
Sejak pagi hujan deras mengguyur Kota Jakarta. Suasana yang biasa panas mendadak dingin menggigil. Namun, aktivitas penduduknya tidak surut. Jalanan tetap padat, bahkan sampai macet. Padahal, sekarang akhir pekan.
Di antara banyaknya kendaraan yang berpacu dengan waktu, ada salah satunya Honda Civic milik Reyvan. Dia punya rencana untuk mendatangi seseorang, yang tak bisa ditunda besok atau lusa.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Reyvan tiba di tempat tujuan—rumah minimalis dengan dominan warna putih—rumah Tom Linzy.
Reyvan keluar mobil dan memakai payung guna menghalau hujan, lantas mendekati pintu gerbang dan memencet bel.
Tak lama kemudian, seorang gadis remaja datang dan menyambut Reyvan.
"Anda mencari siapa, Tuan?"
"Tuan Linzy. Apakah beliau ada?" tanya Reyvan.
"Oh, mari silakan masuk! Papa ada di dalam." Gadis itu tersenyum ramah.
"Terima kasih."
Reyvan mengikuti langkah sang gadis dan masuk ke rumah Tom Linzy. Dia menunggu di ruang tamu, sementara si gadis memanggil ayahnya.
Beberapa saat kemudian, pria dewasa yang pernah terlibat kerja sama dengannya datang dan menyalami.
"Apa kabar, Tuan Rey?" sapa Tommy.
"Baik." Reyvan menjawab singkat.
"Apa gerangan yang membawa Anda kemari? Sepertinya ... bukan silaturahmi biasa," tebak Tommy.
"Anda dibayar berapa untuk mencampuri bisnis saya?" tanya Reyvan tanpa basa-basi.
Tommy gelagapan, " Apa maksud Anda? Saya ... saya tidak mengerti."
"Kau orangnya Maverick Shane, kan?" Reyvan menatap tajam.
Tommy menunduk dan menghindari tatapan Reyvan yang mematikan. Meski umur Reyvan jauh di bawahnya, tetapi wibawa dan kharisma jauh di atasnya.
"Anda dibayar berapa?" Reyvan kembali bertanya.
"Maaf, Tuan Rey. Saya___"
__ADS_1
"Beri tahu saya siapa saja yang menjadi pionnya! Saya juga sanggup membayar Anda seperti dia, bahkan juga lebih. Tergantung sebanyak apa informasi yang Anda berikan," pungkas Reyvan.
"Saya tidak tahu, Tuan Rey. Setelah proyek Royal Garden berakhir, saya tidak pernah berhubungan lagi dengan beliau," jawab Tommy.
"Omong kosong!"
"Saya___"
"Meski tidak sehebat dia, tapi saya cukup mampu menghancurkan bisnis Anda! Ingat, Anda hanya pion, sewaktu-waktu bisa dibuang. Anda tidak berpikir dia akan selalu menolong Anda, kan?" Lagi-lagi Reyvan memotong ucapan Tommy.
"Saya paham."
"Jika paham, saya sarankan jangan membangkitkan emosi saya. Saya tidak pernah bermain-main dengan ucapan. Camkan itu, Tuan!" kata Reyvan.
"Tapi ... saya benar-benar tidak tahu, Tuan Rey. Saya hanya menjalankan perintahnya terkait proyek Royal Garden, sedangkan yang lain saya sama sekali tidak ikut campur," jawab Tommy.
Mungkin, ucapan Tommy memang benar adanya. Akan tetapi, Reyvan terus menyangkal. Sebenarnya, bukan karena tak percaya, melainkan tak menemukan celah lagi untuk mendeteksi pion-pion Mavericks yang ada di sekitarnya. Sejauh ini, yang dia harapkan hanya Tommy.
"Saya berani bersumpah, memang tidak tahu proyek mana saja yang ada campur tangannya Tuan Maverick." Tommy kembali bicara, tetapi Reyvan hanya mendengkus kesal.
"Tapi ... saya tahu tentang seseorang yang dekat dengan Tuan Maverick, yang saat ini juga ada di dekat Anda. Dia bekerja di kantor Anda," sambung Tomny.
"Siapa? Cepat katakan siapa dia!" tanyanya dengan cepat.
"Dia___"
"Tuan Linzy, saya tidak suka berbasa-basi. Cepat katakan siapa dia!" kata Reyvan dengan tegas. Dia kesal karena Tommy diam cukup lama.
