
"Brug!"
Aarav menghempaskan tubuhnya ke dalam dekapan gadis kecil itu. Merengkuh erat dengan jemari yang bergetar hebat. Dirinya seakan ingin merenggut senyum yang baru saja diperlihatkan gadis kecil itu padanya.
Bulir bening jatuh tepat di pipi Aarav kecil. Buru-buru ia menyekanya lagi, dengan bibir yang masih terkunci rapat, dalam dekapan itu ia berusaha mencari-cari ketenangan dan kebahagiaan dari perangai yang ditunjukkan Wina tadi.
Anak ini, jelas-jelas sudah menangis tapi ditahan.
Apa begini kesedihan yang terasa jika Ibu pergi meninggalkan anaknya.
Tubuh mungil Wina tak memberikan penolakan. Beberapa kali terlihat ia meletakkan tangannya di bahu Aarav, mengerti bahwa rasa kehilangan Ibu memanglah sakit dan pedih.
“Kau jangan menangis lagi. Kau ini laki-laki tahu.” Gadis itu mendorong perlahan tubuh Aarav. Menuntunnya untuk kembali duduk di kursi, kini ia juga duduk di sebelahnya.
“Lihat air matamu ini. Sudah kubilang jangan menangis kan.” Kali ini suaranya terdengar memerintah sambil jemarinya yang mengusap pelan air mata di pipi Aarav kecil.
“Aku…”
“Aku…” Suara Aarav tercekat kembali karena air mata yang meringsek jatuh. Lagi dan lagi ia menitikkan air mata, walaupun masih terlihat menahan lebih banyak buliran yang akan tertumpah.
“Diam!.”
“Susah sekali membuat kau diam.” Wina mengernyitkan dahi, gusar dengan keadaan Aarav.
"Greb!"
Wina merengkuh tubuh itu dengan erat.
Memberi tumpangan untuk menjadi wadah meluapkan kesedihan bagi Aarav kecil.
“Kalau kau masih ingin menangis, jangan ditahan. Menangislah dengan kencang.” Dengan nada kesal, “Kalau kau malu terdengar orang lain, gigit saja pundakku agar suaramu tersumpal.” Gadis kecil itu terus memerintah.
Memperlakukan Tuan Muda seperti sesuka hatinya. Sementara suara tangis mulai pecah memenuhi tempat itu. Aarav sudah tidak bisa lagi menahan kesedihan dan kepedihan yang membuncah dalam jiwanya.
Tangannya yang sedari tadi membeku, perlahan merengkuh tubuh Wina dengan kuat. Seakan melepaskan semua kesedihan yang terasa begitu kental dalam jiwa.
Tangisan keras mulai terdengar ke telinga Wina yang masih merengkuh tubuhnya. Deru tangis yang beberapa waktu itu seperti menghentikan denting waktu untuk sesaat.
Di sela-sela suara tangis yang terus terdengar, “Apa kau selembek ini ketika menangis?”
Tetap tidak ada jawaban.
“Sudah kukatakan. Gigit pundakku agar tangisanmu itu tidak terdengar orang tua kita.”
Menyadari berkali-kali perkataannya tidak dihiraukan, Wina merasa sangat kesal.dengan kelakukan Aarav kecil, karena tangisan itu bisa saja terdengar oleh orang tuanya atau orang lain yang melintas di sana.
“Cepat gigit! Dasar lemah.” Kini giliran tangannya yang menghentak punggung Aarav. Mengarahkan pundaknya agar bisa menyumpal suara tangis yang berisik itu.
Wina kecil hanya bisa meringis ketika Aarav mulai menggigit pundaknya, semakin lama gigitan itu semakin terasa dan meninggalkan rasa sakit. Seakan Aarav juga ingin membagi kepedihannya kepada gadis kecil itu.
__ADS_1
Drama kompleks dari dua anak manusia yang menyisakan kenangan manis. Itu adalah pertemuan pertama Aarav dan Wina kecil.
***
“Tuan Muda.” Panggilan Rania yang membuat lelaki itu terbangun dari lamunan panjangnya.
Dua hari berlalu semenjak kunjungan mendadak ke rumah Wina. Gadis itu masih saja menunjukkan raut geram dan kesal ketika bertemu Aarav dan Rania di kampus. Memang begitu ampuh cara untuk menciptakan masalah besar dengan datang ke rumah wanita secara tiba-tiba.
Pagi itu di ruang utama rumah Presdir, Aarav sudah siap dengan setelan kasualnya yang berkelas. Lengkap dengan rambut yang diikat rapi, terlihat begitu tampan.
“Apa Anda sebaiknya memberitahukan kepada Nona Wina kebenaran mengenai perjodohan ini?”
“Aku tidak berfikir dia akan jatuh cinta pada kekayaan dan jabatanku ini Rania. Apa kau tidak lihat hari di mana kita berkunjung ke sana, gadis itu bahkan pergi ke kampus dengan jalan kaki. Padahal ayahnya yang juga pengusaha memberikan fasilitas cukup untuknya. Kufikir jika dia mengerti posisi itu, tidak sulit untuknya membawa mobil sendiri menuju kampus.”
Rania yang mendengarnya tertegun.
