Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Rencana Maverick


__ADS_3

Senja sudah lama padam dan Elle pun sudah berganti penampilan. Wajah cantiknya kembali terpampang sempurna dalam perpaduan gaun merah maroon dan rambut yang digerai rapi.


Dia duduk di salah satu sudut sofa, berhadapan dengan Alroy dan bersebelahan dengan Maverick. Tak jauh dari tempat mereka, Marissa duduk dengan kepala yang tertunduk. Tetes-tetes air mata tak berhenti mengalir membasahi pipinya. Dia merasa bersalah atas masa depan Elle, juga atas rahasia yang disembunyikan dari Alroy. Rasanya, ia gagal menjadi seorang ibu.


"Aku tidak benar-benar menjatuhkan bisnis Mama. Sebelum aku melakukan sesuatu, bisnis itu sudah ada di ambang kehancuran. Kalaupun bukan aku, pasti ada pihak lain yang mengambil alih. Maaf, aku memang memanfaatkan kesempatan itu untuk menikahi Elle," ucap Maverick setelah masalah di antara mereka dijelaskan secara gamblang. Meski sedikit keberatan, tetapi Maverick tidak menyalahkan Elle yang berterus terang tentang kekurangannya.


Alroy diam dalam waktu yang cukup lama. Apa yang dikatakan Maverick memang benar. Bisnis keluarganya nyaris hancur, dan itu terjadi karena uangnya terkuras habis untuk mengobati kakinya. Alroy memejam, sempat tersirat penyesalan dalam hatinya, 'mengapa ia tak mati saja? Mengapa harus hidup dan menjadi beban?'.


"Aurora butuh sosok seorang ibu, maaf jika sekarang aku masih egois akan hal itu. Aku hanya ingin membahagiakan dia di saat-saat yang ... ah." Maverick mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku akan membalas peran Elle. Aku janji akan membantunya mengambil kembali apa yang sudah menjadi hak keluarga ini," sambungnya.


"Jangan bertindak jauh! Kau tidak tahu Paman Adriano senekat apa. Aku memang membencimu karena sudah merampas masa depan adikku, tapi aku juga tidak mau jika kau hancur karena membantu kami. Jika hancur, hancurlah karena dirimu sendiri. Jangan keluarga kami yang menjadi alasan," kata Alroy. Dia bersikeras menahan niat Maverick karena tahu benar seperti apa sifat pamannya.


"Maaf, aku tidak bisa menghentikan niatku. Mendengar cerita Elle, aku mencurigai satu hal, dan ... seharusnya kamu juga mencurigai hal itu."


Semua pasang mata tertuju ke arah Maverick. Mereka masih tak mengerti dengan maksud lelaki itu, tetapi sedikit banyak bisa menebak bahwa itu bukan sesuatu yang baik.


"Tak lama setelah Papa ke sini, Kakek meninggal dan Adriano resmi menjadi pemilik Zee Empresa Industrial. Tak berselang lama, kau dan Papa kecelakaan, cukup fatal. Mengingat sikap dia sebelumnya, yang bahkan tega mengabaikan Devara dan ibunya. Apakah dua kejadian itu adalah sesuatu yang kebetulan?" Maverick menatap Alroy dengan lekat, seolah meyakinkan lelaki itu bahwa ada permainan di balik kecelakaan yang menimpanya.


"Adriano ... apakah dia sekejam itu? Mas Andress adalah saudara kandungnya. Apa mungkin dia tega?" sahut Marissa diiringi isak tangis.


"Devara adalah darah dagingnya dan kenyataannya dia juga tega. Terhadap Papa pun, jika dia masih punya hati, tidak mungkin memfitnah dan membuat beliau terusir dari keluarga Zee. Terkadang ... seseorang bisa berbuat di luar nalar demi harta. Ma, awalnya aku juga tidak percaya dengan pemikiran ini. Tapi ... setelah aku menemukan fakta bahwa Adriano pernah datang ke Indonesia, kecurigaanku semakin besar, karena jeda waktu kedatangannya dengan kecelakaan yang menimpa Papa, itu tidak lama," terang Maverick.

