Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Menemui Ayah


__ADS_3

Setelah kejadian yang dilakukan oleh suaminya itu, Wina sekarang jauh lebih berhati-hati ketika Aarav pulang dengan tiba-tiba dengan aura mencurigakan.


Pagi hari ini gadis itu ambruk di tengah sofa kamar utama. Mengurut pelan keningnya sambil mendengus kesal. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar, mengantarkan senampan sarapan untuk Wina dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


“Silahkan di makan Nona.” Meletakkan Nampak berisi makanan di meja depan sofa tempat Wina duduk, lalu bersegera untuk pergi meninggalkan kamar itu.


“Tunggu Bi.” Sahut Wina dengan suara parau.


“Ada apa Nona?”


Wina dengan cepat meraih jemari tangan wanita di depannya, menggenggamnya erat bak orang yang putus asa.


“Tolong aku..”


Pelayan itu mulai panik melihat Wina meminta dengan raut wajah suram. Kepalanya sudah dipenuhi banyak pertanyaan


Apakah Nona Wina hamil.


Atau jangan-jangan Nona sakit.


Haduh bisa pendek umurku Tuan Muda tahu.


“Tolong urut punggungku, Bi.” Pinta Wina yang kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.


“Nona, saya panggilkan Tuan Rey saja bagaimana?”


“Jangan, jangan ya aku mohon. Aku bukan hanya akan sakit jika dia yang kau panggil, tapi juga bisa gila.”


“Tapi Nona, Tuan Rey bisa memanggilkan dokter untuk Nona.”


“Haduh Bi, aku ini cuman lelah. Bukan terkena usus buntu.” Menyadari pelayan yang ada di depannya tidak mempan memakai cara seperti ini, Wina merengkuh jemarinya lebih erat.


“Aku tidak akan bilang apapun ke suamiku. Jika beliau tahupun, bibi tidak akan terlibat sedikitpun.” Ucapan yang terasa menjamin keselamatan pelayan wanita itu.


Pelayan wanita yang tadinya ogah-ogahan pun akhirnya memijat punggung Wina perlahan. Membuat wanita itu sedikit lebih rileks, setiap tekanan di punggungnya bahkan mampu membuat Wina merasakan pegal dan lelah yang menyelimuti tubuhnya sedikit mereda.


“Saya tambahkan sedikit minyak telon ya, Nona.” Ucap pelayan itu di tengah pijatan nikmat yang dirasakan Wina.


“Iya, Bi.”


Dengan lembutnya pelayan itu membaluri tengkuk dan punggung Wina dengan minyak telon yang ditemukannya di meja rias. Jauh dari itu, pelayan itu benar-benar tidak menyangka bahwa benda yang sering di sepelekan oleh banyak orang seperti minyak telon, ternyata ada di meja rias Nona Mudanya.


Lebih dari itu, betapa terkejutnya Ia ketika hanya menemukan beberapa jenis skin care yang tertata rapi di atas meja rias. Rupanya Nona Mudanya tidak terlalu berambisi untuk membeli banyak skin care untuk memoles wajahnya.


“Sudah cukup Bi.” Ucap Wina dengan nada sopan.

__ADS_1


“Sudah agak enakan rasanya, Nona?”


Wina mengangguk pelan, meraba tengkuknya yang sedikit terasa lebih nyaman.


Setelahnya pelayan wanita itu keluar meninggalkan kamar dengan senyum yang tergurat. Senang sekali bisa melayani Nona Muda yang begitu ramah dan apa adanya.


***


Merasakan tubuhnya yang sudah mendingan. Wina bangun dari ranjang, sejak kepergian pelayan tadi Ia memutuskan untuk tidur sejenak hingga hari beranjak siang.


Gadis itu menyandarkan bahu di kepala ranjang, berusaha mengembalikan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.


Menepuk keningnya.


Bodoh, ini adalah kesempatanku.


Kenapa malah enak-enakan tidur di sinisih Wina.


Wina beranjak dari tempat tidur, dan keluar dari kamar itu.


Tubuh mungilnya menuju kamar yang tak jauh dari kamar Aarav. Itu adalah kamar Ayah, entah sudah berapa kali Wina melewatkan kesempatan seperti ini. Setiap kali keluarga ini makan bersama di pagi hari, Wina tak dapat membuka mulutnya untuk bertanya sepatah katapun pada Ayah.


Perlahan tapi pasti tangannya yang terkepal mengetuk pintu kamar itu dengan sopan.


