
Di antara banyaknya orang yang berlalu lalang, Reyvan dan Izal berjalan cepat sambil menyeret koper. Beberapa menit lagi pesawat yang akan membawa mereka ke Benua Eropa sudah lepas landas. Itu sebabnya, Reyvan dan Izal sedikit tergesa.
Dalam waktu singkat, mereka sudah duduk tenang di dalam burung besi yang siap lepas landas. Reyvan membuang pandangan sambil mengembuskan napas kasar. Bayangan Elle kemarin masih saja menghantuinya.
"Ternyata nggak mudah melupakan dia," batin Reyvan.
Seiring pesawat yang mulai bergerak, Reyvan menyandarkan punggungnya. Sejenak ia memejam dan berusaha menepis jauh bayang-bayangan itu. Dia menegaskan pada diri sendiri tentang bisnis di depan mata yang harus lebih diperhatikan.
"Maverick, aku pasti bisa mengunggulimu! Tunggu dan lihat saja nanti, aku akan membungkam kesombonganmu!" batin Reyvan dengan penuh emosi.
Berjam-jam selanjutnya, Reyvan tidak mengucap sepatah kata pun. Dia terus diam dan hanya berkelana dengan pikirannya sendiri. Bahkan, saat menyantap makanan pun, Reyvan langsung menghabiskannya begitu saja. Sama sekali tidak terlihat menikmati.
Sepanjang perjalanan yang hampir memakan waktu selama dua puluh jam, Izal hanya menggeleng-geleng melihat tingkah tuannya.
"Biar saya bawakan, Tuan," kata Izal ketika mereka mendarat di Bandara Internasional Barcelona.
"Iya." Reyvan menjawab singkat, lantas membiarkan Izal mengambil alih koper yang ia bawa.
Kemudian, mereka berjalan bersama menuju tempat penjemputan. Di sana, sudah ada Jerry yang katanya sudah menunggu sejak lima belas menit yang lalu.
"Selamat datang, Tuan Rey. Senang sekali akhirnya Anda benar-benar berkunjung ke sini," sapa Jerry sambil menjabat tangan Reyvan.
"Terima kasih atas sambutan Anda, Tuan Jerry. Bahkan, sampai menyempatkan diri menjemput kami." Reyvan menjawab dengan bahasa Inggris yang fasih, sama seperti bahasa yang Jerry gunakan.
"Ini adalah pertama kalinya Anda datang ke sini, mana mungkin saya biarkan sendirian. Pertama kali datang ke Indonesia, saya merasa kesulitan. Saya khawatir Anda juga merasakan hal yang sama," jawab Jerry.
"Iya, mungkin memang benar." Reyvan tersenyum. "Sekali lagi terima kasih, Tuan Jerry," sambungnya.
"Jangan sungkan! Ya sudah, mari silakan masuk!" Jerry tersenyum dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Reyvan.
Tak berselang lama, Jerry dan Reyvan sudah duduk di depan kemudi. Sementara Izal duduk di bangku belakang. Lantas, mobil yang mereka tumpangi mulai melaju menuju hotel yang ada di pusat kota. Selama di negara itu, Reyvan dan Izal akan menginap di hotel.
Sepanjang perjalanan, Jerry bercerita panjang tentang Spanyol, sangat antusias seolah-olah mereka adalah rekan lama. Reyvan pun sangat senang dengan hal itu. Menjalin hubungan baik dengan Jerry akan menjadi peluang besar untuk mengembangkan bisnis di Spanyol, dan itu tidak akan ia sia-siakan.
"Terima kasih, Kakak Ipar, kamu sudah memberiku jalan untuk mengepakkan sayap di negara ini," batin Reyvan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Jerry menghentikan mobilnya di halaman hotel. Lalu Izal turun dan mengambil koper miliknya dan juga milik Reyvan. Sementara itu, Reyvan masih berbincang sebentar dengan Jerry.
"Tempat tinggal saya tidak jauh dari sini. Nanti malam datanglah ke sana, kita makan malam bersama. Nanti saya kirimkan alamat lengkapnya," kata Jerry sebelum Reyvan turun dari mobil.
"Terima kasih banyak atas undangannya, Tuan Jerry. Dengan senang hati saya akan datang," jawab Reyvan.
Jerry mengangguk-angguk. Kemudian mengulas senyum tipis dan kembali mengucap kalimat, kali ini cukup mengejutkan.
"Sebenarnya, sejak kemarin-kemarin saya sudah melihat desain Anda, luar biasa, saya sangat tertarik. Tapi, dalam galery yang saya kelola, banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Anda juga pebisnis, pasti tahu tentang untung dan rugi," ucap Jerry.
"Saya mengerti, Tuan Jerry. Saya akan berusaha sekeras mungkin agar tidak mengecewakan Anda." Reyvan menunduk hormat.
