
Rey Zayn, lelaki yang umurnya terpaut satu tahun lebih tua dibandingkan Tuan Muda. Karakter yang sedikit berbeda tadi Aarav tapi dengan pamor yang hampir sama, bahkan mungkin Rey yang paling ditakuti ketika melaksanakan perintah dari Tuan Mudanya.
Bertubuh bidang nan tinggi dengan potongan rambut yang juga sama dengan Aarav, sebahu dan terikat rapi. Ketampanan yang juga serupa.
Perbedaan kedua lelaki itu tipis, hanya terletak pada cara berpakaian dan aura yang milikinya. Jika Aarav lebih mudah beradaptasi dengan pakaian kasual namun Rey nyaris selalu mengenakan pakaian formal.
Setelan jas yang selalu mengena di tubuh bidangnya, sangat cocok dengan profesinya yang bak intelegent nomor satu di Perusahan Zayn Property. Dalam kamusnya pakaian paling sederhana yang pernah melekat di tubuh lelaki itu mungkin hanya kemeja polos yang berubah-ubah warnanya.
Akan sangat sulit membedakan keduanya jika hanya dari sini. Karena itu perbedaan paling kontras adalah terletak pada auranya. Aarav adalah tipe lelaki yang lebih mudah membuka lisannya untuk bicara, namun Rey adalah lelaki yang sangat hemat dalam menggunakan kata.
Aarav adalah lelaki arogan yang lebih mudah untuk membagi kepedihannya, sementara Rey lelaki pendiam bak singa ganas jika sudah dibangunkan, ia hanya akan berlari dari setiap orang yang berusaha mengetahui rasa sakit yang dialaminya. Sebatas itu, perbedaan tipis yang sangat menarik pada keduanya.
Sudah hampir menjelang siang, suara tangis yang tadi menggemapun sudah tak terdengar.
Masih di ruang utama Mansion yang dimiliki keluarga Zayn Property. Terlihat Rey yang duduk bersebelahan dengan Rania. Sementara Aarav duduk berhadapan dengan keduanya, menyandarkan punggungnya di sofa yang empuk, lelaki itu terlihat kelelahan.
Sedangkan Tuan Besar, sudah sedari tadi kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Rania sudah mendengar laporan kepala pelayan yang mengurusi lelaki paruh baya itu, bahwa kegiatan hariannya dihabiskan untuk menanam berbagai macam bunga di taman belakang.
Yah, begitulah kegiatan ketika tubuh sudah mulai menua dan ingin beristirahat dari hiruk pikuknya dunia.
“Apa kau sudah melupakan seisi rumah ini selama dua tahun terakhir?!” Aarav bertanya gusar melihat Rey yang terus diam.
“Maafkan saya Tuan Muda.” Hanya menjawab dengan anggukan pelan.
“Diam. Kau bilang minta maaf, sementara selama satu tahun lebih aku hanya memperoleh info dan data-data dari Ajudanmu.”
“Anda bisa menghukum saya.”
“Ck, aku tidak peduli.” Memalingkan wajah sambil terus menatap langit-langit rumahnya,
“Kau tidak bisa melihatnya? Kebahagiaan Rania menyambut kepulanganmu ini benar-benar luar biasa. Kau tahu senyumnya bahkan bisa menyetrum bibirku juga.”
Rania hanya tertunduk pelan sambil mengulum senyum.
__ADS_1
“Katakan bagaimana keadaan perusahan cabang kita.” Aarav kembali memerintah. Membuat Rey meletakkan sebuah map besar di atas meja itu.
Lelaki itu bangun dan mendekati Aarav, membuka pelan map besar di depan Tuan Mudanya dengan sopan.
“Ini semua adalah laporan dari ajudan yang kutempatkan di perusahaan cabang dan lembaga yang kita kelola.” Ucap Rey sambil membolak-balik lembaran data di depannya.
Terlihat foto-foto transaksi gelap yang dilakukan oleh beberapa petinggi lembaga yang dinaungi Zayn Property.
“Apa mereka semua sudah kau singkirkan atau malah membusuk di penjara?” Mata Aarav masih fokus dengan foto yang dipegangnya.
“Saya sudah membereskan semuanya Tuan Muda.”
“Apa ada yang kau putuskan nyawanya?”
