Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Tragedi (Part 1)


__ADS_3

Seorang gadis berpenampilan elegan dengan rambut panjang yang tergerai lembut, merangsek masuk ke kompleks pemakaman sambil menenteng bunga di tangan kanannya. Tampak high heel berwarna hitam mengena di kaki jenjangnya, menjadikan penampilan cantiknya sempurna.


Gadis itu adalah Alina Gunawan. Namanya disandingkan Rey dengan kata licik dan jahat. Dengan langkah yang kokoh ia tetap berjalan memasuki kompleks pemakaman setelah Aarav dan Wina pergi tadi.


Ya. Di sana, masih satu kompleks pemakaman dengan Ibu Aarav, gadis itu juga menengok kabar ibunya yang sudah mendahuluinya menuju alam baka. Duduk bersimpuh dan mengendurkan tatapannya.


“Ibu, akan kubalaskan dendammu pada keluarga jahat yang sudah membunuhmu.” Suaranya terdengar tegas dan jelas. Mungkin jika orang lain berdiri di sampingnya, mampu mendengar ancaman dan janji menyeramkan itu tanpa ragu.


“Tentu saja, mula-mula aku harus menghabisi lelaki tampan bernama Rey itu.” Menyeringai “Dialah lawan setimpal untukku, sebelum menghabisi nyawa Tuan dan Nona mudanya.”


Setelah mengusap dan menaruh bunga di nisan ibunya, gadis cantik nan elegan itu bangkit. Tetap dengan langkah tegas yang ia melewati banyak batu nisan yang serupa di sana. Tempat para tetua dan yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk mendahului mereka yang masih diberi kesempatan bernafas di dunia.


Tiba di depan mobilnya yang masih terparkir rapi di sekitar kompleks pemakaman, langkahnya terhenti. Meraih tas yang tergeletak sembarangan dari dalam mobil lalu membuka handphone nya untuk mengetik sesuatu di sana.


“Bagaimana kabarmu Tuan Tampan?” sambil menyeringai gadis itu mengucapkan rayuan tanpa ragu kepada Rey.


“Hentikan. Atau aku akan kehilangan kesadaran dan mencekikmu.” Suara dingin dari pria di seberang telepon.


“Setelah kau menghilang dan menerima pendidikan di lembaga khusus orang-orang terlatih itu, aku semakin tidak sabar melihat seberapa besar ketampananmu mampu menyaingi Tuan Mudamu itu.” Alina mengucapkannya dengan nada menekan, seolah memancing Rey untuk kehilangan kendali dengan emosinya.


“Akan kusakiti seluruh anggota keluarga yang disayangi Aarav!”


“Heh, jika kau bisa langkahi dulu nyawaku.” Rey tergelak dengan ucapannya sendiri.


Kedua orang itu seperti saling melempar api satu sama lain. Dengan kalimat-kalimat penuh kebencian yang bisa menyulut emosi dengan gamblang. Bagi keduanya, ini adalah permainan api yang akan melukai siapapun yang lengah dengan mudah.

__ADS_1


“Aku harusnya bahagia karena sebentar lagi akan melihatmu, bukan?” goda Alina lagi sambil menyeringai jahat.


“Hentikan perkataan kotormu itu! aku muak dengan semua permainanmu.”


“Dengan nada tinggi, kau fikir bisa mengancamku?!” Alina yang terpancing berucap dengan tatapan tajam ke depan, “Lindungi Tuan dan Nona Mudamu dengan baik Rey Zayn, karena jika lengah mereka akan kuhabisi dengan mudah.”


Rey hanya tergelak mendengar kalimat itu, bahkan tawa menyeramkan darinya terdengar, membuat Alina yang mengancam malah begidik ngeri.


“Haa, masih belum faham rupanya. Siapa lelaki yang akan kau hadapi lebih dulu ini.”


Panggilan telepon diputus Alina dengan cepat, raut kesal tergambar jelas di wajah cantiknya. Baginya Aarav memanglah lelaki arogan dan pemaksa yang patut di takuti. Tapi jauh dari itu, tepat berada di belakang Aarav ada dua orang yang harus dilangkahi sebelum menyentuh sejengkal saja kulitnya.