"Saya juga berharap demikian." Jerry menjawab sambil menepuk pelan bahu Reyvan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan," pamit Reyvan.
"Silakan, Tuan Rey." Jerry tersenyum lebar.
Usai menutup pintu, Reyvan menghampiri Izal yang masih berdiri di belakang mobil.
Baik, saya akan terus memantaunya.
Bermacam pertanyaan berputar-putar dalam pikiran Reyvan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Reyvan, dan sontak saja Izal gugup. Bahkan, ponsel yang digenggam terlepas begitu saja.
"Maaf, Tuan, saya kaget," ucap Izal sembari mengambil ponselnya.
"Siapa yang bicara denganmu?" selidik Reyvan.
"Tidak ada, Tuan. Hanya ibu, beliau meminta saya untuk mengawasi adik. Dia baru beranjak remaja, jadi butuh pengawasan ekstra. Ya, pergaulan zaman sekarang, kan, cukup bebas. Jika tidak hati-hati, akan salah langkah," terang Izal masih dengan sikap gugupnya.
"Adik? Bukankah tahun lalu adikmu sudah menikah? Kenapa sekarang masih beranjak remaja?" Reyvan menatap tajam.
"Ini ... adik bungsu, Tuan. Yang menikah tahun lalu, itu kakaknya. Tapi, juga adik saya. Iya begitu, Tuan," jawab Izal.
__ADS_1
Reyvan mengepalkan tangan. Kegugupan Izal sudah menggambarkan jelas kebohongan yang disembunyikan. Namun, Reyvan tak ingin bertanya lebih lanjut, karena yakin bahwa Izal akan terus mengelak dan mencari alasan untuk menutupi dustanya, entah itu masuk akal atau tidak.
"Ya sudah, ayo masuk!" kata Reyvan mengakhiri perbincangan.
"Baik, Tuan." Izal mengangguk sambil menghela napas lega. "Untung saja Tuan Reyvan percaya," sambungnya dalam hati.
"Semoga semua ini tidak seperti dugaanku, Izal. Karena jika tidak, kamu akan tahu sendiri apa akibatnya!" geram Reyvan juga dalam batin.
______________
Pukul 09.00 malam waktu Barcelona. Reyvan sudah rapi dalam setelan formalnya, celana panjang dan kemeja merah yang dipadukan dengan jaz blazer dark navy. Sepatu pantofel yang masih mengkilap membungkus jemari kaki. Sementara rambut, masih seperti biasa, yakni gaya comma hair dengan warna hitam khas orang Indonesia.
Sebelum berangkat menuju rumah Jerry, yang jaraknya hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki, Reyvan terlebih dahulu menghubungi Izal. Dia menyuruh tangan kanannya itu tetap di hotel, sementara dirinya akan menghadiri undangan Jerry seorang diri.
"Bisnis ini ... aku tidak akan terlalu melibatkan kamu lagi, Izal," gumam Reyvan.
Setelah menyemprotkan parfume ke sekujur tubuh, Reyvan pun keluar kamar dan bergegas menuju rumah Jerry.
Di perjalanan, Reyvan mengamati keadaan sekitar. Banyak gedung-gedung tinggi khas Eropa yang dibangun berjajar. Banyak pula orang-orang yang beraktivitas, seperti tak kenal lelah. Spanyol memang berbeda dengan Indonesia.
Di negara itu matahari terbenam hampir pukul 08.00 malam, jadi tak heran jika aktivitas penduduknya berlanjut sampai larut, juga jam makan malam yang umum dilakukan sekitar pukul 09.00 sampai 10.00 malam. Cukup telat jika dibandingkan dengan Indonesia.
"Rambut cokelat, mata biru. Ah sial, aku jadi teringat lagi dengannya," gerutu Reyvan.
Wanita-wanita di sekitar memang kebanyakan berambut cokelat dan bermata biru, sama seperti Elle. Namun, menurut Reyvan kecantikan masih kalah jauh darinya.
Tak lama kemudian, Reyvan tiba di kediaman Jerry. Kedatangannya disambut hangat oleh pelayan yang bekerja di sana. Reyvan dipersilakan masuk dan diarahkan menuju meja makan karena Jerry sedang ada di sana.
"Selamat malam, Tuan Jerry," sapa Reyvan.
"Selamat malam."
Reyvan sedikit mengernyit. Pasalnya, bukan hanya Jerry yang menjawab sapaannya, melainkan juga ada satu pria dan satu wanita yang sama-sama paruh baya. Keduanya kompak menjawab sapaan Reyvan.
Satu hal lagi yang membuat Reyvan makin mengernyit, yaitu wajah sang pria.
__ADS_1
"Wajah ini seperti ini nggak asing, tapi ... siapa? Mungkinkah dulu aku pernah bertemu dengannya?" batin Reyvan.
Bersambung...