Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Salah Faham Pada Rania


__ADS_3

Tiga hari berlalu dengan mulus, Aarav sedikitpun tidak melewatkan waktu untuk mengingatkan Rania akan jadwal minum obat Wina. Secara rutin lelaki itu menelpon walaupun Wina tidak tahu dan terus mengira telepon itu adalah untuk mengetahui kabar Rania.


Gadis itu sudah terlalu dalam tenggelam. Menganggap bahwa Rania adalah kekasihnya.


“Jaga dia dengan baik Rania, ingat untuk jadwal minum obatnya.” Perintah Aarav dari balik telepon.


Rania hanya mengangguk-angguk, tentu saja dirinya tak akan lupa. Bahkan Ia memasang pengingat di handphone nya, memastikan keadaan calon istri Tuan Mudanya baik-baik saja.


Sore hari..


Kedua gadis itu duduk di balkon apartemen, tampak memandang langit yang memancarkan semburat indah senja. beberapa waktu lalu Rania muncul dari arah dapur, membawakan dua gelas teh yang masih hangat.


“Minumlah, kakak.” Ucapnya sambil meletakkan gelas berisi teh di meja.


“Terimakasih.” Wina tersenyum pelan.


Berlalu lima menit, tak ada suara lisan yang terbuka untuk memulai pembicaraan. Rania juga tampak masih mengatupkan lisannya.


Sudah menginjak pekan ke dua Wina mengenal gadis itu. Biasanya ketika sudah akrab, wanita itu sama saja bukan, minimal sering cengengesan pada lawan bicaranya.


Tapi sepertinya itu tak berlaku dalam kehidupan Rania. Hingga hari ketiga Wina berada di rumahnya, tapi nada bicara Rania tetap sama, tegas dan jelas. Nyaris tak pernah ada tawa yang menyembul dari balik bibirnya, paling final juga hanya senyum lebar yang memperlihatkan gigi rapi nya.


“Rania.” Duluan membuka percakapan.


Nyaris mati aku jika menunggu gadis ini duluan yang membuka mulutnya.


Entah apa yang ada difikirannya,.


Mungkin tanpa kusuruh dia bisa satu jam tidak bicara.


Seperti biasa panggilan itu tak terbalas suara. Hanya ada Rania yang mengalihkan pandangannya ke arah Wina. Menatap lekat.


“Kenapa kau sangat baik padaku?”, ini adalah mode serius. Bahkan tawa settingan tak terlihat di bibir Wina.


Masih tak ada jawaban, hanya kesunyian dan hembusan angin bersamaan senja yang terasa menabrak kulit.


“Rania, sejujurnya aku sangat bingung apa yang membuat keluargaku terlihat begitu terikat pada Aarav dan dirimu. Aku mencoba mencari jawabannya dari Ibu hari itu, tapi nihil. Di sana aku mulai mengerti bahwa mungkin belum saatnya untuk mengetahui. Jadi setidaknya beritahu aku kenapa kau begitu baik padaku.” Lirih suara gadis itu menjelaskan, nada bicaranya bahkan tak tersendat.


“Kau bahkan sudah menyediakan banyak baju di dalam lemari kamarku.” Lanjut Wina.


“Karena kak Aarav memintaku untuk menjagamu.”


Hanya itu jawaban yang keluar dari lisan Rania setelah segudang kata-kata Wina membombardir telinganya.


Karena kau adalah cinta kakakku, Aarav.


Bagaimana caraku menjelaskannya padamu.


“Apa Aarav adalah lelaki yang baik?”, gadis itu bertanya lagi karena penasaran. Walaupun ketakutan menyelimuti hatinya. Takut Rania tersinggung.


Mati sudah, kenapa mulut kurang ajar ini bertanya.


Habislah aku jika dia marah dengan pertanyaan pribadiku ini.


Rania menghela nafas perlahan, sorot matanya masih lekat pada semburat keemasan di ujung langit. Menandakan senja sudah menua dan malam siap menggantikan.

__ADS_1


“Kakak.” Menyeret pandangannya ke arah Wina.


“Kak Aarav adalah lelaki hebat dan penuh tanggung jawab yang pernah kukenal di dunia ini. Dia dan kakakku ibarat serpihan berlian di tengah banyaknya batu.”


Kembali diam setelah memberi sedikit penjelasan. Yah, penjelasan yang ditahan, karena waktu penyamaran masih belum selesai.


Aku adalah hasil didikan tiga lelaki hebat, Nona.


Hanya ada tiga berlian yang tampak di mataku.


Tuan Besar, Tuan Muda dan Kak Rey.


Melihat Rania yang terdiam, Wina buru-buru mengalihkan pembicaraan.


“Haha, Rania sebenarnya aku kurang faham dengan apa yang kau sampaikan.”


