
Adriano tersentak. Matanya memicing ke arah pintu. Di sana sudah berdiri dua sosok lelaki yang sangat familier. Satu adalah adik iparnya—Jerry, dan satu lagi adalah seseorang yang akan ia hancurkan—Maverick. Entah apa yang membuat mereka datang ke sana dan mengusik rencananya.
"Jerry, apa yang kau lakukan!" bentak Amalia dengan berapi-api, sungguh tak suka dengan kehadiran adiknya saat ini.
"Kamu memang kakakku, tapi bukan berarti aku akan mendukung tindakan salahmu. Dia rekan bisnisku, Kak, lepaskan dia." Jerry menyahut tenang sembari menatap ke arah Reyvan.
"Jerry, selagi aku masih punya batas kesabaran, cepatlah pergi dari sini!" sahut Adriano dengan tegas dan keras. Matanya menatap tajam nan mematikan, menyiratkan aura pembunuh yang kejam.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu melepaskan dia, Kak." Jerry tetap pada pendiriannya, tak peduli meski itu akan memancing amarah Adriano.
"Kau___"
"Manusia serakah! Kau sudah lama menikmati aset keluarga Zee, tapi masih berencana menghancurkan Elle. Apa menelantarkan anak kandung dan membunuh kakakmu sendiri itu masih belum cukup? Seistimewa itukah harta di matamu, sampai rela mengorbankan orang-orang yang seharusnya kau sayangi!" pungkas Maverick sambil melangkah maju. Tanpa rasa takut dia mendekati Adriano yang sudah merah padam karena amarah.
"Jangan lancang! Aku menghidupi anakku dengan baik. Dan kematian Andress, itu murni kecelakaan. Tidak ada sangkut pautnya denganku. Kamu hanya seseorang yang kebetulan mengenal Elle, jangan sok jadi pahlawan kalau tidak ingin hidupmu hancur!" bentak Maverick dengan rahang yang makin mengeras.
"Anakmu dengan dia memang kau hidupi dengan baik." Maverick menunjuk ke arah Amalia, yang kini sudah gemetaran dan berkeringat dingin. "Tapi ... bagaimana dengan anakmu bersama Shelina Jasmine? Apa kau hidupi? Apa kau rawat? Apa kau sudah tahu seperti apa wajahnya? Apa kau tahu jika sekarang dia sudah meninggal?" sambungnya dengan intonasi yang sangat tinggi.
Adriano terpaku sesaat. Shelina Jasmine, nama seorang wanita yang pernah ada di masa lalunya. Wanita yang dia rusak demi melampiaskan hasrat di luar batas. Wanita itu pernah datang dan mengaku hamil, tetapi dirinya tak mau bertanggung jawab dan malah menyuruhnya aborsi. Mau bagaimana lagi, Shelina hanya orang biasa yang sangat tidak layak bersanding dengannya. Selama menjalin hubungan, Adriano hanya menyukai paras cantiknya, juga tubuh yang amat memikat. Namun untuk hubungan yang serius, sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya.
Kala itu, Shelina menolak keras perintahnya. Wanita itu tetap mempertahankan janin di rahim meskipun dirinya sudah lepas tangan. Shelina juga berkata akan pergi jauh dari kehidupannya dan membesarkan anak itu seorang diri.
__ADS_1
Awalnya, ucapan itu memang ditepati. Namun, berbeda hal setelah dua puluh tahun berlalu. Shelina kembali datang dan mengaku sakit, berikut dengan anak mereka. Shelina meminta dirinya untuk merawat anak itu dan memberikan kehidupan yang layak untuknya. Akan tetapi, jelas saja dirinya menolak. Saat itu sudah ada Amalia yang menjadi pendamping hidupnya. Untuk kedua kali, Shelina kembali pergi dengan derai air mata.
"Salah sendiri kamu terlahir miskin. Coba kamu kaya raya dan punya wajah secantik itu, pasti sudah kunikahi sejak dulu," batinnya kala itu.
Setelah beberapa saat berlalu, ada ide gila yang tercetus dalam otaknya. Dia memalsukan tes DNA atas anak itu dan memfitnah Andress. Dengan begitu, semua aset keluarga Zee jatuh ke tangannya.
