Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Permintaan Maverick


__ADS_3

Kinan mendadak salah tingkah. Ucapan dan tatapan Maverick sedikit berubah. Meski tak bisa memahami rinci apa maksudnya, tetapi Kinan merasa kurang nyaman dengan itu. Seperti ada maksud lain yang tidak sesederhana kelihatannya.


"Aku tertarik dengan apa yang kau katakan barusan. Membantu anak-anak jalanan ... sepertinya aku sudah menyia-nyiakan banyak waktu. Menutup mata atas kondisi yang miris, dan sayangnya cukup banyak terjadi. Kurasa ... belum terlambat jika memulainya sekarang. Dan kau ... aku ingin kau ikut ambil peran." Maverick kembali bicara tanpa mengalihkan tatapannya, tetap tertuju pada Kinan.


"Maksud Tuan?"


Maverick membuang napas kasar, "Kau masih ingin bekerja di sini, kan?"


Kinan mengangguk.


"Sekarang pekerjaan utamamu bukan bersih-bersih atau merawat rumah ini, tapi ... membawa anak-anak jalanan dan merawatnya di sini. Aku ingin rumah ini ramai dengan canda tawa mereka. Aku ingin memberikan kehidupan yang layak untuk mereka."


Usai mendengar jawaban Maverick, Kinan makin tertegun. Sama sekali tak menduga jika jalan hidup yang ia ceritakan bisa menggugah hati Maverick untuk mengadopsi anak-anak itu. Anak-anak yang pastinya dekil, kusam, dan kebanyakan buta baca tulis. Maklum, hari-hari mereka sudah habis untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi kesempatan untuk merawat diri, apa lagi sekolah.


"Tuan, Anda serius?" Kinan meyakinkan sekali lagi, takut jikalau tadi Maverick sekadar salah bicara.


"Tentu saja." Maverick tersenyum menawan. "Mulai besok, lakukan seperti yang kukatakan tadi," lanjutnya.


"Baik, Tuan." Dengan sedikit gugup—lebih tepatnya masih tak percaya, Kinan mengangguk.


"Satu lagi, aku tidak membatasi berapa banyak anak-anak yang akan kau ajak. Jika nanti rumah ini full dan tidak cukup lagi untuk menampung mereka, akan kubuatkan tempat tinggal yang baru," ujar Maverick.


"Tuan, Anda serius melakukan ini? Anda ... baik-baik saja?" tanya Kinan dengan hati-hati.

__ADS_1


Maverick tersenyum, sangat menawan, sekilas Kinan sampai kagum dibuatnya.


"Aurora sudah tidak ada, dan aku ingin mencari kebahagiaan lain seperti yang kau ucapkan tempo hari. Dan pilihanku jatuh pada ... anak-anak."


Kinan mangut-mangut meski masih kurang paham dengan jalan pikiran Maverick. Apakah perceraian yang membalikkan pikiran dia? Entahlah. Apa pun yang ada di balik keinginan Maverick kali ini, yang paling penting Kinan harus menurutinya.


_________


Pukul 10.00 pagi waktu Barcelona.


Elle masih setia menemani Reyvan di sana. Namun, belum ada kemajuan atas hubungan mereka. Reyvan masih datar-datar saja, sedikit pun belum menyinggung cinta yang pernah terjeda. Entah kadarnya sudah pudar atau waktunya yang belum tepat, Elle tak bisa menebak banyak.


Wanita berambut pirang itu hanya pasrah, mengikuti alur waktu ke mana akan membawa keduanya. Tetap pada garis yang sejajar atau ada titik temu di suatu waktu.


Hari ini, hari terakhir Elle ada di sana. Sore nanti dia akan terbang ke Indonesia, menggantikan posisi ibunya mengurus bisnis di sana. Setelah beberapa hari ini ditinggal ke Barcelona, menangani bisnis milik keluarga Zee yang sebelumnya dalam genggaman Adriano.


"Kamu jadi pulang hari ini?" tanya Reyvan berbasa-basi. Tak nyaman rasanya jika sama-sama diam dalam waktu yang lama.


Elle mengangguk, "Iya."


"Setelah kesehatanku pulih, aku juga akan pulang."


Elle menggigit bibir. Informasi itu bukan sesuatu yang spesial, karena kepulangan Reyvan belum tentu demi dirinya. Keluarga dan bisnis lelaki itu memang di Indonesia, lantas akan ke mana dia jika tidak pulang ke sana?

__ADS_1


Dalam perasaan yang mendadak sendu Elle hanya bisa membatin, "Bukan itu yang mau aku dengar, Rey. Ah, entah ke mana cintamu yang dulu. Apa perpisahan telah membuatnya pudar atau bahkan hilang?"


"Kamu nanti hati-hati ya, jaga diri baik-baik selama dalam perjalanan, juga ketika nanti tiba di sana," sambung Reyvan.


"Iya." Sekadar jawaban singkat yang Elle lontarkan, hatinya sedikit kecewa dengan sikap datar Reyvan. Karena sejujurnya, dia mengharap lebih dari itu.


Tak lama setelah berbincang, Elle pamit pergi. Dia harus mempersiapkan perjalanan panjang yang sebentar lagi akan ia tempuh. Reyvan juga tak menahan, masih ada sedikit hal yang mengganjal, yang membuatnya tak bisa menuruti kata hati.


Selepas Elle pergi, berganti Kirana yang masuk ke ruangan. Wanita berhijab dengan wajah teduh itu menghampiri Reyvan sembari memgusap lembut pundaknya.


"Bunda lihat-lihat ... Elle itu bukan sekedar teman, tapi ... ada sesuatu yang istimewa tentangnya," ujar Kirana.


Reyvan tersenyum masam, "Iya, Bunda. Tapi ... aku tidak tahu bagaimana akhir dari keistimewaan itu."


"Apa karena dia sudah menikah, jadi kamu ragu? Jika mereka sudah resmi cerai dan masa iddah sudah habis, tidak ada larangan kamu menjalin hubungan dengan dia."


"Aku tahu, Bunda. Hanya saja ... aku perlu bicara dulu dengan mantan suaminya, baru bisa menentukan apakah aku harus maju atau mundur," jawab Reyvan, yang lantas mendapat tatapan lekat dari ibunya.


"Kamu mau mempertimbangkan wanita dari selaput daranya?"


Reyvan menggeleng cepat, "Bukan soal itu, Bunda. Ini ... lebih rumit dari itu."


Kirana mengernyit bingung, tetapi Reyvan memilih abai dan menunduk. Sulit untuk dijelaskan, nyaris tak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaannya kala itu.

__ADS_1


"Meski Elle sudah mengatakan bahwa pandanganku buruk dalam menilai pernikahan mereka, tapi aku tidak bisa tenang sebelum bicara langsung dengan Maverick. Kali ini bukan soal ego lagi, tapi soal kebahagiaan tanpa menyakiti. Aku akan maju tanpa ada sandungan di belakang," batin Reyvan.


Bersambung...


__ADS_2