
Sementara itu, Elle terus berpikir keras. Dia memikirkan kehidupan Aurora dan juga Maverick, sangat kelam. Bahkan, Elle tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka kelak. Maverick yang terus sendiri, lalu Aurora yang entah bisa dewasa atau tidak.
"Kehidupan mereka sangat miris. Jauh lebih miris dari apa yang pernah kualami di masa lalu. Sangat mengejutkan, seorang pria setegas Maverick ternyata punya sisi yang sekelam itu," batin Elle.
Elle menunduk dan menatap jemari kaki yang sengaja dimasukkan dalam air kolam. Banyak hal yang sekarang berkecamuk dalam pikiran. Tentang Maverick, tentang Reyvan, dan juga tentang dirinya.
"Semoga suatu saat nanti ada hal baik yang terjadi dalam hubungan kami. Aku harap ada jalan untukku pergi dan kembali pada Reyvan. Kuharap juga ... Erick dan Aurora selalu bahagia," batin Elle.
Saking fokusnya dengan pikiran sendiri, Elle sampai tak sadar dengan tatapan Maverick yang cukup dalam. Sembari memegangi pelampung yang dinaiki Aurora, Maverick tak melepaskan dari sang istri. Pria itu tahu Elle sedang memikirkan sesuatu, dan sedikit banyak ia menebak itu bukan tentang dirinya.
"Kau sudah punya pujaan hati yang sesempurna Reyvan, mana mungkin sempat memikirkan aku. Elle ... kau pantas bahagia," batin Maverick dengan perasaan yang tak menentu.
Entahlah!
Dari waktu ke waktu ia makin canggung dengan perasaannya. Kehadiran Elle mirip seperti kehadiran Devara pada masanya. Hanya saja, dulu dia bebas membiarkan perasaan itu tumbuh dengan baik. Namun, tidak untuk sekarang. Maverick terus berusaha menepis perasaannya. Selain tidak ingin mengkhianati Devara, dia juga tidak ingin mengekang Elle dalam keegoisannya.
"Aku harus sadar diri! Masih baik hanya kejantanan yang tidak berfungsi, bukan jantung atau nadi yang berhenti berdenyut. Masih baik juga, Tuhan sudah memberiku kesempatan untuk membalas mereka." Maverick membatin sambil memicing.
Dia kembali teringat dengan kejadian beberapa tahun silam. Dirinya dihadapkan pada kenyataan yang amat sangat pahit, dua orang yang sebelumnya dianggap sebagai orang tua, yang senantiasa disayangi dan dihormati, ternyata hanyalah musuh yang pengecut.
"Daddy, ayo ke tempat Mommy!" kata Aurora menyadarkan Maverick dari lamunan masa lalunya.
"Ayo, Sayang." Maverick tersenyum tulus.
____________
Setelah berbincang banyak perihal keadaan Maverick, kini Elle lebih banyak tersenyum. Meski di satu sisi merasa miris, tetapi di sisi lain dia juga lega. Dia tak takut lagi Maverick akan meminta hal lebih. Hubungan intim itu tidak akan pernah terjadi.
"Aku bisa menjaganya secara utuh untuk Reyvan. Ah, semoga suatu saat keberuntungan benar-benar berpihak, jadi aku dan Reyvan bisa bersama dalam ikatan halal," batin Elle dengan senyum yang tetap terkulum.
"Mom, kita sudah sampai," kata Aurora membuyarkan lamunan Elle.
"Kamu seneng?" Elle menatap Aurora sambil mengusap pipinya.
__ADS_1
"Iya, Mom." Aurora tersenyum lebar.
Di sampingnya, Elle dan Maverick turut tersenyum. Kebahagiaan Aurora adalah prioritas mereka.
Tak lama kemudian, mereka turun dari mobil dan melangkah bersama memasuki pusat perbelanjaan. Aurora berjalan di tengah, sedangkan Maverick dan Elle berjalan di samping sambil menggandeng tangan Aurora. Senyum ceria terus terpancar di wajah ketiganya. Tampak sekali seperti keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
"Mom, aku mau itu!" teriak Aurora seraya menunjuk marshmallow yang dipajang dalam rak.
"Boleh. Kita ke sana yuk!" jawab Elle.
"Aku duluan!" Aurora berteriak sembari berlari. Lalu berhenti di depan rak dan mengambil tiga buah marshmallow. "Yeee, aku menang," ucapnya dengan girang.