"Zara. Saya pernah melihat dia naik mobil bersama Tuan Maverick. Saya yakin, hubungan mereka bukan sekedar kenal."
Jawaban Tommy membuat Reyvan tersentak. Zara, karyawan yang sering dia puji karena prestasinya yang gemilang. Namun, siapa sangka dia justru berhubungan dengan Maverick—seorang lelaki yang kini menjadi rival terberatnya.
"Zara?" gumam Reyvan.
"Benar, Tuan Rey." Tommy mengangguk. "Tapi, saya tidak tahu mereka dekat dalam hal bisnis atau hal pribadi," sambungnya.
Mata Reyvan memicing, membayangkan sosok Zara yang selama ini terlihat lugu dan sederhana.
"Sebagai atasan, aku sudah memberikan yang terbaik. Jika kamu berani berkhianat, tunggu dan lihat bagaimana aku akan membereskanmu. Tak peduli meski kamu wanita, sekali salah tetap salah," ucap Reyvan dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan informasi yang cukup berguna, Reyvan pamit dan meninggalkan kediaman Tommy. Dia kembali melajukan mobil di bawah guyuran hujan.
Sambil mengemudi, Reyvan menyempatkan diri menghubungi Izal.
"Hallo, Tuan Rey," sapa Izal dari seberang sana.
"Sampaikan pada Zara, suruh menemuiku besok pagi," ucap Reyvan tanpa basa-basi.
"Besok ada jadwal pertemuan dengan klien terkait hunian di Royal Garden. Zara sendiri yang akan datang ke sana, Tuan," kata Izal.
Reyvan memegangi pelipisnya. Sebagai lelaki yang selalu mengedepankan logika, mustahil menyuruh Zara menunda atau membatalkan pertemuan itu, terlebih hanya untuk kepentingan pribadi.
"Baiklah. Setelah beres dengan klien, suruh menemuiku secepatnya," ujar Reyvan beberapa saat kemudian.
"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan padanya."
Usai mendengar kesanggupan Izal, Reyvan memutus sambungan telepon. Lantas, kembali fokus dengan kemudi.
_________________
Gemericik hujan masih terdengar sama-samar. Namun, hal itu tidak mengusik ketenangan Elle yang sedang membaca buku di kamar Aurora. Bukan novel romantis dengan sejuta kisah manis, atau pula komik fantasi yang berimajinasi tinggi. Buku yang dibaca Elle hanyalah dongeng yang cocok untuk anak-anak.
"Masa kecilku tidak pernah membaca dongeng, ternyata ... cukup menarik," gumam Elle.
Sebagai putri tunggal seorang konglomerat, kehidupannya dituntut banyak hal. Dia diwajibkan berprestasi dan multi talenta. Setiap detik dalam harinya, hanya dihabiskan dengan belajar. Baik belajar pengetahuan, maupun keterampilan.
Pernah suatu ketika, Elle merasa lelah dan berpikir lebih mudah menjadi orang biasa. Namun, ayahnya selalu menegaskan bahwa itu sangat berguna untuk masa depan.
"Tapi ... jika aku menghabiskan waktu dengan membaca dongeng, bagaimana bisa aku melewati masa-masa sulit. Mungkin ... aku hanya akan menjadi beban untuk Mama," sambung Elle.
Pikirannya menerawang ke masa lalu, ketika keluarganya kehilangan predikat konglomerat. Dia dan orang tuanya terpaksa meninggalkan Spanyol dan pulang ke tanah kelahiran ibunya—Indonesia.
"Meski hidup kita tidak sebaik dulu, tapi syukuri saja ya, Sayang. Jangan memelihara kebencian, apalagi dendam. Sejahat apa pun mereka, di tubuhnya mengalir darah yang sama dengan kita. Biar Tuhan saja yang mengingatkan dia, kita jangan sampai mengotori tangan dan bersikap kejam sepertinya. Karena jika itu terjadi, kita termasuk dalam golongannya," nasihat Andres kala itu.
Elle mengembuskan napas panjang sambil tersenyum getir. Andres adalah sosok pria yang paling bijak. Meski berkecimpung dalam bisnis yang ketat, tetapi dia tidak pernah curang, apalagi bermain-main dengan nyawa. Dia berjuang dengan kegigihan dan kejujuran. Bahkan, ketika dunia tidak adil pun, Andres tidak pernah menyimpan dendam. Namun sayang, pria sebaik dia dijemput Tuhan lebih awal.
"Elle!"
Bersambung...
__ADS_1