Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Bonus Chapter


__ADS_3

Semburat sinar jingga tampak memesona menghiasi langit Kota Barcelona. Mengiringi sang surya yang seperti tenggelam di ujung lautan lepas, juga berbaur dengan bayang-bayang bangunan yang menjulang tinggi menantang langit.


Sangat indah, dua kata paling tepat untuk melukiskan panorama yang terbentang di sana.


Di atas balkon kamar hotel yang berada di lantai paling atas, Reyvan dan Elle menikmati keindahan tersebut. Bukan hanya berdua, melainkan berempat—bersama kedua anaknya.


Sepuluh tahun menikah, Reyvan dan Elle dianugerahi dua buah hati. Yang sulung bernama Dylan Arkatama, bocah tampan dengan mata biru terang dan rambut cokelat terang, yang kini menginjak usia 8 tahun. Sedangkan yang bungsu bernama Dayana Arkatama, bocah cantik dan imut khas Asia. Dia berbeda dengan Dylan, lebih menyerupai wajah Reyvan. Saat ini usianya sudah menginjak 5 tahun.


"Mom, itu yang kita datangi tadi, kan?" tanya Dayana sembari menunjuk pantai yang ada di sebelah kiri hotel. La Barceloneta, destinasi wisata yang mereka kunjungi dalam liburan kali ini.


"Iya, tempat kamu nangis." Dylan menyahut tanpa menoleh.


Meski soal wajah serupa dengan Elle, tetapi masalah sifat sangat mirip dengan Reyvan. Cuek, dingin, dan tidak banyak bicara.


"Mom, Kak Dylan nakal." Dayana mengadu dengan bibir yang manyun.


Ucapan Dylan yang terkadang sarkas, tak jarang membuat Dayana jengkel, bahkan seringkali sampai menangis.


"Tukang ngadu," sahut Dylan, masih tanpa menoleh. Dia tetap asyik memandangi sunset sambil menikmati churros—jajanan khas Spanyol.


"Mom!" teriak Dayana dengan mata yang berkaca-kaca. Itu pun Dylan masih tak acuh.


"Dylan, udah," kata Reyvan sembari mengusap lembut puncak kepala putranya. Sementara Elle, langsung memangku Dayana dan menghiburnya agar tidak menangis.


Ya, seperti itulah Dylan dan Dayana. Dylan seringkali menggoda adiknya dan membuatnya menangis. Namun, dia akan sangat marah jika ada anak lain yang mengganggu adiknya. Entah deskripsi sayang macam apa yang dimiliki Dylan.


Seperti halnya sekarang. Setelah membuat Dayana hampir menangis, dia kembali menunjukkan kepeduliannya. Ia sodorkan segelas leche merengada untuk Dayana. Minuman khas Spanyol yang dibuat dari su-su, kayu manis, gula pasir, kulit lemon, dan putih telur. Meski rasanya berbeda jauh dengan su-su khas Indonesia, tetapi Dayana cukup menyukainya.

__ADS_1


"Makasih, Kak Dylan," ucap Dayana sambil memamerkan gigi putihnya.


"Hmm," sahut Dylan.


Elle dan Reyvan geleng-geleng kepala. Melihat tingkah anak sulungnya, kadang mereka sampai tak habis pikir.


Kendati demikian, mereka menikmati sunset tersebut dengan bahagia. Banyak canda dan tawa yang mewarnai suasana. Sampai sunset benar-benar dan menyisakan langit malam, mereka berempat masih asyik berdiam diri di balkon kamar.


Barulah ketika jarum jam menunjukkan angka sebelas, Reyvan dan Elle mengajak anak-anaknya beranjak, membimbing mereka masuk ke kamar dan bersiap tidur. Seperti biasa, Dylan memilih tidur sendiri, sedangkan Dayana bersama Elle.


Sekitar satu jam berlalu, kedua anak itu sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing. Elle pun beranjak dan mendekati Reyvan yang kala itu duduk di sofa, sengaja menunggu sang istri selesai menidurkan Dayana.


"Duduklah!" ucap Reyvan sambil menarik tangan Elle dan membawanya ke pangkuan.


"Hei!" teriak Elle, sedikit terkejut dengan perlakuan Reyvan.


"Aku kangen. Tiga hari ini kita hanya sibuk menjelajah tempat wisata, sampai tidak ada waktu untuk berduaan."


"Andai itu pantas, aku akan menjawab iya," jawab Reyvan, yang lantas membuat Elle tersipu malu. Dalam diri mereka, usia tidak menyusutkan cinta. Tetap membara, persis seperti masa pacaran dulu.


"Anak-anak sudah tidur, kita berduaan di luar saja yuk!" ajak Elle, dan Reyvan pun langsung setuju.


Keduanya berjalan beriringan menuju balkon. Sesampainya di sana, Elle kembali duduk di pangkuan Reyvan.


Keduanya menikmati keindahan lampu kota yang seperti pantulan bintang di angkasa. Mereka juga saling memeluk dan menggenggam, guna mengiringi semilir angin yang sedikit dingin.


Sampai kemudian, Elle mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di bibir Reyvan.

__ADS_1


"Merokoklah!" ucapnya seraya meraih korek yang ada di dekat sana.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya rindu dengan nafasmu yang bau rokok." Elle pun memantik korek dan menyulut ujung rokok yang ada di bibir Reyvan.


Melihat itu, Reyvan tersenyum lebar. Termasuk keberuntungan karena wanitanya malah menyukai kebiasannya, sementara di luar sana banyak lelaki yang terpaksa berhenti karena wanitanya menolak kebiasaan itu.


"Kenapa malah nafas bau rokok yang membuatmu rindu?" tanya Reyvan sambil mengepulkan asap rokok di dekat wajah Elle.


"Karena___" Elle mendekatkan bibirnya di telinga Reyvan, "Lebih hot," sambungnya.


Dua kata yang terdengar biasa, tetapi sukses memancing hasrat Reyvan.


"Sayang, kamu tahu apa yang akan terjadi karena bicara seperti itu?" jawab Reyvan juga dengan bisikan. Napasnya yang berbau nikotin menyapu wajah Elle yang kini sudah merona.


"Tahu, tapi aku tidak takut."


"Kamu menantangku, Sayang?"


"Mungkin." Elle menjawab sambil mengulum senyum manis.


Namun, senyuman itu tak berlangsung lama, karena detik selanjutnya sudah berada dalam ******* Reyvan.


*Sunset di Barcelona pukul 20.30 waktu setempat.


_____________

__ADS_1


Hutang bonus chapter-nya sudah clear ya. Happy reading🥰🥰🥰 Thank you banyak-banyak untuk kakak pembaca semua😘😘😘


Abis ini izin promo novel baru ya.


__ADS_2