Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Detik-Detik Akad


__ADS_3

Hari demi hari silih berganti, dan waktu yang dinanti pun akhirnya tiba juga. Setelah satu bulan penuh mempersiapkan segala sesuatunya, hari ini akad dan resepsi pernikahan akan dilangsungkan.


Akad dilaksanakan pada siang hari di rumah pribadi Reyvan, pun dengan resepsi nanti malam, juga akan dilangsungkan di sana.


Dari pagi-pagi buta, rumah itu sudah ramai oleh tim WO. Ada yang menyelesaikan pemasangan dekorasi, ada pula yang menyiapkan konsumsi. Selain itu, MUA dan fotografer juga sudah stand by di sana.


Saat ini, jarum jam tepat menunjukkan angka sembilan. Elle sudah membersihkan diri dan mulai dirias. Selain dua MUA, Elle juga ditemani oleh Nadhea dam Athreya. Nadhea adalah istri Kaivan, sedangkan Athreya adalah adik Reyvan. Dua wanita itu sangat ramah dan menunjukkan sikap bersahabatnya, sejak pertama kali Elle dikenalkan sebagai calon istri.


"Rasanya masih nggak percaya loh, kakakku yang super cuek dan gila kerja itu dapat istri produk impor secantik Kak Elle. Dia itu bercanda aja nggak pernah, hari-harinya cuma kerja dan kerja. Datar dan serius terus pokoknya. Beda jauh sama Kak Kai. Aku bayanginnya apa ada yang mau jadi pacar dia, pasti nggak asyik banget. Cuek bebek, nggak ada romantis-romantisnya."


Elle mengulas senyum lebar saat mendengar ucapan Athreya—wanita berparas manis dan imut, yang selalu menutup rambutnya dengan kerudung.


"Dasar adiknya Kaivan," goda Nadhea sambil tertawa.


"Ih, bukan gitu. Aku cuma bilang kenyataan aja. Kak Reyvan itu nggak tentu setahun sekali pulangnya, itu pun nggak pernah bercanda dan ngumpulnya juga pas makan doang. Waktunya selalu habis buat nerima telfon bahas kerjaan." Athreya tetap pada pendapatnya.


Namun, memang benar apa yang dikatakan Athreya. Selama ini Reyvan jarang pulang, dan sekalinya pulang waktunya banyak tersita untuk teleponan, membahas pekerjaan yang tertunda karena ia tinggalkan. Di antara tiga bersaudara, dialah yang paling cuek dan tidak banyak bicara. Kendati begitu, ambisinya sangat tinggi. Bahkan, sampai mengalahkan ambisi ayahnya sendiri.

__ADS_1


Mendengar celotehan Athreya yang tampak bersungguh-sungguh, Elle makin tertawa. Wanita muda yang sudah lebih dulu menikah itu selalu sukses memecah tawa Elle dengan sikapnya yang menggemaskan.


"Kamu tidak tahu saja, Athreya, lelaki yang cuek dan datar itu sekalinya bersikap romantis, bikin melelehnya tidak kira-kira," ucap Elle.


Namun, Athreya malah menampilkan raut terkejut, "Serius, Kak? Kak Reyvan bisa romantis?"


Elle mengangguk dengan antusias, sedangkan Athreya masih diam, mencoba membayangkan sikap datar Reyvan yang tiba-tiba berubah romantis. Ah, tidak mungkin membuat meleleh, yang ada pasti kaku dan tidak enak dipandang.


Sementara itu, di kamar lain Reyvan juga sedang bersiap-siap. Tubu tegapnya sudah dibalut setelah formal warna putih, senada dengan gaun yang dikenakan Elle. Di dekatnya ada kakak sulung—Kaivan, juga adik ipar yang usianya sebaya dengan Kaivan—Kennan.


"Aku lihat dari sisi mana pun tetep cakepan aku," sela Kaivan tanpa rasa bersalah.


"Dasar narsis! Buktinya aja udah jelas, Reyvan bisa dapetin cewek bule. Lah kamu, produk lokal." Kennan dengan cepat menyahut.


"Memangnya bule sama lokal itu selalu cantikan bule? Nggak!" Kaivan tak mau kalah.


"Tapi___"

__ADS_1


"Jangan banyak cincong ya. Nggak ingat waktu kamu mau nikah sama Athreya yang bantuin siapa? Aku, bukan Reyvan. Nggak tahu balas budi kamu kalau sekarang bela-belain Reyvan mulu," pungkas Kaivan.


"Eh, jangan pura-pura amnesia. Kamu itu bukan bantuin, tapi ngrepotin. Dan lagi, waktu kamu ngejar-ngejar Nadhea, aku yang ketiban sial. Kamu enak-enakan pacaran di Bali, aku kamu suruh motret di luar kota, mana bini lagi hamil. Nggak ada perasaan kamu!" jawab Kennan, mengungkit kembali kejadian lama. (Kisah mereka ada di novel Noda)


Mendengar perdebatan Kaivan dan Kennan, Reyvan hanya geleng-geleng kepala. Dua lelaki itu selalu bersahabat, tetapi nyaris tak pernah akur. Selalu saja ada yang diributkan setiap kali bersama. Sebuah persahabatan yang unik, bahkan lebih unik dari persahabatan Reyvan sendiri.


Tak lama setelah itu, pintu kamar dibuka dari luar. Ternyata Darren yang datang. Sosok ayah yang sudah paruh baya itu tersenyum ketika menatap Reyvan, anak keduanya yang sekian lama hanya fokus dengan pekerjaan, hari ini akan melepas masa lajang. Sungguh merupakan kebahagiaan yang tiada duanya.


"Papa," sapa Reyvan.


"Kamu sudah selesai kan, Nak? Ayo keluar, penghulunya sudah datang!" ucap Darren.


Reyvan mengangguk. Lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba berdetak tak karuan.


"Pasti lancar, pasti lancar!" batin Reyvan sambil melangkah keluar kamar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2