada lelaki itu. Masih tergambar jelas di benaknya bagaimana tangan Aarav melingkar di pundak ibunya.
Memangnya siapa dia, adikku yang tersesat di masa lalu.
__ADS_1
Seenaknya menganggap ibuku satu-satunya, sebagai ibunya juga.
Lihat saja, jika berani dia begitu lagi akan kugigit tangan loyonya itu.