
“Kakak, sore nanti temani aku duduk di taman ya.” Bujuk Rania.
Hari sudah menjelang sore, tampak parkiran dan gedung yang ada di sekitaran kampus sudah lengang. Aarav juga sudah pulang menggunakan mobilnya selesai drama di tempat latihan bela diri tadi.
Hanya meninggalkan Rania dan Wina yang keluar dari perpustakaan setelah selesai membaca. Terlihat Wina yang mengetik sesuatu di handphone nya, memberitahu kepada Ibunya, bahwa hari ini mungkin pulang terlambat setelah menemani Rania duduk di taman.
“Kenapa? Kau rindu denganku hingga mengajak aku duduk di taman dan hanya berdua?” ejek Wina menimpali ajakan Rania.
“Iya, sangattt rindu.” Dengan ekspresi menggemaskan yang pertama kali dilihat Wina.
Ada apa dengan gadis ini.
Apa dia kerasukan selepas latihan tadi.
“Baiklah, tidak perlu memohon dengan ekspresi menggemaskan begitu. Wajahmu juga sangat kaku, hahaha.”
Ini semua untuk Tuan Muda, Nona.
Kau tahukan wajah kaku ku ini sudah permanen.
Mobil melesat keluar dari gerbang Kampus. Rania sudah berada di belakang kemudi, kali ini gadis itu ingin sedikit lebih rileks mengendarai mobil ketika menjadi sopir calon istri Tuan Mudanya.
“Apa Kak Wina takut jika aku mengebut?”
“Haha, sebenarnya aku bisa menyesuaikan diri. Tapi apa kepalamu tidak akan dipenggal Aarav jika tahu kau mengendarai mobil dengan ugal-ugalan?” dengan nada mengejek Wina mencoba mengetes sejauh apa niat gadis itu mengebut di jalan raya.
Seringai tampak di wajah Rania, sebelum beberapa detik kemudian kaki jenjangnya menginjak pedal gas yang membuat mobil melesat dengan kecepatan tak karuan.
Celaka, gadis ini benar-benar nekad.
“Aa..apa kau mau nyawa kita tamat hari ini Rania?” bertanya gelagapan karena keberaniannya mengetes Rania tadi sudah menciut takut.
“Aku dan Kak Aarav sering melakukan ini.” Ucap gadis itu santai.
Gila, kalian ini pasangan yang gila.
Kecepatan mobil makin terpacu ketika jalanan mulai lengang. Wina mampu melihat ekspresi Rania yang sangat menikmati momen itu, seakan mengebut di jalanan menjadi pembebas kebosanannya. Membuat Wina semakin bergidik ngeri.
Katakan, kalian bukan pasangan psikopat kan.
Atau jangan-jangan kau akan memakanku ketika duduk di taman sebentar lagi.
Kecepatan mobil mulai dikurangi ketika masuk ke sebuah kompleks. Di sana berjajar rapi rumah-rumah besar dengan jendela kaca berbagai warna, mata Wina yang sedari tadi ketakutan tertunduk. Gadis itu merasa familiar dengan tempat yang dilewati mobil ini.
Hingga mobil meringsek masuk ke gerbang utama Mansion. Terparkir bersama beberapa mobil di gerbang utama.
Banyak sekali kaca yang terpasang di rumah ini.
“Ayo kita masuk, Nona.” Ucap Rania sambil membuka pintu depan mobil, tempat Wina duduk.
“Apa yang kau katakan Rania. Nona? Apa maksudnya?”
Seringai tampak di wajah Rania, “Tuan Muda sudah menunggu anda di dalam.”
Saat itu, Wina betul-betul mengingat kejadian sembilan tahun yang lalu membuat pandangannya tertunduk lemah.
Tidak salah lagi.
__ADS_1
Sembilan tahun lalu aku pernah ke sini.
Gadis itu meraba pundaknya dengan cepat. Mengelusnya pelan, bahkan gigitan anak laki-laki kecil yang sudah sembilan tahun berlalu itu seakan tetap terasa.
Hingga Rania tidak lagi memintanya untuk masuk ke Mansion. Di luar kesadarannya langkah Wina terus menelusuri dan mencari-cari taman yang dikatakan Rania di kampus tadi. Tubuh mungil gadis itu meninggalkan Rania yang sudah mengerti dengan situasi.
Deg.
Tatapan nanarnya menemukan dinding kaca yang menembus tepat ke arah taman. Terlihat Aarav sudah terduduk tenang di sana.
Dengan langkah yang sudah lemah, Wina mencoba menjangkau gagang pintu kaca di depannya. Jantung yang berdegup kencang serta tangan yang sudah bergetar hebat, Wina mendekati kursi yang ada di tengah taman itu.
Berdiri persis di samping Aarav seperti sembilan tahun yang lalu.
Aarav membalik tubuhnya, dengan mengulum senyum “Ini aku. Sudah lama yaa.”
“Brug!”
Gadis itu menghempaskan tubuhnya tepat dalam dekapan Aarav. Membenamkan wajahnya pada pundak lelaki tampan itu.
“Kenapa tidak dari awal Kau katakan siapa dirimu.” Sambil terisak ia terus merengkuh tubuh Aarav dengan sisa kekuatan yang masih ada.
