
Di hari pemakaman, Rey berdiri tegap di depan jenazah orang tuanya, mendekap tubuh Rania yang sangat lemah. Sembab terlihat jelas di mata Rania karena menangisi kepergian orang tuanya dengan tiba-tiba.
Masih tergambar jelas di benak Rey ekspresi adiknya saat mengetahui ayah dan ibunya yang sudah tiada, gadis itu meraung untuk pertama kalinya. Mendekap kuat tubuh Rey seakan berusaha menyerap ketegaran kakaknya dalam mengahadapi kenyataan.
“Tenanglah. Ayah dan Ibu memang sudah ditakdirkan mendahului kita secepat ini, Rania.” Sambil terus mengusap kepala adiknya dengan lembut.
Di sana juga ada Tuan Besar dan seluruh kolega dari Zayn Property. Mereka mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya. Duduk di setiap kursi yang ditata rapi mengitari ketiga jenazah yang ada di tengah-tengah. Ibu dari Aarav, lalu ayah dan ibu dari Rey dan Rania.
Namun yang kurang di sana adalah Aarav. Di tengah ketegaran Rey dan Tuan besar, Aarav juga begitu berusaha tegar dengan keadaannya. Namun Ia memutuskan untuk mengunci dirinya di kamar dan menyendiri di sana sampai jenazah ibunya dimakamkan.
Semalam, ketika ayahnya memberitahu bahwa ibunya telah tiada, Aarav hanya terisak di telepon dan dengan cepat menutup panggilan teleponnya. Namun pelayan di mansion bercerita, bahwa pagi ini Aarav keluar dari kamarnya dengan mata yang sembab dan perangai bak mayat hidup yang tak punya jiwa.
***
Satu pekan berlalu.
Semenjak acara pemakaman, Tuan Besar lebih banyak duduk sendiri di taman, paling akhir ketika bosan lelaki itu menghabiskan waktu untuk menanam banyak jenis bunga di sana.
Aarav masih tetap mengurus dirinya di kamar, mungkin anak itu malah sudah sangat nyaman dengan kesendirian. Memang tak banyak yang bisa ditemukan dengan mengurung diri di kamar selama sepekan. Tapi barangkali itulah yang membuat Aarav kecil bisa berdamai dengan keadaan dengan mengikhlaskan Ibu yang mendahuluinya ke surga.
Semenjak Rey dan Rania tinggal di mansion itu, belum pernah sekalipun Rey bertegur sapa dengan Tuan Muda. Tuan Besar mengajak keduanya tinggal di sana. Jauh dalam lubuk hatinya, ada sebuah rasa bersalah yang sealalu menghantui. Jika mobil Nyonya Zayn tidak menabrak motor Ayah Rey, mungkin mereka akan tetap hidup sekarang.
Kehilangan memang terasa, kehilangan istri tercinta. Tapi bukahkah itu juga dirasakan kakak beradik yang kehilangan orang tuanya. Tidak mungkin Ia malah akan membenci keduanya atas kejadian nahas itu.
Harus dengan siapa kedua anak itu mengadu ketika kedua orang tuanya lenyap dalam sekejap. Apalagi dengan kondisi hidup yang sederhana, membuat hati Tuan Besar semakin yakin untuk mengadopsi mereka menjadi anak angkatnya.
Pagi berlalu dengan datar, sangat berbeda dari sebelumnya. Terutama setelah selesai pemakaman, biasanya ada tawa wanita yang menggema di Mansion, tawa wanita satu-satunya yaitu Nyonya Zayn. Tapi kini semua sunyi, bahkan tawa yang lain juga tak terdengar lagi sejak sepekan terakhir.
__ADS_1
Aarav keluar dari kamarnya untuk pertama kali di pekan ini. Anak itu berjalan dengan menuruni anak tangga, menyeret langkah kakinya yang tegap. Terus berjalan hingga sampai di meja makan, menemukan Rey dan Rania yang sedang makan bersama Ayahnya.
"Katakan. Apa mobil ibuku yang menabrak motor ayahmu?", mengeluarkan pertanyaan aneh sementara orang yang di depannya sedang fokus mengunyah makanan.
"Katakan!." Aarav hampir menggebrak meja karena melihat ekspresi Rey dan Rania yang biasa saja.
Rey turun dari meja yang dipenuhi hidangan makanan. Berjalan menuju Aarav yang menatap tajam matanya.
"Ya." hanya itu jawabannya. Tapi kini posisinya sangat dekat dengan Aarav.
Tak gentar, Aarav kemudian mencengkeram kerah baju anak lelaki di depannya. Masih dengan tatapan tajam, sementara Rey meladeni dengan biasa. Tuan Besar yang juga duduk di sana membiarkan drama itu terjadi, seolah sudah mengerti apa yang akan jadi akhir dari semua hal yang terjadi pagi itu.
"Kenapa kau tidak menampar wajahku untuk kematian orang tuamu?!!" Aarav menyentak kasar kerah bajunya, "Katakan!!."
