
Jika di kampus ada sepasang calon suami istri yang sedang mabuk, lain halnya dengan yang satu ini.
Ketukan langkah kaki mulai menggema memenuhi jalan masuk ke ruangan Presdir, tampak Rey berjalan dengan penuh kharisma melewati Staff Sekretaris yang diisi oleh dua orang wanita.
Keduanya tersenyum manis menghadap Rey, sementara Rey berlalu dengan hanya menganggukkan sedikit kepalanya. Beda halnya ketika Aarav yang diperlakukan begitu, Ia pasti akan menambahkan senyum tipis di wajahnya.
Tubuh tinggi Rey masuk ke ruangan Presdir dan hilang di belakang pintu. Lelaki itu tampak menyiapkan beberapa berkas untuk dibawa ke ruangannya sendiri. Menyusun lembaran-lembaran dengan tatapan penuh ketelitian.
“Drrtt, drrttt” Hp di saku jasnya bergetar.
“Kau sudah kembali rupanya?” suara gadis di seberang telepon, ia adalah Alina.
Ayunan tangan pemuda itu berhenti. Lembaran data yang tadi sibuk Ia cari seakan tak berguna lagi. Tatapan tajamnya menyapu sekeliling ruangan.
“Katakan di mana kau. Jika kau berani membuat rencana lagi untuk menyakiti Tuan Muda dan Nona Wina, maka lawanmu adalah aku.”
“Heh, maafkan aku. Sepertinya aku sudah lupa dengan siapa aku bicara, pria bertangan dingin yang pengaruhnya bisa membuat mental lawan ciut seketika.”
“Tidak perlu kau menyanjungku. Karena lawanku bicara juga adalah seorang wanita licik.”
Suara tawa Alina mulai terdengar dari seberang telepon. Sementara Rey masih menatap tajam ke depan.
“Bukankah sudah pernah kukatakan, bahwa aku akan menemukan gadis yang selalu dilindungi oleh Tuan Mudamu itu.” Pernyataan yang terucap dengan suara menekan.
Rey hanya diam, darahnya terasa sudah mendidih dari tadi.
Tapi pemuda itu berusaha agar tetap tenang dan tidak terpancing.
“Ayo temukan aku. Itupun jika kau bisa, hahaha.”
“Tentu saja, dengan cepat kau pasti berada dalam cengkeramanku Alina Gunawan.”
“Aku semakin penasaran, sampai mana permainan berbahaya ini bisa berjalan.”
Sambungan telepon terputus. Dengan Rey yang masih memegang handphone nya dengan erat, meremasnya seolah berusaha meredam kembali emosi yang sudah menjalar di tubuhnya.
Lelaki itu meraih sofa yang ada di ruangan Presdir. Menghempaskan tubuh kekarnya di sana lalu melengos.
“Aku tidak bisa membuatmu bertindak lebih jauh Alina.” Ucapnya pelan dengan pandangan yang menyapu keseluruhan langit-langit ruangan.
__ADS_1
Lima menit kemudian, dirasa emosi kian stabil Rey meraih kembali handphone nya. Mengetik beberapa digit nomor di sana, menghubungi salah satu ajudan rahasianya yang setia.
“Apa semua berkas sudah kau siapkan?” Rey bertanya cepat.
“Sudah Tuan.” Suara lelaki di seberang telepon.
“Temui aku sekarang di apartemen. Bawa semua bukti.”
Sambungan telepon diputus dengan cepat. Rey mengangkat tubuh tingginya dan melesat meninggalkan ruangan itu seketika.
Mendekati meja Staff wanita yang tadi menyapa, “Tunda semua rapat dengan kolega hari ini.” Nada bicaranya terdengar dingin.
Secepat kilat kedua wanita itu menjawab perintah Rey dengan anggukan. Sedangkan tubuh tinggi lelaki itu sudah berlalu masuk ke lift dan hilang di sana.
“Hei, hentikan pandangan nakalmu itu!.” Salah satu Staff wanita menyikut lengan temannya yang masih terpukau setelah kepergian Rey.
“Haha, kau tahukan ada berapa wanita yang berharap bisa satu lemari pakaian dengan kedua Tuan Muda di perusahaan ini.” Yang satu lagi menjawab sambil mengalihkan pandangannya. Baru sadar setelah tangannya tersikut.
“Aku penasaran apakah Tuan Rey masih menjomblo hingga sekarang. Tapi wanita mana yang sanggup menahan hati ketika melihat mata indahnya itu.” Lanjutnya.
“Hus, diam. Jika Tuan Rey tahu, kau akan kehilangan pekerjaan bahkan mungkin nyawamu.”