Benarkah nona pergi ke kampus hanya dengan berjalan kaki.
Kenapa dia menjadi begitu sederhana dan terlihat seperti gadis yang sangat menikmati kehidupan.
Aarav menengadah, menatap Rania yang sedang bergelut dengan fikirannya.
“Aku mendapatkan semua informasi ini dari Rey. Kakakmu memang luar biasa dalam hal intelegent.” Aarav tergelak dengan ucapannya sendiri. Tak lama tubuhnya bangun dari sofa dan berjalan menuju pintu utama.
“Baiklah, saya akan selalu menemani Anda selama drama ini berjalan.” Menyusul langkah kaki Aarav dengan cepat, apa boleh buat pengabdian adalah yang terbaik untuknya dan kakaknya.
Pengabdian yang terasa membanggakan ketika ada hal terbaik yang bisa mereka lakukan untuk keluarga Zayn.
Seorang gadis dengan setelan kemeja polos melewati Aarav dan Rania.
“Hei.” Dengan nada datar Aarav memanggilnya.
Tapi langkah kaki gadis itu tidak berhenti, malah semakin dipercepat.
Aarav menyusul langkah cepat, memegang pergelangan tangan Wina “Wina, aku sedang memanggilmu?.”
“Ada apa?.”Gadis itu berbalik, betapa terkejutnya Aarav ketika melihat ada memar di pipinya.
Wina semakin takut dengan pertanyaan yang akan dilontarkan laki-laki itu lagi, hingga Ia buru-buru memalingkan wajahnya. Menutupi agar Aarav tak melaporkan apa yang terjadi pada Ibunya.
Habislah jika dia melaporkan aku kepada Ibu.
“Apa yang terjadi? kenapa pipimu begini?”
Gadis itu hanya diam melihat tatapan lekat Aarav yang mencari-cari kebenaran dari matanya. Tanpa fikir panjang Aarav menggendong tubuhnya menuju mobil, diikuti langkah Rania yang patuh.
“Hei apa yang kau lakukan, turunkan aku. Ini di tempat umum tahu.” meronta-ronta hingga tangan Aarav melepaskan rengkuhannya pelan. Merebahkan tubuh gadis itu ke kursi mobil.
“Diam. Rania, segera bawa mobil pergi ke rumah sakit.” Perintahnya.
__ADS_1
“Baik.”
“Tidak tidak. Jangan, jangan lakukan aku mohon jangan Aarav. Ibu bisa tahu keadaanku ini.” Dengan cepat tangannya mendekap jemari lelaki itu, memohon dengan raut mengiba.
“Ini hanya luka memar, jangan sampai Ibu tahu aku habis berkelahi lagi.”
“Berkelahi?!”
“Ngg... itu, begini.”
“Katakan dengan jelas atau Rania akan segera manarik pedal gas mobil ini!.”
Kali ini Wina mampu melihat tatapan kekhawatiran yang sedari tadi melingkupi mata lelaki itu berubah menjadi kemarahan. Air muka yang sudah gusar menahan amarah dalam jiwanya tampak jelas.
“Aku mohon padamu jangan sampai Ibu tahu mengenai luka ini. Baik-baik aku ceritakan, tadi ketika berangkat menuju kampus aku melihat seorang gadis muda turun dari mobilnya dengan menenteng tas. Lalu ada dua orang lelaki yang menjambret tas itu dan melesat menggunakan motor.”
Aarav menatap gadis itu dengan lekat, begitu juga Rania yang duduk di belakang kemudi mendengarkan seksama. Keduanya tidak melewatkan satupun kata yang terucap dari lisan Wina.
“Karena melihat gadis itu panik, aku refleks melemparkan tasku ke arah penjambret itu hingga motornya oleng dan mereka terjatuh…”
“Katakan apa yang mereka lakukan padamu hingga mengenai pipimu ini!.”
“Iya iya, lalu kedua lelaki itu turun dan berkelahi denganku. Ketika aku lengah salah satu pukulan mereka mengenai wajahku.”
Wajah Aarav sudah sangat kesal mendengar penjelasan itu, apalagi ketika matanya tidak bisa lepas dari memar yang terpampang jelas di pipi Wina.
“Rania, segera bawa mobil menuju rumah sakit.”
Dengan cepat Rania memutar posisi mobil dan melesat keluar gerbang kampus.
“Aarav, ini hanya luka biasa. Dikompres dengan pecahan es batu juga sudah..”
“Diam! Jika kau masih bicara akan kupatahkan tanganmu agar tidak bisa melempar tas lagi.”
Kenapasih orang ini.
Memar sedikit saja begini harus dibawa ke rumah sakit.
Hei, aku ini memar bukan kena usus buntu. Sudah seperti mau dioperasi saja.
Hei kau Rania, tolong dong bilang ke pacarmu ini. Jangan hanya diam di sana.
Hei Rania, kau dengar tidak hei.
“Kenapa matamu memelototi Rania begitu?!.”
“Ah, haha tidak. Aku hanya kagum dengan kemampuan menyetir Rania.”
“Gadis bodoh, sudah babak belur masih sempat-sempatnya tertawa."
__ADS_1
Hei kurang ajar sekali kau.
Sebaiknya kau lihat wajahmu yang mirip joker itu.