Rey masih betah dengan ekspresi datar. Baik Rey dan Rania itu sama saja, mereka adalah anak-anak yang dibesarkan dan dijadikan kokoh dari didikan orang tuanya. Hari ini seakan mereka tegar dan kuat padahal aslinya mereka juga hancur.
“Tuan Muda.” Lirih Rey mengucapkan kata ini untuk pertama kalinya.
“Diam!.” Aarav kembali membentak kasar, “katakan aku egois karena sudah mengurung diri di kamar tanpa memikirkan kalian juga kehilangan orang tua.”
Setelah mengatakan ini Aarav tak mampu lagi menyangga lututnya, Ia ambruk tepat di depan Rey. Kesadaran yang berusaha ditopangnya tadi sudah dipreteli dengan sempurna.
Rey yang melihat betapa lemahnya keadaan Tuan Muda, meraih lengannya pelan. Masih dalam tatapan dan perilaku tenangnya.
“Bangunlah Tuan Muda.” Ujarnya pelan memikat lengan Aarav hingga tubuhnya berdiri lagi seperti semula, “Tegarlah Tuan Muda.
Kejadian ini bukan keinginginan kita, melainkan kehendak mutlak dari Tuhan. Kehilangan sesuatu yang berharga lalu memutuskan untuk menenangkan diri dalam kesendirian, apakah pantas dikatakan egois?”
__ADS_1
“Jika Tuan Muda bertanya perasaan Saya dan Rania, apakah tidak panatas jika saya juga bertanya bagaimana perasaan Anda?” Rey meremas pelan lengan Aarav, kali ini nada bicaranya sedikit berbisik, “Apakah masih ada orang belum sadar bahwa semua ini terjadi atas kehendak Tuhan?”
Mendengarnya Aarav menjadi semkain kalut, mungkin Aarav hanya akan mengira bahwa Rey dan Rania membencinya karena kehilangan orang tua mereka. Tapi bahkan mereka juga memikirkan bagaimana perasaan Aarav yang juga kehilangan ibunya.
“Jadilah kuat Tuan Muda.” Mengulang kembali perkataannya, "Orang tua kita bahagia jika anak-anaknya bersikap bijaksana."
Aarav masih tertunduk lemah dengan lengan yang terengkuh jemari Rey. Bukan hanya telinga, terasa semua bagian tubuhnya mendengar keikhlasan Rey dan Rania dengan seksama. Bagi Rey, dengan umurnya bukan hal sulit untuk mengerti kondisi saat ini, yang terpenting adalah memberikan keikhlasan pada hal menyakitkan yang sudah terjadi.
Tuan Besar yang melihat itu semua tersenyum puas. Sejak tadi Ia sudah seperti orang tua gila yang membiarkan anak-anaknya bertengkar seenaknya. Tapi setelah pengakuan Aarav dan kalimat yang dikatakan Rey, itu semua bisa membuktikan kepercayaannya bahwa ketiga anak yang berada di depannya kini adalah pewaris bijaksana untuk keluarganya.
Tak mungkin masalah sebesar ini bisa diselesaikan dengan saling mengerti, karena hal itu sangat sulit dilakukan manusia yang dominan ego dalam jiwanya. Tapi bahkan anak kecil yang berada di depannya ini lebih kuat dari orang tua bangka yang saling menyalahkan untuk sebuah tragedi yang terjadi atas kehendak Tuhan.
“Aarav.” Ayahnya menyapa pelan dari pojok depan meja makan, “Bukankah kau bangga jika Rey dan Rania menjadi saudaramu?."
Aarav mengangguk pelan dalam kesedihan, “Ciptakan kembali kehangatan di rumah ini.” Sambil tersenyum lemah Aarav berkata.
Ayahnya mulai berdiri dan melangkahkan kaki mendekati Aarav dan Rey, lalu Rania yang mengerti juga melangkah mendekati.
Rania menggenggam jemari Aarav dengan lembut, “Mari melanjutkan hidup dengan bahagia, Tuan Muda.” Ucapnya di tengah suasana sambil tersenyum optimis.
Aarav yang sudah tak tahan lagi dengan semua hal yang terjadi di ruang makan mansion besar itu mendekap erat tubuh Rey dan menangis di sana. Tuhan memang baik dengan membawa pergi orang yang disayangi di satu sisi, tapi juga menghadirkan penggantinya untuk saling melengkapi.
Pelan tapi pasti ketiga anak yang berdiri tepat di meja makan itusaling mendekap satu sama lain. Senyuman yang tampak di wajah mereka seakan menjadi pembalasan untuk takdir yang menghadirkan kepedihan.
Juga tak tinggal diam, Tuan Besar merangkul erat ketiga anaknya yang bijak. Tangis mulai bercucuran di pipi masing-masing hingga tak terasa mereka lupa menyapa makanan yang terhidang di atas meja.
Berhasil mengikhlaskan kehendak menyakitkan Tuhan dan membuat kehangatan yang baru. Orang-orang yang berada dalam mansion itu sedikit demi sedikit menjadi keluarga utuh dan bahagia.
__ADS_1