Berkali-kali terasa tangan Aarav yang mengelus lembut kepalanya. Lelaki itu tersenyum bahagia karena Wina tidak menolak kemunculannya.
“Ssstt, diamlah.” Aarav menuntunnya agar duduk bersebelahan dengannya di kursi taman.
Sesenggukan masih terdengar dari lisan gadis itu, jemari Aarav mulai meraih pergelangan tangannya. Presdir itu sudah benar-benar dimabuk cinta kali ini. Tak disangka Wina akan menerima kenyataan bahwa Aarav lah anak kecil yang tempo hari menggigit bahunya.
Hari ini menjadi sejarah, di mana Presdir perusahaan ternama yang arogan dan pemaksa berubah bak emak emak yang harus membujuk anaknya agar berhenti menangis.
Rey dan Rania yang berdiri kokoh di belakang Wina pun hampir tak bisa menahan gelak tawanya melihat Aarav yang mengelus pelan kepala gadis itu tapi dengan gerakan ragu.
Paling juga jika gadis di depan itu bukan Nona Wina, aku sudah menendangnya. -Rey
“Rey, di mana berkasnya?” pinta Aarav yang disambut langkah kaki Rey.
Rey menyerahkan sebuah map besar dan tebal.
“Baca ini. Aku tidak perlu menjelaskan padamu lebih banyak mengenai diriku.” Masih saja dengan sifat arogan dan suka mengatur.
Heeeh, kenapa wajahmu tetap mengesalkan begitu sih.
Tadi kau jadi lembut mengelus kepalaku, sekarang malah mengaturku seenak jidatmu.
“Kenapa kau memelototi ku?!, Ingin mati?” gertak Aarav dengan tatapan tak peduli.
“Ah ha ha, ternyata sikap dinginmu ini tidak berubah ya.” Wina menggebrak pundak lelaki itu dengan kedua tangannya.
Bodoh, apa yang kulakukan.
Bisa mati aku di sini, lagi pula dua orang itu tidak akan menolongku jika dia mencekikku.
“Hentikan! Berani sekali kau?!” dengan tatapan mengancam.
Mati aku, habislah.
Secepat kilat Wina membuka lembaran data yang ada dalam map itu.
__ADS_1
“Baca itu semua sampai matamu rabun. Jika tidak selesai di sini baca di rumahmu hingga kau lupa mandi.” Aarav menunjuk map tebal yang sedang dibuka Wina.
Heh, memangnya aku sudah gila apa.
“Ya, kau memang sudah kehilangan akal sehat karena mencintaiku bukan?"
Dari mana dia tahu fikiranku barusan.
“Haha, baiklah baiklah aku akan membacanya. Kau tidak perlu menjadi begitu menakutkan begitu.” Melambaikan tangannya di depan Aarav, “Tapi, apa di sini juga ada cek berisi sejumlah uang? Hahaha.”
Celaka, apa yang kukatakan.
Memang lisanku ini tidak bisa terkendali.
“Gadis bodoh, belum menikah denganku saja kau sudah tak sabar ingin kaya.” Menyeriangai kesal.
Apa kau bodoh, kau tidak lihat aku berangkat ke kampus dengan jalan kaki.
Memangnya uangmu itu bisa membeli kakiku ini.
Harta yang paling berharga itu adalah tubuh, bukan uang tahu.
“Apa berkas ini wajib ku baca?”
“Tentu saja. Karena kalau tidak, aku akan menculikmu dan membawamu dengan paksa.”
“Bagaimana bisa begitu?!”
“Sudah berani mengangkat suara di depan lelaki setampan aku? Apa matamu benar-benar sudah rabun hingga tak bisa melihat dua pengawalku yang ada di sana?” mengarahkan pandangannya ke Rey dan Rania.
Wina geleng-geleng kepala, hanya bisa bergidik ngeri. Gadis itu membayangkan apa yang akan di lakukan Aarav jika keinginannya tidak dituruti.
“Kenapa kau menggelengkan kepalamu?! Kau menolak perintahku ya?!”
“Tidak. Iya, baik, oke. Aku akan membacanya.”
“Haha, boros sekali kata yang kau pakai.”
“Rania, antar dia pulang. Pastikan keselamatannya dengan mata kepalamu.”
Memangnya rumahku di hutan belantara apa.
Lebay sekali sampai harus memastikan dengan mata kepala.
Rania mengangguk sopan. Lalu mengait jemari Wina agar sadar dari lamunannya. Kedua wanita itu berjalan menuju pintu utama hilang di balik tangga menuju area parkir.
***
Lima belas menit berlalu. Rey mendekati Tuan Mudanya.
“Tuan Muda, bukankah tadi sangat lembut dengan mengelus kepala Nona Wina? Lalu kenapa berubah tiba-tiba?” tanya Rey sopan.
Tak ada jawaban terdengar dari lisan Aarav. Lelaki itu tetap duduk di kursi taman dengan tatapan lurus ke depan.
“Tuan Muda?” Rey memanggil lagi.
“Bukankah kau tahu ini adalah kali pertamaku membujuk wanita? Kau tahu bahkan aku nyaris menjambak rambutnya jika tidak kau beritahu cara membujuknya untuk berhenti menangis.” Aarav menjawab dengan ekspresi jujur sekali.
__ADS_1
Hahaha, semua ini hampir membuatku gila.-Rey.