__ADS_1


Dia sudah tidak penasaran lagi dengan sosok paman Elle, yang ternyata memang Adriano Beltrand. Kemungkinan besar, pria itu sengaja menghapus dan mengganti nama Zee untuk menghilangkan jejak masa lalu. Dia tak ingin lagi dikenal sebagai pewaris Zee, cukup sebagai diri sendiri yang punya harta berlimpah dan kekuasaan yang besar.


"Aku tidak rela jika semua ini benar-benar ulah Paman. Papa sudah mengalah, sangat tidak adil jika nyawanya pun diambil," ratap Elle dengan air mata yang mulai menetes.


"Aku akan mencari keadilan untukmu. Aku tidak akan membiarkan istriku bersedih seperti ini," ucap Maverick sambil mengusap air mata Elle.


Gerakan manis tersebut tak luput dari perhatian Alroy. Sepasang mata hitamnya terus mengamati dan kemudian menerka-nerka dalam hati. Alroy mencurigai sikap Maverick sudah dipengaruhi oleh rasa, bukan sekadar kepedulian biasa.


"Kau mencintai adikku?" tanya Alroy. Meski tahu itu pertanyaan ambigu, tetapi dia tak bisa menahannya.


Benar saja, Maverick langsung menghentikan aktivitasnya saat mendengar pertanyaan Alroy. Pun dengan Elle, seketika menunduk dan mengusap sisa-sisa air mata dengan jemarinya sendiri.


"Selama dia masih menjadi istriku, aku akan memperlakukannya dengan baik. Aku akan memberikan perlindungan dan rasa aman seperti suami pada umumnya," jawab Maverick, sedikit menyimpang dari pertanyaan.


"Sudah jam tidurnya Aurora, aku dan Elle harus pulang," jawab Maverick. Lantas, dia beranjak dan berpamitan.


Alroy memandang nanar saat Maverick dan Elle sudah melangkah keluar. Dalam tatapan lembut Maverick, Alroy yakin ada perasaan yang lain. Apalagi, lelaki itu menghindari pertanyaannya, Alroy makin yakin jika pernikahan itu bukan hanya tentang Aurora.


"Aku harus bagaimana jika Maverick benar-benar mencintaimu, Elle. Di sisi lain sah-sah saja karena dia adalah suamimu, tapi ... dengan keadaannya yang seperti itu, apa kamu bisa bahagia?" batin Alroy.


Sementara itu, Maverick dan Elle berdiam diri di dalam mobil. Maverick memegang kemudi dengan tatapan datar, entah apa yang ia pikirkan. Karena cukup lama bergeming dalam posisi yang janggal, Elle menegurnya.

__ADS_1


"Mas, kenapa?"


"Tidak apa-apa." Maverick menoleh sekilas sambil tersenyum masam.


Elle menghela napas panjang, "Maafkan aku, sudah menceritakan banyak tentangmu kepada Kak Al dan Mama. Aku ... tidak punya pilihan."


Maverick sedikit mendekat dan kemudian mengusap puncak kepala Elle sekilas. Wanita itu sudah salah paham dengannya, tetapi ia tak bisa menjelaskan. Menyangkut perasaan, Maverick tak berani jujur. Dia tak ingin membuat Elle bersedih. Biarlah dia bahagia menyongsong dunia, jangan sampai gelap dan kelam seperti dirinya.


"Cukup aku dan Tuhan saja yang tahu atas rasaku. Kamu ... harus bahagia dengan cinta yang lebih sempurna dariku," batin Maverick.


"Mas___"


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, wajar jika kamu jujur. Kupikir-pikir ... juga lebih enak begini, lebih jelas dan ... tidak ada salah paham," pungkas Maverick.


Ketika mereka masih berbincang canggung, tiba-tiba ponsel Maverick berdering. Maverick mengernyit saat menatap nama sang penelepon, lantas menerimanya dengan perasaan gusar.


"Mas, ada apa?" tanya Elle ketika melihat raut wajah Maverick berubah tegang.


"Kita harus pulang," jawab Maverick dengan suara yang tertahan, seakan-akan menyiratkan beban yang teramat dalam.


Elle tak bertanya lagi, sekadar menilik gerakan Maverick yang dengan terburu-buru menghidupkan mesin mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi sesuatu dengan Aurora," batin Elle.


Bersambung...


__ADS_2