Haha, tentu saja.


Jika kau kuberitahu sampai faham, habislah kepalaku dipenggal Tuan Muda.


“Ah, mari sudahi cerita dramatis yang sama sekali tidak kumengerti ini. Sekarang katakan bagaimana bisa kau menjadi gadis yang kaku begini? Haha.” Menyikut lengan gadis itu.


“Aku bersekolah di lembaga khusus selama delapan tahun. Di sana kami diajarkan ilmu dasar bela diri sampai ke tingkat professional. Tidak ada waktu untukku keluar dari sana hingga kepulanganku ke tanah air.”


“Benarkah? Bela diri?”


“Iya Kakak.”


Sial, jika aku tahu lebih awal.


Kemampuan bela diriku pasti tak akan sia-sia.


Bodoh.


Lagi-lagi mulutku berucap di luar kendali.


Rania yang ditanya, nyaris mengembangkan senyum bahagia ketika nama Tuan Mudanya disebut.


Katakan. Katakan Nona.


Katakan kalau kau menyukai Tuan Muda.


Setidaknya perlihatkan padaku pipi merah malumu yang seperti udah goreng itu.


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Kak Aarav punya pendidikan sendiri. Selain itu, dia juga sedang menyiapkan diri.” Ucap Rania datar.


Wina mengernyitkan dahi, sebelum penjelasan Rania yang membombardir dirinya terucap.


“Mempersiapkan diri untuk menjemput calon istrinya.”


Ayo, terpancing lah Nona.

__ADS_1


Minimal kau bertanya siapa gadisnya.


Ayo cepat katakan Nona. -Rania


Apa, tidak.


Jadi lelaki itu sudah punya calon istri.


Habislah, jika wanita itu adalah Rania.


Tapi kenapa dia melakukan semua itu padaku kemarin, mengecup keningku seolah aku adalah miliknya. -Wina


Ada sedikit rasa nyeri di hati gadis itu, tapi lebih banyak merasa senang karena dia akhirnya tahu lebih awal. Kejadian di rumah sakit masih terpampang jelas di benaknya. Bagaimana perilaku Aarav yang spontan mengecup keningnya.


Entah siapa yang dimaksud Rania. Tapi ketidakberanian untuk bertanya siapa calon istri Tuan Muda sudah menyelimuti diri Wina. Membuat dirinya terpaksa harus menutup pembicaraan yang menyinggung ke arah Aarav.


Hingga malam mulai menyapa seisi bumi. Memperlihatkan cahaya gelapnya yang menyelimuti. Bodoh sekali ketika harus salah faham kalau Rania lah gadis yang dimaksudkan menjadi calon istri.


Lelaki itu bertindak seenaknya kepadaku.


Sementara gadis di depanku ini sudah sangat cantik untuk bisa disebut dengan calon istrinya.


Lagi pula kenapa harus aku yang dikecup keningnya.


Pertanyaan yang terus menghantui Wina hingga lelap menyapanya. Meninggalkan Rania yang entah dalam perbincangan rahasia.


***


Di ruang utama apartemen mewah itu, Rania berdiri memandang ke arah jalanan kota dari balik jendela. Matanya menyapu seluruh pemandangan yang bisa dilihat ketika malam tiba.


“Drrttt” Hp yang ditaruhnya di meja bergetar.


Senyum mengembang dari balik bibir mungilnya, “Halo, Kakak.”


“Besok aku akan pulang. Persiapkanlah dengan baik penyambutan kakakmu ini.” Suara di seberang menimpali.


“Apa Tuan Muda sudah dikabari?”


“Kita akan ke Mansion Tuan Muda dulu, sebelum pulang ke apartemen sementara itu.”


“Baiklah, kakak.”


Rania mengulum senyum. Kebahagiaan membuncah dalam hatinya, setelah dua tahun tidak melihat rupa lelaki itu. Entah setampan apa dia sekarang, entah seberapa banyak ketampanan itu bersaing dengan milik Tuan Mudanya.


“Rania, pernikahan tidak bisa lebih lama ditunda. Karena itulah aku pulang menemui kalian keluargaku.”


Rania mengernyitkan dahi, keheranan.


Bukankah kau pulang karena sudah lama tak berjumpa dengan kami.


Apakah akan nada bahaya setelah ini.


“Aku akan menjaga keluarga kita dengan baik, Kakak.”


“Termasuk Calon Istri Tuan Muda. Kau harus menjaga wanita berharga itu.”

__ADS_1


“Baik, Kakak.”


Sambungan telepon terputus, meninggalkan perasaan campur baur dalam hati gadis itu. Tapi besok akan menjadi pertemuan setelah terpisah lama, semoga akan ada kebahagiaan yang bisa dipanen lagi bersama keluarga yang lengkap.


__ADS_2