Rey dan Rania, kakak beradik dengan kekompakan luar biasa. Dan bisa melakukan apa saja untuk melindungi keselamatan Tuan Muda dan orang-orang yang disayanginya.


Terlebih dari itu, Rey adalah lelaki bertangan dingin yang tak segan melakukan hal nekad pada siapapun jika coba-coba menyakiti Aarav.


***


Hingga hari pernikahan tiba, Alina sudah duduk dengan rapi menunggu kabar dari anak buahnya yang diminta menjalankan rencana jahat dengan baik dan mulus.


Duduk di sofa kamarnya dengan santai, sambil menikmati segelas jus buah naga yang disiapkan untuknya. Masih sangat pagi, tapi matanya tak dipenuhi dengan rasa kantuk sejak semalam. Hanya ada dendam dan ketidak sabaran untuk membalaskan semuanya pada keluarga Zayn.


Handphone di atas meja berdering, “Tuan Muda itu bodoh, dia pasti bersama dengan calon istrinya di mansion mewah itu sekarang. Lakukan tugasmu dengan baik, atau anak istrimu akan melihat kau pulang tanpa kepala.” Kata Alina santai.


Menutup panggilan teleponnya, lalu memandang lekat dari jendela kekamarnya.

__ADS_1


“Akan kupastikan ada darah yang tertumpah untukmu Ibu.” kali ini suaranya terdengar lirih hingga pandangannya membuyar dan gadis itu tertidur di atas sofa dengan hanya mengenakan gaun tidur berwarna putih.


Sementara rencana di jalankan atas perintah Alina. Dua buah mobil sudah terparkir rapi di pojok jalan tak jauh dari gerbang utama mansion.


Di dalam Mansion, entah ke mana perginya lelaki berperawakan tegap yang bernama Rey itu. Suasana yang masih pagi buta ditambah dengan lampu-lampu di Mansion yang hanya dinyalakan beberapa membuat rumah itu tampak sedikit gelap.


Tapi berbeda dengan kamar Aarav yang disetting dengan lampu yang bersinar terang. Dia sana tampak seorang wanita sedang merias wajah dan penampilannya. Dia adalah Wina dan Rania. Dengan Rania yang berdiri di samping kanan tempat duduknya memberikan beberapa alas rias kepada Wina.


Dua orang wanita yang mengenakan pakaian pelayan, masuk ke kamar itu dengan membawa beberapa perlengkapan make up untuk Wina yang sedang asik di depan kaca.


"Nona, Kami membawakan ini juga untuk anda." Jelas salah satu dari wanita itu.


Rania yang mendengarnya berjalan mundur perlahan, mengambil tas yang berisi tambahan alat make up, lalu menghempaskan ke wajah wanita yang ada di depannya.


Sementara Wina yang dari tadi duduk dengan tenang masih mengenakan gaun pernikahannya angkat kaki dari kursi itu, dengan cepat ia menghalau tangan wanita yang akan menghajar Rania.


"Beraninya kau memalingkan wajahmu dariku!." Dengan tangkas menangkis tangan wanita itu, "Apa karena gaun ini, aku terlihat sebagai wanita yang tidak bisa berkelahi?!" melipat paksa tangan wanita itu ke belakang tubuhnya, membuatnya meringis kesakitan.


Tiba saatnya, pintu kamar Aarav terbuka, memunculkan seorang lelaki berperawakan tinggi dan tegap, masuk ke kamar itu lalu menutup kembali pintu kamarnya dengan rapi.


"Klak." suara pisau lipat yang menganga di depan mata kedua wanita yang masih berpakaian sebagai pelayan itu.


Kini keduanya sudah terikat dan duduk lemas di lantai, ditambah lagi dengan mulut yang tersumpal lakban hitam. Berhadapan dengan Wina, Rey dan Rania.


Rey melangkah perlahan dengan pisau lipat yang sudah menganga di tangan kanannya. Mendekati kedua wanita itu sambil duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Hmpphh", suara tertahan dari balik lisan salah satu wanita yang tersumpal lakban sementara matanya nyaris keluar karena ketakutan.


Sementara Rey dengan ekspresi tenang membidik tepat di dagu wanita itu. Mengaitkan pisau dengan lembut di dagunya, membuat deru nafas kedua wanita itu kian memburu.


__ADS_2