Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Akan Kujaga Puteramu Dengan Baik


__ADS_3

Jika tertulis dibanyak lembaran cinta yang lain, kedua pemeran harus melewati banyak rintangan dan drama untuk bisa menumbuhkan rasa cinta. Maka itu tidak dilakoni oleh Aarav dan Wina.


Yah mungkin Aarav lah tokoh utama yang sudah jatuh cinta sebelum memiliki Wina seutuhnya, tidak seperti Wina yang harus dibujuk dan dijemput dulu sebelum akhirnya menyadari bahwa mungkin menikahi Aarav adalah takdir yang sudah ditentukan Tuhan.


Pagi itu, saat hadiah yang diantarkan Aarav lewat Rania tiba di depan mata kepalanya. Sebenarnya jauh sebelum itu diam-diam rasa kagum sudah membuncah dahulu dalam diri gadis itu. Tahu bahwa calon suaminya adalah orang dermawan yang menyalurkan kewajiban lewat harta yang dimilikinya.


Tepat beberapa hari sebelum acara lamaran dan pernikahan yang digabung itu dimulai, ini kali kedua Wina menemani Rania pergi mengunjungi pedagang kaki lima yang tempo hari berjualan buah pisang. Kali ini hanya di gubuk pedagang itu mobil ditepikan Rania.


“Aku juga ikut turun ya?” pinta Wina pada Rania yang baru saja mematikan mesin mobilnya.


“Tapi Nona..”


Sudah sejak di tengah perjalanan tadi Wina merengek meminta menemani gadis itu. ikut bersamanya masuk ke gubuk reot di pinggir jalan milik lelaki tua. Memaksa Rania harus menghubungi Tuan Mudanya.


“Nona.” Panggil Rania pelan, “Sejujurnya belum pernah ada yang tahu mengenai kebiasaan yang dilakukan Tuan Muda ini kecuali Aku dan Kak Rey.”


“Aku kan sudah pernah melihatnya sekali Rania. Aku berjanji akan menutup mulutku.” Dengan wajah mengiba tetap menghadap Rania.


“Tuan Muda tidak suka dipuji berlebihan, Nona.”


Terucap dari lisan Rania dengan tatapan lekat.


Semua kejujuran yang membuat jantung Wina hampir runtuh. Gadis itu hampir-hampir menghambur memeluk Rania karena perasaan bahagian mendengarnya.


Begitukah sesungguhnya sikap Tuan Muda Aarav itu.


Lalu kenapa dia mengirimkan aku hadiah mobil dan rumah besar.


Apakah dia berfikir aku wanita yang menganggap kemewahan adalah segalanya.


Wina memalingkan pandangannya, menatap jalanan di samping mobil. “Baiklah. Kau bisa putuskan urat nadiku jika tidak bisa menjaga rahasia ini.” Dengan ekspresi paling mengiba sejagat raya.


Hahaha, jika urat nadimu terputus Nona, Aku juga tidak akan dibiarkan Tuan Muda untuk hidup lebih lama.


“Baiklah.” Ucap Rania sambil membuka pintu mobilnya.


Berjalan perlahan di belakang Rania, seperti tak ada perasaan risi Wina berjalan dengan Rania yang menghampiri lelaki tua itu.


“Dimana Tuan Muda?” pertanyaan ini terucap jelas dari lisan lelaki itu.


“Beliau akan menikah Pak.” Celetuk Rania tenang.


“Benarkah? Ya Tuhan. Rupanya Tuan Muda sudah menemukan berliannya.” Ekspresi bahagia tergurat jelas di wajah tuanya, dengan kerutan yang sudah menumpuk pelupuk mata disebabkan usia.


“Saya mengantarkan ini dan juga undangan pernikahan milik Tuan Muda.” Jelas Rania menyodorkan amplop coklat berisi uang dan lembar undangan berwarna putih tulang, “Jangan lupa untuk datang pak.” Lanjutnya meminta dengan sopan.

__ADS_1


Rania juga menunjukkan ekspresi bahagia. Membuat Wina bertambah kagum dengan suasana di depannya. Jauh dalam hatinya, diam-diam perasaan kagum disembunyikan dari lisannya, tetapi matanya tak bisa membohongi hatinya.


Selesai dengan urusannya kedua orang wanita itu pergi meninggalkan gubuk tua beserta pemiliknya. Berjalan pelan menuju mobil dengan Rania yang sudah duduk di belakang kemudi.


“Saya diperintahkan untuk membawa Nona ke mansion.” Ucap Rania sambil memutar mobilnya.


“Apa Aarav akan mencekikku karena menyambut hadiah darinya dengan ekspresi menyebalkan?” Wina mengejek sebal, seperti sudah tahu apa yang akan dilakukan calon suaminya.


“Tuan Muda tidak sekejam itu, Nona.”


“Ah Rania, jangan berusaha menyelamatkan Tuan Mudamu di depanku.”


Rania mengulum senyum, sambil menghentakkan kaki jenjangnya ke pedal gas mobil. Membuat mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


Untung saja sabuk pengaman ini sudah terpasang dengan baik.


