
Dua bulan pasca operasi, Reyvan pulang ke Indonesia. Meski keadaannya sudah pulih dan hanya perlu menjaga pola hidup sehat, tetapi orang tuanya tak melepaskan dia sendiri di Jakarta. Untuk sementara waktu, mereka akan tinggal di sana, di sisi Reyvan.
Dalam dua bulan ini,Reyvan masih sering bertukar kabar dengan Elle. Namun, sebatas teman belaka. Belum ada tanda-tanda mengulang kenangan silam. Baru hari ini, Reyvan akan meluruskan kembali benang-benang kasih yang sudah kusut. Entah bagaimana nanti, diperbaiki atau malah dibiarkan pergi, yang jelas akan ia selesaikan.
Namun, bukan Elle yang pertama kali Reyvan temui, melainkan Maverick. Reyvan ingin bicara empat dengan lelali yang pernah menjadi suami Elle, agar ke depannya tidak ada kesalahpahaman lagi. Ia bisa tenang andaikata nanti bisa melangkah ke jenjang pernikahan.
Berhubung saat ini masih jam kerja—pukul 11.00 siang, Reyvan menemui Maverick di Shan Senor. Dia yakin Maverick masih bergumul dengan beberapa tugas di sana.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Maverick," ucap Reyvan ketika tiba di kantor tersebut.
Setelah mengonfirmasi sebentar dengan atasan, resepsionis itu memberikan jawaban kepada Reyvan.
"Tuan Maverick masih rapat, tapi sebentar lagi selesai. Silakan Anda menunggu sebentar!"
"Baiklah." Reyvan mengangguk dan bersedia menunggu.
Sekitar lima belas menit kemudian, Reyvan sudah mendapat arahan untuk datang ke ruangan Maverick. Katanya, yang bersangkutan sudah menunggu di sana.
Tak mau membuang waktu lagi, Reyvan bergegas bangkit dan mengikuti langkah karyawan yang mengantarnya ke ruangan Maverick, ruangan yang pada masanya pernah ia datangi, bahkan ia rusak pintunya. Reyvan mengulas senyum simpul ketika mengingat itu.
Sesaat kemudian, Reyvan tiba juga di ruangan Maverick. Lelaki yang hendak ditemui sudah duduk di kursi kebesarannya. Senyuman lebar pun tersungging ketika keduanya beradu pandang.
__ADS_1
"Apa kabar, Reyvan? Kapan kau kembali?" sapa Maverick, tanpa sebutan 'tuan' lagi.
Sejak bekerja sama menjatuhkan Adriano, hubungan keduanya memang membaik. Meski tidak seakrab kawan pada umumnya, tetapi tidak ada dendam atau kebencian seperti dulu.
Sembari mendaratkan tubuhnya di kursi, Reyvan menarik napas panjang.
"Aku tiba semalam, dan ... keadaanku baik. Terima kasih atas bantuanmu. Kau mengeluarkan banyak uang demi membantu operasiku," jawabnya.
Maverick menggeleng pelan, "Jangan pikirkan itu. Apa yang kulakukan tidak sebanding dengan tindakanmu kala itu. Kau menyelamatkan nyawaku."
Reyvan mendadak miris saat mendengar jawaban Maverick. Mau tidak mau ia kembali teringat dengan kejadian waktu itu, di mana dia tidak bisa berpikir panjang dan begitu saja menjadi pahlawan untu Maverick. Motivasinya hanya satu, yakni kebahagiaan Elle. Namun, entah relevan atau tidak, belum bisa dipastikan sampai sekarang.
"Kau menyelamatkanku demi Elle?" tanya Maverick. Namun, Reyvan sekadar bergeming.
Reyvan menyandarkan punggung sembari melipat tangan di dada, "Kau tidak mencintainya?"
"Pernikahan itu untuk dua orang yang saling mencintai, bukan hanya salah satu."
Mendengar jawaban Maverick, Reyvan mengernyit sesaat. Dalam kalimat itu tersirat arti bahwa Maverick mencintai Elle, tetapi tidak terbalas.
"Lagi pula aku tidak bisa membahagiakan dia, jadi aku juga tidak mau memaksanya bertahan denganku. Aku ... tidak seperti lelaki pada umumnya," lanjut Maverick, sedikit mengejutkan.
__ADS_1
"Gosip yang mengatakan kau gay, apa itu benar?" Reyvan menyahut cepat.
Maverick menggeleng, "Salah. Tapi, aku juga tidak lebih baik dari gay. Terus terang ... kejantananku tidak berfungsi."
"Hah?" Mata Reyvan membulat lebar. Sama sekali tak menyangka jika Maverick adalah lelaki imp*ten.
Belum sempat Reyvan bertanya lebih lanjut, Maverick bercerita tentang Aurora, yang sama sekali bukan darah dagingnya. Ia juga mengatakan alasan utama memilih Elle sebagai istri, berikut tentang hubungannya dengan Devara. Reyvan benar-benar syok mendengar itu. Selama ini dia salah kaprah dalam menilai.
Usai bercerita panjang, Maverick bangkit dan berjalan menuju jendela. Ia berdiri di sana seraya memasukkan tangan ke dalam saku celana, membelakangi Maverick yang masih duduk di tempat semula.
"Jika kamu bertanya cinta, tentu saja iya. Aku mencintai Elle, sangat sangat mencintai. Bahkan, jika nanti dia menjadi istrimu pun, aku tidak yakin perasaan ini akan luntur. Tapi, aku tidak akan mengusik kalian. Aku cukup menyimpan semua ini sendiri. Kebahagiaan Elle sudah cukup bagiku untuk bahagia," ujar Maverick tanpa menoleh.
Reyvan ikut bangkit, tetapi hanya diam dan berdiri di tempat. Tidak melangkah mendekat atau mengucap kalimat.
Dia merasa seperti seorang pengecut, bersaing dengan seseorang yang sangat lemah dalam bidangnya.
Terlalu larut dalam diamnya, Reyvan sampai tak sadar jika Maverick sudah mendekat. Barulah ketika lelaki itu menepuk bahunya, Reyvan kembali fokus dengan perbincangan.
"Kuharap kau tidak marah dengan apa yang kukatakan barusan. Semua orang berhak mencintai siapa pun, selama itu tidak merugikan orang lain. Jangan menyuruhku mengendalikan hati karena aku tidak bisa melakukannya. Tapi sebagai lelaki aku bisa berjanji untuk mengendalikan sikap," ucap Maverick.
"Kau ... tidak apa-apa?" Pertanyaan konyol. Sudah jelas Maverick mencintai Elle, tetapi masih ditanya apa-apa atau tidak.
__ADS_1
Namun, Maverick malah tersenyum, "Jangan khawatirkan aku! Sekarang aku sudah menemukan hidupku sendiri. Kau bisa datang ke rumah jika ingin tahu betapa bahagianya aku."
Bersambung...