
Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 malam, tetapi Reyvan dan Elle sudah menyelinap keluar dari kerumunan tamu undangan. Bahkan, mereka meninggalkan Azriel dan Ricko, yang notabennya adalah sahabat dekat Reyvan.
Dengan alasan lelah, keduanya masuk ke kamar Reyvan, yang sekarang sudah disulap menjadi kamar pengantin. Melihat hal itu, Kaivan dan Keenan hanya geleng-geleng kepala. Sebucin-bucinnya dulu dengan sang istri, mereka masih menunggu tamu bubar untuk masuk ke kamar.
Namun, Reyvan tak peduli dengan semua itu. Ia memang lelah dan bosan. Sejak tadi dituntut tersenyum dan mengucap terima kasih, ah entah sudah berapa kali dia melakukannya. Sampai bibirnya terasa kebas, dan ciuman Elle-lah yang bisa menyembuhkannya.
"Waw, luar biasa," puji Elle ketika sudah memasuki kamar Reyvan.
Ia disambut dengan aroma khas melati yang berbaur dengan wangi mawar. Matanya juga dimanjakan dengan dekorasi yang romantis. Ranjang besar dengan hiasan kelambu berenda dan manik-manik yang berkilauan, lengkap dengan kelopak mawar merah yang bertaburan di atas sprei putih.
Tak hanya itu, di sudut ruangan sana terdapat meja kaca dan sepasang kursi yang ditata berhadapan. Sudah dilengkapi dengan makanan dan minuman, serta lilin-lilin kecil dan beberapa tangkai mawar putih sebagai pemanis.
Dengan anggun Elle melangkah ke sana. Bunyi ketukan high heels-nya menggema dan terdengar menggoda di telinga Reyvan. Aneh, tetapi itulah kenyataannya.
"Mawar ini ... mengingatkanku pada malam itu." Elle mengambil setangkai mawar sambil memejam dan menarik napas panjang. "Malam di mana aku mematahkan harapanmu," lanjutnya.
Di belakang Elle, Reyvan tersenyum lebar. Dia pun teringat jelas dengan malam itu. Lamaran yang ia persiapkan sedemikian rupa, gagal total karena Elle menolaknya. Namun, itu hanya masa lalu. Luka dan sakitnya sudah terbayar lunas dengan hari ini. Mungkin, memang itulah rencana Tuhan, agar ke depannya mereka menghargai arti memiliki, karena selama ini sudah belajar banyak akan arti kehilangan.
"Sayang!" Reyvan melangkah lebih dekat, kemudian memeluk pinggang Elle dari belakang, sangat erat. Bahkan, aroma tubuh wanita itu menyeruak tajam di hidungnya. Ha-srat Reyvan pun makin bangkit dibuatnya.
__ADS_1
Sementara itu, Elle kembali membuka mata. Dengan mawar yang tergenggam di tangannya, ia menyandarkan kepala di dada Reyvan. Lalu, menoleh dan sedikit mendongak hingga pandangannya bertumpu pada sang suami.
"Luka dan derita yang pernah kita rasakan, sudah tergantikan dengan hari ini, Sayang. Jadi, kita tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Semua hal yang sudah digariskan adalah yang terindah untuk kita," bisik Reyvan tepat di dekat wajah Elle, hingga napasnya terasa menghangat. Elle tersipu malu merasakan itu.
"Iya, kamu benar." Elle tersenyum tipis.
Kemudian, langsung membalikkan badan tanpa menunggu tanggapan Reyvan. Kini, keduanya saling berhadapan dengan tangan yang saling merangkul erat. Reyvan masih setia dengan diamnya. Ia cukup betah menatap sepasang mata biru bening, yang sekian waktu menjadi acuan rindu.
"Sekarang ... aku teringat dalam malam lain. Malam yang mungkin menjadi titik tertinggi atas pengakuanku dalam mencintaimu," sambung Elle.
"Malam kapan itu?" tanya Reyvan, belum paham ke mana arah pembicaraan Elle.
Dengan kepala yang sedikit tertunduk, Elle kembali berucap, "Aku pernah menawarkan kesucian karena tidak rela jika itu diambil orang lain. Aku menjatuhkan harga diri di hadapanmu, dan semua itu semata-mata karena cinta, yang sampai saat ini tidak kupahami seberapa besarnya. Tapi ... jatah mantan yang kamu tolak, pada akhirnya tetap menjadi milikmu, Sayang."
Mendengar itu, Reyvan tersenyum. Kemudian, meraih dagu Elle dan membimbingnya untuk mendongak. Dengan tatapan yang masih sama lekat, Reyvan kembali berbisik, "Kamu salah, Sayang. Malam itu, malam ini, dan malam-malam nanti aku tidak akan pernah mengambil jatah mantan darimu."
Elle terkesiap. Apa gerangan maksud Reyvan? Apakah itu artinya dia tidak akan menyentuhnya, sama seperti Maverick? Apa mungkin dirinya memang ditakdirkan tetap perawan sampai mati?
Memikirkan hal itu, mata Elle sedikit berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jatah mantan adalah hubungan antara dua orang yang sudah terpisah, yang mana salah satu di antaranya akan menikah. Sampai kapanpun aku memang tidak mau hubungan seperti itu. Aku mencintaimu, jadi akan akan memilikimu dengan ikatan suci yang disaksikan dengan nama Tuhan. Seperti sekarang. Dan untuk ke depannya, aku tidak ingin mengubah status kita menjadi mantan. Selamanya, kamulah satu-satunya istriku," ucap Reyvan dengan sungguh-sungguh, yang sontak membuat mata Elle berbinar. Rupanya ia barusan hanya salah paham.
Melihat senyuman di wajah Elle, Reyvan tak segan menangkup pipinya dan mencium bibirnya cukup lama. Elle pun membalas mesra ciuman itu. Sampai akhirnya, Reyvan yang lebih dulu menyudahi.
"Sekarang, tunjukkan padaku keagresifanmu malam itu! Hari ini ... aku memilih mode pasrah." Usai berucap demikian, Reyvan melepaskan pelukan dan melangkah mundur menjauhi Elle.
"Tapi___"
Reyvan tak memedulikan ucapan Elle. Dia terus mundur sampai tiba di ranjang. Ia pun merebahkan diri di sana, melepas jas dan satu per satu kancing kemeja yang masih melekat di tubuhnya.
Elle menggigit bibirnya sendiri. Tingkah Reyvan kali ini benar-benar menggoda, hingga Elle masa bodoh dengan rasa malu. Ya, tak dipungkiri, sejak tadi siang dia memang menginginkan tubuh suaminya itu.
Perlahan, Elle melangkah menyusul Reyvan. Tatapannya tak lepas dari dada bidang yang kini tak tertutup benang. Ahh, sangat menggiurkan.
"Come on, Baby!" Reyvan mengulurkan tangan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Luluh lantak sudah pertahanan Elle.
Bersambung...
__ADS_1