
Di rumah sakit, tepat di depan ruang tunggu pemeriksaan dokter. Aarav dan Rania berdiri dengan memandang pintu yang entah kapan terbuka. Beberapa kali ia terlihat berjalan mondar-mandir dengan sorot mata yang dipenuhi kekhawatiran.
“Aku tidak habis fikir bagaimana bisa dia begitu berani berkelahi dengan lelaki.”Gumam-gumam terdengar dari lisannya.
“Tuan Muda, di dalam data yang dilampirkan kakak tempo hari…”
“Katakan Rania, mungkin ada yang kulewatkan dari data itu.” Ujarnya memotong perkataan Rania.
“Ada beberapa keterangan bahwa Nona memang pernah mengikuti turnamen bela diri, dan membawa pulang penghargaan sebanyak dua kali.”
“Aku sudah tahu.”
“Bukan hanya itu, semenjak SMP Nona beberapa kali terlibat perkelahian dengan anak laki-laki dan perempuan yang mengganggunya.” Lanjut Rania menjelaskan, “Itulah kenapa orang tua Nona sering dipanggil oleh pihak Bimbingan Konseling sekolah.”
“Begitukah? jago juga calon istriku.” Aarav menatap Rania keheranan.
Gadis itu menganggukkan mantap, “Itulah kenapa Nona sangat takut jika masalah ini diketahui oleh orang tuanya.”
Aarav manggut-manggut, tak lama lelaki itu menatap Rania lekat.
“Baiklah, setelah ini kau lakukan tugasmu. Bawa dia bersamamu agar Ibu tidak melihat lukanya sampai sembuh.”
“Baik, Tuan Muda.” Rania mengangguk mantap.
Beberapa saat suasana penuh kekhawatiran itupun buyar dengan suara pintu yang didorong dari dalam. Seorang lelaki paruh baya yang mungkin umurnya sepadan dengan Tuan Besar. Tersenyum tipis melirik Aarav dan Rania di depan pintu ruangan itu.
“Apa yang terjadi dengan calon istrimu Aarav?” lirih suaranya bertanya.
“Rania yang akan menjelaskannya, Paman. Bisakah aku masuk dan melihat keadaannya dulu?” Aarav meminta pelan hingga lelaki paruh baya itu bisa melihat dengan jelas kekhawatiran yang menyelimuti wajahnya.
“Masuklah.”
Tubuh Aarav meringsek dengan cepat. Hilang di telan pintu di depannya.
Di dalam ruangan itu, Wina duduk menyamping ranjang, sayup-sayup terlihat siluet Aarav yang kian mendekat.
“Aku baik-baik saja. Dokter sudah memberi obat untuk dioles dan diminum selama tiga hari ke depan. Supaya memarnya cepat memudar.”
Aarav yang duduk di kursi samping Wina dengan cepat menggenggam jemari gadis itu.
Apa yang kau lakukan.
Hei di depan itu ada pacarmu tahu.
“Kenapa kau bisa seberani ini, Wina?” Lelaki itu menatap nanar gadis di depannya, “Makanan apa yang sudah diberikan Ibu padamu hingga kau berkelahi dengan penjambret itu tanpa rasa takut?”
“Heuy, Kau ini berkata apa. Aku tidak mungkin diam saja jika tertindas seperti wanita itu.” Menepuk jidatnya sendiri.
“Tertindas?”
“Iya, kau tahu kedua penjambret itu merebut tasnya sambil tertawa penuh ejekan seperti orang gila.”
“Apa karena itu kau melemparnya dengan tas?” Aarav mengernyitkan keningnya.
Wina menghela nafas perlahan, “Sebenarnya posisi tempatku berdiri sangat bisa menjangkau penjambret itu dengan mudah menggunakan tangan. Aku melemparnya dengan tas sekalian melampiaskan kekesalanku karena tawa mereka.”
“Tasku juga sangat berat pagi ini. Banyak sekali perlengkapan untuk mata kuliah yang harus kubawa, jika mengenai kepala preman itu aku tentu sangat puas.” Lanjutnya menjelaskan.
Aarav yang mendengar hanya bisa mengedutkan bibir. Lucu bercampur kesal karena perkelahian itu menghasilkan memar di pipi calon istrinya.
__ADS_1
“Kau jangan bodoh lagi. Aku tidak tahu harus bilang apa pada Ibu jika terjadi sesuatu denganmu.”
Aduh kau ini tuli ya.
Bukankah sudah kukatakan para penjambret itu berhasil kukalahkan.
Mana bisa mereka berbuat sesuatu yang lebih kepadaku.
“Ayo, aku akan mengantarmu.” Aarav segera bangun dari kursinya bermaksud meninggalkan ruangan itu.
“Tidak. Habislah, Ibu pasti akan sangat marah melihat memar ini.”
“Kau akan menginap di rumah Rania sampai luka itu sembuh.” Sabar dengan posisi berdirinya sementara Wina yang masih betah dengan posisi duduknya.
“Tapi, Ibu belum mengizinkannya kan?” nada bicaranya mulai panik.
“Apa luka memarmu harus kutekan dulu agar kau menurut padaku?” Aarav menjawab dengan nada yang mulai kesal.
“Bagaimana bisa begitu, siapa yang…”
Kecupan lembut mendarat tepat di kening gadis itu. Membuatnya terperanjat dengan hal yang barusan di lakukan Aarav.