Rey hanya menyeringai. Seringai tajam yang selama dua tahun luput dari penglihatan Aarav dan Rania.
“Beraninya orang gila seperti mereka menghabiskan hak anak-anak kurang mampu di bawah lembaga naunganku.” Dengan ekspresi tak peduli Aarav membuang lembaran foto itu sembarangan.
Rey yang bertangan dingin dan selalu siap melindungi keselamatan keluarganya, sementara Aarav pria arogan dan pengatur dengan kecerdasan penuh dalam memerintah perusahaan.
“Jadi hanya ini hasilmu setelah dua tahun meninggalkan kami?” Aarav memastikan.
“Saya memang tidak bisa menipu Anda dengan mudah, Tuan Muda.” Jawab Rey sambil mengulum senyum.
“Katakan. Berita apa yang kau bawa mengenai calon istriku yang mempesona itu.”
“Pernikahan harus dilaksanakan segera Tuan Muda.”
Aarav dan Rania yang mendengarnya pun tertegun. Rey bahkan sudah tahu bahwa Tuan Mudanya itu tidak akan menikah kecuali Wina sendiri yang mencintainya dengan jelas. Tapi apa yang dikatakan Rey barusan juga bukan tanpa alasan.
Aarav mengangkat punggungnya dari sofa. Menatap Rey lekat, mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, karena pemuda di depan ini tidak akan mengatakan alasannya jika lisan Aarav tidak terbuka.
“Aku bukan laki-laki tidak waras yang bisa memaksakan kehendakku pada wanita yang kucintai Rey. Aku tidak suka jika harus menikahinya dengan mengikat posisinya terlebih dahulu.”
__ADS_1
“Saya tahu.”
“Lalu apa maksudnya perkataanmu itu?” tanya Aarav tak sabaran.
“Dia sudah kembali Tuan Muda.”
Aarav dan Rania yang mendengarkan pun tersentak, faham dengan siapa yang dimaksudkan Rey.
“Jadi Alina yang kau maksud. Rupanya wanita cantik yang selalu mengejar-ngejar aku sudah kembali.”
Rey mengangguk mantap, “Saya pulang ke sini dengan membawa data lengkap pelaku penjambretan yang menyerang Nona empat hari yang lalu. Itu hanyalah kejadian yang diatur sedemikian rupa olehnya, Tuan Muda.”
Rey menjelaskan dengan padat dan jelas, jemarinya mengeluarkan beberapa foto lagi dari map di atas meja. Menunjukkan detail dari penjambretan itu.
“Wanita muda yang turun dari mobil itu adalah Alina.” Sambil menunjuk salah satu foto.
Aarav yang sudah tidak sanggup menahan kekesalan dan amarahnya pun menggebrak meja kaca di depannya. Hingga lembar data dan foto yang ada di sana berhamburan kesana-kemari.
“Sialan, beraninya dia melakukan itu pada Wina!!.” Dengan tatapan penuh kekesalan dan amarah membara. Darahnya terasa mendidih mendengar langsung kebenaran ini dari Rey.
“Itulah kenapa Anda harus mempersiapkan pernikahan secepatnya. Bawalah Nona ke sisi Anda Tuan Muda, agar keamanannya bisa dipastikan.” Rey menjelaskan dengan tatapan paling meyakinkan.
Aarav tertegun dengan kata-kata Rey.
Sejujurnya jauh dari ini, lelaki itu sudah mempersiapkan semua resiko ini dari dulu. Membawa Wina lebih cepat ke sisinya mungkin akan membuat gadis itu aman. Namun dengan perasaannya yang belum diketahui apakah sudah mencintainya atau belum sekarang, itulah pertimbangan yang membuatnya frustasi.
Pemuda itu melengos pelan, “Kita akan bicarakan ini pada Ayah terlebih dahulu, Rey. Lalu sebelum itu, aku juga ingin berkunjung ke makam orang tua kita.”
Sejujurnya saya juga merindukan mereka, Tuan Muda.
Orang tua kita yang suah tertidur lelap dalam rengkuhan Tuhan.
Rey mengangguk pelan, kemudian memanggil ajudan yang selalu sigap menunggu dirinya di pintu luar Mansion itu, untuk membereskan semua data dan foto yang bercecer di lantai.
__ADS_1