Kedua Staff wanita itu langsung mengatupkan lisannya rapat. Tak lagi terdengar obrolan mengenai dua lelaki tampan yang menjadi idola di perusahaan. Hanya ada perencanaan pengunduran jadwal seperti yang diperintahkan Rey barusan.
Mobil Rey sudah terparkir rapi di depan Apartemen. Kaki jenjangnya bahkan sedari tadi sudah melesat masuk ke dalam ruang apartemen miliknya. Rania tidak tinggal di sana karena tugas berbahaya yang dijalankan kakaknya.
Sensor menyala mengenai Rey, tepat pintu ruangan itu terbuka. Rey masuk disambut kesunyian yang merayap dari segala arah di ruangan itu.
Membuka lemari es tanpa melepaskan setelan jasnya terlebih dahulu. Keluar dari dapur dengan membawa sebotol air dingin dan menggenggam handphone nya. Mengetik beberapa hal di sana.
Dengan ekspresi yang bahkan lebih dingin dari Rania. Tubuhnya terus berjalan hingga menjangkau sofa empuk di ruang tamu apartemen. Ruangan yang terlihat megah dan luas, tapi yang menempatinya hanya seorang lelaki jomblo.
Suara bel terdengar di ruangan itu, menandakan yang ditunggu-tunggu sudah datang.
“Masuklah.” Ucap Rey dari seberang pintu.
Seorang lelaki dengan perawakan tinggi masuk ke ruangan itu. Duduk di sofa menemani tuannya.
“Saya membawa laporan sesuai permintaan Anda Tuan.” Lelaki itu menawarkan perlahan.
__ADS_1
“Bagus. Tunjukkan padaku semua kelicikan wanita itu.” Menyodorkan segelas air minum dingin untuk lelaki itu juga, “Minumlah dulu, agar tenggorokanmu tidak kering ketika melihat kemarahanku.” Lanjutnya memerintah.
Ajudannya meraih gelas dengan tergesa-gesa, meneguknya cepat hingga habis. Nyaris tenggorokannya tersendat.
Tak lama, sebuah map besar keluar dari ransel yang dibawanya, “Ini adalah semua bukti, Tuan. Ada alamat rumah dan kegiatan sehari-hari Nona Alina juga di sini.” Ucapnya sambil mengarahkan sebuah foto di depan wajah Rey.
“Apa kau juga menyadap nomor teleponnya?” Rey bertanya dengan tatapan tajam.
Lelaki itu mengangguk, “Saya juga sudah menyiapkan beberapa hipotesa terkait kapan rencana Nona Alina akan dimulai lagi.” Lelaki itu menunjukkan beberapa panggilan masuk dari hasil sadapannya terhadap nomor Alina.
“Nona Alina itu cerdas Tuan. Dia sepertinya sudah tahu bahwa Tuan Muda akan mempercepat pernikahan dengan calon istrinya….”
“Apa kau masih berani menyebutnya cerdas?!” Rey melemparkan gelas kosong itu hingga membentur tembok dan hancur.
“Glek.” Lelaki itu menelan ludahnya, konsentrasinya mulai buyar.
Mati aku.
Inilah Tuan Rey.
Aku tidak meragukan kenapa semua Staff di perusahaan hingga ajudan-ajudannya yang perkasa segan kepadanya.
“Maafkan saya Tuan.” Ketakutan sudah menggerayangi seluruh tubuh Ajudan itu.
“Lanjutkan!.”
Gemetar tangan lelaki itu meriah kembali berkas di depannya.
“Setelah mengikuti beliau hampir satu bulan. Bisa disimpulkan bahwa rencana mencelakai calon istri Tuan Muda akan terjadi pada hari lamaran.”
Rey masih menatap lekat ajudannya tanpa berkedip.
“Dua hari yang lalu Nona Alina menghubungi nomor ini, dan mengatakan bahwa akan ada darah yang tercecer kali ini.” Lanjutnya sambil memperlihatkan nomor telepon dari panggilan itu.
Rey masih sangat sabar dengan pernyataan mematikan ajudannya itu. Mungkin jika lelaki itu kaca, sudah dihajarnya hingga menjadi serpihan.
Rey menarik nafas dan menghembuskan perlahan, masih berusaha sangat tenang lelaki itu mati-matian mengendalikan emosinya.
“Jemput pengawal dari lembaga sejumlah tiga puluh orang. Bicarakan rencana ini pada mereka.”
__ADS_1
Rey menjelaskan rencana pada Ajudannya dengan sangat detil. Dengan tatapan intens bahkan beberapa kali terlihat tubuh tingginya memeragakan yang harus dilakukan pada hari lamaran Tuan Mudanya dan dijawab anggukan mantap dari ajudannya berkali-kali.
Rencana yang sempurna.