“Masuklah.” Sahutan ayah terdengar dari dalam.


“Ada apa menantuku? Apa di luar sangat membosankan hingga kau malah pergi menemuiku di kamar yang menyesakkan ini?” nada bicara yang memang menjadi ciri khas Tuan Besar. Periang dan ramah.


“Benar Ayah.”


“Rumah besar ini memang sangat membosankan Anakku.” Menatap ke arah jendela kaca kamarnya, “Apalagi ketiga anak-anakku sibuk mengurusi urusan perusahaan.”


Tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya, akhirnya Wina mendekati mertuanya. Bersimpuh di lututnya dengan memijat betisnya pelan.


“Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat begini?” Ayah mengelus dagunya pelan.


“Aku sehat Ayah, aku baik-baik saja.”


“Katakan, apa yang akan kau minta dari ayahmu ini.”


Seperti anak kecil yang mendapat banyak kesempatan, Wina sesegera mungkin membuka mulutnya tanpa ditunda-tunda.


“Ayah, terlalu banyak hal yang tidak aku fahami di rumah ini.” Wina menatap lelaki paruh baya di depannya dengan lekat, “Kau adalah Ayah dari suamiku, beritahu aku apa yang belum aku ketahui agar aku memiliki alasan kuat untuk membalas cinta anakmu.”


Kalimat-kalimat yang sanggup meluluhlantakkan perasaan lelaki paruh baya itu. untuk beberapa saat Wina tak melanjutkan kata-katanya. Belum memulai cerita, ayah bahkan sudah menitikkan air mata.

__ADS_1


“Walaupun tidak mampu memahami, setidaknya izinkan aku untuk mengerti keadaan suamiku.”


Lalu mengalirlah cerita yang mula-mula sudah dibuka oleh Rey ketika di taman, dilanjutkan lengkap dari ayah hingga akhir.


“Awalnya Aarav hanya tahu kau sebagai anak kecil yang sudah dijodohkan dengannya. Hanya sebatas itu nak. Tapi semenjak peristiwa di taman, dimana kau merelakan bahumu untuk digigitnya sejak itu dia tidak pernah bisa melupakanmu.”


Wina yang sejak tadi berusaha menahan tangis yang sudah menggenangi matanya, kini menyerah. Bulir bening jatuh di pipinya, sementara cerita Ayah masih mengalir sepenuhnya.


Kini tiba saatnya Wina bertanya seperti apa yang Ia tanyakan kepada Rey.


“Ayah, Apakah tidak ada wanita yang dicintainya sebelum aku?”


“Kenapa kau bertanya begini?”


“Aku ingin belajar mencintai dan membalas ketulusan anakmu. Jika ada wanita yang masih Ia cintai, apakah aku tidak berdosa jika aku memperjuangkan cintaku?”


Ayah tersenyum lembut menatap wajah polos menantunya, “Kau ini istrinya, jadi yang berhak memperjuangkan cinta memang hanyalah kau. Lagi pula Aarav tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu.”


“Benarkah?”


“Dulu, Rey mengajukan beberapa wanita kepadanya. Setidaknya untuk mengisi kesepian yang selalu menemaninya, tapi dengan tegas Aarav menolak.” Ayah menggenggam jemari WIna dengan lembut, “Itu semua karena janji kepada ibunya yang harus ditepati, yaitu menjemputmu.”


Duarr…


Perasaan bahagia membuncah di hati Wina. Entah kenapa yang iya inginkan hari ini adalah supaya suaminya itu segera pulang, dan memeluk dirinya seerat mungkin.


Andai aku tahu lebih awal begitu tulusnya dirimu mencintaiku.


Sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menungguku.


Kehadiran Aarav yang selama ini membuatnya pusing hingga kelelahan, sekarang itulah yang paling dibutuhkannya.


“Apakah sudah cukup penjelasanku?” Ayah mengusap rambutnya pelan. Sekaligus menyadarkan Wina dari dunia lamunan.


“Terimakasih Ayah.”


“Kau jangan sungkan, jika punya masalah yang berat datanglah kemari.”


Wina mengangguk cepat dan mengambil langkah untuk keluar dari kamar itu dengan sopan.


“Wina.”


Gadis itu menoleh tak sabaran.


“Rawatlah dirimu, karena Aarav akan begitu sedih ketika melihatmu kelelahan.”

__ADS_1


Huwaaa, suamiku pulanglah cepat.


Aku sangat ingin memelukmu.


__ADS_2