"Aurora curang, Mommy dan Daddy belum siap loh," goda Maverick sambil mencubit gemas pipi Aurora.
"Yang penting menang. Iya kan, Mom?" Aurora menatap Elle.
"Iya, Sayang." Elle tersenyum seraya membungkuk, menjajari tubuh Aurora yang hanya sebatas perut. "Mmm, karena Aurora sudah menang, Mommy punya satu hadiah buat kamu," sambungnya.
"Iya dong, Sayang. Mau tahu nggak hadiahnya apa?" tanya Elle.
"Mau mau mau," jawab Aurora dengan antusias.
Elle tertawa renyah sebelum menjawab pertanyaan Aurora. Meski bocah itu bukan anak kandungnya, tetapi Elle dapat merasakan kehangatan yang menjalar indah dalam hatinya. Di sisi lain, Maverick turut bahagia melihat kedekatan mereka. Walau kehadiran Elle membuatnya terjebak dalam luka, tetapi setidaknya ia bisa membahagiakan putri kecilnya.
"Mom!" panggil Aurora.
"Mommy ... mau kasih satu boneka buat Aurora. Nanti, kamu pilih sendiri, mau yang kecil apa besar, bebas."
Usai mendengar penjelasan Elle, Aurora bersorak sambil melompat-lompat. Saking girangnya, dia sampai tidak sadar kalau ujung bungkus marshmallow mengenai mata Elle.
"Ahh," desis Elle. Dia berdiri tegak sambil memegangi matanya yang perih.
"Mommy!"
__ADS_1
"Devara!"
Maverick dan Aurora berteriak dalam detik yang sama. Aurora dengan ketakutannya, sedangkan Maverick dengan kekhawatirannya.
"Maaf, Mom. Aku nggak sengaja." Mata Aurora berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mommy hanya kaget," ucap Elle menenangkan Aurora.
"Sini, aku bantu tiup," kata Maverick seraya mendekat.
Karena matanya memang perih, Elle tidak menolak tawaran Maverick. Dia mengangguk dan membantu Maverick mengikis jarak. Ketika wajah keduanya hampir berimpitan, napas mereka saling berbaur dan menghangat di kulit masing-masing.
Elle tak masalah dengan hal itu. Namun, berbeda dengan Maverick. Detak jantung Maverick mendadak tak karuan, terlebih saat jemarinya menyentuh pipi mulus Elle. Gerakan Maverick sempat terhenti ketika menatap bayangannya di mata biru Elle yang sedikit memerah. Meski tahu itu egois, tetapi Maverick tak bisa mengendalikan perasaan. Cinta, ia benar-benar tumbuh dan mulai merekah dalam hatinya.
"Mas!" panggil Elle.
"Ehmm ... maaf." Maverick gugup dan salah tingkah.
Menanggapi sikap Maverick, Elle malah tersenyum lebar. Pikirnya, pria itu terlalu khawatir karena yang melukai adalah Aurora. Elle tak sedikit pun memikirkan hal lain, termasuk perasaan.
Maverick dan Elle terlalu fokus dengan aktivitasnya sendiri, sampai tak sadar jika di kejauhan sana ada sepasang mata yang menatap geram.
Pemilik pasang mata yang tak lain adalah Reyvan, terus memicing dan mengepal. Dia sangat benci dengan pemandangan yang tertangkap matanya. Bagaimana tidak, Elle adalah satu-satunya wanita yang bertakhta di ruang hati. Belum lama wanita itu menemuinya dan menjanjikan kasih di kemudian hari. Namun, kini dia dan Maverick beradegan mesra, layaknya dua insan yang saling mencinta.
"Kamu penuh dusta, Elle," rutuk Reyvan dalam hatinya.
Lantas, dia berbalik pergi dan kembali pada tujuan awal—belanja untuk keperluan esok hari. Sebisa mungkin Reyvan menepis jauh rasa cemburu. Dia tak ingin bodoh dan terpuruk hanya karena cinta yang tak masuk akal.
"Semoga kamu tidak menyesali semua ini, Elle," batin Reyvan.
Matanya memicing seiring langkahnya yang menjauhi Maverick dan Elle. Tidak ada lagi yang dia harapkan dari mantannya itu. Baginya, hanya sebatas kenangan manis yang tertutup luka. Namun, ke depannya entah benar-benar mampu atau tidak ia melupakan wanita itu.
Bersambung....
__ADS_1