Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Terungkap


__ADS_3

Di dalam ruangan yang penuh dengan barang-barang, tubuh Reyvan diikat di atas kursi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kepalanya tertunduk lemas dengan rambut yang berantakan dan berjatuhan di antara kening dan mata.


Tak jauh dari tempat Reyvan, Amalia dan Adriano berdiri dengan senyum yang menyeringai. Amalia sembari melipat tangan di dada, sedangkan Adriano sambil membuka sebotol air. Tanpa mengucap sepatah kata, Adriano menyiramkan air tersebut ke wajah dan kepala Reyvan. Tak puas dengan itu, Adriano juga menjambak rambut Reyvan dan menghentaknya dengan kasar. Lantas, ia dan Amalia tersenyum puas saat kepala Reyvan membentur sandaran kursi.


"Cepat bangun!" bentak Adriano sembari mengulang tindakannya.


Pada jambakan yang ketiga, mata Reyvan mulai mengerjap, sangat pelan. Barulah ketika tangan Adriano mendarat kasar di pipinya, Reyvan tersadar dan membuka mata secara sempurna.


"Akhirnya kamu sadar juga. Laki-laki lemah, begitu saja pingsan sampai berjam-jam!" hardik Adriano.


Reyvan memejam sesaat, berusaha mengingat apa yang terjadi terhadap dirinya. Lantas, bayangan terakhir yang melintas adalah minuman buatan Amalia.


"Ada yang tidak beres dengan minuman itu," batinnya.


"Kamu licik! Kamu sudah memanfaatkan kepercayaanku! Jadi ... jangan salahkan aku jika hidupmu berakhir di tempat ini!" bentak Adriano sambil menarik rambut Reyvan dan memaksanya mendongak.

__ADS_1


"Tuan, apa maksud Anda? Saya tidak mengerti. Memangnya pengkhianatan apa yang saya lakukan?" tanya Reyvan dengan suara tenang, bahasanya pun masih formal meski Adriano sudah memakai sebutan 'aku-kamu'.


"Jangan pura-pura bodoh! Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di Indonesia sana? Dengar baik-baik ya, Reyvan, selama bekerja sama denganmu, aku juga menyuruh orang untuk mengawasimu. Aku tahu kamu bertemu Elle dan bicara lama dengannya." Lagi-lagi Adriano membentak dan menghentakkan kepala Reyvan dengan kasar.


Sakit, nyeri, itulah yang Reyvan rasakan. Namun, ia tak peduli. Masih ada masalah lain yang lebih penting dari itu, yakni kabur dari sana. Reyvan harus memutar otak untuk mencari jalannya.


"Kupikir kamu orang yang tepat untuk menjalankan rencana ini, tapi ternyata ... kamu adalah seseorang yang seharusnya kuhancurkan lebih dulu. Kamu ... adalah lelaki yang dicintai Elle, dan aku yakin kamu juga mencintainya. Kerja sama denganku ini, pada akhirnya pasti kamu khianati. Kamu tidak akan mau menyakiti wanita sialan itu. Benar, kan!"


Reyvan tersenyum miring. Percuma dirinya berkilah, Adriano sudah mengetahui semuanya. Jika dipikir-pikir memang dirinya yang ceroboh, langsung percaya dan setuju dengan kerja sama yang ditawarkan. Padahal, mereka belum lama kenal. Hanya demi ambisi, dia sampai tidak hati-hati.


Reyvan masih bergeming. Pikirnya, percuma membantah. Adriano sudah telanjur emosi. Apa pun yang ia katakan, pria itu tak mungkin percaya. Demi meredam situasi agar tidak memanas, Reyvan memilih diam meskipun Adriano terus memaki dan mengumpatnya dengan kasar.


"Kenapa kamu hanya diam? Apa itu artinya semua yang kukatakan tadi memang benar adanya, hah!" Kali ini bukan Adriano tidak hanya membentak, tetapi juga menendang kaki Reyvan dengan keras, membuat sang empunya meringis menahan nyeri.


"Mas, jangan membuang waktu! Cepat selesaikan saja!" ujar Amalia.

__ADS_1


"Kamu benar, Sayang, kita harus menyelesaikan ini sekarang. Karena salah sedetik saja, hasil akhir bisa berbeda." Adriano memicingkan mata sembari merogoh sesuatu dari sakunya.


"Maaf, Tuan Reyvan yang terhormat, malam ini hidupmu akan berakhir." Adriano menodongkan pistol ke arah Reyvan. "Kamu adalah kerikil yang akan menjadi sandungan dalam rencanaku, jadi ... aku harus membersihkanmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melindungi Elle, apalagi sampai membawanya kembali ke sini. Tidak akan pernah!" sambungnya diiringi tawa keras.


"Kenapa dia senekat ini?" batin Reyvan dengan jantung yang berdetak cepat. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa Adriano adalah orang yang kejam, bahkan menghabisi nyawa tanpa pikir panjang.


"Kamu akan menyesal jika membunuhku sekarang!" ucap Reyvan dengan suara yang sedikit tinggi.


Adriano tertawa, "Apa yang patut kusesali dari kematianmu? Saham yang kamu pegang? Heh, dengan mudah itu aku akan jatuh ke tanganku. Dan ... besar kemungkinan Arkatama Group juga masuk kendaliku."


"Khayalanmu terlalu tinggi!" bentak Reyvan.


"Mau kamu percaya atau tidak, aku sama sekali tak peduli. Karena ... saat hari itu telah tiba, kamu sudah damai di alam baka." Adriano menatap Reyvan dengan tajam. Perlahan, tangannya mengarahkan pistol ke dada Reyvan dan telunjuknya siap menarik pelatuk.


Satu detik kemudian, suara keras menggema memenuhi ruangan. Adriano pun menoleh dan mengulas senyum miring.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2