Kalau tidak, aku bisa mati karena kebiasaan mengebutnya.


Tak lama, setelah jantung yang terpacu kuat bercampur dengan ketakutan yang menguasai tubuh Wina. Mobil memasuki gerbang utama mansion, Rania menekan remnya sudah bak pembalap profesional.


“Rania.” Lirih suara wina dengan wajah ketakutan.


“Ya?”


“Bagaimana jika kau berganti profesi menjadi pembalap saja?” masih dengan jantung yang berdebar kencang dan ekspresi ketakutan.


Keduanya berjalan memasuki ruang utama, sudah ada Tuan Muda tampan yang menunggu di sana. Dengan setelan jas kasual lengkap dengan rambut yang dibiarkan terurai hingga bahu.


Ya Tuhan, jangan sampai aku ambruk karena wajah tampannya.


Aduh, kenapa dia hanya melihat ke arah ku.


Hei, kau buta ya, lihat Rania juga dong dia kan di depanku.


“Kenapa kau selalu melotot di depanku?!” ucap Aarav dengan nada arogannya.


Belum apa-apa sifat aroganmu itu sudah setinggi langit.


“Maafkan aku.”


“Diam.” Rania langsung mengatupkan lisannya dengan rapat, “Bukankah sudah seharusnya kau memandangi ketampananku, walaupun sampai membuat matamu memelototiku?”


“Sudah kuduga kau akan mengatakan itu.” Tersenyum penuh kebohongan sambil merangkul bahu Aarav.


Bodoh, kenapa kau malah merangkulnya.

__ADS_1


Merasakan hawa yang berbeda, Rania naik ke lantai dua mansion. Sengaja memberikan waktu untuk dua orang yang asik melakoni drama di depannya.


Hei Rania, kenapa kau tinggalkan aku.


Kau tidak lihat taring lelaki ini sebentar lagi akan menusuk leherku.


Aarav meraih jemari gadis itu perlahan, “Apa kakimu akan patah jika duduk di sofa?”


Wina menggeleng cepat.


“Kalau begitu duduk.” Perintahnya sambil menggiring Wina, “Tenang saja, aku tidak akan memakanmu.” Menyeringai penuh kejahatan.


“Apa kau masih tidak faham bahwa sebentar lagi kita akan menikah? Aku ini adalah calon suamimu tahu.”


“Iya aku tahu.” Dengan terbata-bata Wina menjawabnya.


“Bagus sekali. Sekarang ikut aku menemui calon mertuamu.”


Aarav bangun dari sofa dan menggenggam pergelangan tangan Wina. Kali ini genggaman itu terasa lembut dan bermakna, jauh berbeda ketika berada di ruang latihan saat itu. Keduanya menaiki tangga dan mengetuk pintu salah satu kamar yang ada di sana.


Menemukan Rania yang membuka pintu kamarnya, “Masuklah Tuan Muda. Paman sudah menunggu.” Jelasnya.


Keduanya masuk perlahan dengan tangan Aarav yang masih menggenggam pergelangan tangan Wina, “Ayah, aku membawa calon menantumu.”


Di kamar megah itu, hanya ada seorang lelaki paruh baya yang sudah tampak kerutan di bagian pipi dan keningnya. Tersenyum lembut menyambut Aarav dan Wina yang kini berdiri di depannya.


“Kemarilah, biarkan aku melihat wajah calon menantuku dari dekat.” Pintanya dengan senyum yang masih betah.


Wina melangkah sopan dan perlahan, bersimpuh di samping kanan lelaki yang duduk di sofa itu. dengan mata yang dilingkupi pertanyaan Wina memandang Aarav.


“Beliau adalah Ayahku.” Senyum langka mengembang di wajah tampan Aarav.


Gadis itu tersenyum pelan, merasakan tak ada ancaman di sekitarnya. Perlahan lelaki itu meraih wajah Wina dan mengelus pipinya lembut.


“Kau akan menjadi bagian dari keluarga Zayn. Cintailah puteraku satu-satunya, bahkan melebihi Rey dan Rania.”


Deg.


Jantung Wina terpacu, tatapan penuh keheranan tergambar jelas di matanya. Tak habis fikir bahkan Ayah dari Aarav seolah menitipkan kepemilikan puteranya pada dirinya, perasaan yang harus benar-benar dijaga.


“Aku akan menjaga puteramu dengan baik Ayah, akan kuingat semua nasihat darimu.” Wina menggenggam jemari lelaki paruh baya itu.


Haduh Ayah kenapa kau sangat berbeda dengan putera aroganmu ini.


“Sudah kubilang jangan memelototiku!” Aarav menimpali.

__ADS_1


“Haha, bukankah dia sangat berbeda denganku Wina? Lihat saja alis nya yang hampir menyatu itu, apa kau tidak takut melihatnya?” ejek Ayah.


“Baiklah Ayah, biarkan aku membawa gadis ini dulu.” Pinta Aarav segera menarik tangan Wina dan keluar dari kamar itu dengan tawa geli ayah yang masih terdengar melihat kelakuan putera dan calon menantunya.


__ADS_2