"Mas, anak itu benar-benar milik Andress, kan? Kamu benar tidak terlibat, kan?" Pertanyaan Amalia membuyarkan lamunan Adriano, yang masih tak percaya jika anak itu benar-benar meninggal.
"Istrimu bertanya, kenapa kau diam saja?" Maverick tersenyum remeh.
"Aku tidak kenal Shelina. Aku hanya bingung kenapa kamu menyebut nama asing di depanku," sahut Adriano dengan tegas. Namun, ekspresi gugupnya masih terbaca jelas oleh Amalia. Lantas, wanita itu menatap Maverick dan berharap ada penjelasan yang lebih masuk akal darinya.
Kali ini, bukan hanya Adriano atau Amalia yang tertegun, melainkan juga Reyvan. Selama ini, dia menganggap Maverick bercerai karena gay, dan anaknya sering sakit karena daya tahan tubuhnya yang lemah. Namun ternyata, istri Maverick sudah meninggal dan anaknya mengidap penyakit yang ditularkan ibunya, yang entah apa itu.
"Adriano Beltrand, jangan terlalu menganggap dirimu hebat. Asal kau tahu, kecelakaan yang menimpa Papa Andress sangat berkaitan denganmu. Dan aku ... sudah mengetahui semua itu," sambung Maverick.
Karena terlalu emosi, Adriano tak lagi berbasa-basi. Dia langsung menodongkan senjata dan melepaskan tembakan ke arah Maverick. Namun, meleset. Maverick berhasil menghindar dan memberikan serangan serupa. Dalam sekejap mereka terlibat perkelahian yang sengit.
Melihat hal itu, Jerry tak membuang waktu. Dengan cekatan dia melepas tali yang mengikat Reyvan. Lantas, memberinya pistol yang sebelumnya disimpan di balik jas.
"Kau pengkhianat, Jerry. Aku tidak akan segan lagi!" teriak Amalia yang kala itu sudah melangkah di ambang pintu. Dia berlari keluar dan memanggil bantuan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, beberapa pria bertubuh tegap datang ke gudang dan menyerang Jerry serta Reyvan. Sementara Maverick, ia tetap tetap berhadapan dengan Adriano.
"Mereka membobol pintu belakang dan membunuh pengawal yang berjaga di sana, Tuan!" lapor salah satu pria ketika berdekatan dengan Adriano.
"Mereka memang licik!" Adriano menatap Maverick yang hampir saja melukainya. "Kamu hanya bertiga, tidak akan bisa melawan kami yang begitu banyak. Lagi pula, ini adalah tempatku, tahu apa kamu? Maverick Shane, lebih baik kamu mengalah saja saja. Serahkan Elle dan jangan ikut campur urusanku lagi! Walaupun kamu tahu tentang kecelakaan yang menimpa Andress, memangnya bisa apa? Tidak ada bukti, maka kamu juga tidak bisa menyeretku ke ranah hukum," sambungnya sembari mengusap keringat yang membasahi kening.
"Siapa yang akan membawamu ke ranah hukum? Aku punya cara sendiri untuk membalas perbuatanmu," jawab Maverick dengan santainya. Dia memang tetap tenang meski bibirnya mengeluarkan darah karena terkena pukulan.
"Sebelum kamu melakukan itu, aku sudah lebih dulu mengirimmu ke neraka! Kamu tahu, sudah ratusan nyawa yang mati di tanganku!" bentak Adriano sambil mengeluarkan satu pistol lagi dari balik jasnya.
Dengan senyum licik, Adriano menyerang Maverick dengan brutal. Dua pistol terus menembakkan peluru dan membuat Maverick tersudut.
"Ahh!" erang Maverick ketika tubuhnya membentur dinding, akibat tendangan keras yang dilayangkan Adriano.
"Bekalmu jauh dari kata cukup jika ingin bermain-main denganku."
Adriano menyeringai saat melihat tubuh Maverick tersungkur di lantai. Dengan langkah pasti, pria itu mendekati Maverick dan menginjak lengannya yang masih memegang pistol.
"Ucapkan selama tinggal, Tuan Shane!" Adriano mulai menggerakkan telunjuknya dan siap menarik pelatuk pistol yang terarah ke dada Maverick.
Bersambung...
__ADS_1