Masih terasa begitu hangat, membuat sekujur tubuhnya membeku.
Aaaa, apa yang kau lakukan.
Kenapa kau mencium keningku.
Apakah kau sudah buta kalau di depan pintu itu ada pacarmu, Rania.
“Aku bangga padamu.” Hanya itu kata yang terucap sebelum tangan Aarav menyusul mengangkat tubuhnya menuju keluar ruangan. Menggendongnya hingga akhirnya merebahkan di mobil.
Duduk di belakang kemudi, Rania masih keheranan dengan wajah Wina yang memerah malu.
Apa yang terjadi.
Kenapa wajah Nona Wina merah begitu.
Dia juga selalu mengalihkan pandangan dariku.
Rasa penasaran itu terus menyelimuti fikiran Rania hingga mobil tiba di sebuah apartemen mewah. Rania menuntun tubuh mungil Wina untuk turun dari dalam mobil.
“Akan ada yang mengantarkan mobil kembali untukmu, aku akan pulang.” Aarav memandang Rania lekat.
“Baik.” Gadis itu mengangguk pelan, tubuhnya memberi akses agar Aarav masuk ke pintu tempat kemudi.
“Ayo masuk.” Dengan lembut Rania menuntut langkah Wina memasuki apartemen.
Wina yang masih kebingungan melihat mobil yang dikendarai Aarav sudah melesat menjauhi gedung itupun segera membuka mulutnya, “Rania, bagaimana bisa aku menginap di sini tanpa berpamitan pada Ibu?”
“Kak Aarav yang akan meminta izin pada Ibumu.” Rania menjelaskan dengan terus melangkah keluar dari lift.
Dia bahkan memanggil Aarav kakak.
Habislah sudah jika dia tahu bahwa Aarav sempat menciumku di ruangan tadi.
Langkah keduanya tiba di sebuah ruangan. Pintu di ruangan itu segera terbuka ketika lampu sensor mengenai Rania. Gadis itu melepaskan sepatu ber haknya pelan.
“Selamat datang di rumahku.” Ucap Rania sembari mengulum senyum, “Aku akan antar kau ke kamar yang sudah disiapkan.”
__ADS_1
Sudah disiapkan. Memangnya aku ratu apa.
“Apakah tidak masalah jika kak Wina kutinggal di sini dan aku memeriksa kamarnya sebentar?”
Hei, ini hanya luka memar bukan usus buntu.
Kenapa begitu berlebihan sih.
Aku ini masih sehat tahu.
“Iya Rania, silahkan. Haha, inikan rumahmu.”
Dua jam kemudian, terlihat Wina yang duduk di samping Rania di ruang TV. Kedua orang itu tadinya sudah bersantai dengan menyeduh segelas susu hangat lengkap dengan roti, untuk menghangatkan tubuh karena selepas Aarav pergi, hujan turun dengan lebat.
“Rania.” Memanggil dengan nada datar.
Rania memalingkan wajahnya, menatap datar gadis yang memanggil namanya barusan.
Duh jangan menatapku begitu dong.
Tindakanmu ini sama sulitnya untuk difahami, persis dengan pacarmu itu.
“Kau sudah lama mengenal Aarav?”
“Mungkin genap sepuluh tahun. Ada apa kakak?”
Gila, ternyata mereka dijodohkan sejak kecil.
Pantas saja nama belakang mereka sama-sama Zayn.
“Haha, tidak apa-apa kok. Kau dan Aarav terlihat begitu dekat. Kau bahkan seperti bodyguard nya.” Mengembangkan senyum secerah mentari di pagi hari.
Bagaimana caraku menjelaskan padamu jika aku adalah pengawal Tuan Muda selama kakak belum datang, Nona.
Pembicaraan itu makin asik dengan malam yang kian tenggelam. Kedua wanita yang larut di dalamnya, hingga akhirnya mereka tidur berdua di atas sofa ruang TV.
“Apa menurutmu, Kak Aarav adalah lelaki yang tampan dan baik hati?” Rania bertanya di sela sela canda. Menatap Wina dengan sorot mata serius .
Heee, kenapa anak ini bertanya begitu kepadaku.
Apa dia cemburu. Habislah aku.
“Haha, apa yang kau tanyakan ini Rania. Tentu saja Kak Aarav mu itu terlihat tampan dilihat dari sisi mana saja oleh wanita di luar sana.” Berusaha mengalihkan agar pertanyaannya tidak tertuju hanya pada dirinya.
“Apa dia tampan untuk kak Wina?”
Katakan Nona, katakan.
Aku akan sangat senang bahkan jika Nona mengatakannya dengan ekspresi gila sekalipun.
“Eh, kau ini bicara apa. Kau pasti mabuk susu hangat kan.”
Wina yang menjawab gelagapan akhirnya berusaha meraih tubuh gadis itu yang sudah setengah sadar karena menahan kantuk di atas sofa. Menuntunnya ke kamar untuk tidur, sudah seperti menuntun adik sendiri.
Gadis ini, bahkan bertanya dengan ekspresi datar seperti itu.
Apa dia cemburu melihat Aarav menggendongku di kampus tadi.
Habislah, aku harus secepatnya menghindar dari lelaki sok kenal itu.
__ADS_1